• Cappadocia Hot Air Balloon

  • Taj Mahal

  • Eiffel Tower

Wednesday, April 15, 2020

UK & West Europe Part 8 (Belgium - Brussel)

Grand Place
Pukul 06:00 kami sudah bersiap di depan Ibis Hotel menggunakan Taxi jenis MPV menuju ke Gare Du Nord Station Paris untuk berangkat ke Brussel dengan menggunakan kereta antar Negara – Thalys. Saya memesan Taxi dari Hotel sehari sebelumnya, dan mengkonfirmasi ke Reception di hari H, ternyata drama Paris masih juga belum berakhir, 1 Taxi jenis MPV lain menabrak pintu bagasi Taxi saya yang masih dalam keadaan terbuka karena sedang mengatur koper-koper kami!. Saya pikir karena di Negara maju dan dalam kondisi sedang sama-sama membawa penumpang, penyelesaian secara adat akan dilakukan setelah pekerjaan selesai, ternyata engga dong! Mereka berdua -- driver Taxi laki-laki dan perempuan ini bertengkar hebat dan lama sekali, tidak ada yang mengalah. Sampai-sampai reception Hotel yang mengatur ke-dua Taxi ini memandang saya seraya memohon maaf, karena muka saya udah ga enak banget, saya-nya senewen karena kami harus mengejar kereta, entah bagaimana reception Hotel menengahi, dan kami segera berangkat. Aaeelaahh…

Thalys Paris - Brussel
Hari  ke 6 Brussel (Rabu, 30 Oktober 2019), Kereta antar negara jika sama-sama Negara Uni Eropa sudah tidak ada pengecekan passport, paling hanya pengecekan metal detector. Perjalanan kereta Thalys Paris-Brussel ditempuh selama 1 jam 17 menit dengan harga IDR 651.000. Saya sedikit lebih santai di Brussel karena lokasi Hotel tidak jauh dari Stasiun perhentian kereta yakni Bruxelles Midi. Kami menginap di B&B Hotel Brussels Centre Gare du Midi seharga IDR 1.948.000/malam quadruple room atau IDR 487.000/malem/orang dengan jarak ‘katanya’ 10 menit dari stasiun, kali ini? Beneran 10 menit karena lokasinya benar-benar di depan stasiun 😀. Saya hanya menghabiskan waktu semalam di Belgia karena landmark Belgia tidak begitu banyak, hingga begitu sampai kami hanya menitip koper di Hotel kemudian berangkat ke Brussels Centre. B&B Hotel Brussels biasa saja dan agak sempit, tapi karena hanya semalam jadi tidak masalah.

Sistem per-tiket-an di Belgia ada berupa kartu dan ada yang berupa tiket per perjalanan atau single journey, saya berusaha mencari info mengenai sistemnya, tapi informasi sangat terbatas, kalaupun ada cukup sulit bagi saya untuk mengartikan maksudnya. Yang saya baca harusnya kami cukup membeli Jump-ticket seharga Euro 2 dan divalidasi di Box warna orange, kenyataannya? Tidak, jadi kami nanya dan minta diajarin sama warga lokal cara untuk membeli tiket kereta di Brussel. Menurut saya step-nya cukup panjang dan rumit, tidak seperti London, Paris, atau Amsterdam yang pendek sehingga dapat mengurangi antrian.

Untuk membeli tiket kereta,  pertama anda harus tahu dulu tujuan stasiun akhir dari perjalanan anda, jadi harganya akan lebih mahal kalau lebih jauh, tidak sama rata seperti di London per Zona, atau Paris yang tanpa zona asal masih di kota Paris. Tampilan pertama adalah jenis tiket-nya, pilih standard-ticket, kemudian stasiun tujuan akhir yang jangan sampai salah spelling karena jika salah spelling nama stasiun tidak muncul. Kemudian masukkan jumlah penumpang dan bayar menggunakan kartu kredit harganya Euro 2,40, pembayaran cash ada tapi mesin ticket terbatas, sungguh merepotkan 😑. Tutorial-nya saya attached di bagian akhir.  

Setelah mendapatkan tiket apakah perlu di validasi di Box Orange? Tidak ternyata, kali ini saya bertanya lagi pada petugas ‘baik-hati’ yang tempo hari menunjukkan arah Hotel dan memberikan peringatan ‘copet,’ sekaligus bertanya peron yang harus kami tuju, sebab informasi peron ada pada layar display,  sangat rumit dan sulit dibaca karena tiap saat berganti layar dan berganti bahasa!. Pun, petugas harus mengecek dulu di layar display yang cukup besar, dan memerlukan waktu yang lama untuk menemukan peron. FYI, di stasiun-stasiun kota Brussel  peron tidak berupa lorong-lorong bawah tanah, tapi berupa deretan tangga eskalator keatas atau kebawah, dan stasiunnya tidak ada gate untuk memvalidasi tiket, jadi anda bisa masuk saja bebas, saya pikir validasi tiket mungkin ada di atas kereta oleh petugas, nyata-nya engga juga! . Baik pulang maupun pergi tidak ada validasi tiket, jadi bisa saja nyelonong naik kereta 😁, entahlah mungkin karena jaraknya cukup dekat ya, karena tujuan saya dari Bruxelles Midi Station ke Bruxelles Centrale Station cukup dekat hanya 10 menit, dan tidak ada stasiun perhentian, keretanya bertingkat 3 unik dan keren.
Brussel Central Station
Kereta tingkat

Lantai 2

Lantai bawah
Landmark-landmark Brussel berdekatan jadi bisa walking tour, atau kalo sedikit jauh paling hanya sekali dengan kereta atau tram. Map walking tour-nya ada beberapa pilihan seperti pada gambar-gambar dibawah, untuk saya sendiri kali ini tidak mau ‘ngoyo’ karena pada kenyataan-nya ke-skip semua baik London maupun Paris dan tidak menutup kemungkinan Amsterdam nanti. Jadi di Brussel ini saya santai banget, kami cuma mengunjungi Grand Place dan Manneken Pis.  Selebihnya foto dan nongkrong berbaur dengan warga lokal di café mencari kehangatan heater eeeaaa…percayalah, jalan-jalan jadi tidak ada artinya jika anda terus menerus mengejar Landmark, sekali lagi ini bukan-lah ‘amazing race' 😆. Dari satsiun  Bruxelles Centrale kami lurus ke kanan kearah Grand Place yakni alun-alun-nya Brussel, lancar gitu pake google map? Ya engga nanya-nanya dulu pastinya wkwk.

...rencana rute walking tour
*hanya rencana 😁
Grand Place





Alun-alun Brussel ini merupakan plaza yang sekelilingnya adalah Balai Kota Brussel yang sangat artistik, saya tidak perlu menjelaskan, anda bisa buka sendiri di google mengenai sejarahnya *blogger males* 😁. Dari Grand Place kami ke Manneken Pis, apa sih Manneken Pis? Yang jelas sih macam ikon Kota Brussel yang terkenal seantero dunia yakni patung anak lelaki yang sedang pipis!!! setinggi setengah meter kira-kira, nggak ngerti sampeyan-sampeyan? Sama saya juga ngga ngerti!!. Saking ngga ngertinya saya jadi risih sendiri karena setiap souvenir Brussel pasti ada ikon ini, jadinya saya cari souvenir yang gambarnya tidak ada tambahan ikon ini dan itu sulit sekali, bahkan saya sudah teliti banget cari magnet yang tidak terselip ikon ini, eh sampe rumah ada aja nyempil kecil di pojokan. Dari Grand Place untuk ke Manneken Pis cukup dekat tapi agak berbelok-belok jadi jangan segan bertanya, sampai Landmark Manneken Pis ternyata hanya sebuah patung kecil di pojokan yang dipasang agak tinggian, ya mohon maaf yak mbak-nya tidak punya sense of art 😆. Patung-nya pipis dan bawahnya ada kolam kecil tampungan air dikeliling pagar mungkin biar tidak ada yang pegang, jangan kaget yang foto banyak sekali, termasuk kami sih hehe…

Anuuu...iya seperti ini (aja) Manneken Pis-nya
*tadi udah minta maap lho kalo ga punya sense of art
Bonus: ini bangunan depan Manneken Pis
Sepanjang jalan menuju Grand Place dan Manneken Pis adalah penjual makanan khas Belgia seperti coklat dan waffle, beberapa café proses transaksinya sudah elektronik milih menu sendiri, bayar sendiri di mesin dengan kartu atau cash, dan ambil sendiri pesanannya. Saya kurang bisa menceritakan Belgia karena hanya semalam yang jelas sih warga-nya ramah-ramah. Pendek amat, ya iya kan tadi bilang ga bisa menceritakan Belgia 😁.

Cara beli tiket kereta, disini

Sunday, April 5, 2020

UK & West Europe Part 7 (France - Paris)

Sesampainya di stasiun St. Mande, saya harus struggling lagi untuk menemukan Ibis Budget Paris Porte de Vincennes, seharusnya cuma 10 menit jalan kaki dari Stasiun St. Mande. Tapi ini lumayan jauh, jadi 20 menit kemudian kami baru sampai dengan mengandalkan google map dan beberapa kali bertanya, ternyata kami salah exit, jadi exit stasiun St. Mande ada yang paling dekat dengan Hotel Ibis, nanti anda bisa cek sendiri ya, karena exit apa? atau nomor berapa? tidak ada papan petunjuknya, hanya foto exit terdekatnya seperti dibawah ini.


Entrance/Exit terdekat dari Hotel
Ibis Budget Paris Porte de Vincennes ternyata benar-benar Hotel Budget karena semuanya self service dan room-nya agak sempit harganya IDR 960.000/malam atau IDR 480.000/malam/orang. Tapi sudah lumayan untuk twin room dan private bathroom, walaupun lokasinya tidak strategis banget, masih ditengah kota kira-kira 15 menit dengan Metro, Menara Eiffel juga masih terlihat dari sini. Waktu sudah menunjukkan Pukul 16:00 saat kami sampai, setelah sampai harusnya kami ke Eiffel & walking tour. Prakteknya? GAGAL karena saya dan teman-teman saya sudah tidak sanggup melanjutkan perjalanan, luar biasa kepayahan, jadi sore itu sampai malam kami hanya menghabiskan waktu dengan TIDUR! Bau balsam dan koyo tentunya sudah menguar wkwk…

Hari  ke 5 Paris (Selasa, 29 Oktober 2019), pada akhirnya schedule hari ini yang seharusnya ke istana Versailles harus kami batalkan karena tentu saja kami harus mengutamakan untuk mengunjungi Landmark Paris yakni Menara Eiffel. Selain itu untuk ke Versailles tiket kereta-nya cukup mahal karena lokasinya ada di luar kota Paris, tapi sebagai info anda bisa menggunakan jenis kereta luar kota RER C harganya sekitar IDR 70.000, sedangkan entrance fee-nya IDR 320.000. Jadi hari ini kami akan walking tour dan mengunjungi landmark-landmark di Paris yang seharusnya menjadi schedule di hari ke 4.

Dari Stasiun St. Mande kami menggunakan line kuning track/jurusan La Defense menuju ke Station Palais Royal Musee de Louvre. Keluar stasiun arahnya cukup jelas, anda hanya perlu mencari sign tulisan 'SORTIE' yang artinya adalah 'EXIT,' melewati mall dalam stasiun, kemudian keluar stasiun dan ambil jalan ke kanan  nanti akan terlihat piramida Museum Louvre. Masuk museum? Engga, foto doang diluar, mahal cuyyy!. Jalur Metro Paris juga sangat mudah untuk dibaca dan sederhana, sama dengan jalur Tube di London, hanya dibedakan menurut warna line.

Harus di ingat-ingat ya bahwa EXIT bahasa Perancis-nya
SORTIE seperti foto diatas (karena tanda petunjuk arah
 tidak berbahasa Inggris)
Mall dalam Stasiun
Kemudian dari piramida Museum Louvre berjalan melewati gerbang Place du Carrousel (gerbang dan museum ini berseberangan) memasuki taman Jardin des Tuileries—berjalan lurus sampai pintu gerbang yang menghadap bundaran dengan tugu batu di tengahnya disebut Place de la Concorde. Berjalan sejauh 2 km menuju Arc de Triomphe melewati Jardins des Champs-Elysees dan Avenue des Champs-Elysees. Meninggalkan  Arc de Triomphe menuju Eiffel Tower dengan naik Metro dari Stasiun Charles de Gaulle line warna hijau track/jurusan Nation turun di Trocadero Station sampai di Palais de Chaillot, karena spot Foto Eiffel terbaik adalah dari tempat ini. Oiya Entrance Stasiun Charles de Gaulle berada tepat diujung jalan Avenue des Champs-Elysees berada di sebelah kanan jalan, tidak jauh dari Arc de Triomphe.

Musee de Louvre
Gerbang Place du Carrousel - ada di seberang Musee de Louvre
Kurang lebih seperti ini map-nya (hanya kita skip destinasi paling awal yakni Notredame, karena sedang renovasi setelah insiden kebakaran) :


Kayaknya udah luwes banget? ya engga, itu juga dari hasil tengak-tengok dan bertanya-tanya, belon dikintilin ABG-ABG di  gerbang Place du Carrousel yang menawarkan proposal apalah ngga ngerti tapi saya yakin mereka ada niat jahat jadi kami acuhkan saja. Kami ingat-ingat kembali wajahnya memang mirip dengan ABG yang hampir nyopet saya, khas wajah Eropa Timur Negara berkembang seperti Kroasia, Bulgaria, Bosnia, cantik-cantik sih tapi hati-hati saja, mereka memang ke Eropa Barat tujuannya untuk mencari ‘penghasilan’ yang tidak halal, setelah cukup nanti mereka menyewa mobil bareng-bareng untuk kembali ke Negara-nya.

Kok yakin banget mereka mau berniat jahat? Jadi pas di Musee de Louvre ada pedagang gantungan kunci dan magnet yang menawarkan dagangannya, pria kulit hitam “Assalamualaikum, murah” begitu katanya, dan dia benar-benar pake bahasa Indonesia, karena tak tega kami beli barang 5 biji, tidak banyak. Saat kami dibuntuti ABG-ABG Eropa Timur ini, si pria kulit hitam ini  melihat dan seraya berlari kearah kami sambil menghardik anak-anak ini lebih tepatnya memarahi, dan memberikan peringatan kepada kami “copet-copet,” sumpah dia beneran sedikit berbahasa Indonesia. Sepertinya mas-mas ini imigran dari Afrika yang sebagian besar pembelinya adalah orang-orang Indonesia, dan 'mungkin' banyak orang Indonesia yang menjadi korban pencopetan hingga dia berusaha mencari terjemahan 'copet' dalam bahasa Indonesia hanya untuk menolong atau memberikan peringatan. Kami sangat berterima kasih atas pertolongannya hingga kami berjanji jika kami bertemu pedagang serupa (pria kulit hitam), kami akan membeli sebanyak-banyaknya, dan benar saja di Eiffel kami bertemu pedagang lain dan lain lagi, dan kami beli dan beli lagi dari masing-masing orang, terima kasih kaka-kakaaa 😁.

Jardin des Tuileries
 Masih di Jardin des Tuileries
Yakk masih di Jardin des Tuileries
Place de la Concorde sudah kelihatan ya...

Nah, akhirnya kita ada di penghujung Jardin des Tuileries,
dan anda bisa menyempatkan ke Toilet disini di kios di sebelah kiri foto
Foto-foto tersebut diatas adalah view kanan-kiri Jardin des Tuileries, untuk arahnya anda hanya perlu berjalan lurus kedepan sampai bertemu tugu Place de la Concorde seperti pada gambar dibawah.

Setelah melewati patung marmer diatas,
lurus keluar gerbang, anda akan ketemu
 tugu Place de la Condorde
Kemudian dari tugu Place de la Concorde, menyeberang zebra cross melewati taman sepanjang jalan yang bernama Jardins des Champs-Elysees, seperti pada gambar berikut.

Jardins des Champs-Elysees

Lunch time semuwahh...

Taman tersembunyi di Jardins des Champs-Elysees,anda bisa santap siang juga disini

Walking tour ini seru banget walaupun agak sedikit capek, kami makan siang dengan bekal yang sudah kami bawa di kursi taman Jardins des Champs-Elysees, dan ada juga taman tersembunyi disisi sebelah kanan jalan, indah dan ideal untuk makan siang, jangan kuatir karena ada juga warga lokal yang menikmati makan siangnya di kursi-kursi taman ini. Avenue des Champs-Elysees merupakan sederetan toko-toko kelas premium yang terkenal seantero dunia, segala merk-merk terkenal tumplek blek di sini, persis Oxford Street kalau di UK, tapi kelas-nya masih tinggian  Champs-Elysees, makanya saya ga mau masuk toko-tokonya, takut jato pengsan lihat harga-nya haha…

Avenue des Champs-Elysees
Ujung  dari Avenue des Champs-Elysees
adalah
 Arc de Triomphe.

Setiba di Palais de Chaillot saya ternganga-nganga tidak percaya gadis kampung ini (eh mbak-mbak ding) sampai juga di Eiffel! Landmark yang terkenal seantero jagad. Saya melihat spot paling bagus tempat biasa orang-orang berfoto yakni di pagar tembok sebelah kanan, tapi ternyata pagarnya tinggi banget, saya sendiri bertanya-tanya kok gadis-gadis ini bisa naik ke atas pagar? Saya tungguin aja owh ternyata mereka digendong keatas oleh suami/pacar/ayah mereka!. Tak kurang akal, saya meminta teman saya yang bertubuh besar untuk mengangkat saya ke atas wkwk…dan seperti inilah hasil fotonya! 😁.

Special thanks to Mbak Umi
*kiss*
Lebih dari sejam lamanya kami menghabiskan waktu untuk mengambil gambar disini, rencananya kami akan berjalan kira-kira 1,5 km kearah Eiffel dari Palais de Chaillot, tapi ibu-ibu sudah memasang wajah lemas karena kecapekan, akhirnya saya mengajak mereka pulang, beginilah kalo kita pergi ber-group harus ada tenggang rasa. Jadi kalo saya ditanya, Eiffel kalo dari dekat seperti apa? Jawabnya NGGA TAU, konstruksinya dari apa? Masih NGGA TAU, lokasi pastinya di area mana? Tetep NGGA TAU 😂. Been there aja ya saya?? Pokoknya asal ada poto-nya aja-lah wkwk…

Palais de Chaillot,

keluar station ambil arah kiri
naik tangga plaza
Dari Palais de Chaillot, aslinya Eiffel
masih sejauh ini, kira-kira 1,5 km
Masuk Metro menuju arah pulang, kami masih dikintilin ABG-ABG lain yang bertampang Eropa Timur, kali ini jumlahnya lebih banyak kalo tidak salah 5 atau 6 orang. Untuk memastikan apakah mereka memang membuntuti kami, kami sengaja tidak masuk kereta pertama menunggu kereta selanjutnya, dan benar mereka juga tidak masuk ke kereta pertama, demikian juga dengan kereta ke dua, FIX! sudah mereka gerombolan pencopet, seperti sudah ter-organisir ya? Memang!. Saat datang kereta yang ke-tiga tidak mungkin dong kami tidak berangkat sama sekali, jadi kami masuk ke kereta ketiga tapi di gerbong yang jauh sambil berlari.

Saat kami hampir memasuki gerbong mereka ikut, kami tidak jadi masuk tapi kami memasuki gerbong lain sambil berlari agar tidak ketinggalan kereta, pokoknya jangan sampai kami satu gerbong dengan mereka. Ternyata ngga pinter-pinter juga ya ini rombongan bocah-bocah pencopet, masih ga nyadar juga kalo mereka sudah ketahuan, sampai kemudian kami berlari ke gerbong berikutnya, baru deh 4 orang perempuan pencopet sadar bahwa mereka sudah ketahuan, jadi mereka masuk di gerbong sebelum kami, eh masih ada 1 ABG bego yang ketinggalan wkwk. Masih ga nyadar juga dia kalo udah ketahuan sama kami, dia (ABG cowok) baru nyadar kalo ketahuan setelah temennya cewek memanggil dan kira-kira memberitahu kalo sudah ketahuan sama kami, jadi dia geser ke gerbong lain….haha…lucu banget sih ini -- pas dikisahkan, pas ngalamin ya deg-deg-an wkwk 😄.

PARIS, Modern city khas kota-kota Eropa Barat, tapi jauh lebih tidak teratur daripada kota-kota lain di Eropa Barat karena bisa-bisa-nya warga-nya naik kereta loncat gate tanpa membeli tiket, bau pesing di sudut-sudut peron dan taman disinyalir pada pipis sembarangan :D, dan copet bertebaran dan homeless cukup banyak seperti-nya imigran dari Syiria. Tapi tetap tidak menghapus kebaikan-kebaikan belasan warga-nya yang sudah membantu kami membawa koper baik laki dan perempuan, juga mengantar kami sampai ke kereta Metro itupun masih sempat dadah-dadah :D. Kemudian mengantar kami ke Hotel, dan berbagai kebaikan-kebaikan lain seperti menolong kami dari ancaman copet. Apapun itu, saya lega, bangga dan bahagia telah melewati PARIS 😭.

Kesimpulannya, banyak copet dan kotor -- itu betul, tapi yang baik juga segudang dan justru itu adalah romantisme Paris dari kacamata saya yang bukan Eiffel-nya 😍.

Cara beli tiket kereta, disini
Cara melihat track/jurusan kereta, disini & disini
Cara menggunakan tiket/keluar-masuk peron, disini, disini, & disini


UK & West Europe Part 6 (France - Paris)

Saya paling deg-degan saat mengunjungi Negara ini, sungguh reputasi Perancis di kalangan traveler sangat mmmm…gitu deh, karena Paris-lah saya membeli travel waist wallet yakni dompet yang menempel di badan. Sesaat sebelum tiba di Paris kami sudah bongkar tas dan memindahkan Passport, uang pecahan besar, dan Kartu Kredit di  dompet tersebut, oiya jangan coba-coba tarik uang tunai di ATM, karena kemungkinan carding sangat besar dan anda akan sulit mengajukan sanggahan ke Bank karena tidak ada alibi, sebab posisi anda benar-benar di Eropa.

Travel Waist Wallet

Pukul 06.30 waktu London kami sudah keluar Apartment, rasanya cukup lega karena satu Negara telah terlewati, artinya waktu adaptasi untuk melalui Negara-negara berikutnya harusnya sudah lebih luwes,  walaupun tetep saja lebih waspada untuk melewati Paris. Dari Halte Bus yang tepat berada di depan Apartment, kami ke Stasiun besar St. Pancras yang hanya memakan waktu selama 10 menit, deket ya? Memang, saya sengaja memilih hunian yang dekat dengan St. Pancras agar lebih santai saat berangkat. Stasiun St. Pancras ini sangat besar dan artistik, disinilah tempat berangkatnya kereta cepat Eurostar yang mahal itu, sebelum memasuki gate, kami terlebih dahulu mengambil sisa uang poundsterling di Oyster Tourist/Visitor Card yang tersisa, kali ini sangking luwesnya saya sudah tidak perlu lagi melihat panduan-nya di youtube eeeaaa….

St. Pancras Station
Kami membeli tiket Eurostar dan tiket-tiket kereta antar Negara lain yakni Thalys melalui Omio.com, bisa juga sih membeli langsung ke portal masing-masing perusahaan kereta, tapi anda tidak mendapat potongan harga sebesar Euro 10. Bagaimana caranya? Kalo anda pergi ber-rombongan, bikin 1 akun Omio terlebih dahulu kemudian invite tiap orang dan bikin akun lagi demikian seterusnya, masing-masing akan mendapat redeem Euro 10, kemudian beli-lah tiket-tiket kereta antar Negara tersebut per 2 orang penumpang dengan potongan Euro 10, lumayan bukan?!.

Untuk memasuki peron Eurostar anda hanya cukup scan barcode yang dikirim via email saat pemesanan online, tapi jika tidak berhasil petugas akan membantu anda untuk verifikasi tiket baru. Selepas gate, berikutnya adalah xray bagasi yang tinggi-nya adalah 1 meter!, mau nangis ngga?? Udah gitu kami harus meletakkan bagasi di atas tray yang tambah mempersulit kami untuk mengangkat sekaligus menaruh bagasi 28 inch seberat 25kg!. Saya complain kepada petugas karena kami kesulitan mengangkat kalo harus dengan tray juga, tapi petugas menolaknya, terpaksalah kami mengangkat koper berdua-dua *crying.* Baru kemudian kami memasuki loket imigrasi United Kingdom yang berjalan lancar “syukron” kata dia, 2 meter dari situ kami memasuki loket imigrasi European Union. Untuk tahu peron Eurostar ‘jurusan’ London-Paris anda hanya harus menunggu saja di hall keberangkatan karena 15 menit sebelum keberangkatan petugas baru akan mengumumkan peron yang dituju.

Peron Eurostar
Eurostar London-Paris adalah kereta berkecepatan 300km/jam ditempuh sejauh 342 km selama 2 jam 16 menit, menembus melewati Channel tunnel yakni 3 terowongan parallel dibawah selat inggris sepanjang 50 km. Letak terowongan tersebut berada dikedalaman 9,3km dibawah Inggris dan 3,2km dibawah Perancis. Saya membayangkan saat melewati terowongan ini yang saya lihat adalah terowongan kaca seperti di Sea World dengan ikan-ikannya, kenyataannya? Ya NGGA-lah!  bloon banget sih mbak-nyahh dikira taman bermain?? wkwk. Terowongannya gelap gulita kayak terowongan kereta darat, anda hanya akan merasakan pengang saja di telinga, dan jarak 50 km untuk kereta cepat hanya memerlukan waktu tempuh selama 30 menit, jadi cepat sekali. Bahkan rasanya saya belum menikmati mahalnya kereta ini udah sampai Perancis saja!.

Dalamnya Eurostar, sesuai harganya 😭

Bisa pilih tempat duduk untuk formasi ber-4 atau ber-2
Hari  ke 4 Paris (Senin, 28 Oktober 2019), sesampainya di Stasiun Induk Gare du Nord Paris, petugas mengumumkan bahwa mereka akan memberikan refund karena delay 30 menit. Saya sempat mampir ke kantor Eurostar untuk bertanya mekanisme refund tapi ternyata harus lewat website, dan refund diberikan dalam bentuk voucher untuk dipergunakan kembali, namun saya berhasil meminta cash refund dengan alasan sepertinya tidak mungkin kembali ke Eropa karena kami hanya turis. Sama seperti London, untuk menuju ke stasiun Metro (London menyebutnya Tube, sedangkan Paris menyebutnya Metro), kami harus turun ke bawah tanah namun tidak perlu keluar stasiun Gare Du Nord. Sesampainya di  Metro tentunya saya kebingungan lagi harus kemana? karena petunjuk tidak jelas dan tidak ber-bahasa inggris. Oiya, sebelum sampai Gare Du Nord kami sudah  memasang dompet pinggang didalam baju, benar-benar rasanya seperti ada yang menyambut “Wellcome to The Jungle Geesssss…” 😂 *kasih aksen medhok.*



Sudahlah petunjuk tidak jelas dan tidak ber-bahasa inggris, orang-orang-nya juga tidak berbahasa inggris, kalaupun ada yang bisa ditanya ngga ngerti platform-nya, kalaupun mengerti arah platformnya dia-nya ga bisa bahasa inggris jadi ngga ngerti gimana ngomongnya ke saya, sungguh saya frustasi di Paris 😭. Pukul 13:00 kami sampai di Stasiun Metro Gare Du Nord, seharusnya cuma 30 menit sampai ke Saint Mande Metro Station yakni Stasiun terdekat dari Hotel tempat kami menginap, jadi kurang lebih pukul 14:00 kami bisa memulai walking tour ke Eiffel dan Landmark lain-nya sesuai jadwal. Kami tidak pernah mencoba opsi menitip koper karena biaya untuk penitipan koper sebesar 28inch sangat mahal, yakni sekitar IDR 150.000.

Yahh seperti biasanya ya, schedule saya terlihat ideal, mari kita lihat apakah masih ideal??.  Pas celingak celinguk ada petugas yang menghampiri dan memberitahu dimana gate Stasiun Metro Gare Du Nord dan sekaligus memberikan peringatan akan banyaknya copet. Di gate ini saya membeli tiket kereta ketengan karena di Paris tidak ada sistem kartu seperti di London kecuali untuk warga Negara-nya, namanya tiket t+ seharga IDR 30.000 single journey. Mahal ya?? tapi maksud single journey ini adalah asal anda tidak keluar station maka anda masih belum perlu membeli tiket, namun ada cara agar anda bisa menghemat sedikit biaya yakni dengan membeli tiket t+ paket 10 tiket atau tiket carnet, anda hanya akan membayar IDR 26.000 per tiket-nya. Jika kesulitan mengoperasikan mesin tiket jangan ragu untuk bertanya dan tidak mengapa jika grogi, seperti turis amerika di depan saya, gara-gara dia-nya grogi saya-nya jadi pede menguasai mesin tiket ini walaupun lagi di antriin penumpang lain hehe…tutorial akan saya pasang link di akhir ya…

Gare Du Nord, kalo anda naik Eurostar/Thalys
peron-nya ada di deretan sebelah kiri foto
Untuk menuju St. Mande Station  saya harus stop dulu di Bastille dengan line warna orange jurusan Place de’ Itelie, kemudian pindah peron ke line warna kuning jurusan Chateau de Vincennes stop di stasiun St. Mande, bahkan mengeja dengan pronounce English-pun sangat sulit, selain google map anda juga bisa menggunakan apps Next Stop Paris, jadi saya hanya menunjukkan tulisan di ponsel saya. Makin frustasi ketika saya tersesat saat mencari line kuning jurusan Chateau de Vincennes, tidak ada petunjuk arah seperti anak panah, sign line kuning menghilang begitu saja di lorong sedangkan di depan ada 3 pecabangan. Apes-nya percabangan-nya adalah tangga ke atas atau kebawah, sedangkan kami membawa koper-koper besar, karena sulit untuk berbicara dengan warga lokal maka saya nekat turun kebawah, dan benar dong saya salah peron, Oh Tuhann! 😭.

Beda dengan London walaupun hari gelap tapi harapan saya sangat besar karena saya mudah untuk bertanya, sedangkan ini “bertanya saja aku sulittt” *crying*. Seperti biasa saya meminta teman-teman saya untuk menunggu dibawah bersama koper-koper kami, sedangkan saya naik turun untuk mencari petunjuk line kuning, berjalan tergesa-gesa sambil bertanya, tentunya sekarang pertanyaan pertama saya adalah “Excuse me, do you speak English?”. Ternyata petunjuk arah line kuning berada di lorong dengan 2 kali naik tangga, langsung lemas dong saya! karena itu berarti kami harus 3x naik tangga dengan koper!. Don’t judge a book by it’s cover, peribahasa ini bener banget karena ada seorang anak punk yang menolong kami menaikkan koper ke tangga paling atas, semua koper! Catet!. Awalnya teman saya agak underestimate karena yah kita tahulah reputasi Parisian, tapi saya bilang kalo mau bawa kabur koper silahkan saja, kali dia emang bisa ngangkut koper seberat itu sambil berlari 😁, tapi tentunya  feeling saya benar bahwa ABG ini bener-bener tulus *if I’ve allowed to hug you, I will hug you instantly* lhah jadi mellow gini terharu sayah…jadi sayanya cuma makasih makasih saja berkali-kali.

Di dalam kereta kami dipepet 2 orang ABG perempuan yang sejak menunggu kereta sudah mengawasi kami, tentunya saya memperhatikan gerak geriknya tersebut dan benar saja mereka seketika merogoh tas saya dan teman saya dan secepatnya pula loncat dari kereta saat pintu kereta terbuka. Saya sempat memergoki tangan dia yang merogoh tas saya dan bersitatap sesaat, kemudian dia bilang “sorry” lhah!, dan saya kaget seketika seperti terhipnotis dan kemudian tersadar bahwa kami hampir menjadi korban pencopetan. Trus? Ya ga kenapa-napa wong dia ga dapat apa-apa, uang dan semua kartu kan ada di dompet dalam baju wkwk…sekali lagi anda harus sangat super berhati-hati di Paris karena hampir setiap hari Kedutaan Republik Indonesia menerima permohonan SPLP karena passport hilang.

Masalahnya-kan untuk mendapat SPLP perlu waktu untuk lapor polisi dulu (untuk mendapat surat keterangan kehilangan), cetak foto, dan baru mendapat SPLP, jadi kira-kira butuh 2 hari sedangkan anda mungkin harus segera pindah ke kota di Negara lain. Untuk kehilangan uang bisa diklaim ke asuransi dalam hal ini asuransi perjalanan yang sudah anda beli untuk apply visa, tapi balik lagi proses-nya tidak mudah karena harus ada bukti dengan surat keterangan kehilangan dari kepolisian Negara tersebut, ribet kan?. Jungleeee here we comeeeee...😆