Monday, June 22, 2020

UK & West Europe Part 10 - END (Netherlands - Amsterdam)

Zaanse Schans
Hari  ke 8 Amsterdam (Jumat, 01 November 2019), keesokan paginya sesuai jadwal, kami ke Zaanse Schans & Volendam yang berada diluar kota Amsterdam dengan Bus, untuk itu kami membeli One day regional travel ticket seharga Euro 19,5. Petugas loket akan bertanya apakah anda akan ke luar kota lain selain Zaanse Schans dan apakah anda mempunyai single tiket untuk kereta, maksudnya adalah jika hanya ke Zaanse Schans dan kita mempunyai single tiket kereta, maka One day regional travel ticket tidak perlu kita beli, karena kita juga bisa membeli single tiket Bus ke Zaanse Schans dengan Kartu Kredit. Karena kami akan ke Zaanse Schans dan Volendam yang sama-sama berada di luar kota Amsterdam, dan kami tidak memiliki single tiket kereta, maka One day regional travel ticket adalah pilihan tepat untuk menghemat biaya transportasi.

One day regional travel ticket
Sama dengan rute sebelumnya, untuk menggunakan Bus kami perlu ke Stasiun Amsterdam Centraal, tampaknya saya mulai memahami pattern-nya, seluruh hub untuk semua mode transportasi sepertinya ada di Amsterdam Centraal, dan sekarang saya baru tahu mengapa akomodasi di sekitaran Amsterdam Centraal begitu mahal. Terminal Bus di Stasiun Amsterdam Centraal sendiri saya lupa ada di Level berapa yang jelas kami berjalan keluar peron dan naik 2 level dengan eskalator. Jika bertanya pada petugas sebutkan jenis Bus yang akan anda naiki yakni Connexxion Bus No.391 atau 91 tujuan Zaanse Schans, di terminal anda akan melihat papan-papan layar yang menunjukkan huruf-huruf di Platform apa Bus No.391 akan berangkat.

Saya sendiri cukup terkesima dengan rancang bangun Terminal Bus ini, seperti berada di level paling atas Amsterdam Centraal dengan lokasi yang terbuka dengan atap dari kaca yang melengkung sampai hampir ujung lantai terminal. Ah! Sulitlah saya ini menggambarkannya, makanya maen-maen sinilahh wkwk…berikutnya yang membuat saya terkesan adalah saat saya menengok pagar pembatas terminal, ternyata bawahnya adalah lautan dengan sekat-sekat kanal, saya lupa bahwa sebagian Amsterdam berada di bawah permukaan air laut sehingga dibuatlah dam dengan kanal-kanal. Jadi, kapal adalah sarana transportasi yang jamak di Negara ini, pun area museum yang tempo hari kami kunjungi sekelilingnya adalah kanal-kanal dengan dermaga kecil, dan paket kartu transportasi sudah termasuk transportasi kapal juga namun sayang sekali karena hari hujan dan menjelang maghrib, rasanya badan sudah tidak kuat melanjutkan perjalanan.

Amsterdam Centraal Terminal
Dam & kanal-kanal di depan Amsterdam Centraal
Perjalanan ke Zaanse Schans diiringi hujan rintik tiada henti tapi sebenarnya udara cukup hangat dibanding saat tidak hujan. Melewati perumahan penduduk dengan kanal-kanal dan perahu lengkap dengan dermaga private di depannya, sungguh unik sekali rumah-rumah mereka, kurang lebih 45 menit lamanya melewati toll yang sebenarnya macet tapi moda transportasi umum memiliki jalur khusus sehingga bisa sampai tepat waktu. Halte pemberhentian Bus-nya terletak tepat di depan Zaanse Schans, anda juga bisa memilih moda transportasi kereta jika mempunyai Eurail Pass, hanya stasiun pemberhentiannya sangat jauh, kurang lebih 30 menit jalan kaki. Zaanse Schans merupakan desa kincir angin buatan, tepat-nya sebuah replika desa kincir angin di Belanda pada masa lalu, spesialnya apa? Ya kincir anginnya wkwk…jadi menurut saya biasa aja, yang kayak tour wajib kalo ke Belanda hehe…yang paling penting sih GRATISSS. Oiya anda bisa menyantap bekal makan anda di rest area sebelah kanan tidak jauh dari saat anda masuk, emang ga diperhatiin atau ditegor? Kagakkk…bebasss…padahal tersedia restaurant di rest area tersebut πŸ˜€.

Kanal dengan perahu-perahu kecil
Pintu Masuk Zaanse Schans


Cukup sejam saja kami di Zaanse Schans karena hujan masih juga tidak berhenti, untuk ke Volendam anda harus kembali ke Amsterdam Centraal dan berangkat di Terminal yang sama dengan Bus No. 316 jurusan Edam, bisa juga ke Volendam langsung dari Zaanse Schans tapi Bus jurusan tersebut hanya beroperasi di bulan-bulan tertentu. Sebenarnya saya sudah males banget ke Volendam karena hujan masih terus menerus mengguyur, tapi teman saya memaksa untuk datang ke Volendam, untuk apa?? yakni untuk foto studio dengan baju khas Belanda yang tenar itu. Iya, sungguh tenar di kalangan wisatawan Indonesia, karena ada foto Rano Karno dan keluarga Si Doel disini, dan masih banyak artis-artis Indonesia yang lain haha…bahkan sign board di Studio Photo ini berbahasa Indonesia πŸ˜€.

Perjalanan ke Volendam memakan kurang lebih 30 menit stop di Halte Julianaweg-Centrum, setelah itu berhenti untuk cek nama studio fotonya dan bertanya arahnya ke penduduk lokal, dan nemulah saya Studio Photo de Boer. Jadi memilih halte pemberhentian Bus dan nama Studio Foto-nya sungguh hanya spontanitas saja, tidak saya research sebelumnya seperti biasanya, entahlah barangkali karena sudah biasa, jadi insting-lah yang membimbing saya. Bahkan saat itu jalanan sangat sepi karena hujan dan dingin dan tidak tampak pula semacam pelabuhan atau dermaga, mengikuti petunjuk penduduk lokal, sempat saya ragu tapi kemudian terdengar suara burung camar yang menandakan bahwa saya tidak salah arah πŸ˜€.

Volendam
Segala olahan berbahan dasar ikan Herring
...yang pengen bangetttt potohh, biarin dah eik pajang disinih 😁
Sepuluh menit kemudian baru tampaklah dermaga pinggir laut yang ternyata tertutup oleh deretan perumahan dan toko-toko, jadi bisa dibilang untuk ke dermaga kami harus melewati gang dan tangga sempit. Harga photo studionya sangat mahal yakni sekitar IDR 360.000 dengan 2 kali pose dan 1 kali pengambilan gambar dengan HP, selebihnya kami hanya belanja pernak-pernik souvenir dan mencoba makanan khas Volendam yakni ikan Herring, anda juga bisa menemukan masakan Indonesia disini karena cukup banyak warga kita yang tinggal di Belanda. Hari ke -2 di Belanda sebenernya cukup seru tapi sekali lagi karena kendala cuaca hingga sedikit kurang bisa menikmati perjalanan, tampaknya lain kali saya harus datang saat musim panas atau musim semi😍. Dan dengan demikian selesai-lah trip keliling eh bukan trip menclok-menclok Eropa kami pada kali ini😁.

Esoknya, dari Hotel ke bandara kami berencana naik kereta tapi ternyata tidak beroperasi, dan petugas menyarankan untuk menggunakan Bus yang pemberhentiannya berada tepat disebelah stasiun, yang tentunya lebih luggage friendly, daripada harus naik ke atas dengan kereta. Tidak afdhol sepertinya kalo tidak ada masalah, karena credit card temen saya tidak bisa digunakan untuk membayar tiket Bus di dalam Bus, petugas menyarankan untuk naik ke Bus berikutnya karena mereka harus segera berangkat, saya memaksa untuk tetap berangkat dengan credit card saya dan untungnya bisa. Sementara kami sibuk dengan drama credit card, lha trus dimana 2 temen saya yang lain dan 4 koper kami?? wah wah ternyata mereka sudah dari tadi anteng di dalam Bus, dibantu oleh serombongan petugas untuk mengangkat koper-koper kami lewat pintu belakangπŸ˜‚, gimana ngga betah di Amsterdam coba??.

Tidak cukup rasanya menjelajahi Amsterdam dan regionnya selama 2 hari, dari 4 kota hanya Amsterdam yang membuat saya kerasan, pengin balik lagi karena ambience-nya santai sekali, warganya berbahasa inggris, ramah, dan peduli. Tidak jarang, saat tahu saya dari Indonesia tiba-tiba mereka menyanyi lagu dangdut, atau mengajak berbahasa Indonesia, atau berbasa-basi mengenai style hijab saya, atau bahkan tersenyum karena eye contact padahal kenal juga kagak kan, ahh jadi berasa di rumah sendiri…ehh?!.

Anywayyy...setiap negara/kota punya keistimewaan sendiri, bukan berarti di Amsterdam tidak ada yang jutek, ya ada juga yang ga enak--yang saya temui biasanya adalah pramuniaga convenience store atau studio foto, berbanding terbalik dengan London bukan?? yang pramuniaga toko-nya luar biasa ramah. Demikian juga dengan Paris, satu kejadian tidak bisa menghapus kebaikan belasan warga Paris yang dengan sukarela membantu kami πŸ˜€, SOOO! LET'S TRAVEL THE WORLD!!!

Cara mencari line atau mencari platform kereta, disini
Cara masuk peron stasiun, disini
Exit Sign di peron stasiun, disini
Cara naik Bus di Amsterdam Centraal, disini


0 comments:

Post a Comment