Gulmarg & Pahalgam, merupakan destinasi utama Kashmir, masing-masing memerlukan waktu sehari untuk explore karena jarak yang cukup jauh, dan membutuhkan waktu explore yang lumayan lama, sebetulnya masih ada satu lagi yakni Sonmarg, tapi karena keterbatasan waktu terpaksa saya eliminasi destinasi satu ini.
Kami jadwalkan ke Kashmir 4 hari 3 malam dari tanggal 29 April – 2 Mei,
arrangementnya adalah hari pertama tanggal 29 April sampai di bandara Srinagar
langsung ke Gulmarg, menginap semalam di Gulmarg, 30 April ke puncak Apharwat
sekaligus check out dan kembali ke
kota Srinagar check in houseboat untuk 2 malam sorenya kami cukup mengelilingi
Dal Lake dengan Shirkara, 1 Mei berangkat PP ke Pahalgam, 2 Mei check out terbang ke Delhi.
Pine Spring Hotel Gulmarg bukanlah Hotel mewah walaupun harganya
termasuk mewahhh, Exterior dan Interior-nya sangat biasa tidak buruk,
tapi juga tidak begitu bagus, bahkan
hotel berlantai 4 ini tidak ada lift, entahlah kenapa?? Yang penting kami tidak
disuruh angkut koper sendiri, jadi room
boy dan bell boy selalu ada, tips
tentunya sudah jamak disini, mulai dari room
boy, driver, sampai dengan restoran. Kelebihan satu-satunya hotel ini
adalah jarak yang cukup dekat dengan Gondola dan pelayanan yang baik, oiya
tambahan satu lagi pemanas yang berfungsi dengan baik walaupun masih tidak bisa
membendung dinginnya Gulmarg sekira 17 derajat celcius. Hotel lain sih cukup
banyak yang lebih murah, tapi jaraknya jauh dari gondola dan reviewnya buruk, seperti
makanan yang buruk atau pemanas yang tidak bekerja dengan baik, karena
daerahnya cukup terpelosok maka saya tidak mau ambil resiko.
Untuk ke puncak Apharwat anda perlu jaket/coat dan sepatu/boots yang proper, tapi jangan khawatir anda tidak perlu keluar uang lebih
karena bisa menyewa di tempat dengan tarif INR 100-200, konon ada di pintu
masuk tempat parkir mobil, Ini saya tidak tau dimana karena tidak melihat
parkir mobil. Loket gondola dibuka pukul 09.00, tapi kami sudah jalan dari jam
08.00 agar bisa stand by jam 08.30, reception hotel memberitahu kami dengan
cukup mengikuti pagar hijau, “sangat dekat, 5 menit jalan” begitu katanya.
Nyatanya sih tekor 40 menit kita, dengan tanjakan dan turunan yang lumayan,
yaaa ini jauh yakkk...engga yang sedeket itu jugak!. Sampai di depan loket saya
cukup riang, karena sepi dan saya antrian no. 5, loket ini dibatasi dengan
pagar teralis yang cukup rapat mulai dari kanan kiri bahkan ditutup teralis di
bagian atasnya, entahlah saya kurang tau maksudnya. Pada prakteknya, tiket
offline dan online dicampur, laki-laki dan perempuan juga dicampur di 2 antrian
loket, sedangkan loket untuk antrian tiket online ditutup.
Dari saat kami jalan menuju arah loket, kami sudah di ganggu oleh guide yang menawarkan jasanya,
berkali-kali dia membujuk bahkan saat saya sudah antri (teman-teman saya, saya
minta untuk menunggu saya di tempat lain), “ayolah Mam anda tinggal menunggu
biar saya yang antri.” Dari yang awalnya saya masih menjawab dengan sopan,
sampai pada saya merespond dengan juteknya dan memohon untuk tidak mengganggu
saya lagi. Saya makin galak saat ada guide lain yang baru datang menyerobot antrian saya, “it’s my queue!!” sambil saya
menjejakkan kaki saya ke depan untuk menghalangi kaki-nya. Anehnya, dia masih
ber-alasan bahwa dia terburu-buru, langsung saya bentak “situ kagak mau ngalah
sama perempuan!!” dan dia akhirnya mundur sambil menelfon menceritakan ke
temennya nyinyirin saya dengan menirukan bentakan saya tadi. Oiya, sempilan dikit
orang-orang India ini sangat gadget
addict jadi dikit-dikit menelfon, dikit-dikit foto, dan nggilani-nya dikit-dikit selfie, korbannya adalah bule-bule yang
tak henti-hentinya diajak selfie, sama-sama cowok! (Saya jarang ngeliat perempuan India keleleran, ada sih tapi tidak banyak).
Saya baru menyadari bahwa sekeliling saya ini guide semua, tidak ada turis, sampai kemudian ada 2 orang turis
India berpasangan antri di belakang saya, fiuhh...leganya. Dua orang turis India ini juga tidak lepas
dari sasaran guide, bahkan guide yang antri depan saya dengan
bawelnya menyarankan saya untuk menyewa guide,
orang-orang itu datang silih berganti memaksa saya menyewa jasa mereka, sangat menyebalkan!, saya bahkan
sudah tidak menjawab orang-orang ini lagi. Sampai kemudian dua orang turis India itu menyerah juga, akhirnya mereka menyewa
guide! Waduh! orang lokal aja nyerah
lha ini gimana sayah?!, udah perempuan sendiri, foreigner pula!, saya mulai menaikkan resleting coat saya, mengikat
masker, dan memakai kacamata hitam saya. Loket dibuka terlambat setengah jam
dari jadwal, dimana saya sudah berdiri selama 1 jam! Begitu loket dibuka,
kekacauan mulai terjadi, tidak ada lagi yang namanya antrian, semua guide-guide
ini...oh ngga calo! Iya mereka lebih pantas-nya dipanggil calo!, berebutan
menjejak teralis besi yang membatasi, menyerobot, memasukkan tangan mereka ke
lubang loket! Astagah! Bahkan tentara-tentara yang berjaga tidak berbuat
apa-apa...dan sekarang saya baru tahu apa gunanya teralis ini!
Jantung saya mulai berdegup kencang walaupun kaki tidak selemas saat drama
Visa, akhirnya saya memberanikan diri meminta guide dari Srinagar yang ada di depan saya untuk menukarkan
tiket online saya, “of course i’ll
pay you” kata saya, “i’ve told you
Mam,” “harusnya tadi anda menyewa jasa guide!”
“Saya tidak bisa bantu anda karena saya bukan orang sini!”. Saya makin panik,
keadaan makin kacau, jantung saya sudah mau loncat, saya terjebak diantara
kekacauan ini yang semuanya laki-laki!.
Ada 1 petugas keamanan entah polisi atau tentara saya tidak tahu,
mencoba menertibkan tapi percumah dia kalah sama calo-calo ini, salah seorang
calo mencuri dengar pembicaraan saya dengan guide
tersebut. Dia menawarkan diri, saya bilang “only
exchange! No Guide!” kami sepakat, harga dari INR 700, saya tawar menjadi
INR 500, kurang lebih Rp.100.000. Saya ditarik keluar dari teralis besi, saya
minta dia menggantikan posisi saya, tapi dia tidak mau, sama brutalnya dengan
yang lain, dia segera bergegas berlari ke loket online tapi Nihil karena ditutup (ya iyalah situ kaga bisa ngeliat?!
jelas-jelas ga ada antrian, pasti tutuplah!).
Kemudian, dia berlari lagi ke loket satunya, dan saya kehilangan jejaknya,
bahkan saya tidak ingat wajahnya!!! Astaga!! Saya mulai kebingungan mencari
calo saya! Kata calo lain yang melihat saya, “tenang aja Mam, he will get your tickets,” Booo' gue lupa muke calo gue?!?! Huhuhu...dan
calo yang di awal sudah men-teror mengejek saya, “Nah, sekarang anda pake guide juga kan Mam akhirnya?!” saya
meng-ignore saja, karena mereka ini
memang tidak bisa dijawab dengan bahasa manusia!. Tak lama calo saya nongol dan
memberikan segepok tiket ke saya, mengantarkan ke stasiun gondola fase 1, “we
finish here, right?” “No mam, saya antar anda ke station” dan jarak antara
loket ke stasiun gondola fase 1 memang jauh, tidak ada petunjuk arah, kalopun
anda tanya orang-orang sekitar alih-alih menjawab mereka pasti menawarkan jasa guide yang tidak masuk akal, apanya yang
mau di-guide-in, yang ada malah jasa
nemenin!.
“We finish here, right?” dia diem pura-pura sibuk, “I don’t need guide!” lagi-lagi dia tidak
mendengarkan saya, tiba di pintu masuk stasiun gondola fase 1 dia menjebak saya
dengan memintah tambah INR 1000 untuk jadi guide,
hahh?!, “No! We agree for only exchange
tickets!!” dia memaksa saya, kami arguing
di depan petugas, saat itu hari masih pagi jadi tidak ada antrian, saya
memandang petugas seolah meminta tolong dengan tatapan mata saya. Petugas
tersebut mengerti, tapi apa coba yang keluar dari mulutnya?? “It’s your problem with him, finish it!,”
confirm MAFIA! *WAR*. Cukup sudah! Amarah saya sudah tak tertahankan lagi! Saya
meminta teman-teman saya masuk ke dalam, dengan nada tinggi saya bentak ini
calo,“WE AGREED FOR ONLY EXCHANGE
TICKETS, I DON’T NEED GUIDE!!! I DON’T HAVE MONEY!! AND WE FINISHED HERE, NOW TAKE
YOUR MONEY!!!” kampret! *yang terakhir dalam hati* 😀. Saya kasih INR 500
lalu saya tinggal ke dalam, buru-buru saya minta teman-teman saya langsung naik
gondola karena gondola ini berjalan terus, di dalam keheningan gondola saya
mengatur napas & emosi pelan-pelan.
![]() |
| Kereta Gondola Fase 1 |
![]() |
| Stasiun Gondola Fase 1 |
![]() |
| Masih di Fase 1 |
Kami merasa cukup beruntung karena bisa mencapai puncak Apharwat, karena
dua wisatawan Indonesia lain yang kami temui di Jaipur tidak bisa sampai ke
fase 2 karena ditutup akibat cuaca buruk, padahal sudah memasuki musim panas.
Tiga wisatawan lain yang saya tanya di blog mereka juga tidak ada yang mencapai
fase 2, dan ada 1 travel blogger yang
mencapainya setelah kunjungan yang ke-2! Jadi sekali lagi perhatikan waktu
kunjungan anda! Sayang sekali jika sudah jauh-jauh datang ribuan mil dari
Indonesia tapi tidak bisa mencapai puncak. Untuk masalah calo, kembali saya
serahkan pada anda, kalo merasa tidak PD sebaiknya sewa guide, tapi tetap hati-hati, jangan mau disuruh beli ini itu, atau
suruh mencoba permainan ini itu di atas sana, anda-lah yang berhak menentukan. Untuk
saya sendiri?…entah darimana datangnya keberanian itu?? Kalo menurut teman saya
sih bukan berani tapi nekad! 😁. Sebetulnya saya sempat membaca di tripadvisor
jika antrian tiket gondola sangat kacau, tapi tidak menyangka jika sekacau ini!.












Ya Allah Hectic bener ya mb. Mb mengenai Hotel Pine Spring over all worth it ga? Breakfastnya gmna? Saya udh booked disana buat maret ini.
ReplyDeleteIya mz super hectic tp jd ada bahan buat diceritain disini hehe...
ReplyDeletePine Spring Ok sih, tp kamar biasa saja unt harga segitu, tp mngkin mahal krn logistic tdk mudah...
Breakfast enak walopun tidak selengkap hotel2 setara, tapi pelayanan bagus mrk baik2, dibolehin nyimpen sebagian breakfast unt bekel wkkk (bilang aj ngambilnya kebanyakan hehe modus sengaja) :D