![]() |
| Moon mangaap bukannya mau narsis, tapi satu-satunya foto Rijks Museum yang tanpa objek--miring-miring π |
Hari ke 7 Amsterdam
(Kamis, 31 Oktober 2019) kereta antar negera berikutnya yang mengantar kami
dari Brussel ke Amsterdam seharga IDR 434.000 dengan Thalys, berangkat tepat
pukul 06:52 menempuh perjalanan selama 1 jam 30 menit. Pukul 7 pagi udara di
Eropa Barat dingin dan cuaca masih gelap, kira-kira seperti pukul 05:30 jika di
Jakarta dan kami masih konsisten dengan gledek-gledek koper sampai lama-lama
ini koper sudah tidak berat lagi karena sudah terbiasa :) (atau stok makanan yang sudah berkurang??π). Hanya, keberangkatan
kali ini jauh lebih santai karena stasiun kereta Thalys terletak tidak jauh
dari Hotel, cukup 5 menit jalan kaki, pukul
09:00 kami sudah tiba di Amsterdam-Centraal.
Sistem tiket transportasi di Belanda hampir sama
dengan UK, hanya tidak perlu ada deposit karena kartu magnetic yang digunakan
adalah softcase jadi selesai dipakai langsung buang, tapi pembelian tiket
transportasi single ticket dengan cash dan kartu kredit tetap dilayani, yang
menurut saya agak ribet dan tidak hemat biaya. Untuk itu demi menghemat biaya
saya membeli jenis kartu transportasi GVB
one day unlimited, yakni tiket transportasi yang berlaku dalam kota
Amsterdam saja selama sehari untuk seluruh moda transportasi yang dioperasikan
oleh GVB seharga Euro 8 (sebagian besar moda transportasi di Amsterdam di
operasikan oleh perusahaan transportasi GVB). Satu lagi kami membeli One day regional travel ticket seharga
Euro 19,5, sama dengan GVB hanya travel ticket tersebut mencakup luar wilayah
Amsterdam seperti Zaanse Schaans dan Volendam.
Di hari pertama saya membeli GVB karena saya hanya
akan berkunjung Rijks Museum, Albert Cuyp Market, dan Dam Square, anda bisa
membelinya di tourist information office
di depan stasiun Amsterdam Centraal, jadi anda harus keluar stasiun terlebih
dahulu karena di dalam stasiun saya tidak menemukan loket penjualan tiket kereta.
Jika petunjuk arah menghilang jangan kuatir karena di setiap sudut Amsterdam-Centraal
banyak petugas yang siaga untuk membantu turis, kalaupun tidak ada petugas,
warga lokal akan dengan senang hati membantu, entah karena warga-nya baik-baik
atau karena tahu kami dari Indonesia?. Yang jelas walaupun saya musti
berkali-kali bertanya dan berjalan jauh, pada akhirnya ketemu-ketemu juga,
apalagi kalo mereka bertanya asal Negara kita, malahan diantar sampai ke tujuan
dan ngobrol ngalor ngidul. Kadang untuk menjelaskan Indonesia-Jakarta saya
bilang Bali aja biar cepet, eh ternyata sebagian besar orang lokal tahu begitu
menyebut Indonesia, ya mungkin karena bekas daerah pendudukan kali ya? atau
memang wawasannya luas.
Dari Stasiun Amsterdam-Centraal kami menuju ke
Stasiun Bijlmer-Arena yakni stasiun terdekat dari Hotel kami dengan line warna
kuning platform M54, anda bisa download apps 9292 atau cukup menggunakan google
map. Oiya tidak setiap gate bisa digunakan untuk nge-tap dengan kartu GVB, jadi
hanya gate-gate tertentu saja, anda hanya tinggal mecoba tap satu demi satu di
tiap gate. Seperti biasa dari platform stasiun kereta antar Negara yang sejajar
dengan tanah, kami harus turun kebawah ke platform stasiun kereta lokal, jangan
kuatir karena setiap perpindahan platform terdapat elevator yang jaraknya tidak
jauh, nah nambah lagi ya salah satu keunggulan Amsterdam :D. Harga tiket dari
Amsterdam Centraal ke Bijlmer Arena Station kurang lebih Euro 3, jadi alangkah
hemat-nya bukan jika kita membeli GVB tiket?? Perjalanan memakan waktu kurang
lebih 20 menit, konon EasyHotel Amsterdam Arena Boulevard hanya 2 menit jalan
kaki dari stasiun, ah saya ngga percaya?! Kenyataanya? BENAR Hotel ini tepat
berada di depan pintu keluar stasiun dongg. Wah, mahapkeun sayah yang sering
su’udzhon wkwk…
![]() |
| Depannya pas adalah Bijlmer Arena Station |
![]() |
| Area Hotel |
![]() |
| Tram |
![]() |
| Halte Stadhouderskade |
Pulangnya, sama seperti berangkat anda tinggal ke
Amsterdam Centraal dan naik kereta M54.
Oiya, 1 lagi keunggulan Amsterdam, yakni sebagian besar convenience store-nya adalah self service--ambil barang sendiri dan bayar sendiri dengan credit card di deretan layar-layar LCD pembayaran non tunai, atau apalah itu namanyaπ , pokoknya ribet deh! kira-kira seperti ini.
Oiya, 1 lagi keunggulan Amsterdam, yakni sebagian besar convenience store-nya adalah self service--ambil barang sendiri dan bayar sendiri dengan credit card di deretan layar-layar LCD pembayaran non tunai, atau apalah itu namanyaπ , pokoknya ribet deh! kira-kira seperti ini.








0 comments:
Post a Comment