• Cappadocia Hot Air Balloon

  • Taj Mahal

  • Eiffel Tower

Saturday, March 28, 2020

UK & West Europe Part 4 (United Kingdom - London)

SCHIPOL
Seperti biasa, saya memulai rute dari yang terjauh dulu, karena turun di Amsterdam maka yang terjauh adalah London. Sebenarnya sudah ada kereta cepat Eurostar dari Amsterdam ke London dengan waktu tempuh 4 jam, tapi karena harganya luar biasa mahal diatas IDR 2.000.000 maka saya memilih opsi terbang dengan British Airways seharga IDR 937.000. Kami tiba di Amsterdam pukul 15.30, demi mengefektifkan waktu maka kami putuskan untuk langsung terbang ke London di hari yang sama pada pukul 21.00 dengan waktu tempuh 1,5 jam. Memasuki gate imigrasi prosesnya cukup lancar asal anda siap dan tentunya bisa menjawab pertanyaan. Petugas imigrasi Belanda akan mengajukan pertanyaan yang cukup mendetail, sejauh ini baru kali inilah saya menghadapi pemeriksaan imigrasi yang cukup ketat.
                 
SCHIPOL
Pertanyaan bermula seputar asal dan tujuan kedatangan anda, kalo bergroup maka akan ditanya hubungan antar anggota group, kemudian tiket pesawat pulang. Selanjutnya anda akan diminta memperlihatkan voucher hotel, jadi dia akan mencocokkan antara durasi anda tinggal, tiket kepulangan, dan berapa malam jumlah hari menginap yang tertera pada voucher hotel. Untuk itu jika anda menclak-menclok antar Negara pastikan semua voucher hotel anda print semua dan letakkan di tas kabin jangan di tas bagasi. Bisa sih kita menunjukkan via cellphone tapi akan memperlambat proses interview, sedangkan cara petugas bertanya sangat cepat, jadi anda harus sigap dalam menjawab pertanyaan dan menunjukkan bukti-bukti dokumen. Jangan gugup usahakan sesantai mungkin, lalu bagaimana kalau gagal jawab? Ya di gelandang ke ruang khusus gituh, seperti WNA di depan saya, kelihatannya dia tidak bisa menjawab kemudian di gelandang ke sebuah ruangan.

SCHIPOL
Lalu bagaimana jika kita tidak/kurang fluent dalam berbahasa inggris? Saya sudah mengantisipasi ini, seandainya pemeriksaan imigrasi adalah per orang bukan per group, maka kami sudah menyiapkan print out details itinerary dan semua voucher Hotel dan tiket-tiket kereta dan pesawat, tinggal berikan saja ke petugas. Belum lagi kalo petugas iseng menanyakan tiket antar Negara, kebetulan karena dia melihat voucher Hotel untuk malam pertama adalah di London maka dia menanyakan tiket transportasi/pesawat saya untuk ke London di hari itu. Dengan percaya diri saya tambahkan, saya juga punya tiket transportasi/kereta antar Negara yang lain, apakah mau ditunjukkan juga?? Dia jawab “ngga perlu,” tidak lama terdengar bunyi CHOPP!!! “Wellcome to Netherlands!.”

Untuk pindah ke Hall keberangkatan tidak begitu sulit karena petunjuknya cukup jelas. Jeda 4 jam keberangkatan tidak begitu terasa karena kami melalui proses check in dan imigrasi yang menyita waktu. Tapi saran saya tiba dan berangkat ke tujuan berikutnya di hari yang sama tidak patut untuk ditiru, dan demikianlah drama dimulai di hari pertama ketibaan. Kami tiba di Bandara Gatwick London pukul 21:30, lho padahal baru berangkat pukul 21:00? Ternyata Amsterdam dan London memiliki perbedaan waktu 1 jam. Dari Hall ketibaan sampai ke Gate Imigrasi sangat jauh, dan karena penerbangan saya last flight maka dari hall ketibaan sampai imigrasi sangat sepi, sempet deg-deg-an juga apakah kami  nyasar atau tidak. Namun tak lama terlihat loket-loket imigrasi yang……..sepi juga! Bener-bener hanya kami tampaknya penumpang foreighner, sayapun bersiap untuk menjawab berondongan pertanyaan seperti Amsterdam. Petugas meng-eja nama kami satu persatu yang kata dia sangat sulit di-eja, dan kemudian CHOPP!! “Wellcome to LONDON, and have a nice day!” lhah?! Gitu doang?! *penonton kecewa* drama masih belum ada wkwkwk…saya juga melongo kok gampang banget masuk London “Thank You Sir, nice to meet you.

Kami ambil bagasi dan menuju atau lebih tepatnya mencari-cari platform kereta Thames Link yang cukup sulit ditemukan hingga harus bertanya beberapa kali, tentunya saya sudah research bahwa kami harus naik kereta Thames Link menuju Stasiun St. Pancras. Untuk kemudian berpindah stasiun ke Stasiun kereta underground King Cross St. Pancras (kayak familiar ya nama stasiunnya? Iya ini stasiun 9 ¾-nya Harry Potter) menuju ke Angel Station yakni stasiun tube terdekat untuk ke Access Apartment. Bagaimana cara melihat rute-rute dan nama-nama Stasiun tersebut? Saya hanya menggunakan google map untuk melihat dari titik ke titik tujuan yang sudah lengkap dengan nama kereta/bus, nama stasiun, jam keberangkatan dan waktu tempuh, nama/warna line-nya, berapa kali stop dan stasiun mana saja yang dilewati.

Anda juga bisa menggunakan aplikasi City Mapper untuk UK, tapi menurut saya Google Map lebih user friendly. Saya sudah membuat tabel summary perjalanan seperti ini, kemudian setiap destinasi saya breakdown lagi dilengkapi dengan google map yang telah di screenshoot dan kemudian saya print contohnya seperti ini. Berlembar-lembar sih breakdown-nya, kira-kira 25 halaman, tapi saya tidak perlu lagi ribet dan sibuk cek map di cellphone pada hari H.

Dalam breakdown tersebut saya selipin jenis-jenis kartu atau tiket-tiket kereta tiap Negara yang harus kami beli, termasuk bagaimana caranya agar kami bisa mendapat tiket-tiket kereta paketan sehingga lebih murah. Tentunya saya sudah mempelajari bagaimana cara membeli tiket kereta tiap Negara, anda juga bisa cek di youtube tapi semua berbahasa inggris, nanti saya berikan tautan video yang berbahasa Indonesia, tentunya sayalah yang merekam tutorialnya xixi…😁. Semua terlihat sempurna bukan?? Dan sayapun pede dengan timeline bepergian di malam hari, tapi tidak semudah itu Esmeralda! Kita yang merencanakan Tuhan juga yang menentukan, apaseeehh…wkwk…

Rencana sudah sangat matang, mulai dari rute dan berhenti di stasiun apa saja, kemudian bagaimana cara pembelian tiket kereta di London, yakni dengan membeli paket Oyster  Regular Card-unlimited journeys 2 days in Zones 1 & 2, harga GPB 7 x 2 + deposit GBP 5 dimana deposit nantinya bisa diambil, tiket kereta bandara akan dibeli terpisah. Prakteknya? ambyarrr berantakan wkwk…, bayangkan anda sudah hampir 2 hari di perjalanan, berangkat dari Jakarta tanggal 24 Oktober 2019, sampai Amsterdam tanggal 25 Oktober 2019 Pukul 15:30, kemudian lanjut ke London tanggal 25 Oktober 2019 Pukul 21:00, sampai London 25 Oktober 2019 Pukul 21:30 (dengan perbedaan waktu 7 jam dari Indonesia). Jetlag iya, capek apalagi, Pukul 22:00 saya mencari-cari loket Oyster  Card dan langsung membeli Card yang depositnya refundable. 

Di depan petugas saya dengan fasih menyebutkan “Oyster Regular Card-unlimited journeys 2 days in Zones 1 & 2, price GPB 7 x 2 + refundable deposit GBP 5.” Jawabnya, “you can not buy that kind of card, you have to buy a visitor card and it’s non refundable deposit ya udahlah yaaa…melayanglah itu GBP 5, lumayan kan ya IDR 90.000!. Jadi kami hanya diperkenankan membeli Oyster Visitor Card unlimited Zone 1 & 2 untuk 3 hari seharga GBP 35 yang sudah include nonrefundable deposit. Mahal ya? bisa iya--bisa engga, karena saldo tersebut sudah termasuk tiket kereta bandara seharga IDR 300.000, sedangkan Oyster Regular Card Unlimited belum termasuk. Lalu bagaimana bisa disebut murah atau mahal? murah jika intensitas penggunaan kereta/bus anda cukup sering.

Visitor/Tourist Card
Oiya, kenapa saya harus menyebutkan jenis paket kartu unlimited bla bla bla tersebut? Karena demikianlah caranya untuk menghemat budget agar kita tidak perlu membayar tiket kereta dan bus secara eceran. Artinya anda harus tahu terlebih dahulu lokasi landmark yang akan dikunjungi, apakah berada di Zona 1 & 2 atau di zona lain, sebab semakin jauh zona tentunya semakin mahal tiket keretanya. Sebagai contoh, karena saya cuma 3 hari di London maka saya memilih untuk pergi tidak lebih jauh dari Zona 1 & 2. Untuk itu saya membeli unlimited 2 days, dengan sistem capped GBP 7 per hari, jadi seberapa banyak anda bolak balik naik kereta dan bus, harganya tidak akan lebih dari GBP 7 dalam sehari, padahal sekali perjalanan kereta harga-nya adalah GBP 2.40, saving budget bukan?. Tentu saja harga akan lebih mahal jika anda memilih paket dengan hari yang lebih banyak dan Zona yang lebih luas, sebagai catatan, awal dari Zona 1 adalah Buckingham Palace, anda bisa cek di google yaa…

Kemudian apa bedanya Oyster Regular Card Unlimited dan Oyster Visitor Card Unlimited? Yakni pada deposit  GBP 5, dimana jenis Visitor Card tidak bisa diambil depositnya artinya kartu tersebut menjadi hak milik anda, sedangkan Oyster Regular Card deposit bisa diambil dengan menukar kartu. Jadi kalo anda pilih menyimpan kartu untuk kenang-kenangan pilihlah Visitor Card, kalau pilih saving uangnya maka pilihlah Regular Card πŸ˜€. Selain itu, saldo Visitor Card sudah termasuk tiket kereta bandara, sedangkan Regular Card belum termasuk, jadi tiket kereta bandara dibeli terpisah. Masih bingung en sebodo amat ama hemat-hematan??, sulthann yeekaan??, pake saja debit card BTP* Jenius (contactless card), konon bisa dipake di London dan Paris tinggal tap-tap saja ga perlu repot-repot beli kartu atau single tiket kayak saya πŸ˜€.

Bertanyalah saya, disebelah mana Thames Link train? Kata dia tidak ada Thames Link di platform ini, atau sudah berangkat, entahlah saya ga gitu bisa nangkep, lanjutnya “anda naik Southern Train saja,” saya cek di map stasiun terakhirnya adalah Stasiun besar London Victoria. Baru 30 menit jalan kereta berhenti dan dinyatakan berhenti seterusnya karena signal di matikan sebab kereta jenis sama baru saja menabrak orang yang menyeberang jalan! Ohhhh…menabrak atau bunuh diri? Entahlah. Kami keluar dari kereta dan bertanya kepada Petugas ditengah hujan rintik yang dingin sekira 18 derajat celcius, awalnya petugas mengarahkan kereta Southern lain yang berlawanan, jadi tinggal menyeberang peron saja tapi ternyata out off service juga. Kemudian dia mengalihkan ke kereta lain yang adalah peron lain dengan naik Elevator dan turun tangga manual, kalo bawa badan saja gapapa, tapi bawa koper seberat 25kg, silahkan anda bayangkan :D. Tiga puluh menit kemudian kami sampai di Victoria Station, yang sungguh jauh dari rencana awal jadi saya harus re-route untuk tahu kami musti ke platform berapa untuk sampai Angel Station, ambyarrr berantakan….

Kereta bandara ini adalah kereta jarak jauh yang rel-nya sejajar dengan tanah, jadi jika anda mau ke Kereta Underground agar bisa ke Angel Station, maka anda harus pindah naik turun tangga (naek elevator kalo ada, tapi jarang ada πŸ˜‘) untuk sampai ke platform yang dituju, karena London Victoria Station ini adalah stasiun Induk jadi gede bangett. Setelah bertanya sebanyak 7x! sambil geret-geret koper tentunya, sampailah kami ke platform dengan line biru untuk berganti kereta di Euston Station dengan line hitam yang menuju Angel Station, perjalanan memakan waktu tempuh sekira 30 menit, dan untuk keluar stasiun anda harus melewati 2 elevator  yang tingginya ga kira-kira πŸ˜“. Dari Angel Station ke Access Apartment, menurut google map dan Agoda.com hanya 15 menit jalan kaki, prakteknya? 30 menit!! Sekali lagi kalo hanya bawa badan sih tidak masalah, kalo dengan koper seberat 25kg dibarengi dengan 2 kali jatuh di elevator dan sama sekali belum penyesuaian jetlag dan suhu, klenger sudah pasti.

Sesungguhnya, salah seorang warga London yang ber-baik hati yang membawakan koper sudah memberikan alternative kepada saya bahwa sebaiknya naik Bus atau Taxi. Namun karena saya-nya sudah menjelang bloon-kepayahan ga bisa mikir mengingat waktu sudah menunjukkan pukul 23:00, saya masih meraba-raba melihat apakah ada taxi dan adakah halte Bus, tapi tidak ada, saya paksakan sambil jalan sambil melihat barangkali ada Taxi lewat atau Halte Bus. Lelah dan angin dingin berhembus, jalan juga sudah terseok-seok, tapi makin lama badan justru makin keringatan dan mata makin jernih, terlepas dari body clock yang masih belum mengikuti waktu London yang saat itu Pukul 00:00, artinya Pukul 07:00 WIB, sayanya juga panik karena ga nemu-nemu juga gedung apartemennya. Tapi jangan anda bayangkan London sepi sunyi hari itu, karena bertepatan dengan Hari Haloween, jalanan rame sekali banyak orang-orang lokal yang berpesta pora di jalanan dengan kostum yang anda tau-lah kayak apa. Kami yang terlihat mencolok tentunya cukup menarik perhatian, tengah malam, foreighner, perempuan semua, pake krudung, geret-geret koper, “Hello, do you need help?” “where you from?” *bayangin-nya pake aksen British English kayak Harry Potter yee…*. Saya bilang, gapapa, saya bentar lagi sampai apartment saya kok, Makasih ya…”Ok, Have a nice day” katanya. Kagak! Kaga ada nice-nicenya hari itu *batin saya* wkwk….

Bener-bener setengah jam kemudian saya baru nemu gedung apartemen-nya, cuma mana  pintu masuknya ya? Semua tertutup rapat dan sepi tidak ada seorang-pun di jalan. Awalnya saya pikir ada semacam receptionist-nya, karena saya memilih akomodasi ini dengan pertimbangan salah satunya adalah 24 jam check in dan saya sudah kirim email bahwa saya akan datang di tanggal sekian tengah malam. Kepanikan mulai melanda saya, bayangkan tengah malam hampir dini hari saya harus mencari akomodasi pengganti dimana??. Saya terpaksa meminta teman saya 2 orang untuk menunggu di sudut gedung yang sepi dan sunyi dengan koper-koper kami. Karena saya pikir daripada kami jalan bareng-bareng terseok-seok muter-muter tower-tower, mencari-cari yang tak pasti, lebih baik saya bersama satu orang teman saya yang lain mencari pintu masuk disisi gedung yang lain.

Akhirnya saya ketemu manusia juga, sepasang muda mudi, saya bertanya pada mereka, saya jelaskan bahwa saya menginap di apartemen ini, mereka menjawab bahwa kantor administrasi sudah tutup, dan apartemen ini adalah tipe apartemen private access jadi saya harus bertemu dengan pengelola untuk bisa masuk. Saya menjawab, tidak mungkin tutup saya sudah email mereka bahwa saya akan check in tengah malam dan pengelola menjawab tidak masalah, kalo gitu ditelfon saja kata mereka sambil menunjuk no telepon yang ditempel dipintu. Sedangkan saya ga ada pulsa adanya hanya pocket wifi haha…bener-bener ngenes, jadi saya ngisi pulsa dulu sambil nanya mereka berapa country code UK, ngga tau donggg mereka country code negara sendiri, ah payah deh. Eh tidak lama kemudian ada Bapak-bapak lewat dan anak muda ini langsung menunjuk “Hei, ini pengelolanya!.” Saking excited-nya saya spontan meneriakan “Oh My God Sir! Hi! Im Rieska from Indonesia, I’m the guests who supposed to be check in tonight!,” (mbuh ya bener ngga, pokoknya saya asal mangap aja, asal mereka ngerti apa yang kita omongin, yeeekannn) *sambil nyodorin print out voucher Hotel saya*. Dia jawab, “Oiya ya, bentar saya bukain pintu anda masuk, saya tinggal sebentar ya 5 menit ada perbaikan di Tower sebelah sana,” Alhamdulillahhh leganya saya….

Demikianlah drama saya pertama kali menginjakkan kaki di United Kingdom, sungguh kesalahan fatal memilih  berangkat ke London di hari yang sama saat kedatangan, tentunya ini sudah dengan kesepakatan bersama, karena kami pikir dengan berangkat di hari yang sama kami bisa memanfaatkan waktu dan tenaga dengan efektif dan efisien. Pertimbangkanlah estimasi perjalanan dengan perkiraan waktu yang tepat, karena mungkin tidak masalah jika perjalanan dilakukan pada siang hari, tapi perjalanan malam hari dengan gembolan koper-koper berat tentunya adalah tindakan yang serampangan, untung kami ketemu orang baik terus, kalo ketemunya orang jahat gimana coba?? Jangan di contoh ya kaka kaka….kapok Barbie…wkwk.

Access Apartment City London
Kami menginap di Access Apartment City London seharga IDR 2.004.249/malam atau IDR 501.062/orang/malam. Malam itu kami diminta untuk melakukan proses check in di Tower A tempat kantor pengelola berada, karena tentunya saya harus mendaftarkan passport kami dan mengisi formulir check in serta menerima kunci self access, kemudian kami keluar lagi bawa koper, untuk naik ke apartemen kami di Tower D tepat pukul 01.00 dini hari! Sungguh melelahkan bukan?!. Saya sangat merekomendasikan apartemen ini, sangat luas dengan tipe Two Bedroom Apartement, terdiri dari ruang makan, ruang tamu dan dapur, bahkan tersedia mesin cuci baju, mesin cuci piring, oven, microwave, dan teko listrik. Yang membuat akomodasi ini murah adalah karena apartemen ini merupakan apartemen mahasiswa yang disewakan jika mahasiswa tersebut sedang off, ya tentunya saya sempat dikira mahasiswa juga donggg…


UK & West Europe Part 5 (United Kingdom - London)


Hari ke 2 London (sabtu, 26 Oktober 2019) di London rute pertama saya adalah British Museum, lokasinya sangat dekat dengan Apartemen meski tetap menggunakan Bus. Kenapa saya memilih British Museum? pertama tentu saja karena gratis (mau bilang gratis aja muter-muter dulu 😁), kedua saya termasuk penggemar film The Mummy yang mana lokasi shooting-nya berada di Museum ini dan museum ini memuat berbagai benda-benda artefak Mesir kuno. Isinya sangat lengkap seperti peradaban kerajaan-kerajaan Eropa (kita skip saja karena saya kurang tertarik) dan tentunya yang berkaitan dengan artefak Mesir seperti Mummy Cleopatra, dan mummy-mummy lain beserta sarkofagusnya, juga artefak-artefak yang berukuran besar seperti patung-patung kuno. Jadi, pemerintah Kerajaan Inggris dulunya meneliti peradaban Mesir dan mengangkut semua artefak tersebut hingga kemudian British Museum menjadi Museum dengan artefak Mesir terlengkap kedua di dunia.

British Museum
Untuk menuju kesini kami menggunakan Bus dari Halte St. Lukes Music Edu Centre Stop H, berhenti di Halte Museum Street Stop C. Bus di London jenisnya adalah double decker, anda bisa cek rutenya melalui google map termasuk berapa lama anda jalan kaki ke dan dari Halte, mungkin agak membingungkan arah navigasi-nya karena kita jalan kaki jadi agak kurang akurat, untuk itu ya anda harus rajin-rajin bertanya biar ga nyasar. Untuk memasuki British Museum kita melalui metal detector, walaupun gratis tapi tersedia loket-loket sumbangan sukarela untuk pengembangan dan perawatan. British Museum ini sangat luas tapi jangan khawatir karena petunjuk arah cukup jelas, untuk melaksanakan sholat fardhu tempat paling ideal adalah di tempat ini pun untuk makan siang jika membawa bekal seperti saya. Anda bisa mengambil tempat untuk sholat dipojokan di Hall utama dibawah patung. Tenang saja tidak akan ada yang menegur anda, bahkan ada warga muslim yang ikutan sholat disitu bareng kami, dia bertanya apakah kiblatnya sudah betul? Kami jawab InsyaAllah walaupun tidak yakin karena kami hanya mengandalkan kompas saja πŸ˜€.


Cleopatra Mummy


Kendi-kendi isi organ dalam Mummy



Dari British Museum kami menaiki tube (kereta) dari stasiun underground Holborn ke Stasiun Tower Hill (anda bisa cek rute-nya dan line-nya di google map) untuk memulai walking tour dari Tower of London, rute walking tour-nya adalah sebagai berikut :

Tower of London kemudian menuju Tower Bridge--menaiki Tower Bridge untuk menyeberang ke sisi sungai & ke arah barat--tiba di Borough Market--dari Borough Market kembali ke sisi sungai Thames--perjalanan selanjutnya ke Millenium Bridge--kembali ke sisi sungai semula sampai ke daerah South Bank (melewati daerah pertunjukan sirkus)--tidak jauh dari situ terdapat London Eye--diseberang sungai adalah Big Ben (foto terbaik adalah saat malam hari, diseberang sungai, jika datang dari arah London Eye--seberangi jalan/bukan jembatan, lalu cari tangga menuju sisi sungai--Big Ben berada di depan dipisahkan oleh Sungai Thames)--Jarak Stasiun Tower Hill sampai dengan tujuan akhir Big Ben 4,4km atau jalan kaki selama 1 jam. Kembali ke Apartment dengan menyeberangi Jembatan Westminster--masuk ke stasiun Underground terdekat arah  King Cross station mampir ke Platform 9 3/4 dan ke Toko Harry Potter, kemudian kembali ke apartemen tujuan akhir Angel Station.



Demikianlah rencananyaa…, prakteknya?? Kami cuma bertahan sampai ke Tower Bridge sahajaaa…karena hari hujan terus menerus walaupun tidak deras, tapi teman-teman saya sudah kepayahan, akhirnya kami memutuskan untuk pulang disaat hari masih terang. Sampai di area apartemen saya baru notice bahwa apartemen kami terletak tepat di depan 2 Halte Bus yakni Halte Central Street Stop UW & UV, dan Bus Stop di London ini sangat banyak sehingga anda sesungguhnya tidak perlu repot-repot menggunakan kereta yang stasiun underground-nya sangat jauh baik naik dan turunnya maupun dari lokasi landmark-nya. Dan tepat di depan Angel Station ini ternyata ada halte Bus jadi kami ga perlu pegel jalan kaki 20 menit untuk ke Apartemen jadi tinggal naik Bus 5 menit dan sampai di Halte Central Street Stop UVliterally practice make perfect!.


London Underground ini umurnya udah tuwak lho sekitar 150 tahun!. Kebayang kan udah berapa lama kita ketinggalan?? dan pintu kereta-nya ada tombol-nya jadi engga otomatis, harus tekan tombol dulu untuk membuka, gunanya untuk membantu disability, kalo anda kagok tinggal ikutin orang-orang saja, kalo Bus-nya sih gampang, tinggal tap Oyster di depan dan turun dari pintu belakang tanpa tap lagi. Bedanya dengan MRT kita adalah London Underground kecepatan-nya maksimum, saat memulai jalan dan berhenti agak gedubrakan πŸ˜„, jadi kurang nyaman karena pasti jatuh kalau tidak siap, tapi cepetnya sih Ok, mungkin karena udah tua itu kali ya. Sedangkan MRT Jakarta start dan stopnya smooth, dan jalan-nya santuy se-santuy warga negara-nya hehe...


Hari  ke 3 London (Minggu, 27 Oktober 2019), rute tour-nya sebagai berikut :
Buckingham Palace--St. James Park--Trafalgar Square, kemudian dengan kereta ke Camden Market, lalu ke Oxford Street. Sekali lagi anda bisa cek rute-rute kereta atau bus-nya di google map, line kereta-nya pun simple engga ruwet seperti di Jepang, jadi saya yakin anda akan dengan cepat membaca peta line kereta London. Jepang hanya bisa  disaingi oleh Jerman perihal keruwetan line kereta.

Apakah masih sesuai rencana? Kali ini tetap tidak karena hari ke 2 banyak yang ke-skip, jadi beberapa trip saya alihkan ke hari ke 3 sesuai kondisi, untungnya hari itu cuaca cerah, tapi justru udara sangat dingin, tidak sehangat saat hujan. Kami ke Istana Buckingham terlebih dahulu karena berencana menyaksikan prosesi pergantian penjaga Istana pukul 10.00, tapi mampir terlebih dahulu ke peron 9 ¾ dan Toko souvenir Harry Potter, yakni dari Halte Central Street Stop UW berhenti di Halte St.Pancras . Kemudian terpaksa harus saya lewatkan karena timing yang tidak tepat sebab jam sudah menunjukkan waktu pukul 09:30, sedangkan pukul 10:00 kami harus sudah tiba di Buckingham Palace. Dari King Cross Station (yang terletak di seberang halte St.Pancras) ke Green Park Station, melewati Green Park menuju ke Buckingham Palace masih sepi, saya cocokkan jam ternyata saat itu masih Pukul 09:00! Jadi jam-nya apartemen kecepetan 1 jam. Tak lama saat satu per satu wisatawan berdatangan kami didatangi polisi setempat yang memberikan peringatan agar berhati-hati untuk menyimpan dompet dan paspor karena banyak copet di sekitar.

Halte Bus St. Pancras


Buckingham Palace

London Eye

Belakang saya Big Ben
yang sedang di renovasi
Selanjutnya kami ke London Eye dan Big Ben yang letaknya berseberangan, dari Green Park Station ke Westminster Station. Sesampainya di area Westminster saya celingak celinguk nyari mana Big Ben-nya ya?? pas nengok ke atas...eeaalaaa ternyata Big Ben-nya masih renovasi!!! *crying*. Jangan lupa untuk berfoto dengan boots telefon merah yang menjadi icon London, juga foto dengan petugas aparat kepolisian London sebagai kenang-kenangan wkwk…sebenernya saya agak takut sih meminta foto, tapi ibu-ibu  Lolita (LOlos LIma puluh TAhun, katanya :D) memaksa saya :D. Untung mereka ramah dan bersedia kalo ngga kan tengsin ya 😁.

Dari Big Ben kami ke Borough Market, begitu sampai ternyata mereka TUTUP! Astagahhh kena zonk lagi dah *crying*. Harusnya kami ke Borough Market hari Sabtu, tapi karena ke-skip saya undur ke Minggu tanpa melihat kalo Minggu mereka tutup, jadi kami segera menuju ke Oxford Street yang gegap gempita dengan rangkaian perayaan Halloween. Nah disini anda bisa belanja sepuasnya mulai dari yang branded, sampai dengan merk-merk umum, saran saya jika ingin beli oleh-oleh yang bagus tapi murah seperti kosmetik atau baju, maka Oxford Street-lah tempatnya, anda tinggal menuju Primark Department Store yang berjubel karena saking murahnya.



TUTUP! gapapa tar balik *in my dream πŸ˜ͺ
Oxford Street
LONDON, tentunya perjalanan 3 hari saya tidak bisa menggambarkan keseluruhan, tapi  Kota-nya indah dan rapi, tepat seperti yang anda lihat di tipi-tipi, namun tetap saja ada sampah di pojokan trotoar atau homeless sekalipun ada, bayangkan mereka harus tidur di pinggir trotoar dengan suhu 10 derajat celcius!. Toilet umum-nya agak bau dan agak kotor, padahal bayar-nya ga maen-maen lho, GBP 1 itu kan IDR 18.000 ya, mo nangis gak, ya ga sesempurna yang kami bayangkan. Tapi ternyata warganya ramah dan sangat membantu, awalnya saya kira  orang-nya jaim-jaim dan sombong, mengingat mereka dari Negara maju dengan sistem Kerajaan, ternyata jauh dari yang saya bayangkan. Entah berapa belas kali kami ditolong untuk mengangkat koper, dan menjawab dengan antusias saat saya bertanya arah jalan atau platform Kereta, belum lagi sapaan-sapaan yang bikin baper, misal “ups sorry beautiful” (pas hampir nabrak saya), atau “thank you dear” (pas kasih kembalian). Tentunya saya juga harus meninggalkan kesan yang baik sebagai WNI, misal : apartemen bersih kembali seperti sedia kala saat kami tinggalkan, tentunya jangan lupa untuk meninggalkan tips di meja. So, jangan ragu untuk berkunjung ke United Kingdom!

Cara Top Up Oyster Card, disini
Cara Mengambil sisa credit Oyster Card, disini
Bagaimana memasuki peron station, disini
Bagaimana cara keluar peron station, disini
Bagaimana cara menaiki Bus dan turun dari Bus, disini & disini
Petunjuk Peron/Line Kereta, disini
Petunjuk Rute Bus, disini

Friday, March 13, 2020

UK & West Europe Part 3 (The Preps - VISA United Kingdom)

Berbeda dengan Visa Schengen yang proses antara pengisian form dan janji temu adalah 2 hal yang terpisah, maka UK Visa dari awal sampai akhir merupakan satu kesatuan utuh yang ter-record secara online dari awal sampai akhir. Jadi anda datang ke UKVI sebagai lembaga pusat pengurusan Visa UK hanya untuk biometric dan foto saja, dan pengajuan aplikasi dilakukan sendiri-sendiri tidak bisa ber-group, hingga pengambilan paspor pun harus per individu. Visa UK persyaratan lebih simple tidak serumit Visa Schengen tapiiiiiii….step-step pengisian formulir dan janji temu sungguh ruwet bin puyeng.

Persyaratan Visa UK sebagai berikut :
  1. KTP dan terjemahan bahasa inggrisnya dengan penerjemah tersumpah
  2. KK dan terjemahan bahasa inggrisnya dengan penerjemah tersumpah
  3. Akta Lahir dan terjemahan bahasa inggrisnya dengan penerjemah tersumpah
  4. Surat nikah dan terjemahan bahasa inggrisnya dengan penerjemah tersumpah
  5. Sertifikat Rumah atau tanah atas nama pribadi (jika ada/tidak wajib tapi penting)
  6. Paspor baru dan lama (asli & photocopy)
  7. Surat Referensi Bank yang menunjukkan saldo & print mutasi/copy buku tabungan 3 bulan terakhir
  8. Surat Sponsor dari Kantor 
  9. Itinerary Perjalanan (contohnya disini)
  10. Document check list
  11. Print kertas janji temu
Nah simple kan?? Eitss tapi jangan ngegampangin juga!. Karena saya ingin menunjukkan keseriusan yang teramat sangat untuk mengunjungi UK dan toh dokumennya juga sudah tersedia, maka dokumen-dokumen yang menjadi persyaratan Visa Schengen saya sertakan semua tanpa kecuali. Namun pada bagian Itinerary, buatlah supaya jumlah hari berkunjung lebih banyak di UK walaupun pada prakteknya tidak, sebab tiket pesawat kedatangannya dari Belanda bukan dari UK. Untuk bagian Penerjemah Tersumpah, di checklist persyaratan jelas tertulis ‘in English with authorized translator’ jadi saya tetap menggunakan authorized translator (contoh terjemahannya ada di Part 2 Visa Schengen Belanda). Tapi apakah ada yang nekat diterjemahkan sendiri? Banyak! Apakah visa-nya Granted? Iya Granted!. Barangkali mereka belum nemu authorized translator yang murah, karena saya sendiri sempat akan menerjemahkan sendiri, rasanya tidak rela harus mengeluarkan kocek dalam-dalam hanya untuk dokumen-dokumen yang per lembar IDR 90.000!. Intinya adalah jangan sampai memberikan celah yang menyebabkan Visa Rejected. Jadi berikut ini adalah dokumen-dokumen yang saya lengkapi :
  1. KTP dan terjemahan bahasa inggrisnya dengan penerjemah tersumpah
  2. KK dan terjemahan bahasa inggrisnya dengan penerjemah tersumpah
  3. Akta Lahir dan terjemahan bahasa inggrisnya dengan penerjemah tersumpah
  4. Surat nikah dan terjemahan bahasa inggrisnya dengan penerjemah tersumpah
  5. Kartu NPWP dan terjemahan bahasa inggrisnya (tidak wajib)
  6. Sertifikat Rumah atau tanah atas nama pribadi (jika ada/tidak wajib)
  7. Paspor baru dan lama (asli & photocopy)
  8. Surat Referensi Bank yang menunjukkan saldo & print mutasi/copy buku tabungan 3 bulan terakhir
  9. Surat Sponsor dari Kantor 
  10. Tiket Pesawat
  11. Credit Card Statement (jika ada)
  12. Polis asuransi (yang mengcover Euro 30.000)
  13. Name tag karyawan perusahaan (tidak wajib)
  14. Hotel Booking
  15. Itinerary Perjalanan
  16. Document check list
  17. Print kertas janji temu
Pertama buka situs berikut untuk registrasi & pengisian formulir online : 
https://visas-immigration.service.gov.uk/product/uk-visit-visa


Akan muncul laman berikut, klik English dan klik next pada bagian paling bawah.

Pilih Visit or transit visa, klik next.

Berikutnya, adalah Negara tempat kita mengajukan permohonan, jika WNI dan tinggal di Indonesia tinggal isi-kan Indonesia, karena pasti ada WNI yang tinggal di Negara luar Indonesia.

Pada bagian ini kita hanya mengkonfirmasi bahwa kita sanggup datang untuk biometric di VFS manapun di kota Negara tempat tinggal, dan jikapun tidak ada maka kita sanggup untuk datang di VFS Negara terdekat yang direkomedasikan.

Tidak ada pilihan pada bagian ini, dan scroll ke bawah klik start.

Isi alamat email dan password dengan kombinasi huruf besar dan kecil, angka, dan simbol. Yang nantinya kita akan mendapat email agar bisa log in ke form online jika ingin berhenti sementara atau ingin mengecek kembali isian form kita. Klik save and continue.


Mohon maaf sekali, untuk dummy guidance Visa UK ini tidak bisa saya lanjutkan, dikarenakan dengan mengisi email dan password, saya akan ter-register betulan, karena setelah anda memasukkan email dan password, anda akan mendapat email seperti ini. 

Btw, kenapa waktu registrasi betulan ngga sekalian bikin guidance-nya ya? Karena, Pertama: masih keder cara ngisinya, Kedua: LUPA wkwkwk *mbak-e koplak* yahh beginilah kalo nulis blog ngga niat bin amatiran, but anyway I open to discuss, you can message/call me or come to me at anytime πŸ˜€.

Di Blog-nya Omnduut tersebut, pengisiannya tidak sama persis, paling hanya urutannya saja yang berbeda, karena saya dan penulis blog tersebut pergi di Tahun yang berbeda. Kalo anda sudah melihat blog tersebut, anda bisa lihat banyak sekali isiannya dan sangat mendetail! Kan sudah saya bilang Visa UK ini form-nya ‘kepo’ banget. Sekali lagi, walaupun betul-betul harus lengkap dan jujur informasi yang harus anda berikan, tapi tidak perlu apa adanya juga agar tidak menyusahkan diri sendiri. Saya ambil contoh begini, pada bagian Negara-negara mana yang pernah anda kunjungi, ini tidak harus semua anda declare, secukupnya saja, karena isiannya sangat details yakni tanggal berangkat dan pulang, juga tujuan berkunjungnya. Kemudian, jika sudah berkeluarga, details isian suami isi sesuai apa adanya, selanjutnya isian anak, anda akan ditanya apakah mereka tinggal serumah dengan anda, jika anda jawab ‘YA’ isian selesai, jika anda jawab ‘TIDAK’ maka isian lanjut lebih panjang lagi, disini saran saya pilih saja ‘YA’ agar cepat selesai xixixi.

Selanjutnya, setiap isian yang berupa uraian seperti activities/main purpose (kegiatan atau tujuan selama di UK), job description (cukup jelas ya mengenai pekerjaan anda), dan extra information (bagian ini saya isi alasan kenapa saya ingin datang ke UK) harus anda isi semua, usahakan dalam bahasa Inggris. Saya tidak tahu apakah boleh dalam bahasa Indonesia, tapi sekali lagi ini untuk menunjukkan niat dan kemahiran anda (sementara ini 😁) dalam berbahasa inggris, tentunya ini bisa menjadi pertimbangan bukan?? (contoh ketiga uraian tersebut ada disini)

Rumit bin ruwet ya ternyata?! (sukurinnnn wkwk, mohon maaf mbak-nya finance juga frustrasi apply VISA UK iniπŸ˜‚), contoh keseluruhan isian ada disini ya.

Setelah accept di bagian terakhir form yakni declaration, part yang muncul selanjutnya adalah  pembayaran sebesar USD 121 menggunakan Kartu Kredit. Kemudian anda akan mendapat email berikut.

Scroll bagian bawah, dan ikuti petunjuknya seperti pada berikut ini, yakni
  • -          Download document check list, print dan bawa hardopynya karena ini akan diminta oleh            petugas di VFS dan di tanda tangan.
  • -          Book appointment
  • -       Check if you have to do tuberculosis test, tidak perlu karena ini untuk visa tinggal, bukan visa    kunjungan.

Pada bagian, you can also : download your application, ini maksudnya print formulirnya hanya untuk pegangan applicant saja, karena tidak akan diminta.


Berikutnya adalah membuat janji temu dengan membuka laman berikut ini :
https://myappointment.vfsglobal.co.uk/MyAppointment, klik Sign Up kemudian masukkan nomer registrasi pendaftaran Visa (GWF Number), & details lain seperti email address, no telepon (ini penting sebelum memutuskan no HP mana yang anda masukkan, baca terlebih dahulu part pembayaran di bagian akhir), dan details lain (yang saya lupa πŸ˜€). Selanjutnya, anda akan mendapat email password sementara untuk diganti kemudian, seperti ini :

Setelah berganti password, anda bisa memulai proses appointment dengan memasukkan email dan password, dan akan muncul laman seperti ini.

Setelah klik submit muncul laman seperti ini,
Nah, saya jelaskan satu demi satu bagian 4 baris diatas. Pada bagian ‘purchase additional premium services’ kalo anda klik disini tersedia berbagai macam service berbayar, misal service percepatan, service pengecekan dokumen, dan yang paling penting service peng-upload-an dokumen yang dulu-nya TIDAK ADA!. Jadi sebelum bulan Maret 2019 (kalo tidak salah) dokumen cukup di submit hardcopy-nya seperti Schengen Visa, kemudian setelah Maret kita diharuskan untuk meng-upload dokumen persyaratan lewat laman ini. Jika tidak mau repot meng-upload maka pada part ‘document upload’ bisa di skip, tentunya anda diharuskan membawa hardcopy pada saat janji temu, caranya adalah dengan memilih part service upload document dan membayar sejumlah IDR 190.000 dengan Kartu Kredit di bagian akhir, bukan maen kan ya apa-apa bayar!, kata UK Embassy “take it or leave it” wkwkπŸ˜‚.

Saya tau, anda pasti bilang upload dokumen apa susahnya sih, tinggal scan trus upload beres, Oh! tidak semudah itu Ferguso!, coba berapa kali saya coba upload dokumen-dokumen saya? Belasan kali dengan belasan kali pula uji coba buat ngecilin size dan membuang file yang tidak perlu. Jadi kurang lebih saya memerlukan waktu sekitar 7-8 jam! dari mengisi formulir sampai pada mendapat jadwal janji temu. Trus bagaimana dengan teman-teman saya? Semuanya gagal dan pegal karena upload dokumen FAIL terus menerus, sampai berulang kali restart laptop dan clear cache, ending-nya ya tentu saja pilih opsi bayar IDR 190.000 πŸ˜€. Untuk mempermudah proses scanner, gunakan aplikasi camscanner pada cellphone, agar file yang dihasilkan tidak terlalu berat.

Point ‘reschedule appointment’ dan ‘print or email receipt’ skip saja. Jika dokumen sudah di upload klik submit.

Laman berikutnya untuk pilihan service yang diinginkan, jika sudah ada yang dipilih maka klik continue, service yang dipilih nanti akan dibayarkan dengan kartu kredit di bagian akhir. Jika tidak ada yang dipilih klik bagian 'I do not wish to purchase...'.


Jika anda gigih seperti saya πŸ˜€maka berikut ini adalah laman details isian untuk attached dokumen yang kemudian upload bersamaan. 

Part diatas dibedakan per kategori, sebetulnya lebih mudah persyaratannya daripada Visa Schengen, tapi sekali lagi jangan karena tidak diminta kemudian kita hanya menyediakan yang diminta, menurut saya lebih baik samakan persyaratan dengan Visa Schengen, details yang di attached sebagai berikut:

  • -       Part Accomodation : scan hotel booking.
  • -       Part Consent Letter : scan KTP, KK, Akta Lahir, dan Surat Nikah (jika ada), yang asli dan yang sudah diterjemahkan.
  • -     Part Additional Document : scan semua dokumen yang tidak ada pada kategori lain, seperti tiket pesawat, itinerary, travel insurance, passport lama & baru yang ada visa-nya, & sertifikat rumah/tanah (jika ada, dan scan hanya pada part yang nama anda tertera di dalamnya).
  • -      Financial Evidence : scan referensi bank, bank account statement 3 bulan terakhir, & credit card statement 1 bulan.
  • -     Employment Evidence :  scan  surat sponsor dari kantor, NPWP asli dan file yang sudah saya terjemahkan sendiri, & ID card kantor.
-     Part lain seperti Sponsor, Appendix, TB, dan Educational tidak perlu, karena part-part lain tersebut untuk jenis Visa lain. Berikut seluruh halaman yang telah saya screenshoot.




 Kemudian, scroll sampai kebawah, klik ‘I have previewed the attachments…’
 Dan klik upload document, pada tahap ini silahkan berdoa dengan khusyuk agar dokumen berhasil   ter-upload dengan sempurna :D, mungkin saya lupa berdoa saat itu hingga gagal berkali-kali wkwk.   Jika doa anda dikabulkan, maka selanjutnya klik continue…




Terakhir, yang muncul adalah pemilihan tanggal dan jam janji temu, warna ungu dan orange adalah jam janji temu berbayar! Yang mau tidak mau harus anda pilih jika waktu apply anda mepet, artinya jam yang tidak berbayar sudah tidak ada karena anda kalah cepet dengan applicant lain. Apakah ini bisa terjadi? Seringgg, karena selisih sehari apply, bisa jadi mundur seminggu untuk janji temu jika anda tetap memilih jam yang gratis. Ini terjadi dengan saya dan teman-teman saya, kami berbeda 1 minggu jadwal janji temu, sebab tanggal yang saya pilih telah habis kuota jam yang tidak berbayar. Bener-bener ini saya tahan-tahanin buat ngga ngata-ngatain, mana tau saya balik ke UK lagi xixi…

  Save dan selanjutnya adalah bagian pembayaran, yang adalah tidak bayar jika anda tidak perlu service apa-apa dan memilih jam yang tidak berbayar seperti saya wkwk…(gini aja baru deh girang). Sedangkan bagi yang menyerah dengan service upload dokumen, anda harus membayar dengan Credit Card yang sms OTP-nya dikirim ke no HP yang sama yang terdaftar pada CC dan yang juga anda isikan pada form janji temu di awal. Bagaimana jika kita mengisikan no HP form janji temu yang berbeda dengan no HP pada CC? maka sms tidak akan anda dapatkan dan lama-lama laman tersebut expired, solusi-nya? Edit lagi form janji temu mulai dari awal. Bagaimana jika tidak punya CC? bisa pinjem CC orang lain tapi No HP di form janji temu harus di edit kembali, kemudian isikan dengan no HP orang lain yang terdaftar pada CC ke form janji temu. Apakah hal tersebut berpengaruh ketika misal kita di hubungi oleh UKVI atau UK embassy karena kita mengisi no HP orang lain? Jawabnya ENTAHLAH karena kami ngga ngalamin, ya karena Visa kami GRANTED semua wkwk…  

   Setelah membayar, anda akan mendapat email formulir jadwal janji temu.

   Jadi, pada saat janji temu jika anda telah upload dokumen maka anda hanya perlu membawa passport, formulir jadwal janji temu, dan dokumen check list yang sudah anda tanda tangani. Jika menggunakan service upload dokumen, maka bawa serta semua dokumen-dokumen hardcopy dari No. 1-17, form janji temu, dan dokumen check list yang sudah ditandangan. Saat anda dipanggil ke loket anda hanya akan ditanya apakah passport diambil sendiri atau diambil orang lain, jika diambilkan orang lain maka petugas akan memberikan surat kuasa dengan format mereka. Jangan lupa dandan yang kecehh karena biometrik UK Visa sekaligus pengambilan foto, yang foto tersebut nantinya tertempel pada Visa anda, jadi jangan lupa pula minta aba-aba ke petugasnya saat pengambilan foto,  jangan sampai anda menyesal seperti SAYA! (ngerti kan maksud saya hasil fotonya kayak apa kalo ga ada aba-aba?!).

  Kurang dari 2 minggu anda akan mendapat email pemberitahuan dari UKVI kalo passport sudah bisa diambil, biasanya yang seperti ini adalah tanda-tanda granted karena semua berjalan lancar dan ontime. Tetapi kalo lebih lama dari 2 minggu kemungkinan masih tanda tanya, antara embassy perlu mengkonfirmasi sesuatu pada applicant, atau jika anda mendapat email pengambilan passport dari UK Embassy di Manila kemungkinan Visa anda rejected, semoga tidak terjadi yaaa…Amiin.