![]() |
| SCHIPOL |
Seperti biasa, saya memulai rute dari
yang terjauh dulu, karena turun di Amsterdam maka yang terjauh adalah London. Sebenarnya
sudah ada kereta cepat Eurostar dari Amsterdam ke London dengan waktu tempuh 4
jam, tapi karena harganya luar biasa mahal diatas IDR 2.000.000 maka saya
memilih opsi terbang dengan British Airways seharga IDR 937.000. Kami tiba di
Amsterdam pukul 15.30, demi mengefektifkan waktu maka kami putuskan untuk
langsung terbang ke London di hari yang sama pada pukul 21.00 dengan waktu
tempuh 1,5 jam. Memasuki gate imigrasi prosesnya cukup lancar asal anda siap
dan tentunya bisa menjawab pertanyaan. Petugas imigrasi Belanda akan mengajukan
pertanyaan yang cukup mendetail, sejauh ini baru kali inilah saya menghadapi
pemeriksaan imigrasi yang cukup ketat.
![]() |
| SCHIPOL |
![]() |
| SCHIPOL |
Untuk pindah ke Hall keberangkatan
tidak begitu sulit karena petunjuknya cukup jelas. Jeda 4 jam keberangkatan
tidak begitu terasa karena kami melalui proses check in dan imigrasi yang menyita waktu. Tapi saran saya tiba dan
berangkat ke tujuan berikutnya di hari yang sama tidak patut untuk ditiru, dan
demikianlah drama dimulai di hari pertama ketibaan. Kami tiba di Bandara
Gatwick London pukul 21:30, lho padahal baru berangkat pukul 21:00? Ternyata
Amsterdam dan London memiliki perbedaan waktu 1 jam. Dari Hall ketibaan sampai
ke Gate Imigrasi sangat jauh, dan karena penerbangan saya last flight maka dari hall ketibaan sampai imigrasi sangat sepi,
sempet deg-deg-an juga apakah kami nyasar
atau tidak. Namun tak lama terlihat loket-loket imigrasi yang……..sepi juga!
Bener-bener hanya kami tampaknya penumpang foreighner,
sayapun bersiap untuk menjawab berondongan pertanyaan seperti Amsterdam.
Petugas meng-eja nama kami satu persatu yang kata dia sangat sulit di-eja, dan
kemudian CHOPP!! “Wellcome to LONDON, and
have a nice day!” lhah?! Gitu doang?! *penonton kecewa* drama masih belum
ada wkwkwk…saya juga melongo kok gampang banget masuk London “Thank You Sir, nice to meet you.”
Kami ambil bagasi dan menuju atau lebih
tepatnya mencari-cari platform kereta Thames Link yang cukup sulit ditemukan hingga
harus bertanya beberapa kali, tentunya saya sudah research bahwa kami harus naik kereta Thames Link menuju Stasiun
St. Pancras. Untuk kemudian berpindah stasiun ke Stasiun kereta underground
King Cross St. Pancras (kayak familiar ya nama stasiunnya? Iya ini stasiun 9
¾-nya Harry Potter) menuju ke Angel Station yakni stasiun tube terdekat untuk
ke Access Apartment. Bagaimana cara melihat rute-rute dan nama-nama Stasiun tersebut?
Saya hanya menggunakan google map untuk melihat dari titik ke titik tujuan yang
sudah lengkap dengan nama kereta/bus, nama stasiun, jam keberangkatan dan waktu
tempuh, nama/warna line-nya, berapa kali stop dan stasiun mana saja yang
dilewati.
Anda juga bisa menggunakan aplikasi
City Mapper untuk UK, tapi menurut saya Google Map lebih user friendly. Saya sudah membuat tabel summary perjalanan seperti
ini, kemudian setiap destinasi saya breakdown lagi dilengkapi dengan google map
yang telah di screenshoot dan kemudian saya print contohnya seperti ini. Berlembar-lembar
sih breakdown-nya, kira-kira 25 halaman, tapi saya tidak perlu lagi ribet dan
sibuk cek map di cellphone pada hari H.
Dalam breakdown tersebut saya selipin
jenis-jenis kartu atau tiket-tiket kereta tiap Negara yang harus kami beli,
termasuk bagaimana caranya agar kami bisa mendapat tiket-tiket kereta paketan
sehingga lebih murah. Tentunya saya sudah mempelajari bagaimana cara membeli
tiket kereta tiap Negara, anda juga bisa cek di youtube tapi semua berbahasa
inggris, nanti saya berikan tautan video yang berbahasa Indonesia, tentunya
sayalah yang merekam tutorialnya xixi…π. Semua terlihat sempurna bukan?? Dan
sayapun pede dengan timeline bepergian di malam hari, tapi tidak semudah itu
Esmeralda! Kita yang merencanakan Tuhan juga yang menentukan, apaseeehh…wkwk…
Rencana sudah sangat matang, mulai dari
rute dan berhenti di stasiun apa saja, kemudian bagaimana cara pembelian tiket
kereta di London, yakni dengan membeli paket Oyster Regular Card-unlimited
journeys 2 days in Zones 1 & 2, harga GPB 7 x 2 + deposit GBP 5 dimana deposit nantinya bisa diambil, tiket kereta bandara akan dibeli terpisah.
Prakteknya? ambyarrr berantakan wkwk…, bayangkan anda sudah hampir 2 hari di
perjalanan, berangkat dari Jakarta tanggal 24 Oktober 2019, sampai Amsterdam
tanggal 25 Oktober 2019 Pukul 15:30, kemudian lanjut ke London tanggal 25
Oktober 2019 Pukul 21:00, sampai London 25 Oktober 2019 Pukul 21:30 (dengan
perbedaan waktu 7 jam dari Indonesia). Jetlag iya, capek apalagi, Pukul 22:00
saya mencari-cari loket Oyster Card dan
langsung membeli Card yang depositnya refundable.
Di depan petugas saya dengan fasih menyebutkan “Oyster Regular Card-unlimited journeys 2 days in Zones 1 & 2, price GPB 7 x 2 + refundable deposit GBP 5.” Jawabnya, “you can not buy that kind of card, you have to buy a visitor card and it’s non refundable deposit” ya udahlah yaaa…melayanglah itu GBP 5, lumayan kan ya IDR 90.000!. Jadi kami hanya diperkenankan membeli Oyster Visitor Card unlimited Zone 1 & 2 untuk 3 hari seharga GBP 35 yang sudah include nonrefundable deposit. Mahal ya? bisa iya--bisa engga, karena saldo tersebut sudah termasuk tiket kereta bandara seharga IDR 300.000, sedangkan Oyster Regular Card Unlimited belum termasuk. Lalu bagaimana bisa disebut murah atau mahal? murah jika intensitas penggunaan kereta/bus anda cukup sering.
Di depan petugas saya dengan fasih menyebutkan “Oyster Regular Card-unlimited journeys 2 days in Zones 1 & 2, price GPB 7 x 2 + refundable deposit GBP 5.” Jawabnya, “you can not buy that kind of card, you have to buy a visitor card and it’s non refundable deposit” ya udahlah yaaa…melayanglah itu GBP 5, lumayan kan ya IDR 90.000!. Jadi kami hanya diperkenankan membeli Oyster Visitor Card unlimited Zone 1 & 2 untuk 3 hari seharga GBP 35 yang sudah include nonrefundable deposit. Mahal ya? bisa iya--bisa engga, karena saldo tersebut sudah termasuk tiket kereta bandara seharga IDR 300.000, sedangkan Oyster Regular Card Unlimited belum termasuk. Lalu bagaimana bisa disebut murah atau mahal? murah jika intensitas penggunaan kereta/bus anda cukup sering.
![]() |
| Visitor/Tourist Card |
Kemudian apa bedanya Oyster Regular Card Unlimited dan Oyster Visitor Card Unlimited? Yakni pada deposit GBP 5, dimana jenis Visitor Card tidak bisa diambil depositnya artinya kartu tersebut menjadi hak milik anda, sedangkan Oyster Regular Card deposit bisa diambil dengan menukar kartu. Jadi kalo anda pilih menyimpan kartu untuk kenang-kenangan pilihlah Visitor Card, kalau pilih saving uangnya maka pilihlah Regular Card π. Selain itu, saldo Visitor Card sudah termasuk tiket kereta bandara, sedangkan Regular Card belum termasuk, jadi tiket kereta bandara dibeli terpisah. Masih bingung en sebodo amat ama hemat-hematan??, sulthann yeekaan??, pake saja debit card BTP* Jenius (contactless card), konon bisa dipake di London dan Paris tinggal tap-tap saja ga perlu repot-repot beli kartu atau single tiket kayak saya π.
Bertanyalah saya, disebelah mana Thames Link
train? Kata dia tidak ada Thames Link di platform ini, atau sudah berangkat,
entahlah saya ga gitu bisa nangkep, lanjutnya “anda naik Southern Train saja,”
saya cek di map stasiun terakhirnya adalah Stasiun besar London Victoria. Baru
30 menit jalan kereta berhenti dan dinyatakan berhenti seterusnya karena signal
di matikan sebab kereta jenis sama baru saja menabrak orang yang menyeberang
jalan! Ohhhh…menabrak atau bunuh diri? Entahlah. Kami keluar dari kereta dan
bertanya kepada Petugas ditengah hujan rintik yang dingin sekira 18 derajat
celcius, awalnya petugas mengarahkan kereta Southern
lain yang berlawanan, jadi tinggal menyeberang peron saja tapi ternyata out off service juga. Kemudian dia
mengalihkan ke kereta lain yang adalah peron lain dengan naik Elevator dan
turun tangga manual, kalo bawa badan saja gapapa, tapi bawa koper seberat 25kg,
silahkan anda bayangkan :D. Tiga puluh menit kemudian kami sampai di Victoria
Station, yang sungguh jauh dari rencana awal jadi saya harus re-route untuk tahu kami musti ke
platform berapa untuk sampai Angel Station, ambyarrr berantakan….
Kereta bandara ini adalah kereta jarak
jauh yang rel-nya sejajar dengan tanah, jadi jika anda mau ke Kereta
Underground agar bisa ke Angel Station, maka anda harus pindah naik turun
tangga (naek elevator kalo ada, tapi jarang ada π) untuk sampai ke platform
yang dituju, karena London Victoria Station ini adalah stasiun Induk jadi gede
bangett. Setelah bertanya sebanyak 7x! sambil geret-geret koper tentunya, sampailah
kami ke platform dengan line biru untuk berganti kereta di Euston Station
dengan line hitam yang menuju Angel Station, perjalanan memakan waktu tempuh
sekira 30 menit, dan untuk keluar stasiun anda harus melewati 2 elevator yang tingginya ga kira-kira π.
Dari Angel Station ke Access Apartment, menurut google map dan Agoda.com hanya
15 menit jalan kaki, prakteknya? 30 menit!! Sekali lagi kalo hanya bawa badan
sih tidak masalah, kalo dengan koper seberat 25kg dibarengi dengan 2 kali jatuh
di elevator dan sama sekali belum penyesuaian jetlag dan suhu, klenger sudah
pasti.
Sesungguhnya, salah seorang warga London yang ber-baik hati yang membawakan koper sudah memberikan alternative kepada saya bahwa sebaiknya
naik Bus atau Taxi. Namun karena saya-nya sudah menjelang bloon-kepayahan ga
bisa mikir mengingat waktu sudah menunjukkan pukul 23:00, saya masih
meraba-raba melihat apakah ada taxi dan adakah halte Bus, tapi tidak ada, saya
paksakan sambil jalan sambil melihat barangkali ada Taxi lewat atau Halte Bus.
Lelah dan angin dingin berhembus, jalan juga sudah terseok-seok, tapi makin
lama badan justru makin keringatan dan mata makin jernih, terlepas dari body clock yang masih belum mengikuti waktu
London yang saat itu Pukul 00:00, artinya Pukul 07:00 WIB, sayanya juga panik karena
ga nemu-nemu juga gedung apartemennya. Tapi jangan anda bayangkan London sepi
sunyi hari itu, karena bertepatan dengan Hari Haloween, jalanan rame sekali
banyak orang-orang lokal yang berpesta pora di jalanan dengan kostum yang anda
tau-lah kayak apa. Kami yang terlihat mencolok tentunya cukup menarik
perhatian, tengah malam, foreighner,
perempuan semua, pake krudung, geret-geret koper, “Hello, do you need help?” “where
you from?” *bayangin-nya pake aksen British English kayak Harry Potter
yee…*. Saya bilang, gapapa, saya bentar lagi sampai apartment saya kok, Makasih
ya…”Ok, Have a nice day” katanya. Kagak!
Kaga ada nice-nicenya hari itu *batin saya* wkwk….
Bener-bener setengah jam kemudian saya
baru nemu gedung apartemen-nya, cuma mana pintu masuknya ya? Semua tertutup rapat dan
sepi tidak ada seorang-pun di jalan. Awalnya saya pikir ada semacam
receptionist-nya, karena saya memilih akomodasi ini dengan pertimbangan salah
satunya adalah 24 jam check in dan
saya sudah kirim email bahwa saya akan datang di tanggal sekian tengah malam.
Kepanikan mulai melanda saya, bayangkan tengah malam hampir dini hari saya
harus mencari akomodasi pengganti dimana??. Saya terpaksa meminta teman saya 2
orang untuk menunggu di sudut gedung yang sepi dan sunyi dengan koper-koper
kami. Karena saya pikir daripada kami jalan bareng-bareng terseok-seok
muter-muter tower-tower, mencari-cari yang tak pasti, lebih baik saya bersama
satu orang teman saya yang lain mencari pintu masuk disisi gedung yang lain.
Akhirnya saya ketemu manusia juga,
sepasang muda mudi, saya bertanya pada mereka, saya jelaskan bahwa saya
menginap di apartemen ini, mereka menjawab bahwa kantor administrasi sudah
tutup, dan apartemen ini adalah tipe apartemen private access jadi saya harus
bertemu dengan pengelola untuk bisa masuk. Saya menjawab, tidak mungkin tutup
saya sudah email mereka bahwa saya akan check
in tengah malam dan pengelola menjawab tidak masalah, kalo gitu ditelfon saja
kata mereka sambil menunjuk no telepon yang ditempel dipintu. Sedangkan saya ga
ada pulsa adanya hanya pocket wifi haha…bener-bener ngenes, jadi saya ngisi
pulsa dulu sambil nanya mereka berapa country
code UK, ngga tau donggg mereka country
code negara sendiri, ah payah deh. Eh tidak lama kemudian ada Bapak-bapak
lewat dan anak muda ini langsung menunjuk “Hei, ini pengelolanya!.” Saking excited-nya saya spontan meneriakan “Oh My God Sir! Hi! Im Rieska from Indonesia,
I’m the guests who supposed to be check in tonight!,” (mbuh ya bener ngga,
pokoknya saya asal mangap aja, asal mereka ngerti apa yang kita omongin,
yeeekannn) *sambil nyodorin print out voucher Hotel saya*. Dia jawab, “Oiya ya,
bentar saya bukain pintu anda masuk, saya tinggal sebentar ya 5 menit ada
perbaikan di Tower sebelah sana,” Alhamdulillahhh leganya saya….
Demikianlah drama saya pertama kali
menginjakkan kaki di United Kingdom, sungguh kesalahan fatal memilih berangkat ke London di hari yang sama saat
kedatangan, tentunya ini sudah dengan kesepakatan bersama, karena kami pikir
dengan berangkat di hari yang sama kami bisa memanfaatkan waktu dan tenaga
dengan efektif dan efisien. Pertimbangkanlah estimasi perjalanan dengan
perkiraan waktu yang tepat, karena mungkin tidak masalah jika perjalanan
dilakukan pada siang hari, tapi perjalanan malam hari dengan gembolan
koper-koper berat tentunya adalah tindakan yang serampangan, untung kami ketemu
orang baik terus, kalo ketemunya orang jahat gimana coba?? Jangan di contoh ya
kaka kaka….kapok Barbie…wkwk.
Kami menginap di Access Apartment City London
seharga IDR 2.004.249/malam atau IDR 501.062/orang/malam. Malam itu kami
diminta untuk melakukan proses check in
di Tower A tempat kantor pengelola berada, karena tentunya saya harus
mendaftarkan passport kami dan mengisi formulir check in serta menerima kunci self access, kemudian kami keluar lagi
bawa koper, untuk naik ke apartemen kami di Tower D tepat pukul 01.00 dini
hari! Sungguh melelahkan bukan?!. Saya sangat merekomendasikan apartemen ini,
sangat luas dengan tipe Two Bedroom
Apartement, terdiri dari ruang makan, ruang tamu dan dapur, bahkan tersedia
mesin cuci baju, mesin cuci piring, oven, microwave, dan teko listrik. Yang
membuat akomodasi ini murah adalah karena apartemen ini merupakan apartemen
mahasiswa yang disewakan jika mahasiswa tersebut sedang off, ya tentunya saya sempat dikira mahasiswa juga donggg…















































