Saturday, March 28, 2020

UK & West Europe Part 4 (United Kingdom - London)

SCHIPOL
Seperti biasa, saya memulai rute dari yang terjauh dulu, karena turun di Amsterdam maka yang terjauh adalah London. Sebenarnya sudah ada kereta cepat Eurostar dari Amsterdam ke London dengan waktu tempuh 4 jam, tapi karena harganya luar biasa mahal diatas IDR 2.000.000 maka saya memilih opsi terbang dengan British Airways seharga IDR 937.000. Kami tiba di Amsterdam pukul 15.30, demi mengefektifkan waktu maka kami putuskan untuk langsung terbang ke London di hari yang sama pada pukul 21.00 dengan waktu tempuh 1,5 jam. Memasuki gate imigrasi prosesnya cukup lancar asal anda siap dan tentunya bisa menjawab pertanyaan. Petugas imigrasi Belanda akan mengajukan pertanyaan yang cukup mendetail, sejauh ini baru kali inilah saya menghadapi pemeriksaan imigrasi yang cukup ketat.
                 
SCHIPOL
Pertanyaan bermula seputar asal dan tujuan kedatangan anda, kalo bergroup maka akan ditanya hubungan antar anggota group, kemudian tiket pesawat pulang. Selanjutnya anda akan diminta memperlihatkan voucher hotel, jadi dia akan mencocokkan antara durasi anda tinggal, tiket kepulangan, dan berapa malam jumlah hari menginap yang tertera pada voucher hotel. Untuk itu jika anda menclak-menclok antar Negara pastikan semua voucher hotel anda print semua dan letakkan di tas kabin jangan di tas bagasi. Bisa sih kita menunjukkan via cellphone tapi akan memperlambat proses interview, sedangkan cara petugas bertanya sangat cepat, jadi anda harus sigap dalam menjawab pertanyaan dan menunjukkan bukti-bukti dokumen. Jangan gugup usahakan sesantai mungkin, lalu bagaimana kalau gagal jawab? Ya di gelandang ke ruang khusus gituh, seperti WNA di depan saya, kelihatannya dia tidak bisa menjawab kemudian di gelandang ke sebuah ruangan.

SCHIPOL
Lalu bagaimana jika kita tidak/kurang fluent dalam berbahasa inggris? Saya sudah mengantisipasi ini, seandainya pemeriksaan imigrasi adalah per orang bukan per group, maka kami sudah menyiapkan print out details itinerary dan semua voucher Hotel dan tiket-tiket kereta dan pesawat, tinggal berikan saja ke petugas. Belum lagi kalo petugas iseng menanyakan tiket antar Negara, kebetulan karena dia melihat voucher Hotel untuk malam pertama adalah di London maka dia menanyakan tiket transportasi/pesawat saya untuk ke London di hari itu. Dengan percaya diri saya tambahkan, saya juga punya tiket transportasi/kereta antar Negara yang lain, apakah mau ditunjukkan juga?? Dia jawab “ngga perlu,” tidak lama terdengar bunyi CHOPP!!! “Wellcome to Netherlands!.”

Untuk pindah ke Hall keberangkatan tidak begitu sulit karena petunjuknya cukup jelas. Jeda 4 jam keberangkatan tidak begitu terasa karena kami melalui proses check in dan imigrasi yang menyita waktu. Tapi saran saya tiba dan berangkat ke tujuan berikutnya di hari yang sama tidak patut untuk ditiru, dan demikianlah drama dimulai di hari pertama ketibaan. Kami tiba di Bandara Gatwick London pukul 21:30, lho padahal baru berangkat pukul 21:00? Ternyata Amsterdam dan London memiliki perbedaan waktu 1 jam. Dari Hall ketibaan sampai ke Gate Imigrasi sangat jauh, dan karena penerbangan saya last flight maka dari hall ketibaan sampai imigrasi sangat sepi, sempet deg-deg-an juga apakah kami  nyasar atau tidak. Namun tak lama terlihat loket-loket imigrasi yang……..sepi juga! Bener-bener hanya kami tampaknya penumpang foreighner, sayapun bersiap untuk menjawab berondongan pertanyaan seperti Amsterdam. Petugas meng-eja nama kami satu persatu yang kata dia sangat sulit di-eja, dan kemudian CHOPP!! “Wellcome to LONDON, and have a nice day!” lhah?! Gitu doang?! *penonton kecewa* drama masih belum ada wkwkwk…saya juga melongo kok gampang banget masuk London “Thank You Sir, nice to meet you.

Kami ambil bagasi dan menuju atau lebih tepatnya mencari-cari platform kereta Thames Link yang cukup sulit ditemukan hingga harus bertanya beberapa kali, tentunya saya sudah research bahwa kami harus naik kereta Thames Link menuju Stasiun St. Pancras. Untuk kemudian berpindah stasiun ke Stasiun kereta underground King Cross St. Pancras (kayak familiar ya nama stasiunnya? Iya ini stasiun 9 ¾-nya Harry Potter) menuju ke Angel Station yakni stasiun tube terdekat untuk ke Access Apartment. Bagaimana cara melihat rute-rute dan nama-nama Stasiun tersebut? Saya hanya menggunakan google map untuk melihat dari titik ke titik tujuan yang sudah lengkap dengan nama kereta/bus, nama stasiun, jam keberangkatan dan waktu tempuh, nama/warna line-nya, berapa kali stop dan stasiun mana saja yang dilewati.

Anda juga bisa menggunakan aplikasi City Mapper untuk UK, tapi menurut saya Google Map lebih user friendly. Saya sudah membuat tabel summary perjalanan seperti ini, kemudian setiap destinasi saya breakdown lagi dilengkapi dengan google map yang telah di screenshoot dan kemudian saya print contohnya seperti ini. Berlembar-lembar sih breakdown-nya, kira-kira 25 halaman, tapi saya tidak perlu lagi ribet dan sibuk cek map di cellphone pada hari H.

Dalam breakdown tersebut saya selipin jenis-jenis kartu atau tiket-tiket kereta tiap Negara yang harus kami beli, termasuk bagaimana caranya agar kami bisa mendapat tiket-tiket kereta paketan sehingga lebih murah. Tentunya saya sudah mempelajari bagaimana cara membeli tiket kereta tiap Negara, anda juga bisa cek di youtube tapi semua berbahasa inggris, nanti saya berikan tautan video yang berbahasa Indonesia, tentunya sayalah yang merekam tutorialnya xixi…😁. Semua terlihat sempurna bukan?? Dan sayapun pede dengan timeline bepergian di malam hari, tapi tidak semudah itu Esmeralda! Kita yang merencanakan Tuhan juga yang menentukan, apaseeehh…wkwk…

Rencana sudah sangat matang, mulai dari rute dan berhenti di stasiun apa saja, kemudian bagaimana cara pembelian tiket kereta di London, yakni dengan membeli paket Oyster  Regular Card-unlimited journeys 2 days in Zones 1 & 2, harga GPB 7 x 2 + deposit GBP 5 dimana deposit nantinya bisa diambil, tiket kereta bandara akan dibeli terpisah. Prakteknya? ambyarrr berantakan wkwk…, bayangkan anda sudah hampir 2 hari di perjalanan, berangkat dari Jakarta tanggal 24 Oktober 2019, sampai Amsterdam tanggal 25 Oktober 2019 Pukul 15:30, kemudian lanjut ke London tanggal 25 Oktober 2019 Pukul 21:00, sampai London 25 Oktober 2019 Pukul 21:30 (dengan perbedaan waktu 7 jam dari Indonesia). Jetlag iya, capek apalagi, Pukul 22:00 saya mencari-cari loket Oyster  Card dan langsung membeli Card yang depositnya refundable. 

Di depan petugas saya dengan fasih menyebutkan “Oyster Regular Card-unlimited journeys 2 days in Zones 1 & 2, price GPB 7 x 2 + refundable deposit GBP 5.” Jawabnya, “you can not buy that kind of card, you have to buy a visitor card and it’s non refundable deposit ya udahlah yaaa…melayanglah itu GBP 5, lumayan kan ya IDR 90.000!. Jadi kami hanya diperkenankan membeli Oyster Visitor Card unlimited Zone 1 & 2 untuk 3 hari seharga GBP 35 yang sudah include nonrefundable deposit. Mahal ya? bisa iya--bisa engga, karena saldo tersebut sudah termasuk tiket kereta bandara seharga IDR 300.000, sedangkan Oyster Regular Card Unlimited belum termasuk. Lalu bagaimana bisa disebut murah atau mahal? murah jika intensitas penggunaan kereta/bus anda cukup sering.

Visitor/Tourist Card
Oiya, kenapa saya harus menyebutkan jenis paket kartu unlimited bla bla bla tersebut? Karena demikianlah caranya untuk menghemat budget agar kita tidak perlu membayar tiket kereta dan bus secara eceran. Artinya anda harus tahu terlebih dahulu lokasi landmark yang akan dikunjungi, apakah berada di Zona 1 & 2 atau di zona lain, sebab semakin jauh zona tentunya semakin mahal tiket keretanya. Sebagai contoh, karena saya cuma 3 hari di London maka saya memilih untuk pergi tidak lebih jauh dari Zona 1 & 2. Untuk itu saya membeli unlimited 2 days, dengan sistem capped GBP 7 per hari, jadi seberapa banyak anda bolak balik naik kereta dan bus, harganya tidak akan lebih dari GBP 7 dalam sehari, padahal sekali perjalanan kereta harga-nya adalah GBP 2.40, saving budget bukan?. Tentu saja harga akan lebih mahal jika anda memilih paket dengan hari yang lebih banyak dan Zona yang lebih luas, sebagai catatan, awal dari Zona 1 adalah Buckingham Palace, anda bisa cek di google yaa…

Kemudian apa bedanya Oyster Regular Card Unlimited dan Oyster Visitor Card Unlimited? Yakni pada deposit  GBP 5, dimana jenis Visitor Card tidak bisa diambil depositnya artinya kartu tersebut menjadi hak milik anda, sedangkan Oyster Regular Card deposit bisa diambil dengan menukar kartu. Jadi kalo anda pilih menyimpan kartu untuk kenang-kenangan pilihlah Visitor Card, kalau pilih saving uangnya maka pilihlah Regular Card 😀. Selain itu, saldo Visitor Card sudah termasuk tiket kereta bandara, sedangkan Regular Card belum termasuk, jadi tiket kereta bandara dibeli terpisah. Masih bingung en sebodo amat ama hemat-hematan??, sulthann yeekaan??, pake saja debit card BTP* Jenius (contactless card), konon bisa dipake di London dan Paris tinggal tap-tap saja ga perlu repot-repot beli kartu atau single tiket kayak saya 😀.

Bertanyalah saya, disebelah mana Thames Link train? Kata dia tidak ada Thames Link di platform ini, atau sudah berangkat, entahlah saya ga gitu bisa nangkep, lanjutnya “anda naik Southern Train saja,” saya cek di map stasiun terakhirnya adalah Stasiun besar London Victoria. Baru 30 menit jalan kereta berhenti dan dinyatakan berhenti seterusnya karena signal di matikan sebab kereta jenis sama baru saja menabrak orang yang menyeberang jalan! Ohhhh…menabrak atau bunuh diri? Entahlah. Kami keluar dari kereta dan bertanya kepada Petugas ditengah hujan rintik yang dingin sekira 18 derajat celcius, awalnya petugas mengarahkan kereta Southern lain yang berlawanan, jadi tinggal menyeberang peron saja tapi ternyata out off service juga. Kemudian dia mengalihkan ke kereta lain yang adalah peron lain dengan naik Elevator dan turun tangga manual, kalo bawa badan saja gapapa, tapi bawa koper seberat 25kg, silahkan anda bayangkan :D. Tiga puluh menit kemudian kami sampai di Victoria Station, yang sungguh jauh dari rencana awal jadi saya harus re-route untuk tahu kami musti ke platform berapa untuk sampai Angel Station, ambyarrr berantakan….

Kereta bandara ini adalah kereta jarak jauh yang rel-nya sejajar dengan tanah, jadi jika anda mau ke Kereta Underground agar bisa ke Angel Station, maka anda harus pindah naik turun tangga (naek elevator kalo ada, tapi jarang ada 😑) untuk sampai ke platform yang dituju, karena London Victoria Station ini adalah stasiun Induk jadi gede bangett. Setelah bertanya sebanyak 7x! sambil geret-geret koper tentunya, sampailah kami ke platform dengan line biru untuk berganti kereta di Euston Station dengan line hitam yang menuju Angel Station, perjalanan memakan waktu tempuh sekira 30 menit, dan untuk keluar stasiun anda harus melewati 2 elevator  yang tingginya ga kira-kira 😓. Dari Angel Station ke Access Apartment, menurut google map dan Agoda.com hanya 15 menit jalan kaki, prakteknya? 30 menit!! Sekali lagi kalo hanya bawa badan sih tidak masalah, kalo dengan koper seberat 25kg dibarengi dengan 2 kali jatuh di elevator dan sama sekali belum penyesuaian jetlag dan suhu, klenger sudah pasti.

Sesungguhnya, salah seorang warga London yang ber-baik hati yang membawakan koper sudah memberikan alternative kepada saya bahwa sebaiknya naik Bus atau Taxi. Namun karena saya-nya sudah menjelang bloon-kepayahan ga bisa mikir mengingat waktu sudah menunjukkan pukul 23:00, saya masih meraba-raba melihat apakah ada taxi dan adakah halte Bus, tapi tidak ada, saya paksakan sambil jalan sambil melihat barangkali ada Taxi lewat atau Halte Bus. Lelah dan angin dingin berhembus, jalan juga sudah terseok-seok, tapi makin lama badan justru makin keringatan dan mata makin jernih, terlepas dari body clock yang masih belum mengikuti waktu London yang saat itu Pukul 00:00, artinya Pukul 07:00 WIB, sayanya juga panik karena ga nemu-nemu juga gedung apartemennya. Tapi jangan anda bayangkan London sepi sunyi hari itu, karena bertepatan dengan Hari Haloween, jalanan rame sekali banyak orang-orang lokal yang berpesta pora di jalanan dengan kostum yang anda tau-lah kayak apa. Kami yang terlihat mencolok tentunya cukup menarik perhatian, tengah malam, foreighner, perempuan semua, pake krudung, geret-geret koper, “Hello, do you need help?” “where you from?” *bayangin-nya pake aksen British English kayak Harry Potter yee…*. Saya bilang, gapapa, saya bentar lagi sampai apartment saya kok, Makasih ya…”Ok, Have a nice day” katanya. Kagak! Kaga ada nice-nicenya hari itu *batin saya* wkwk….

Bener-bener setengah jam kemudian saya baru nemu gedung apartemen-nya, cuma mana  pintu masuknya ya? Semua tertutup rapat dan sepi tidak ada seorang-pun di jalan. Awalnya saya pikir ada semacam receptionist-nya, karena saya memilih akomodasi ini dengan pertimbangan salah satunya adalah 24 jam check in dan saya sudah kirim email bahwa saya akan datang di tanggal sekian tengah malam. Kepanikan mulai melanda saya, bayangkan tengah malam hampir dini hari saya harus mencari akomodasi pengganti dimana??. Saya terpaksa meminta teman saya 2 orang untuk menunggu di sudut gedung yang sepi dan sunyi dengan koper-koper kami. Karena saya pikir daripada kami jalan bareng-bareng terseok-seok muter-muter tower-tower, mencari-cari yang tak pasti, lebih baik saya bersama satu orang teman saya yang lain mencari pintu masuk disisi gedung yang lain.

Akhirnya saya ketemu manusia juga, sepasang muda mudi, saya bertanya pada mereka, saya jelaskan bahwa saya menginap di apartemen ini, mereka menjawab bahwa kantor administrasi sudah tutup, dan apartemen ini adalah tipe apartemen private access jadi saya harus bertemu dengan pengelola untuk bisa masuk. Saya menjawab, tidak mungkin tutup saya sudah email mereka bahwa saya akan check in tengah malam dan pengelola menjawab tidak masalah, kalo gitu ditelfon saja kata mereka sambil menunjuk no telepon yang ditempel dipintu. Sedangkan saya ga ada pulsa adanya hanya pocket wifi haha…bener-bener ngenes, jadi saya ngisi pulsa dulu sambil nanya mereka berapa country code UK, ngga tau donggg mereka country code negara sendiri, ah payah deh. Eh tidak lama kemudian ada Bapak-bapak lewat dan anak muda ini langsung menunjuk “Hei, ini pengelolanya!.” Saking excited-nya saya spontan meneriakan “Oh My God Sir! Hi! Im Rieska from Indonesia, I’m the guests who supposed to be check in tonight!,” (mbuh ya bener ngga, pokoknya saya asal mangap aja, asal mereka ngerti apa yang kita omongin, yeeekannn) *sambil nyodorin print out voucher Hotel saya*. Dia jawab, “Oiya ya, bentar saya bukain pintu anda masuk, saya tinggal sebentar ya 5 menit ada perbaikan di Tower sebelah sana,” Alhamdulillahhh leganya saya….

Demikianlah drama saya pertama kali menginjakkan kaki di United Kingdom, sungguh kesalahan fatal memilih  berangkat ke London di hari yang sama saat kedatangan, tentunya ini sudah dengan kesepakatan bersama, karena kami pikir dengan berangkat di hari yang sama kami bisa memanfaatkan waktu dan tenaga dengan efektif dan efisien. Pertimbangkanlah estimasi perjalanan dengan perkiraan waktu yang tepat, karena mungkin tidak masalah jika perjalanan dilakukan pada siang hari, tapi perjalanan malam hari dengan gembolan koper-koper berat tentunya adalah tindakan yang serampangan, untung kami ketemu orang baik terus, kalo ketemunya orang jahat gimana coba?? Jangan di contoh ya kaka kaka….kapok Barbie…wkwk.

Access Apartment City London
Kami menginap di Access Apartment City London seharga IDR 2.004.249/malam atau IDR 501.062/orang/malam. Malam itu kami diminta untuk melakukan proses check in di Tower A tempat kantor pengelola berada, karena tentunya saya harus mendaftarkan passport kami dan mengisi formulir check in serta menerima kunci self access, kemudian kami keluar lagi bawa koper, untuk naik ke apartemen kami di Tower D tepat pukul 01.00 dini hari! Sungguh melelahkan bukan?!. Saya sangat merekomendasikan apartemen ini, sangat luas dengan tipe Two Bedroom Apartement, terdiri dari ruang makan, ruang tamu dan dapur, bahkan tersedia mesin cuci baju, mesin cuci piring, oven, microwave, dan teko listrik. Yang membuat akomodasi ini murah adalah karena apartemen ini merupakan apartemen mahasiswa yang disewakan jika mahasiswa tersebut sedang off, ya tentunya saya sempat dikira mahasiswa juga donggg…


0 comments:

Post a Comment