Problem hidup saya yang terakhir
(semoga) adalah koneksi internet, mau sematang apapun perencanaan saya atau
se-jago apapun travelingnya, sepertinya tanpa koneksi saya timpang sebelah *curhat*.
Beli SIM Card di India tidak mudah, siapkan copy Passport, Pas foto, dan copy
Visa, juga rekomendasi Hotel, kalo provider menyetujui kurang lebih 2 jam SIM
card sudah aktif. Katakanlah pengaktifan di Jaipur, kemudian anda pindah kota
yang sudah beda Negara bagian seperti Agra di Negara bagian Uttar Pradesh, maka
yang terjadi adalah SIM Card anda roaming, koneksi internet mati, hanya bisa
sms dan telfon saja! Wkwk…artinya anda harus beli SIM Card baru lagi dengan
prosedur yang sama, melelahkan bukan?!.
Konon, pemerintah India
menyediakan SIM card gratis untuk tourists,
tapi beberapa diantaranya mengatakan bahwa pada prakteknya tidak berjalan, namun ada juga yang bilang Tourists SIM
Card tersedia di pintu kedatangan Indira Gandhi Int’l Airport Terminal 3 di
boots apa saya lupa, memang informasinya agak kurang jelas, tapi sebaiknya anda
mencoba bertanya disana. Kalo saya sendiri sih bhayyy aja wong saya datang dari
penerbangan Internasional Jaipur. Jadi gimana dong? Inilah buah hasil orang
yang dengan tekun ngoprek Oum Gugel siang malam *muji diri sendiri* 😁, nemulah
saya Trabug.com yang menyewakan modem wifi dan telepon seluler, harga sewanya
USD 2-3 per hari, saya memilih modem karena bisa dipake rame-rame, total sewa 8
hari sekitar Rp. 420.000, karena yang mahal adalah ongkirnya sebesar USD 9,9.
Jangan lupa dijaga baek-baek tuh barang karena ada deposit sebesar USD 65 yang
akan direfund setelah barang diterima dengan benar dan lengkap.
Mekanisme-nya sangat mudah, anda
hanya perlu book online, isi alamat hotel karena modem akan dikirim kesini dan
isi alamat hotel terakhir anda tinggal karena modem akan di pick up kesini,
bayar biaya sewa, ongkir, dan deposit, selesai. Modem juga bisa dipake ke kota
mana aja, tidak ada roaming-roaming-an, iya mana aja kecuali Kashmir!!! Hlahhh?!…oh Tuhan pelik sekali hidup ini,
jadi Kashmir ini lebih njlimet lagi, foreigner
tidak bisa beli prepaid SIM card karena harus pakai ID orang lokal, usaha saya yang terakhir adalah minta
tolong dibelikan oleh Hotel saya yang termahal! Yakni Pine Spring Hotel, masak
sih Hotel mahal ga mau bantuin??Gitu kira-kira harapan sayah (-,-).
Terakhir, saya membeli Travel
Insurance di agen yang sudah menjadi langganan saya &apply Visa. Agen saya menyarankan Zurich
untuk mengcover 8 hari dengan harga Rp.480.000, seberapa penting Travel Insurance? Untuk perjalanan saya
yang menclok-menclok dan cukup riskan, maka travel
insurance ini sangat penting. Apa saja yang dicover? Selain kematian dan
kecelakaan, juga pesawat cancel/delay,
bagasi hilang/rusak, barang hilang/rusak, uang hilang/kecopetan., ect.
Selanjutnya adalah apply Visa, Kenapa
apply visa ini menjadi yang terakhir? Karena Visa India untuk Indonesia Citizen
cukup mudah didapat, anda hanya perlu apply online untuk e-Tourist Visa dengan biaya USD 49.20 dengan kartu kredit. Siapkan
pas foto softcopy background putih
dengan file jpeg ukuran 350pixel x 350pixel minimal 10kb maksimal 1mb, kemudian isi form online di
website resmi www.indianvisaonline.gov.in & klik e-visa (perhatian!
banyak website palsu, jadi hati-hati!). Visa akan granted dalam waktu kurang lebih 24 jam yang dikirim via e-mail,
print e-visa nya dan simpan soft file-nya,
visa yang diberikan ada yang single entry
dan ada pula yang double entry.
Untuk VOA, rasanya sudah tidak diberlakukan lagi, saya sendiri memilih
Tourist Visa biasa atau Visa yang ditempel yang langsung apply ke Embassy,
walaupun harganya lebih mahal Rp. 1.355.000, padahal sebelumnya harganya masih
530rb, kenaikan ini terjadi di akhir tahun 2017, he ehm! Cakep banget dah!.
Trus, kenapa coba saya repot-repot memilih Regular
Visa yang harganya naudzubillah mahalllnya?? jadi saya nemu cerita di blog mas-mas, ada
2 orang turis Indonesia ke India dua-dua nya granted e-visa, hanya satunya e-passport,
dan temannya passport biasa. Nah, temannya ini ga boleh lanjut terbang dong
saat transit di KL! Why?? Katanya karena passport dia harusnya e-passport untuk e-visa, entahlah...si petugas imigrasi mungkin salah memahami rules-nya, dramapun terjadi, si
mbak-mbak yang ga boleh terbang nangis kejer, apalagi ini pertama kali dia ke
luar negeri, mau balik ke Jakarta sendiri ga berani, namun pada akhirnya
petugas imigrasi mungkin jatuh iba dan mengijinkan terbang ke India. Tapi banyak kok turis Indonesia yang ke India apply e-visa dengan passport biasa dan tidak
ada masalah, jadi keputusan ada di tangan Anda!
Berhubung saya dan teman-teman tidak mau terjadi drama yang sama, karena
kita sudah keseringan drama di Jakarta, eh?! Maka kami yakinkan diri untuk apply regular visa. Syaratnya sangat
mudah karena semua persyaratan sudah booking-an
asli bukan dummy, sebagai berikut :
- Passport, masa berlaku minimal 6 bulan
- Isi form online di www.indianvisaonline.gov.in, klik bagian paling bawah “apply online”, isiannya cukup mudah kok ikutin saja, untuk alamat disana isi saja alamat Hotel.
- Pas foto 5cm x 5cm background putih (2 lembar), adapula soft file yang diunggah di bagian akhir pengisian form, jadi siapkan softfile dengan ukuran yang sama dengan e-visa.
- Rekening Koran 3 bulan terakhir, print saja dari mutasi internet banking, kalo tidak punya i-banking berarti anda harus datang ke CS bank, ngga ngerti juga kenapa ga copy buku tabungan aja, isi tabungan minimal USD 1000 (pernah baca di blog mana? lupa).
- Tiket Pesawat Pulang Pergi.
- Reservasi Hotel.
- Itinerary detail (saya comot dari blog-nya mas Omnduut seperti ini, udah ijin donggg :D).
Kannn...udah ada semuahh...yuk tinggal cabs...
Dari kantor deket banget, tinggal ke arah JL. HR Rasuna Said, masuknya dari
pintu samping bersebelahan selang satu gang dengan Netherland Embassy. Jadi dari arah Mampang setelah Netherland
Embassy belok kiri, kalo naik mobil saya ga tau parkirnya dimana atau
numpang parkir gedung orang trus jalan kaki? Tapi kalo naik motor saya numpang
nebeng di parkir liar Netherland Embassy,
trus tinggal nyeberang saja, karena pintu masuk ke dua kedutaan tersebut
berhadap-hadapan. Antri dari jam setengah 9, sungguh sepih, trus ambil antrian,
dipanggil suruh rapiin dulu, trus submit,
kemudian dipanggil satu persatu di loket sebelahnya untuk finger print dan foto, oiya dipintu masuk tas dan semua barang
dititip kecuali berkas-berkas Visa, selanjutnya dipanggil lagi untuk bayar 1 group, dan diberikan tanda terima yang
sudah tertulis kapan kita musti datang untuk ambil Passport (bisa diwakilan).
Tiga hari kemudian saya datang, Visa
group diambil ke loket di dalam, tapi untuk Visa individu tinggal ambil di
loket security. Setelah memberikan
tanda terima Visa ke loket, petugas loket mas-mas orang Indonesia yang sangat tidak ramah *khas orang embassy* memanggil saya dan
memberitahukan bahwa konsuler ingin bertemu dengan saya-perwakilan group. Deg!
Seketika tangan saya gemetaran, keringat dingin mengucur, bayang-bayang ungranted memenuhi pikiran saya, lantas
bagaimana nasib bookingan-bookingan saya?! 5,2juta x 5 pax akan melayang
percumah, rasanya kaki saya sudah tidak sanggup menopang tubuh saya, ambyarrr...sungguh 😭.
Eh, ternyata ada grup lain yang bernasib sama hanya dia adalah agent-nya
bukan applicant, jadi terlihat
santai, toh dia hanya bertugas submit
visa saja. Kami berdua diberikan secarik kertas semacam pengantar untuk bisa
mengakses pintu utama untuk tamu, dan diarahkan ke ruang tamu pengunjung, cukup
lama kami berdua menunggu, bolak balik saya memandang pintu masuk dengan cemas
tanpa tahu saya ini mau diapain? Ditanya apa? Karena baru kali ini saya apply visa kemudian dipanggil konsuler! 😔. Tak lama kemudian, mas-mas petugas
kedutaan yang tadi, sudah membawa berkas aplikasi kami lengkap dengan
passport-nya, langsung lemes saya, kesimpulan saya visa ditolak dikembalikan
bersama dengan berkas 😟, ini akibatnya meremehkan Visa orang, pikir saya,
btw mana konsulernya??.
Tanpa menunggu instruksi langsung saya ambil berkas dan passport-nya, “eh
passportnya saja!” kata mas-nya. Saya ambil passport tanpa melihat dan masih
menunduk, mungkin kalo di-kaca-in wajah saya butek ga ada kece-kece-nya *hoek*,
“cek lagi, bener ga passport-nya?” kata dia lagi, tanpa respond saya buka-buka
passport masing-masing sampe ketemu halaman depan. Kemudian sekelebat saya
seperti melihat lembar passport warna pink yang asing yang tidak saya
kenali, saya buka lagi dan benar ada sebuah sticker
warna pink cerah berpendar cahaya gemerlap sangat indah tertempel manis di
salah satu lembarnya, tiba-tiba serasa ada yang ngiris bawang disebelah, mata pedes berkaca-kaca, wakakakak lebayyy poll...wis ben!
IT’S GRANTED! saya cek semua passport, dan Alhamdulillah
semuanya ada stickernya, saya baca berulang-ulang masa berlakunya, karena
jangan sampai pas kita berangkat Visa belum berlaku atau pas kita pulang Visa
sudah expired, hari itu adalah 4
April 2018, visa berlaku 5 April sampai 6 April?! Loh loh?! Masak cuma sehari
berlakunya?! Tunggu...berulang-ulang saya baca, untungnya saya sabar untuk
tidak protes guna memberikan waktu otak saya untuk mengolah informasi tahun
expired-nya. Ini tahun 2018, dan expirednya?? Owwwhhh...2019, nengggg otaknya
dibenerin dolooo...ternyata kami mendapat Visa 1 Tahun multiple entry!!! Wah
kalo bisa dijual sudah saya jual Visa-nyah wkkkk...tangan saya masih gemetaran sewaktu
tanda tangan tanda terima passport, keluar kedutaan saya duduk dulu mengatur
saraf-saraf di kaki sayah agar tegak berdiri 😀. Lhah konsulernya mana? Nah ini
saya juga bingung, tapi saya duga konsulernya adalah petugas berkebangsaan
India yang tadi sempat melewati ruang tamu dan melihat ke arah kami, memang
terkadang kedutaan hanya perlu melihat wajah applicant saja untuk memastikan Visa granted ke orang yang tepat, agak aneh ya? Ya suka-suka mereka siyy
wkkk....
Visa aman, mari kembali
ke trips arrangement, perjalanan ini
total saya budget-kan kurang lebih
10juta diluar Visa &travel insurance, tapi tergantung juga dari berapa orang yang ikut traveling karena beberapa expenses lebih murah dikarenakan mekanisme sharing seperti
mobil dan hotel, 10juta ini
idealnya adalah untuk 5 orang yang fit untuk Innova atau 9/10 orang dengan
Tempo Traveler.

0 comments:
Post a Comment