Thursday, June 7, 2018

India & Kashmir “A Hardcore Trips!” Part 2 (The Preps)



Gokilll...prepnya sampai ke Part 2! Wkkkk....

Problem hidup saya yang terakhir (semoga) adalah koneksi internet, mau sematang apapun perencanaan saya atau se-jago apapun travelingnya, sepertinya tanpa koneksi saya timpang sebelah *curhat*. Beli SIM Card di India tidak mudah, siapkan copy Passport, Pas foto, dan copy Visa, juga rekomendasi Hotel, kalo provider menyetujui kurang lebih 2 jam SIM card sudah aktif. Katakanlah pengaktifan di Jaipur, kemudian anda pindah kota yang sudah beda Negara bagian seperti Agra di Negara bagian Uttar Pradesh, maka yang terjadi adalah SIM Card anda roaming, koneksi internet mati, hanya bisa sms dan telfon saja! Wkwk…artinya anda harus beli SIM Card baru lagi dengan prosedur yang sama, melelahkan bukan?!.

Konon, pemerintah India menyediakan SIM card gratis untuk tourists, tapi beberapa diantaranya mengatakan bahwa pada prakteknya tidak berjalan, namun ada juga yang bilang Tourists SIM Card tersedia di pintu kedatangan Indira Gandhi Int’l Airport Terminal 3 di boots apa saya lupa, memang informasinya agak kurang jelas, tapi sebaiknya anda mencoba bertanya disana. Kalo saya sendiri sih bhayyy aja wong saya datang dari penerbangan Internasional Jaipur. Jadi gimana dong? Inilah buah hasil orang yang dengan tekun ngoprek Oum Gugel siang malam *muji diri sendiri* 😁, nemulah saya Trabug.com yang menyewakan modem wifi dan telepon seluler, harga sewanya USD 2-3 per hari, saya memilih modem karena bisa dipake rame-rame, total sewa 8 hari sekitar Rp. 420.000, karena yang mahal adalah ongkirnya sebesar USD 9,9. Jangan lupa dijaga baek-baek tuh barang karena ada deposit sebesar USD 65 yang akan direfund setelah barang diterima dengan benar dan lengkap.

Mekanisme-nya sangat mudah, anda hanya perlu book online, isi alamat hotel karena modem akan dikirim kesini dan isi alamat hotel terakhir anda tinggal karena modem akan di pick up kesini, bayar biaya sewa, ongkir, dan deposit, selesai. Modem juga bisa dipake ke kota mana aja, tidak ada roaming-roaming-an, iya mana aja kecuali Kashmir!!! Hlahhh?!…oh Tuhan pelik sekali hidup ini, jadi Kashmir ini lebih njlimet lagi, foreigner tidak bisa beli prepaid SIM card karena harus pakai ID orang lokal, usaha saya yang terakhir adalah minta tolong dibelikan oleh Hotel saya yang termahal! Yakni Pine Spring Hotel, masak sih Hotel mahal ga mau bantuin??Gitu kira-kira harapan sayah (-,-).

Terakhir, saya membeli Travel Insurance di agen yang sudah menjadi langganan saya &apply Visa. Agen saya menyarankan Zurich untuk mengcover 8 hari dengan harga Rp.480.000, seberapa penting Travel Insurance? Untuk perjalanan saya yang menclok-menclok dan cukup riskan, maka travel insurance ini sangat penting. Apa saja yang dicover? Selain kematian dan kecelakaan, juga pesawat cancel/delay, bagasi hilang/rusak, barang hilang/rusak, uang hilang/kecopetan., ect. Selanjutnya adalah apply Visa, Kenapa apply visa ini menjadi yang terakhir? Karena Visa India untuk Indonesia Citizen cukup mudah didapat, anda hanya perlu apply online untuk e-Tourist Visa dengan biaya USD 49.20 dengan kartu kredit. Siapkan pas foto softcopy background putih dengan file jpeg ukuran 350pixel x 350pixel minimal 10kb maksimal 1mb, kemudian isi form online di website resmi www.indianvisaonline.gov.in & klik e-visa (perhatian! banyak website palsu, jadi hati-hati!). Visa akan granted dalam waktu kurang lebih 24 jam yang dikirim via e-mail, print e-visa nya dan simpan soft file-nya, visa yang diberikan ada yang single entry dan ada pula yang double entry.

Untuk VOA, rasanya sudah tidak diberlakukan lagi, saya sendiri memilih Tourist Visa biasa atau Visa yang ditempel yang langsung apply ke Embassy, walaupun harganya lebih mahal Rp. 1.355.000, padahal sebelumnya harganya masih 530rb, kenaikan ini terjadi di akhir tahun 2017, he ehm! Cakep banget dah!. Trus, kenapa coba saya repot-repot memilih Regular Visa yang harganya naudzubillah mahalllnya?? jadi saya nemu cerita di blog mas-mas, ada 2 orang turis Indonesia ke India dua-dua nya granted e-visa, hanya satunya e-passport, dan temannya passport biasa. Nah, temannya ini ga boleh lanjut terbang dong saat transit di KL! Why?? Katanya karena passport dia harusnya e-passport untuk e-visa, entahlah...si petugas imigrasi mungkin salah memahami rules-nya, dramapun terjadi, si mbak-mbak yang ga boleh terbang nangis kejer, apalagi ini pertama kali dia ke luar negeri, mau balik ke Jakarta sendiri ga berani, namun pada akhirnya petugas imigrasi mungkin jatuh iba dan mengijinkan terbang ke India. Tapi banyak kok turis Indonesia yang ke India apply e-visa dengan passport biasa dan tidak ada masalah, jadi keputusan ada di tangan Anda!

Berhubung saya dan teman-teman tidak mau terjadi drama yang sama, karena kita sudah keseringan drama di Jakarta, eh?! Maka kami yakinkan diri untuk apply regular visa. Syaratnya sangat mudah karena semua persyaratan sudah booking-an asli bukan dummy, sebagai berikut :

  1. Passport, masa berlaku minimal 6 bulan
  2. Isi form online di www.indianvisaonline.gov.in, klik bagian paling bawah “apply online”, isiannya     cukup mudah kok ikutin saja, untuk alamat disana isi saja alamat Hotel.
  3. Pas foto 5cm x 5cm background putih (2 lembar), adapula soft file yang diunggah di bagian akhir pengisian form, jadi siapkan softfile dengan ukuran yang sama dengan e-visa.
  4. Rekening Koran 3 bulan terakhir, print saja dari mutasi internet banking, kalo tidak punya i-banking berarti anda harus datang ke CS bank, ngga ngerti juga kenapa ga copy buku tabungan aja,  isi tabungan minimal USD 1000 (pernah baca di blog mana? lupa).
  5. Tiket Pesawat Pulang Pergi.
  6. Reservasi Hotel.
  7. Itinerary detail (saya comot dari blog-nya mas Omnduut seperti ini, udah ijin donggg :D).
Kannn...udah ada semuahh...yuk tinggal cabs...

Dari kantor deket banget, tinggal ke arah JL. HR Rasuna Said, masuknya dari pintu samping bersebelahan selang satu gang dengan Netherland Embassy. Jadi dari arah Mampang setelah  Netherland Embassy belok kiri, kalo naik mobil saya ga tau parkirnya dimana atau numpang parkir gedung orang trus jalan kaki? Tapi kalo naik motor saya numpang nebeng di parkir liar Netherland Embassy, trus tinggal nyeberang saja, karena pintu masuk ke dua kedutaan tersebut berhadap-hadapan. Antri dari jam setengah 9, sungguh sepih, trus ambil antrian, dipanggil suruh rapiin dulu, trus submit, kemudian dipanggil satu persatu di loket sebelahnya untuk finger print dan foto, oiya dipintu masuk tas dan semua barang dititip kecuali berkas-berkas Visa, selanjutnya dipanggil lagi untuk bayar 1 group, dan diberikan tanda terima yang sudah tertulis kapan kita musti datang untuk ambil Passport (bisa diwakilan).

Tiga hari kemudian saya datang, Visa group diambil ke loket di dalam, tapi untuk Visa individu tinggal ambil di loket security. Setelah memberikan tanda terima Visa ke loket, petugas loket mas-mas orang Indonesia yang sangat tidak ramah *khas orang embassy* memanggil saya dan memberitahukan bahwa konsuler ingin bertemu dengan saya-perwakilan group. Deg! Seketika tangan saya gemetaran, keringat dingin mengucur, bayang-bayang ungranted memenuhi pikiran saya, lantas bagaimana nasib bookingan-bookingan saya?! 5,2juta x 5 pax akan melayang percumah, rasanya kaki saya sudah tidak sanggup menopang tubuh saya, ambyarrr...sungguh 😭.  Eh, ternyata ada grup lain yang bernasib sama hanya dia adalah agent-nya bukan applicant, jadi terlihat santai, toh dia hanya bertugas submit visa saja. Kami berdua diberikan secarik kertas semacam pengantar untuk bisa mengakses pintu utama untuk tamu, dan diarahkan ke ruang tamu pengunjung, cukup lama kami berdua menunggu, bolak balik saya memandang pintu masuk dengan cemas tanpa tahu saya ini mau diapain? Ditanya apa? Karena baru kali ini saya apply visa kemudian dipanggil konsuler! 😔. Tak lama kemudian, mas-mas petugas kedutaan yang tadi, sudah membawa berkas aplikasi kami lengkap dengan passport-nya, langsung lemes saya, kesimpulan saya visa ditolak dikembalikan bersama dengan berkas 😟, ini akibatnya meremehkan Visa orang, pikir saya, btw mana konsulernya??.

Tanpa menunggu instruksi langsung saya ambil berkas dan passport-nya, “eh passportnya saja!” kata mas-nya. Saya ambil passport tanpa melihat dan masih menunduk, mungkin kalo di-kaca-in wajah saya butek ga ada kece-kece-nya *hoek*, “cek lagi, bener ga passport-nya?” kata dia lagi, tanpa respond saya buka-buka passport masing-masing sampe ketemu halaman depan. Kemudian sekelebat saya seperti melihat lembar passport warna pink yang asing yang tidak saya kenali, saya buka lagi dan benar ada sebuah sticker warna pink cerah berpendar cahaya gemerlap sangat indah tertempel manis di salah satu lembarnya, tiba-tiba serasa ada yang ngiris bawang disebelah, mata pedes berkaca-kaca, wakakakak lebayyy poll...wis ben!

IT’S GRANTED! saya cek semua passport, dan Alhamdulillah semuanya ada stickernya, saya baca berulang-ulang masa berlakunya, karena jangan sampai pas kita berangkat Visa belum berlaku atau pas kita pulang Visa sudah expired, hari itu adalah 4 April 2018, visa berlaku 5 April sampai 6 April?! Loh loh?! Masak cuma sehari berlakunya?! Tunggu...berulang-ulang saya baca, untungnya saya sabar untuk tidak protes guna memberikan waktu otak saya untuk mengolah informasi tahun expired-nya. Ini tahun 2018, dan expirednya?? Owwwhhh...2019, nengggg otaknya dibenerin dolooo...ternyata kami mendapat Visa 1 Tahun multiple entry!!! Wah kalo bisa dijual sudah saya jual Visa-nyah wkkkk...tangan saya masih gemetaran sewaktu tanda tangan tanda terima passport, keluar kedutaan saya duduk dulu mengatur saraf-saraf di kaki sayah agar tegak berdiri 😀. Lhah konsulernya mana? Nah ini saya juga bingung, tapi saya duga konsulernya adalah petugas berkebangsaan India yang tadi sempat melewati ruang tamu dan melihat ke arah kami, memang terkadang kedutaan hanya perlu melihat wajah applicant saja untuk memastikan Visa granted  ke orang yang tepat, agak aneh ya? Ya suka-suka mereka siyy wkkk....

Visa aman, mari kembali ke trips arrangement, perjalanan ini total saya budget-kan kurang lebih 10juta diluar Visa &travel  insurance, tapi tergantung juga dari berapa orang yang ikut traveling karena beberapa expenses lebih murah dikarenakan mekanisme sharing seperti mobil dan hotel, 10juta ini idealnya adalah untuk 5 orang yang fit untuk Innova atau 9/10 orang dengan Tempo Traveler.

0 comments:

Post a Comment