Thursday, June 7, 2018

India & Kashmir “A Hardcore Trips!” Part 3 (Jaipur-Kashmir)


Cuaca menjadi concern saya sebelum merencanakan perjalanan, daratan India dari Delhi di India Tengah sampai ke Selatan memiliki iklim sub tropis, Desember sampai dengan Februari musim dingin sampai pada derajat satuan walaupun tidak sampai turun salju, Maret-April mulai musim semi yang sejuk dan Mei-Juni musim panas sampai dengan 45 derajat! Kata Bobby Thakur si pemilik Kalka Travel berasa kek di Oven Raksasa :D, kemudian July-Agustus Musim hujan. Sedangkan Kashmir yang berada di ujung utara India yang masuk dalam rangkaian pegunungan Himalaya, memiliki 4 musim khas negara Eropa plus musim tidak menentu! Nah loh gimana maksudnya!?. Kira-kira begini, Desember-Februari musim dingin, Maret-April Musim Semi, Mei-Agustus Musim Panas, in the middle nya Juli-Agustus hujan lebat, September-November Musim Gugur, sila cek peta ya!.

Tujuan utama ke Kashmir atau super highlight kami adalah...tentu saja menengok salju abadi di rangkaian pegunungan Himalaya-nya, di salah satu puncaknya tepatnya di puncak Apharwat di daerah Gulmarg, banyak “Di” nya yakk?! Banyaknya “Di” ini menandakan bahwa sungguh tidak mudah merencakan perjalanan ke tempat ini, sekaligus menyesuaikan waktu yang tepat, karena saya juga harus menyesuaikan musim dengan Golden Triangle di India Tengah. Desember-Februari tidak mungkin, di dataran rendah-nya saja salju tebal, bagaimana pulak puncak Apharwatnya? Badai, hujan salju lebat, hujan es mungkin sering terjadi, Mei ke November juga cukup riskan karena India Tengah panas ekstrim dan hujan pula. Setelah bertanya pada travel blogger EmakMbolang maka di putuskan pergi di akhir April awal Mei dari tanggal 28 April 2018 sampai dengan 5 Mei 2018. Akhir April karena diperkirakan puncak Apharwat sudah aman dikunjungi & awal Mei di India Tengah walaupun memasuki musim panas tapi masih dikisaran 30-an, selanjutnya saya hanya tinggal cek cuaca per hari untuk menentukan di hari apa saya harus naik ke puncak Apharwat. Naik ya, bukan summit, bedanya kalo naik dengan alat bantu, sedangkan summit pake kaki sendiri wkkkk...jadi alat bantunya tentunya Gondola yang konon no. 2 tertinggi di dunia.

Kami berangkat dari Jakarta pukul setengah 2 pagi dini hari, sungguh jam-jam horor yang lagi ngantuk-ngantuknya, transit KL 3 jam, dan sampai Jaipur pukul 11 siang, perlu diperhatikan ada banyak options waktu transit yang bisa anda pilih, tapi menurut saya waktu transit yang ideal minimal 3 jam, karena jarak antar gate cukup jauh, jadi anda tidak terburu-buru dan bisa istirahat sejenak. Bandara Jaipur tidak terlalu besar, antrian juga tidak sebanyak di Indira Gandhi, setiba di pintu kedatangan saya langsung bertemu dengan driver pick up service hotel yang sudah saya booking sebelumnya (INR 600/car). Hal pertama yang saya cari adalah ATM karena kami tidak menukar Indian Rupees di Indonesia konon banyak uang expired yang masih beredar, jadi disarankan untuk mengambil dari ATM atau menukar USD di India. Tapi apa yang terjadi? ATM Bank SBI di Bandara Jaipur tidak bisa menarik uang dengan kartu ATM Bank M*nd*ri saya, untung saja saya bawa bekal USD yang kami tukar secukupnya, jadi kami tidak perlu repot muter-muter nyari ATM. Back up plan ini penting banget, selain untuk antisipasi tidak bisa tarik uang, juga untuk antisipasi seandainya kena random cek dan ditanya bawa uang cash berapa? Kan ga lucu jikalau ditanya uang cash dan kita tidak bisa kasih unjuk, bisa-bisa suruh balik lagi.

Hotel Umaid Bhawan, seperti dugaan saya exterior dan interiornya keceh banget sangat Indian sekali, Driver Hotel sempat menawarkan city tour 4 jam seharga 400rb! Langsung saya tolak mentah-mentah, dia terus-terusan membujuk, tapi saya tidak bergeming karena harga tersebut sungguh sangat mahal! Lagipula kami harus beristirahat karena besok pagi-pagi jam 4 kami harus siap-siap ke bandara lagi, another jam-jam horor. Saat saya cek in online, saya baru menyadari bahwa penerbangan lokal India hanya menyediakan 15kg bagasi, sedangkan bagasi kami masing-masing 20kg! Segera saja saya modify pembelian bagasi di mobile apps Air Indigo harganya kurang lebih 270rb/5kg per orang per sektor dimana over bagasi di bandara akan lebih mahal daripada pre order bagasi.





Masalah muncul saat pendebet-an kartu kredit berhasil tapi pembelian bagasi tidak terjadi, terpaksa saya harus bolak-balik telfon lokal via Hotel untuk clarify dan sekaligus membeli bagasi via telfon, 3 jam lamanya saya harus bergelut di urusan perbagasian dan per-kartu kredit-an karena Air Indigo meminta no. transaksi kartu kredit untuk investigasi yang membuat saya naik pitam. Sungguh melelahkan karena saya harus meminta hotel untuk menyambungkan ke Air Indigo belasan kali karena terkadang tidak tersambung sampai mereka menawarkan telfon dari ponsel mereka!. Sekalian pula saya pre-order bagasi Air Asia karena saya yakin pulangnya sudah tidak lagi 20kg :D, bagasi Air Asia lebih murah sekitar Rp.165.000, semua bisa dibayar di cek in counter dengan Kartu Kredit. Di total pre-order bagasi yang saya beli kurang lebih Rp. 1.000.000!  hiks...salah sendiri koper diisi ulekan ๐Ÿ˜”.

Pagi buta kami sudah stand by untuk check out, saya cukup nervous karena penerbangan pagi-pagi banget dan connecting yang harusnya depart di Terminal 1 yaitu Terminal yang sama dengan arrival, akan tetapi sebulan sebelumnya saya diinfo oleh Air Indigo bahwa Delhi-Srinagar berangkat dari Terminal 2, langsung saya kirim e-mail protes ke mereka, bagaimana caranya saya menuju ke Terminal 2 dan apakah connecting 3 jam adalah waktu yang cukup untuk pindah Terminal?. Seketika mereka menelfon saya, briefly memberikan penjelasan bahwa ground staff akan membantu saya menuju ke Terminal 2 dengan free shuttle bus, dan meyakinkan saya bahwa 3 jam adalah waktu yang cukup untuk connecting.

Masalah kembali muncul, saat reception Hotel meminta kunci kamar saat check out, hlah kok saya ga lihat kunci yak?? Kunci Umaid Bhawan Hotel ini adalah kunci manual bukan kunci elektrik sebagaimana layaknya Hotel. Saya mulai panik karena mereka tidak membiarkan kami pergi sebelum kunci ditemukan! Sedangkan di kamar tidak ada karena kami tidak mengunci pintu kamar dan kami mengira memang tidak ada kunci, kami pun tidak menanyakan karena saya sendiri sudah cukup ribet dengan drama bagasi dan kartu kredit. Kami cari di tas pun tidak ada, saya dan teman-teman sekamar juga tidak merasa menerima karena kami saat itu harus menunggu untuk check in sebab kamar masih dibersihkan. Mau tidak mau saya harus mengeluarkan jurus jutek saya, saya bilang “If we’re late it’s your fault!” akhirnya dengan paniknya dia menelfon teman-temannya dan membiarkan kami pergi, saya pun berjanji untuk mengirimkan jika ternyata kunci ada di saya, di dalam mobil driver masih meminta kami mencari di tas-tas dan hasilnya Nihil.

Di pintu keberangkatan, ground staff Air Indigo langsung meminta e-ticket saya, entah tahu dari mana kalo saya penumpang mereka, koper-koper langsung di x-ray, tiap maskapai memiliki x-ray sendiri-sendiri di pintu keberangkatan, dan koper saya kena random cek, disaat yang bersamaan saya hendak mengambil kacamata ditas kecil saya, dan DATANG DARI MANA ITU KUNCI HOTEL TETIBA ADA DI TAS SAYAH!!! Astagah saya langsung tidak enak hati dan dengan cepat puter otak nelfon driver hotel untuk kembali ke bandara secepatnya!!!. Antara bingung dan tidak enak hati, rasanya pengen membelah diri karena di saat yang sama saya harus menunggu driver untuk mengembalikan kunci hotel, dan mengurus koper saya yang digeledah karena ada benda elektronik kamera Go Pro, juga cek in tiket dan bagasi karena cek in on line tidak bisa dilakukan sebab harus menunjukkan fisik kartu kredit yang digunakan untuk booking pesawat.

Kami team tentu saja...2 orang teman saya yang akhirnya menunggu driver untuk mengembalikan kunci hotel plus bolak balik ke saya karena driver menelfon saya. Entahlahhh...apa yang terjadi sungguh saya tidak ingat telah menerima kunci hotel, mungkin saking nervous-nya, dan anehnya dicari-cari di tas berkali-kali tidak ada padahal tas saya kecil banget, tentunya saya mengirimkan pesan ke driver untuk meminta maaf dan menyampaikan permintaan maaf ke staff hotel *aselik rasanya pengen nyamar jadi onde-onde saking ga enaknya๐Ÿ˜ญ*. Menyampaikan permintaan maaf ini penting sekali karena tentunya kami bawa nama Negara, jangan sampai mereka berasumsi turis Indonesia rese-rese wkwk...dan ini terakhir kalinya saya bawa kunci, selanjutnya yang bertanggung jawab mengurus kunci adalah teman saya ๐Ÿ˜€.

Setiba di Indira Gandhi Airport Terminal 1, saya langsung mencari ground staff mereka, ternyata untuk menuju ke Terminal 2 lumayan jauh dan njlimet, tetap saja mereka hanya memberikan petunjuk tanpa mendampingi. Kami menyeberang ke gedung sebelah, naik lift 1 lantai untuk menuju ke pintu kedatangan Terminal 1, dan shuttle bus yang dimaksud adalah sebuah mini bus L300!! “are you sure??” saya bilang, dengan koper-koper ukuran 28inch seberat 20kg mau ditaro dimana? Saya sendiri ogah ngangkut koper saya.Ternyata beneran mereka nekat memasukkan koper-koper kami ke dalam minibus, menumpuknya jadi 1, haduh saya udah ngeri aja roda-nya putus. Dari keluar pintu kedatangan Terminal 1 sampai dengan tiba di Terminal 2, praktis memakan waktu kurang lebih 1 jam.

Perjalanan dari Delhi ke Srinagar ditempuh dalam waktu 1,5 jam, saya sudah menyiapkan kamera saya dan sengaja tidak tertidur selama perjalanan. Duduklah di kursi jendela sebelah kanan dan anda akan mendapatkan pemandangan yang menakjubkan berupa gugusan pegunungan Himalaya berselimut salju. Sesampai di Srinagar, seorang pemuda tiba-tiba mengarahkan kami ke tengah hall kedatangan dan memberikan secarik kertas seperti formulir, saya tolak dengan halus pikir saya dia pasti calo, pemuda lain datang lagi dan memberikan kertas yang sama, dan saya tolak lumayan kenceng. Masak  penerbangan lokal pake departure card segala, begitu dalam batin saya, ternyata pas  kami hampir sampai pintu kedatangan, kami digiring ke loket, dan diminta mengisi form yang sama. Saya lihat ada foreigner lain yang juga mengisi form tersebut, saya bertanya padanya apakah kami harus mengisi form ini, dia bilang iya, walahhh…ribet benerrr…lagian pake seragam napa bang?! paling gak pake tanda pengenal kek, jadi kita tahu kalo situ pegawe?! Wkkk…




Oiya, sesuai dengan info yang saya dapat, tiket Gondola sebaiknya dibeli via online melalui gulmarggondola.com, fase 1 seharga INR 740/person (Gulmarg-Kongdoori) dan fase 2 INR 950/person (Kongdoori-Apharwat), jika fase 2 ditutup maka entrance fee bisa di refund, namun saat itu saya gagal book online bahkan sudah mencoba dengan 5 kartu kredit. Opsi lain adalah membeli di J&K Tourism di Airport, letaknya di paling pojok sebelah kanan sebelum pintu keluar, jadi anda tidak boleh keluar dulu dari airport, karena sekali keluar anda tidak bisa masuk lagi ke dalam airport. Sebelum membeli, sekali lagi saya pastikan ke petugas loket bahwa besok (30 April 2018) fase 2 puncak Apharwat apakah dibuka? dan bagaimana cuacanya?, dia menjawab bahwa besok “clear sky!” jadi pasti dibuka. Pembelian tiket bisa dibayar dengan kartu kredit, setengah jam lebih saya menunggu mereka mencetak tiket dengan sedikit drama printer error, padahal kepala ini rasanya sudah berat, sakit kepala menyerang saya semenjak landing di Srinagar.

Saya pikir apakah saya terkena AMS (Acute Mountain Sickness)/penyakit ketinggian?? rasanya tidak mungkin, karena sebelum terbang, kami masing-masing sudah meminum Glaucon. Nah lho apa pula ini? Jadi begini sodara-sodara, sebelum ke India saya sempat membaca bahwa ada kemungkinan kita terkena AMS di ketinggian tertentu yang dicapai dalam waktu yang singkat (thanks to blog-nya mas Bardiq). Srinagar memiliki ketinggian 2000-an mdpl, dicapai langsung dengan pesawat, tidak semua terkena AMS tergantung kondisi badan, tapi patut untuk di antisipasi, kemudian Gulmarg berada di ketinggian 2600 mdpl dicapai dengan mobil dalam kurun waktu 3 jam, gondola fase 1 3700 mdpl dicapai dalam waktu 20 menit, dan terakhir puncak Apharwat (gondola fase 2) 4200 mdpl dicapai dalam waktu 20 menit. AMS adalah penyakit yang sering menyerang para pendaki gunung, untuk itu diperlukan aklimatisasi atau beristirahat semalam untuk menyesuaikan dengan suhu dan kadar oksigen.

Gejala AMS diantaranya kehilangan selera makan, kelelahan, sakit kepala, mual, muntah, sulit bernapas (kekurangan oksigen), sampai yang terparah adalah tidak sadarkan diri, end up-nya opname di rumah sakit guna suplai oksigen. Antisipasi saya membeli obat anti AMS yang diresepkan dokter yakni Glaucon, 1 strip berisi 10 butir, 1 butir kami minum sebelum terbang ke Srinagar dan 1 lagi kami minum sebelum naik gondola, antisipasi lainnya menginap semalam di Gulmarg untuk aklimatisasi, inilah sebabnya saya bela-belain menginap di Hotel mahal di Gulmarg. Selain itu, agar kami beristirahat dengan cukup sebab antrian gondola lumayan mengular, jadi kami bisa datang pagi-pagi dengan harapan mendapat antrian paling depan, fyi Hotel kami hanya berjarak 1,5 km dari loket gondola. Brief yang saya baca-pun cukup jelas, dengan sudah membeli tiket online kami sudah memotong antrian karena pembelian tiket offline dengan penukaran tiket online dipisah antriannya, kemudian antrian laki-laki dan perempuan juga dipisah, jadi menurut para suhu yang sudah pernah ke Apharwat, tidak perlu lagi yang namanya Guide, apalagi beberapa kasus, Guide lebih banyak yang merugikan daripada membantu kita, katanya juga sih apanya yang mau di guide-in?? Wong ga ada yang kudu diceritain di atas sana! gituh.

Keluar dari pintu kedatangan, kepala makin nyut-nyutan karena saya tidak menemukan driver yang harusnya pegang kertas dengan nama saya, dimana saya sudah booking pick up service Hotel INR 3000/car, petugas keamanan bertanya pada saya siapa yang menjemput dan berapa nomor telfonnya karena dia akan membantu untuk menelfonkan. Ketika saya membuka email di ponsel untuk mengecek no telepon Hotel, petugas keamanan notice bahwa saya menginap di Pine Spring Gulmarg, seketika dia meneriakkan nama Pine Spring sekaligus meminta petugas kemanan lain untuk mencari driver Pine Spring di sisi lain bandara, ternyata si driver duduk tepat dibawah saya wkkkk...ya..dia kelamaan nunggu saya karena membeli tiket gondola.





Selama 3 jam perjalanan ke Gulmarg, kami disuguhi pemadangan tak biasa, saya sudah mewanti-wanti teman-teman saya, jangan kaget karena akan ada banyak tentara lengkap dengan senjata laras panjang dimana-mana, maklum namanya juga daerah rawan konflik, tapi jangan khawatir mereka tidak akan melakukan apa-apa terhadap turis, karena mereka menyadari turis adalah bagian dari sumber pendapatan. Srinagar adalah kota yang mmm..saya sulit menggambarkan, tidak begitu modern, ada bagian yang crowded, kadang kala hanya ladang yang sepi, kemudian pasar yang gersang berdebu,  tak jauh kemudian daerah slum yang hanya bedeng-bedeng dari terpal, tapi makin mendekati gulmarg, pemandangan makin spektakuler, hamparan rumput hijau dengan latar belakang pegunungan yang puncaknya diselimuti salju, bayangkanlah Swiss...mirip sudah!. Orangnya? Ganteng dan cantik, jauh beda dengan India tengah atau selatan, mirip bangsa Kaukasia, berbadan tegap, bermata tajam warna biru, hijau, atau coklat, yang laki-laki ber-rahang tegas dan perempuan berdagu lancip, warna kulit putih cenderung kemerahan, dan yang paling penting mereka ini Muslim taat, 95% penduduknya adalah Muslim, ehem!.

0 comments:

Post a Comment