Cuaca menjadi concern
saya sebelum merencanakan perjalanan, daratan India dari Delhi di India Tengah
sampai ke Selatan memiliki iklim sub tropis, Desember sampai dengan Februari
musim dingin sampai pada derajat satuan walaupun tidak sampai turun salju,
Maret-April mulai musim semi yang sejuk dan Mei-Juni musim panas sampai dengan
45 derajat! Kata Bobby Thakur si pemilik Kalka Travel berasa kek di Oven
Raksasa :D, kemudian July-Agustus Musim hujan. Sedangkan Kashmir yang berada di
ujung utara India yang masuk dalam rangkaian pegunungan Himalaya, memiliki 4
musim khas negara Eropa plus musim tidak menentu! Nah loh gimana maksudnya!?.
Kira-kira begini, Desember-Februari musim dingin, Maret-April Musim Semi, Mei-Agustus
Musim Panas, in the middle nya Juli-Agustus hujan lebat, September-November
Musim Gugur, sila cek peta ya!.
Tujuan utama ke Kashmir atau super highlight kami adalah...tentu saja
menengok salju abadi di rangkaian pegunungan Himalaya-nya, di salah satu
puncaknya tepatnya di puncak Apharwat di daerah Gulmarg, banyak “Di” nya yakk?!
Banyaknya “Di” ini menandakan bahwa sungguh tidak mudah merencakan perjalanan
ke tempat ini, sekaligus menyesuaikan waktu yang tepat, karena saya juga harus
menyesuaikan musim dengan Golden Triangle di India Tengah. Desember-Februari
tidak mungkin, di dataran rendah-nya saja salju tebal, bagaimana pulak puncak
Apharwatnya? Badai, hujan salju lebat, hujan es mungkin sering terjadi, Mei ke
November juga cukup riskan karena India Tengah panas ekstrim dan hujan pula.
Setelah bertanya pada travel blogger EmakMbolang maka di putuskan pergi di
akhir April awal Mei dari tanggal 28 April 2018 sampai dengan 5 Mei 2018. Akhir
April karena diperkirakan puncak Apharwat sudah aman dikunjungi & awal Mei di
India Tengah walaupun memasuki musim panas tapi masih dikisaran 30-an,
selanjutnya saya hanya tinggal cek cuaca per hari untuk menentukan di hari apa
saya harus naik ke puncak Apharwat. Naik ya, bukan summit, bedanya kalo naik dengan alat bantu, sedangkan summit pake kaki sendiri wkkkk...jadi
alat bantunya tentunya Gondola yang konon no. 2 tertinggi di dunia.
Kami berangkat dari Jakarta pukul setengah 2 pagi dini hari, sungguh
jam-jam horor yang lagi ngantuk-ngantuknya, transit KL 3 jam, dan sampai Jaipur
pukul 11 siang, perlu diperhatikan ada banyak options waktu transit yang bisa anda pilih, tapi menurut saya waktu
transit yang ideal minimal 3 jam, karena jarak antar gate cukup jauh, jadi anda
tidak terburu-buru dan bisa istirahat sejenak. Bandara Jaipur tidak terlalu
besar, antrian juga tidak sebanyak di Indira Gandhi, setiba di pintu kedatangan
saya langsung bertemu dengan driver pick
up service hotel yang sudah saya booking
sebelumnya (INR 600/car). Hal pertama yang saya cari adalah ATM karena kami
tidak menukar Indian Rupees di Indonesia konon banyak uang expired yang masih
beredar, jadi disarankan untuk mengambil dari ATM atau menukar USD di India.
Tapi apa yang terjadi? ATM Bank SBI di Bandara Jaipur tidak bisa menarik uang
dengan kartu ATM Bank M*nd*ri saya, untung saja saya bawa bekal USD yang kami
tukar secukupnya, jadi kami tidak perlu repot muter-muter nyari ATM. Back up plan ini penting banget, selain
untuk antisipasi tidak bisa tarik uang, juga untuk antisipasi seandainya kena
random cek dan ditanya bawa uang cash berapa? Kan ga lucu jikalau ditanya uang
cash dan kita tidak bisa kasih unjuk, bisa-bisa suruh balik lagi.
Hotel Umaid Bhawan, seperti dugaan saya exterior dan interiornya keceh
banget sangat Indian sekali, Driver Hotel sempat menawarkan city tour 4 jam
seharga 400rb! Langsung saya tolak mentah-mentah, dia terus-terusan membujuk,
tapi saya tidak bergeming karena harga tersebut sungguh sangat mahal! Lagipula
kami harus beristirahat karena besok pagi-pagi jam 4 kami harus siap-siap ke
bandara lagi, another jam-jam horor.
Saat saya cek in online, saya baru menyadari bahwa penerbangan lokal India
hanya menyediakan 15kg bagasi, sedangkan bagasi kami masing-masing 20kg! Segera
saja saya modify pembelian bagasi di mobile apps Air Indigo harganya kurang lebih 270rb/5kg per orang per
sektor dimana over bagasi di bandara akan lebih mahal daripada pre order
bagasi.
Masalah muncul saat pendebet-an kartu kredit berhasil tapi pembelian bagasi
tidak terjadi, terpaksa saya harus bolak-balik telfon lokal via Hotel untuk clarify dan sekaligus membeli bagasi via
telfon, 3 jam lamanya saya harus bergelut di urusan perbagasian dan per-kartu
kredit-an karena Air Indigo meminta no. transaksi kartu kredit untuk
investigasi yang membuat saya naik pitam. Sungguh melelahkan karena saya harus
meminta hotel untuk menyambungkan ke Air Indigo belasan kali karena terkadang
tidak tersambung sampai mereka menawarkan telfon dari ponsel mereka!. Sekalian
pula saya pre-order bagasi Air Asia karena saya yakin pulangnya sudah tidak
lagi 20kg :D, bagasi Air Asia lebih murah sekitar Rp.165.000, semua bisa
dibayar di cek in counter dengan Kartu Kredit. Di total pre-order bagasi yang
saya beli kurang lebih Rp. 1.000.000!
hiks...salah sendiri koper diisi ulekan ๐.
Pagi buta kami sudah stand by untuk check out, saya cukup nervous karena penerbangan pagi-pagi
banget dan connecting yang harusnya depart di Terminal 1 yaitu Terminal yang
sama dengan arrival, akan tetapi
sebulan sebelumnya saya diinfo oleh Air Indigo bahwa Delhi-Srinagar berangkat
dari Terminal 2, langsung saya kirim e-mail protes ke mereka, bagaimana caranya
saya menuju ke Terminal 2 dan apakah connecting 3 jam adalah waktu yang cukup
untuk pindah Terminal?. Seketika mereka menelfon saya, briefly memberikan penjelasan bahwa ground staff akan membantu saya menuju ke Terminal 2 dengan free shuttle bus, dan meyakinkan saya
bahwa 3 jam adalah waktu yang cukup untuk connecting.
Masalah kembali muncul, saat reception Hotel meminta kunci kamar saat check
out, hlah kok saya ga lihat kunci yak?? Kunci Umaid Bhawan Hotel ini adalah
kunci manual bukan kunci elektrik sebagaimana layaknya Hotel. Saya mulai panik
karena mereka tidak membiarkan kami pergi sebelum kunci ditemukan! Sedangkan di
kamar tidak ada karena kami tidak mengunci pintu kamar dan kami mengira memang
tidak ada kunci, kami pun tidak menanyakan karena saya sendiri sudah cukup
ribet dengan drama bagasi dan kartu kredit. Kami cari di tas pun tidak ada,
saya dan teman-teman sekamar juga tidak merasa menerima karena kami saat itu
harus menunggu untuk check in sebab
kamar masih dibersihkan. Mau tidak mau saya harus mengeluarkan jurus jutek
saya, saya bilang “If we’re late it’s your fault!” akhirnya dengan paniknya dia
menelfon teman-temannya dan membiarkan kami pergi, saya pun berjanji untuk
mengirimkan jika ternyata kunci ada di saya, di dalam mobil driver masih
meminta kami mencari di tas-tas dan hasilnya Nihil.
Di pintu keberangkatan, ground staff
Air Indigo langsung meminta e-ticket saya, entah tahu dari mana kalo saya
penumpang mereka, koper-koper langsung di x-ray, tiap maskapai memiliki x-ray
sendiri-sendiri di pintu keberangkatan, dan koper saya kena random cek, disaat
yang bersamaan saya hendak mengambil kacamata ditas kecil saya, dan DATANG DARI
MANA ITU KUNCI HOTEL TETIBA ADA DI TAS SAYAH!!! Astagah saya langsung tidak
enak hati dan dengan cepat puter otak nelfon driver hotel untuk kembali ke
bandara secepatnya!!!. Antara bingung dan tidak enak hati, rasanya pengen
membelah diri karena di saat yang sama saya harus menunggu driver untuk
mengembalikan kunci hotel, dan mengurus koper saya yang digeledah karena ada benda
elektronik kamera Go Pro,
juga cek in tiket dan bagasi karena cek in on line tidak bisa dilakukan sebab
harus menunjukkan fisik kartu kredit yang digunakan untuk booking pesawat.
Kami team tentu saja...2 orang teman saya yang akhirnya menunggu driver
untuk mengembalikan kunci hotel plus bolak balik ke saya karena driver menelfon
saya. Entahlahhh...apa yang terjadi sungguh saya tidak ingat telah menerima
kunci hotel, mungkin saking nervous-nya, dan anehnya dicari-cari di tas
berkali-kali tidak ada padahal tas saya kecil banget, tentunya saya mengirimkan
pesan ke driver untuk meminta maaf dan menyampaikan permintaan maaf ke staff
hotel *aselik rasanya pengen nyamar jadi onde-onde saking ga enaknya๐ญ*. Menyampaikan permintaan maaf ini penting sekali
karena tentunya kami bawa nama Negara, jangan sampai mereka berasumsi turis
Indonesia rese-rese wkwk...dan ini terakhir kalinya saya bawa kunci,
selanjutnya yang bertanggung jawab mengurus kunci adalah teman saya ๐.
Setiba di Indira Gandhi Airport
Terminal 1, saya langsung mencari ground
staff mereka, ternyata untuk menuju ke Terminal 2 lumayan jauh dan njlimet,
tetap saja mereka hanya memberikan petunjuk tanpa mendampingi. Kami menyeberang
ke gedung sebelah, naik lift 1 lantai untuk menuju ke pintu kedatangan Terminal
1, dan shuttle bus yang dimaksud adalah sebuah mini bus L300!! “are you sure??”
saya bilang, dengan koper-koper ukuran 28inch seberat 20kg mau ditaro dimana?
Saya sendiri ogah ngangkut koper saya.Ternyata beneran mereka nekat memasukkan
koper-koper kami ke dalam minibus, menumpuknya jadi 1, haduh saya udah ngeri
aja roda-nya putus. Dari keluar pintu kedatangan Terminal 1 sampai dengan tiba
di Terminal 2, praktis memakan
waktu kurang lebih 1 jam.
Perjalanan dari Delhi ke Srinagar
ditempuh dalam waktu 1,5 jam, saya sudah menyiapkan kamera saya dan sengaja tidak
tertidur selama perjalanan. Duduklah di kursi jendela sebelah kanan dan anda
akan mendapatkan pemandangan yang menakjubkan berupa gugusan pegunungan
Himalaya berselimut salju. Sesampai di Srinagar, seorang pemuda tiba-tiba
mengarahkan kami ke tengah hall kedatangan dan memberikan secarik kertas
seperti formulir, saya tolak dengan halus pikir saya dia pasti calo, pemuda
lain datang lagi dan memberikan kertas yang sama, dan saya tolak lumayan
kenceng. Masak penerbangan lokal pake departure card segala, begitu dalam
batin saya, ternyata pas kami hampir
sampai pintu kedatangan, kami digiring ke loket, dan diminta mengisi form yang
sama. Saya lihat ada foreigner lain
yang juga mengisi form tersebut, saya bertanya padanya apakah kami harus mengisi
form ini, dia bilang iya, walahhh…ribet benerrr…lagian pake seragam napa bang?!
paling gak pake tanda pengenal kek, jadi kita tahu kalo situ pegawe?! Wkkk…
Oiya, sesuai dengan info yang
saya dapat, tiket Gondola sebaiknya dibeli via online melalui
gulmarggondola.com, fase 1 seharga INR 740/person
(Gulmarg-Kongdoori) dan fase 2 INR 950/person
(Kongdoori-Apharwat), jika fase 2 ditutup maka entrance fee bisa di refund,
namun saat itu saya gagal book online bahkan sudah mencoba dengan 5 kartu
kredit. Opsi lain adalah membeli di J&K
Tourism di Airport, letaknya di paling pojok sebelah kanan sebelum pintu
keluar, jadi anda tidak boleh keluar dulu dari airport, karena sekali keluar
anda tidak bisa masuk lagi ke dalam airport. Sebelum membeli, sekali lagi saya pastikan ke petugas loket bahwa besok
(30 April 2018) fase 2 puncak Apharwat apakah dibuka? dan bagaimana cuacanya?, dia menjawab bahwa besok “clear sky!” jadi pasti dibuka. Pembelian tiket bisa dibayar dengan
kartu kredit, setengah jam lebih saya menunggu mereka mencetak tiket dengan
sedikit drama printer error, padahal kepala ini rasanya sudah berat, sakit
kepala menyerang saya semenjak landing
di Srinagar.
Saya pikir apakah saya terkena AMS (Acute Mountain Sickness)/penyakit
ketinggian?? rasanya tidak mungkin, karena sebelum terbang, kami masing-masing
sudah meminum Glaucon. Nah lho apa
pula ini? Jadi begini sodara-sodara, sebelum ke India saya sempat membaca bahwa
ada kemungkinan kita terkena AMS di ketinggian tertentu yang dicapai dalam
waktu yang singkat (thanks to
blog-nya mas Bardiq). Srinagar memiliki ketinggian 2000-an mdpl, dicapai langsung
dengan pesawat, tidak semua terkena AMS tergantung kondisi badan, tapi patut
untuk di antisipasi, kemudian Gulmarg berada di ketinggian 2600 mdpl dicapai
dengan mobil dalam kurun waktu 3 jam, gondola fase 1 3700 mdpl dicapai dalam
waktu 20 menit, dan terakhir puncak Apharwat (gondola fase 2) 4200 mdpl dicapai
dalam waktu 20 menit. AMS adalah penyakit yang sering menyerang para pendaki
gunung, untuk itu diperlukan aklimatisasi atau beristirahat semalam untuk
menyesuaikan dengan suhu dan kadar oksigen.
Gejala AMS diantaranya kehilangan selera makan, kelelahan, sakit kepala, mual,
muntah, sulit bernapas (kekurangan oksigen), sampai yang terparah adalah tidak
sadarkan diri, end up-nya opname di
rumah sakit guna suplai oksigen. Antisipasi saya membeli obat anti AMS yang
diresepkan dokter yakni Glaucon, 1
strip berisi 10 butir, 1 butir kami minum sebelum terbang ke Srinagar dan 1
lagi kami minum sebelum naik gondola, antisipasi lainnya menginap semalam di
Gulmarg untuk aklimatisasi, inilah sebabnya saya bela-belain menginap di Hotel
mahal di Gulmarg. Selain itu, agar kami beristirahat dengan cukup sebab antrian
gondola lumayan mengular, jadi kami bisa datang pagi-pagi dengan harapan
mendapat antrian paling depan, fyi Hotel kami hanya berjarak 1,5 km dari loket
gondola. Brief yang saya baca-pun
cukup jelas, dengan sudah membeli tiket online
kami sudah memotong antrian karena pembelian tiket offline dengan penukaran tiket online
dipisah antriannya, kemudian antrian laki-laki dan perempuan juga dipisah, jadi
menurut para suhu yang sudah pernah ke Apharwat, tidak perlu lagi yang namanya Guide, apalagi beberapa kasus, Guide lebih banyak yang merugikan
daripada membantu kita, katanya juga sih apanya yang mau di guide-in?? Wong ga
ada yang kudu diceritain di atas sana! gituh.
Keluar dari pintu kedatangan, kepala makin nyut-nyutan karena saya tidak
menemukan driver yang harusnya pegang kertas dengan nama saya, dimana saya
sudah booking pick up service Hotel
INR 3000/car, petugas keamanan bertanya pada saya siapa yang menjemput dan
berapa nomor telfonnya karena dia akan membantu untuk menelfonkan. Ketika saya
membuka email di ponsel untuk mengecek no telepon Hotel, petugas keamanan notice bahwa saya menginap di Pine
Spring Gulmarg, seketika dia meneriakkan nama Pine Spring sekaligus meminta
petugas kemanan lain untuk mencari driver Pine Spring di sisi lain bandara,
ternyata si driver duduk tepat dibawah saya wkkkk...ya..dia kelamaan nunggu
saya karena membeli tiket gondola.
Selama 3 jam perjalanan ke Gulmarg, kami disuguhi pemadangan tak biasa,
saya sudah mewanti-wanti teman-teman saya, jangan kaget karena akan ada banyak
tentara lengkap dengan senjata laras panjang dimana-mana, maklum namanya juga
daerah rawan konflik, tapi jangan khawatir mereka tidak akan melakukan apa-apa
terhadap turis, karena mereka menyadari turis adalah bagian dari sumber
pendapatan. Srinagar adalah kota yang mmm..saya sulit menggambarkan, tidak begitu
modern, ada bagian yang crowded,
kadang kala hanya ladang yang sepi, kemudian pasar yang gersang berdebu, tak jauh kemudian daerah slum yang hanya bedeng-bedeng dari terpal, tapi makin mendekati
gulmarg, pemandangan makin spektakuler, hamparan rumput hijau dengan latar
belakang pegunungan yang puncaknya diselimuti salju, bayangkanlah Swiss...mirip
sudah!. Orangnya? Ganteng dan cantik, jauh beda dengan India tengah atau
selatan, mirip bangsa Kaukasia, berbadan tegap, bermata tajam warna biru,
hijau, atau coklat, yang laki-laki ber-rahang tegas dan perempuan berdagu
lancip, warna kulit putih cenderung kemerahan, dan yang paling penting mereka
ini Muslim taat, 95% penduduknya adalah Muslim, ehem!.











0 comments:
Post a Comment