![]() |
| Zaanse Schans |
Hari ke 8 Amsterdam (Jumat, 01 November 2019), keesokan paginya sesuai jadwal, kami ke Zaanse Schans & Volendam yang berada diluar kota Amsterdam dengan Bus,
untuk itu kami membeli One day regional
travel ticket seharga Euro 19,5. Petugas loket akan bertanya apakah anda akan ke luar kota lain selain Zaanse Schans dan apakah anda mempunyai single
tiket untuk kereta, maksudnya adalah jika hanya ke Zaanse Schans dan kita
mempunyai single tiket kereta, maka One
day regional travel ticket tidak perlu kita beli, karena kita juga bisa
membeli single tiket Bus ke Zaanse Schans dengan Kartu Kredit. Karena kami akan
ke Zaanse Schans dan Volendam yang sama-sama berada di luar kota Amsterdam, dan
kami tidak memiliki single tiket kereta, maka One day regional travel ticket adalah pilihan tepat untuk menghemat
biaya transportasi.
Sama dengan rute sebelumnya, untuk menggunakan Bus
kami perlu ke Stasiun Amsterdam Centraal, tampaknya saya mulai memahami
pattern-nya, seluruh hub untuk semua mode transportasi sepertinya ada di
Amsterdam Centraal, dan sekarang saya baru tahu mengapa akomodasi di sekitaran
Amsterdam Centraal begitu mahal. Terminal Bus di Stasiun Amsterdam Centraal
sendiri saya lupa ada di Level berapa yang jelas kami berjalan keluar peron dan
naik 2 level dengan eskalator. Jika bertanya pada petugas sebutkan jenis Bus
yang akan anda naiki yakni Connexxion Bus No.391 atau 91 tujuan Zaanse Schans,
di terminal anda akan melihat papan-papan layar yang menunjukkan huruf-huruf di Platform apa Bus No.391 akan berangkat.
Saya sendiri cukup terkesima dengan rancang bangun
Terminal Bus ini, seperti berada di level paling atas Amsterdam Centraal dengan
lokasi yang terbuka dengan atap dari kaca yang melengkung sampai hampir ujung lantai
terminal. Ah! Sulitlah saya ini menggambarkannya, makanya maen-maen sinilahh
wkwk…berikutnya yang membuat saya terkesan adalah saat saya menengok pagar
pembatas terminal, ternyata bawahnya adalah lautan dengan sekat-sekat kanal, saya lupa bahwa sebagian Amsterdam berada di bawah permukaan air laut
sehingga dibuatlah dam dengan kanal-kanal. Jadi, kapal adalah sarana transportasi yang jamak di Negara ini, pun area museum yang tempo hari kami
kunjungi sekelilingnya adalah kanal-kanal dengan dermaga kecil, dan paket kartu
transportasi sudah termasuk transportasi kapal juga namun sayang sekali karena
hari hujan dan menjelang maghrib, rasanya badan sudah tidak kuat melanjutkan
perjalanan.
![]() |
| Amsterdam Centraal Terminal |
![]() |
| Dam & kanal-kanal di depan Amsterdam Centraal |
![]() |
| Pintu Masuk Zaanse Schans |
Cukup sejam saja kami di Zaanse Schans karena hujan masih juga tidak berhenti, untuk ke Volendam anda harus kembali ke Amsterdam Centraal dan berangkat di Terminal yang sama dengan Bus No. 316 jurusan Edam, bisa juga ke Volendam langsung dari Zaanse Schans tapi Bus jurusan tersebut hanya beroperasi di bulan-bulan tertentu. Sebenarnya saya sudah males banget ke Volendam karena hujan masih terus menerus mengguyur, tapi teman saya memaksa untuk datang ke Volendam, untuk apa?? yakni untuk foto studio dengan baju khas Belanda yang tenar itu. Iya, sungguh tenar di kalangan wisatawan Indonesia, karena ada foto Rano Karno dan keluarga Si Doel disini, dan masih banyak artis-artis Indonesia yang lain haha…bahkan sign board di Studio Photo ini berbahasa Indonesia 😀.
Perjalanan ke Volendam memakan kurang lebih 30
menit stop di Halte Julianaweg-Centrum,
setelah itu berhenti untuk cek nama studio fotonya dan bertanya arahnya ke
penduduk lokal, dan nemulah saya Studio Photo de Boer. Jadi memilih halte pemberhentian
Bus dan nama Studio Foto-nya sungguh hanya spontanitas saja, tidak saya
research sebelumnya seperti biasanya, entahlah barangkali karena sudah biasa,
jadi insting-lah yang membimbing saya. Bahkan saat itu jalanan sangat sepi
karena hujan dan dingin dan tidak tampak pula semacam pelabuhan atau dermaga,
mengikuti petunjuk penduduk lokal, sempat saya ragu tapi kemudian terdengar
suara burung camar yang menandakan bahwa saya tidak salah arah 😀.
![]() |
| ...yang pengen bangetttt potohh, biarin dah eik pajang disinih 😁 |
Esoknya, dari Hotel ke bandara kami berencana naik kereta tapi ternyata tidak beroperasi, dan petugas menyarankan untuk menggunakan Bus yang pemberhentiannya berada tepat disebelah stasiun, yang tentunya lebih luggage friendly, daripada harus naik ke atas dengan kereta. Tidak afdhol sepertinya kalo tidak ada masalah, karena credit card temen saya tidak bisa digunakan untuk membayar tiket Bus di dalam Bus, petugas menyarankan untuk naik ke Bus berikutnya karena mereka harus segera berangkat, saya memaksa untuk tetap berangkat dengan credit card saya dan untungnya bisa. Sementara kami sibuk dengan drama credit card, lha trus dimana 2 temen saya yang lain dan 4 koper kami?? wah wah ternyata mereka sudah dari tadi anteng di dalam Bus, dibantu oleh serombongan petugas untuk mengangkat koper-koper kami lewat pintu belakang😂, gimana ngga betah di Amsterdam coba??.
Tidak cukup rasanya menjelajahi Amsterdam dan
regionnya selama 2 hari, dari 4 kota hanya Amsterdam yang membuat saya kerasan,
pengin balik lagi karena ambience-nya
santai sekali, warganya berbahasa inggris, ramah, dan peduli.
Tidak jarang, saat tahu saya dari Indonesia tiba-tiba mereka menyanyi lagu
dangdut, atau mengajak berbahasa Indonesia, atau berbasa-basi mengenai style
hijab saya, atau bahkan tersenyum karena eye
contact padahal kenal juga kagak kan, ahh jadi berasa di rumah sendiri…ehh?!.
Anywayyy...setiap negara/kota punya keistimewaan sendiri, bukan berarti di Amsterdam tidak ada yang jutek, ya ada juga yang ga enak--yang saya temui biasanya adalah pramuniaga convenience store atau studio foto, berbanding terbalik dengan London bukan?? yang pramuniaga toko-nya luar biasa ramah. Demikian juga dengan Paris, satu kejadian tidak bisa menghapus kebaikan belasan warga Paris yang dengan sukarela membantu kami 😀, SOOO! LET'S TRAVEL THE WORLD!!!
Anywayyy...setiap negara/kota punya keistimewaan sendiri, bukan berarti di Amsterdam tidak ada yang jutek, ya ada juga yang ga enak--yang saya temui biasanya adalah pramuniaga convenience store atau studio foto, berbanding terbalik dengan London bukan?? yang pramuniaga toko-nya luar biasa ramah. Demikian juga dengan Paris, satu kejadian tidak bisa menghapus kebaikan belasan warga Paris yang dengan sukarela membantu kami 😀, SOOO! LET'S TRAVEL THE WORLD!!!






















































