• Cappadocia Hot Air Balloon

  • Taj Mahal

  • Eiffel Tower

Monday, June 22, 2020

UK & West Europe Part 10 - END (Netherlands - Amsterdam)

Zaanse Schans
Hari  ke 8 Amsterdam (Jumat, 01 November 2019), keesokan paginya sesuai jadwal, kami ke Zaanse Schans & Volendam yang berada diluar kota Amsterdam dengan Bus, untuk itu kami membeli One day regional travel ticket seharga Euro 19,5. Petugas loket akan bertanya apakah anda akan ke luar kota lain selain Zaanse Schans dan apakah anda mempunyai single tiket untuk kereta, maksudnya adalah jika hanya ke Zaanse Schans dan kita mempunyai single tiket kereta, maka One day regional travel ticket tidak perlu kita beli, karena kita juga bisa membeli single tiket Bus ke Zaanse Schans dengan Kartu Kredit. Karena kami akan ke Zaanse Schans dan Volendam yang sama-sama berada di luar kota Amsterdam, dan kami tidak memiliki single tiket kereta, maka One day regional travel ticket adalah pilihan tepat untuk menghemat biaya transportasi.

One day regional travel ticket
Sama dengan rute sebelumnya, untuk menggunakan Bus kami perlu ke Stasiun Amsterdam Centraal, tampaknya saya mulai memahami pattern-nya, seluruh hub untuk semua mode transportasi sepertinya ada di Amsterdam Centraal, dan sekarang saya baru tahu mengapa akomodasi di sekitaran Amsterdam Centraal begitu mahal. Terminal Bus di Stasiun Amsterdam Centraal sendiri saya lupa ada di Level berapa yang jelas kami berjalan keluar peron dan naik 2 level dengan eskalator. Jika bertanya pada petugas sebutkan jenis Bus yang akan anda naiki yakni Connexxion Bus No.391 atau 91 tujuan Zaanse Schans, di terminal anda akan melihat papan-papan layar yang menunjukkan huruf-huruf di Platform apa Bus No.391 akan berangkat.

Saya sendiri cukup terkesima dengan rancang bangun Terminal Bus ini, seperti berada di level paling atas Amsterdam Centraal dengan lokasi yang terbuka dengan atap dari kaca yang melengkung sampai hampir ujung lantai terminal. Ah! Sulitlah saya ini menggambarkannya, makanya maen-maen sinilahh wkwk…berikutnya yang membuat saya terkesan adalah saat saya menengok pagar pembatas terminal, ternyata bawahnya adalah lautan dengan sekat-sekat kanal, saya lupa bahwa sebagian Amsterdam berada di bawah permukaan air laut sehingga dibuatlah dam dengan kanal-kanal. Jadi, kapal adalah sarana transportasi yang jamak di Negara ini, pun area museum yang tempo hari kami kunjungi sekelilingnya adalah kanal-kanal dengan dermaga kecil, dan paket kartu transportasi sudah termasuk transportasi kapal juga namun sayang sekali karena hari hujan dan menjelang maghrib, rasanya badan sudah tidak kuat melanjutkan perjalanan.

Amsterdam Centraal Terminal
Dam & kanal-kanal di depan Amsterdam Centraal
Perjalanan ke Zaanse Schans diiringi hujan rintik tiada henti tapi sebenarnya udara cukup hangat dibanding saat tidak hujan. Melewati perumahan penduduk dengan kanal-kanal dan perahu lengkap dengan dermaga private di depannya, sungguh unik sekali rumah-rumah mereka, kurang lebih 45 menit lamanya melewati toll yang sebenarnya macet tapi moda transportasi umum memiliki jalur khusus sehingga bisa sampai tepat waktu. Halte pemberhentian Bus-nya terletak tepat di depan Zaanse Schans, anda juga bisa memilih moda transportasi kereta jika mempunyai Eurail Pass, hanya stasiun pemberhentiannya sangat jauh, kurang lebih 30 menit jalan kaki. Zaanse Schans merupakan desa kincir angin buatan, tepat-nya sebuah replika desa kincir angin di Belanda pada masa lalu, spesialnya apa? Ya kincir anginnya wkwk…jadi menurut saya biasa aja, yang kayak tour wajib kalo ke Belanda hehe…yang paling penting sih GRATISSS. Oiya anda bisa menyantap bekal makan anda di rest area sebelah kanan tidak jauh dari saat anda masuk, emang ga diperhatiin atau ditegor? Kagakkk…bebasss…padahal tersedia restaurant di rest area tersebut 😀.

Kanal dengan perahu-perahu kecil
Pintu Masuk Zaanse Schans


Cukup sejam saja kami di Zaanse Schans karena hujan masih juga tidak berhenti, untuk ke Volendam anda harus kembali ke Amsterdam Centraal dan berangkat di Terminal yang sama dengan Bus No. 316 jurusan Edam, bisa juga ke Volendam langsung dari Zaanse Schans tapi Bus jurusan tersebut hanya beroperasi di bulan-bulan tertentu. Sebenarnya saya sudah males banget ke Volendam karena hujan masih terus menerus mengguyur, tapi teman saya memaksa untuk datang ke Volendam, untuk apa?? yakni untuk foto studio dengan baju khas Belanda yang tenar itu. Iya, sungguh tenar di kalangan wisatawan Indonesia, karena ada foto Rano Karno dan keluarga Si Doel disini, dan masih banyak artis-artis Indonesia yang lain haha…bahkan sign board di Studio Photo ini berbahasa Indonesia 😀.

Perjalanan ke Volendam memakan kurang lebih 30 menit stop di Halte Julianaweg-Centrum, setelah itu berhenti untuk cek nama studio fotonya dan bertanya arahnya ke penduduk lokal, dan nemulah saya Studio Photo de Boer. Jadi memilih halte pemberhentian Bus dan nama Studio Foto-nya sungguh hanya spontanitas saja, tidak saya research sebelumnya seperti biasanya, entahlah barangkali karena sudah biasa, jadi insting-lah yang membimbing saya. Bahkan saat itu jalanan sangat sepi karena hujan dan dingin dan tidak tampak pula semacam pelabuhan atau dermaga, mengikuti petunjuk penduduk lokal, sempat saya ragu tapi kemudian terdengar suara burung camar yang menandakan bahwa saya tidak salah arah 😀.

Volendam
Segala olahan berbahan dasar ikan Herring
...yang pengen bangetttt potohh, biarin dah eik pajang disinih 😁
Sepuluh menit kemudian baru tampaklah dermaga pinggir laut yang ternyata tertutup oleh deretan perumahan dan toko-toko, jadi bisa dibilang untuk ke dermaga kami harus melewati gang dan tangga sempit. Harga photo studionya sangat mahal yakni sekitar IDR 360.000 dengan 2 kali pose dan 1 kali pengambilan gambar dengan HP, selebihnya kami hanya belanja pernak-pernik souvenir dan mencoba makanan khas Volendam yakni ikan Herring, anda juga bisa menemukan masakan Indonesia disini karena cukup banyak warga kita yang tinggal di Belanda. Hari ke -2 di Belanda sebenernya cukup seru tapi sekali lagi karena kendala cuaca hingga sedikit kurang bisa menikmati perjalanan, tampaknya lain kali saya harus datang saat musim panas atau musim semi😍. Dan dengan demikian selesai-lah trip keliling eh bukan trip menclok-menclok Eropa kami pada kali ini😁.

Esoknya, dari Hotel ke bandara kami berencana naik kereta tapi ternyata tidak beroperasi, dan petugas menyarankan untuk menggunakan Bus yang pemberhentiannya berada tepat disebelah stasiun, yang tentunya lebih luggage friendly, daripada harus naik ke atas dengan kereta. Tidak afdhol sepertinya kalo tidak ada masalah, karena credit card temen saya tidak bisa digunakan untuk membayar tiket Bus di dalam Bus, petugas menyarankan untuk naik ke Bus berikutnya karena mereka harus segera berangkat, saya memaksa untuk tetap berangkat dengan credit card saya dan untungnya bisa. Sementara kami sibuk dengan drama credit card, lha trus dimana 2 temen saya yang lain dan 4 koper kami?? wah wah ternyata mereka sudah dari tadi anteng di dalam Bus, dibantu oleh serombongan petugas untuk mengangkat koper-koper kami lewat pintu belakang😂, gimana ngga betah di Amsterdam coba??.

Tidak cukup rasanya menjelajahi Amsterdam dan regionnya selama 2 hari, dari 4 kota hanya Amsterdam yang membuat saya kerasan, pengin balik lagi karena ambience-nya santai sekali, warganya berbahasa inggris, ramah, dan peduli. Tidak jarang, saat tahu saya dari Indonesia tiba-tiba mereka menyanyi lagu dangdut, atau mengajak berbahasa Indonesia, atau berbasa-basi mengenai style hijab saya, atau bahkan tersenyum karena eye contact padahal kenal juga kagak kan, ahh jadi berasa di rumah sendiri…ehh?!.

Anywayyy...setiap negara/kota punya keistimewaan sendiri, bukan berarti di Amsterdam tidak ada yang jutek, ya ada juga yang ga enak--yang saya temui biasanya adalah pramuniaga convenience store atau studio foto, berbanding terbalik dengan London bukan?? yang pramuniaga toko-nya luar biasa ramah. Demikian juga dengan Paris, satu kejadian tidak bisa menghapus kebaikan belasan warga Paris yang dengan sukarela membantu kami 😀, SOOO! LET'S TRAVEL THE WORLD!!!

Cara mencari line atau mencari platform kereta, disini
Cara masuk peron stasiun, disini
Exit Sign di peron stasiun, disini
Cara naik Bus di Amsterdam Centraal, disini


UK & West Europe Part 9 (Netherlands - Amsterdam)

Moon mangaap bukannya mau narsis,
tapi satu-satunya foto Rijks Museum
yang tanpa objek--miring-miring 😁
Hari  ke 7 Amsterdam (Kamis, 31 Oktober 2019) kereta antar negera berikutnya yang mengantar kami dari Brussel ke Amsterdam seharga IDR 434.000 dengan Thalys, berangkat tepat pukul 06:52 menempuh perjalanan selama 1 jam 30 menit. Pukul 7 pagi udara di Eropa Barat dingin dan cuaca masih gelap, kira-kira seperti pukul 05:30 jika di Jakarta dan kami masih konsisten dengan gledek-gledek koper sampai lama-lama ini koper sudah tidak berat lagi karena sudah terbiasa :) (atau stok makanan yang sudah berkurang??😂). Hanya, keberangkatan kali ini jauh lebih santai karena stasiun kereta Thalys terletak tidak jauh dari Hotel, cukup 5 menit jalan kaki,  pukul 09:00 kami sudah tiba di Amsterdam-Centraal.

Sistem tiket transportasi di Belanda hampir sama dengan UK, hanya tidak perlu ada deposit karena kartu magnetic yang digunakan adalah softcase jadi selesai dipakai langsung buang, tapi pembelian tiket transportasi single ticket dengan cash dan kartu kredit tetap dilayani, yang menurut saya agak ribet dan tidak hemat biaya. Untuk itu demi menghemat biaya saya membeli jenis kartu transportasi GVB one day unlimited, yakni tiket transportasi yang berlaku dalam kota Amsterdam saja selama sehari untuk seluruh moda transportasi yang dioperasikan oleh GVB seharga Euro 8 (sebagian besar moda transportasi di Amsterdam di operasikan oleh perusahaan transportasi GVB). Satu lagi kami membeli One day regional travel ticket seharga Euro 19,5, sama dengan GVB hanya travel ticket tersebut mencakup luar wilayah Amsterdam seperti Zaanse Schaans dan Volendam.

Di hari pertama saya membeli GVB karena saya hanya akan berkunjung Rijks Museum, Albert Cuyp Market, dan Dam Square, anda bisa membelinya di tourist information office di depan stasiun Amsterdam Centraal, jadi anda harus keluar stasiun terlebih dahulu karena di dalam stasiun saya tidak menemukan loket penjualan tiket kereta. Jika petunjuk arah menghilang jangan kuatir karena di setiap sudut Amsterdam-Centraal banyak petugas yang siaga untuk membantu turis, kalaupun tidak ada petugas, warga lokal akan dengan senang hati membantu, entah karena warga-nya baik-baik atau karena tahu kami dari Indonesia?. Yang jelas walaupun saya musti berkali-kali bertanya dan berjalan jauh, pada akhirnya ketemu-ketemu juga, apalagi kalo mereka bertanya asal Negara kita, malahan diantar sampai ke tujuan dan ngobrol ngalor ngidul. Kadang untuk menjelaskan Indonesia-Jakarta saya bilang Bali aja biar cepet, eh ternyata sebagian besar orang lokal tahu begitu menyebut Indonesia, ya mungkin karena bekas daerah pendudukan kali ya? atau memang wawasannya luas.

GVB One Day Unlimited
Dari Stasiun Amsterdam-Centraal kami menuju ke Stasiun Bijlmer-Arena yakni stasiun terdekat dari Hotel kami dengan line warna kuning platform M54, anda bisa download apps 9292 atau cukup menggunakan google map. Oiya tidak setiap gate bisa digunakan untuk nge-tap dengan kartu GVB, jadi hanya gate-gate tertentu saja, anda hanya tinggal mecoba tap satu demi satu di tiap gate. Seperti biasa dari platform stasiun kereta antar Negara yang sejajar dengan tanah, kami harus turun kebawah ke platform stasiun kereta lokal, jangan kuatir karena setiap perpindahan platform terdapat elevator yang jaraknya tidak jauh, nah nambah lagi ya salah satu keunggulan Amsterdam :D. Harga tiket dari Amsterdam Centraal ke Bijlmer Arena Station kurang lebih Euro 3, jadi alangkah hemat-nya bukan jika kita membeli GVB tiket?? Perjalanan memakan waktu kurang lebih 20 menit, konon EasyHotel Amsterdam Arena Boulevard hanya 2 menit jalan kaki dari stasiun, ah saya ngga percaya?! Kenyataanya? BENAR Hotel ini tepat berada di depan pintu keluar stasiun dongg. Wah, mahapkeun sayah yang sering su’udzhon wkwk…

Depannya pas adalah Bijlmer Arena Station
Kali ini saya bener-bener amaze dengan lokasi Hotel, sangat strategis karena terletak di lingkungan pusat perbelanjaan bahkan terdapat Cinema di depannya, usut punya usut ternyata Hotel ini tidak jauh dari markas Klub Ajax Amsterdam yakni stadion utama Amsterdam Arena. Saya memilih Hotel ini tidak hanya karena harganya yang murah yakni IDR 1.980.736/malam quadruple room atau IDR 495.184/orang/malam, tapi juga karena lokasinya yang berada ditengah-tengah antara Amsterdam Centraal dan Airport. Ruangannya? Luas bukan main untuk ukuran Hotel bintang 2, kamar mandinya pun luas walaupun fasilitas terbatas--untuk itulah kami membawa kettle listrik dan hairdryer sendiri, yang paling saya suka adalah koper bisa dimasukkan ke kolong ranjang dalam keadaaan terbuka, jadi saya tidak perlu repot buka tutup dan space kamar masih luas, kebetulan kami mendapat kamar di hook.

Area Hotel
Dari Hotel kami langsung ke Rijks Museum dengan rute--dari Bijlmer Arena Station menggunakan line kuning platform M54 stop di Amsterdam Centraal Station. Kemudian keluar station ganti dengan Tram line 2 atau 12 yang terletak di depan Amsterdam Centraal stop di Vijzelgracht. Nah inilah keunggulan lain Amsterdam yang paling saya suka, jadi anda tidak perlu setengah mati naik turun station untuk naik kereta. Halte tram persis seperti halte Bus, bedanya hanya tram menggunakan rel dan setirnya ada di tengah, persis-nya bukan setir sih tapi semacam panel yang dioperasikan oleh petugas, dan jalan-nya sangat slow. Cara naiknya juga mudah tinggal ikutin orang-orang masuk dari pintu yang terletak di tengah dan tap di mesin, begitupun saat keluar tap kembali. Sampai di Halte Vijzelgracht anda bisa menggunakan GPS untuk menuju Rijks Museum atau bertanya pada orang local, lagi-lagi saya memilih bertanya karena GPS yang tidak akurat. Sesampai di Rijks Museum saya ngider kemana-mana untuk mencari spot yang terkenal seantero dunia yakni apalagi kalau bukan ‘I AMSTERDAM’ sign, dan kemudian bertanya yang jawabanya adalah sign tersebut dicopot karena menimbulkan crowd foto! Ahh! lagi-lagi saya kena zonk, tapi barangkali ini pertanda kalo saya kudu balik lagi, eeeaaa...

Tram
Dari Rijks Museum kami menuju Albert Cuyp Market, anda bisa kembali ke Halte Vijzelgracht dengan line berapa saya pun sudah ga hapal dan ga perlu dihafalin, untuk kemudian stop di Halte Frederiksplein, jangan lupa untuk tetap bertanya kemana arah Albert Cuyp Market biar tidak kesasar, karena saya yakin pada tahap ini anda sudah klenger setengah mati di Kota terkahir kita yakni Amsterdam. Saking capek dan malesnya, saya sudah tidak cek-cek lagi di google atau di buku petunjuk saya untuk menuju ke Dam Square, karena dimanapun anda berada di Halte Tram terdekat anda akan tetap sampai ke tujuan, segitu kecil dan santainya Amsterdam :D, get lost aja sayanya :D. Jadi Halte terdekat dari Albert Cuyp Market adalah Halte Stadhouderskade line 4, nah tuh tau?! Katanya tadi males?? Iya kebetulan ada memori fotonya wkwk…

Albert Cuyp Market
Halte Stadhouderskade
Menuju ke Dam Square anda bisa turun di Halte Tram mana saja, karena sepanjang jalan Dam Square adalah deretan pertokoan dari yang paling murah sampai yang termahal dengan rentang Halte kira-kira setiap 200 meter, dan kami-pun turun tiba-tiba saat melihat Primark melintas wkwk…saking slownya Tram anda bisa memutuskan untuk berhenti tiba-tiba tanpa dipelototin. Ngapain aja di Dam Square?? Yahh sudah tidak perlu saya jelasin lagi yekaaan…

Area Dam Square
Pulangnya, sama seperti berangkat anda tinggal ke Amsterdam Centraal dan naik kereta M54.

Oiya, 1 lagi keunggulan Amsterdam, yakni sebagian besar convenience store-nya adalah self service--ambil barang sendiri dan bayar sendiri dengan credit card di deretan layar-layar LCD pembayaran non tunai, atau apalah itu namanya😅, pokoknya ribet deh!  kira-kira seperti ini


Wednesday, April 15, 2020

UK & West Europe Part 8 (Belgium - Brussel)

Grand Place
Pukul 06:00 kami sudah bersiap di depan Ibis Hotel menggunakan Taxi jenis MPV menuju ke Gare Du Nord Station Paris untuk berangkat ke Brussel dengan menggunakan kereta antar Negara – Thalys. Saya memesan Taxi dari Hotel sehari sebelumnya, dan mengkonfirmasi ke Reception di hari H, ternyata drama Paris masih juga belum berakhir, 1 Taxi jenis MPV lain menabrak pintu bagasi Taxi saya yang masih dalam keadaan terbuka karena sedang mengatur koper-koper kami!. Saya pikir karena di Negara maju dan dalam kondisi sedang sama-sama membawa penumpang, penyelesaian secara adat akan dilakukan setelah pekerjaan selesai, ternyata engga dong! Mereka berdua -- driver Taxi laki-laki dan perempuan ini bertengkar hebat dan lama sekali, tidak ada yang mengalah. Sampai-sampai reception Hotel yang mengatur ke-dua Taxi ini memandang saya seraya memohon maaf, karena muka saya udah ga enak banget, saya-nya senewen karena kami harus mengejar kereta, entah bagaimana reception Hotel menengahi, dan kami segera berangkat. Aaeelaahh…

Thalys Paris - Brussel
Hari  ke 6 Brussel (Rabu, 30 Oktober 2019), Kereta antar negara jika sama-sama Negara Uni Eropa sudah tidak ada pengecekan passport, paling hanya pengecekan metal detector. Perjalanan kereta Thalys Paris-Brussel ditempuh selama 1 jam 17 menit dengan harga IDR 651.000. Saya sedikit lebih santai di Brussel karena lokasi Hotel tidak jauh dari Stasiun perhentian kereta yakni Bruxelles Midi. Kami menginap di B&B Hotel Brussels Centre Gare du Midi seharga IDR 1.948.000/malam quadruple room atau IDR 487.000/malem/orang dengan jarak ‘katanya’ 10 menit dari stasiun, kali ini? Beneran 10 menit karena lokasinya benar-benar di depan stasiun 😀. Saya hanya menghabiskan waktu semalam di Belgia karena landmark Belgia tidak begitu banyak, hingga begitu sampai kami hanya menitip koper di Hotel kemudian berangkat ke Brussels Centre. B&B Hotel Brussels biasa saja dan agak sempit, tapi karena hanya semalam jadi tidak masalah.

Sistem per-tiket-an di Belgia ada berupa kartu dan ada yang berupa tiket per perjalanan atau single journey, saya berusaha mencari info mengenai sistemnya, tapi informasi sangat terbatas, kalaupun ada cukup sulit bagi saya untuk mengartikan maksudnya. Yang saya baca harusnya kami cukup membeli Jump-ticket seharga Euro 2 dan divalidasi di Box warna orange, kenyataannya? Tidak, jadi kami nanya dan minta diajarin sama warga lokal cara untuk membeli tiket kereta di Brussel. Menurut saya step-nya cukup panjang dan rumit, tidak seperti London, Paris, atau Amsterdam yang pendek sehingga dapat mengurangi antrian.

Untuk membeli tiket kereta,  pertama anda harus tahu dulu tujuan stasiun akhir dari perjalanan anda, jadi harganya akan lebih mahal kalau lebih jauh, tidak sama rata seperti di London per Zona, atau Paris yang tanpa zona asal masih di kota Paris. Tampilan pertama adalah jenis tiket-nya, pilih standard-ticket, kemudian stasiun tujuan akhir yang jangan sampai salah spelling karena jika salah spelling nama stasiun tidak muncul. Kemudian masukkan jumlah penumpang dan bayar menggunakan kartu kredit harganya Euro 2,40, pembayaran cash ada tapi mesin ticket terbatas, sungguh merepotkan 😑. Tutorial-nya saya attached di bagian akhir.  

Setelah mendapatkan tiket apakah perlu di validasi di Box Orange? Tidak ternyata, kali ini saya bertanya lagi pada petugas ‘baik-hati’ yang tempo hari menunjukkan arah Hotel dan memberikan peringatan ‘copet,’ sekaligus bertanya peron yang harus kami tuju, sebab informasi peron ada pada layar display,  sangat rumit dan sulit dibaca karena tiap saat berganti layar dan berganti bahasa!. Pun, petugas harus mengecek dulu di layar display yang cukup besar, dan memerlukan waktu yang lama untuk menemukan peron. FYI, di stasiun-stasiun kota Brussel  peron tidak berupa lorong-lorong bawah tanah, tapi berupa deretan tangga eskalator keatas atau kebawah, dan stasiunnya tidak ada gate untuk memvalidasi tiket, jadi anda bisa masuk saja bebas, saya pikir validasi tiket mungkin ada di atas kereta oleh petugas, nyata-nya engga juga! . Baik pulang maupun pergi tidak ada validasi tiket, jadi bisa saja nyelonong naik kereta 😁, entahlah mungkin karena jaraknya cukup dekat ya, karena tujuan saya dari Bruxelles Midi Station ke Bruxelles Centrale Station cukup dekat hanya 10 menit, dan tidak ada stasiun perhentian, keretanya bertingkat 3 unik dan keren.
Brussel Central Station
Kereta tingkat

Lantai 2

Lantai bawah
Landmark-landmark Brussel berdekatan jadi bisa walking tour, atau kalo sedikit jauh paling hanya sekali dengan kereta atau tram. Map walking tour-nya ada beberapa pilihan seperti pada gambar-gambar dibawah, untuk saya sendiri kali ini tidak mau ‘ngoyo’ karena pada kenyataan-nya ke-skip semua baik London maupun Paris dan tidak menutup kemungkinan Amsterdam nanti. Jadi di Brussel ini saya santai banget, kami cuma mengunjungi Grand Place dan Manneken Pis.  Selebihnya foto dan nongkrong berbaur dengan warga lokal di café mencari kehangatan heater eeeaaa…percayalah, jalan-jalan jadi tidak ada artinya jika anda terus menerus mengejar Landmark, sekali lagi ini bukan-lah ‘amazing race' 😆. Dari satsiun  Bruxelles Centrale kami lurus ke kanan kearah Grand Place yakni alun-alun-nya Brussel, lancar gitu pake google map? Ya engga nanya-nanya dulu pastinya wkwk.

...rencana rute walking tour
*hanya rencana 😁
Grand Place





Alun-alun Brussel ini merupakan plaza yang sekelilingnya adalah Balai Kota Brussel yang sangat artistik, saya tidak perlu menjelaskan, anda bisa buka sendiri di google mengenai sejarahnya *blogger males* 😁. Dari Grand Place kami ke Manneken Pis, apa sih Manneken Pis? Yang jelas sih macam ikon Kota Brussel yang terkenal seantero dunia yakni patung anak lelaki yang sedang pipis!!! setinggi setengah meter kira-kira, nggak ngerti sampeyan-sampeyan? Sama saya juga ngga ngerti!!. Saking ngga ngertinya saya jadi risih sendiri karena setiap souvenir Brussel pasti ada ikon ini, jadinya saya cari souvenir yang gambarnya tidak ada tambahan ikon ini dan itu sulit sekali, bahkan saya sudah teliti banget cari magnet yang tidak terselip ikon ini, eh sampe rumah ada aja nyempil kecil di pojokan. Dari Grand Place untuk ke Manneken Pis cukup dekat tapi agak berbelok-belok jadi jangan segan bertanya, sampai Landmark Manneken Pis ternyata hanya sebuah patung kecil di pojokan yang dipasang agak tinggian, ya mohon maaf yak mbak-nya tidak punya sense of art 😆. Patung-nya pipis dan bawahnya ada kolam kecil tampungan air dikeliling pagar mungkin biar tidak ada yang pegang, jangan kaget yang foto banyak sekali, termasuk kami sih hehe…

Anuuu...iya seperti ini (aja) Manneken Pis-nya
*tadi udah minta maap lho kalo ga punya sense of art
Bonus: ini bangunan depan Manneken Pis
Sepanjang jalan menuju Grand Place dan Manneken Pis adalah penjual makanan khas Belgia seperti coklat dan waffle, beberapa café proses transaksinya sudah elektronik milih menu sendiri, bayar sendiri di mesin dengan kartu atau cash, dan ambil sendiri pesanannya. Saya kurang bisa menceritakan Belgia karena hanya semalam yang jelas sih warga-nya ramah-ramah. Pendek amat, ya iya kan tadi bilang ga bisa menceritakan Belgia 😁.

Cara beli tiket kereta, disini

Sunday, April 5, 2020

UK & West Europe Part 7 (France - Paris)

Sesampainya di stasiun St. Mande, saya harus struggling lagi untuk menemukan Ibis Budget Paris Porte de Vincennes, seharusnya cuma 10 menit jalan kaki dari Stasiun St. Mande. Tapi ini lumayan jauh, jadi 20 menit kemudian kami baru sampai dengan mengandalkan google map dan beberapa kali bertanya, ternyata kami salah exit, jadi exit stasiun St. Mande ada yang paling dekat dengan Hotel Ibis, nanti anda bisa cek sendiri ya, karena exit apa? atau nomor berapa? tidak ada papan petunjuknya, hanya foto exit terdekatnya seperti dibawah ini.


Entrance/Exit terdekat dari Hotel
Ibis Budget Paris Porte de Vincennes ternyata benar-benar Hotel Budget karena semuanya self service dan room-nya agak sempit harganya IDR 960.000/malam atau IDR 480.000/malam/orang. Tapi sudah lumayan untuk twin room dan private bathroom, walaupun lokasinya tidak strategis banget, masih ditengah kota kira-kira 15 menit dengan Metro, Menara Eiffel juga masih terlihat dari sini. Waktu sudah menunjukkan Pukul 16:00 saat kami sampai, setelah sampai harusnya kami ke Eiffel & walking tour. Prakteknya? GAGAL karena saya dan teman-teman saya sudah tidak sanggup melanjutkan perjalanan, luar biasa kepayahan, jadi sore itu sampai malam kami hanya menghabiskan waktu dengan TIDUR! Bau balsam dan koyo tentunya sudah menguar wkwk…

Hari  ke 5 Paris (Selasa, 29 Oktober 2019), pada akhirnya schedule hari ini yang seharusnya ke istana Versailles harus kami batalkan karena tentu saja kami harus mengutamakan untuk mengunjungi Landmark Paris yakni Menara Eiffel. Selain itu untuk ke Versailles tiket kereta-nya cukup mahal karena lokasinya ada di luar kota Paris, tapi sebagai info anda bisa menggunakan jenis kereta luar kota RER C harganya sekitar IDR 70.000, sedangkan entrance fee-nya IDR 320.000. Jadi hari ini kami akan walking tour dan mengunjungi landmark-landmark di Paris yang seharusnya menjadi schedule di hari ke 4.

Dari Stasiun St. Mande kami menggunakan line kuning track/jurusan La Defense menuju ke Station Palais Royal Musee de Louvre. Keluar stasiun arahnya cukup jelas, anda hanya perlu mencari sign tulisan 'SORTIE' yang artinya adalah 'EXIT,' melewati mall dalam stasiun, kemudian keluar stasiun dan ambil jalan ke kanan  nanti akan terlihat piramida Museum Louvre. Masuk museum? Engga, foto doang diluar, mahal cuyyy!. Jalur Metro Paris juga sangat mudah untuk dibaca dan sederhana, sama dengan jalur Tube di London, hanya dibedakan menurut warna line.

Harus di ingat-ingat ya bahwa EXIT bahasa Perancis-nya
SORTIE seperti foto diatas (karena tanda petunjuk arah
 tidak berbahasa Inggris)
Mall dalam Stasiun
Kemudian dari piramida Museum Louvre berjalan melewati gerbang Place du Carrousel (gerbang dan museum ini berseberangan) memasuki taman Jardin des Tuileries—berjalan lurus sampai pintu gerbang yang menghadap bundaran dengan tugu batu di tengahnya disebut Place de la Concorde. Berjalan sejauh 2 km menuju Arc de Triomphe melewati Jardins des Champs-Elysees dan Avenue des Champs-Elysees. Meninggalkan  Arc de Triomphe menuju Eiffel Tower dengan naik Metro dari Stasiun Charles de Gaulle line warna hijau track/jurusan Nation turun di Trocadero Station sampai di Palais de Chaillot, karena spot Foto Eiffel terbaik adalah dari tempat ini. Oiya Entrance Stasiun Charles de Gaulle berada tepat diujung jalan Avenue des Champs-Elysees berada di sebelah kanan jalan, tidak jauh dari Arc de Triomphe.

Musee de Louvre
Gerbang Place du Carrousel - ada di seberang Musee de Louvre
Kurang lebih seperti ini map-nya (hanya kita skip destinasi paling awal yakni Notredame, karena sedang renovasi setelah insiden kebakaran) :


Kayaknya udah luwes banget? ya engga, itu juga dari hasil tengak-tengok dan bertanya-tanya, belon dikintilin ABG-ABG di  gerbang Place du Carrousel yang menawarkan proposal apalah ngga ngerti tapi saya yakin mereka ada niat jahat jadi kami acuhkan saja. Kami ingat-ingat kembali wajahnya memang mirip dengan ABG yang hampir nyopet saya, khas wajah Eropa Timur Negara berkembang seperti Kroasia, Bulgaria, Bosnia, cantik-cantik sih tapi hati-hati saja, mereka memang ke Eropa Barat tujuannya untuk mencari ‘penghasilan’ yang tidak halal, setelah cukup nanti mereka menyewa mobil bareng-bareng untuk kembali ke Negara-nya.

Kok yakin banget mereka mau berniat jahat? Jadi pas di Musee de Louvre ada pedagang gantungan kunci dan magnet yang menawarkan dagangannya, pria kulit hitam “Assalamualaikum, murah” begitu katanya, dan dia benar-benar pake bahasa Indonesia, karena tak tega kami beli barang 5 biji, tidak banyak. Saat kami dibuntuti ABG-ABG Eropa Timur ini, si pria kulit hitam ini  melihat dan seraya berlari kearah kami sambil menghardik anak-anak ini lebih tepatnya memarahi, dan memberikan peringatan kepada kami “copet-copet,” sumpah dia beneran sedikit berbahasa Indonesia. Sepertinya mas-mas ini imigran dari Afrika yang sebagian besar pembelinya adalah orang-orang Indonesia, dan 'mungkin' banyak orang Indonesia yang menjadi korban pencopetan hingga dia berusaha mencari terjemahan 'copet' dalam bahasa Indonesia hanya untuk menolong atau memberikan peringatan. Kami sangat berterima kasih atas pertolongannya hingga kami berjanji jika kami bertemu pedagang serupa (pria kulit hitam), kami akan membeli sebanyak-banyaknya, dan benar saja di Eiffel kami bertemu pedagang lain dan lain lagi, dan kami beli dan beli lagi dari masing-masing orang, terima kasih kaka-kakaaa 😁.

Jardin des Tuileries
 Masih di Jardin des Tuileries
Yakk masih di Jardin des Tuileries
Place de la Concorde sudah kelihatan ya...

Nah, akhirnya kita ada di penghujung Jardin des Tuileries,
dan anda bisa menyempatkan ke Toilet disini di kios di sebelah kiri foto
Foto-foto tersebut diatas adalah view kanan-kiri Jardin des Tuileries, untuk arahnya anda hanya perlu berjalan lurus kedepan sampai bertemu tugu Place de la Concorde seperti pada gambar dibawah.

Setelah melewati patung marmer diatas,
lurus keluar gerbang, anda akan ketemu
 tugu Place de la Condorde
Kemudian dari tugu Place de la Concorde, menyeberang zebra cross melewati taman sepanjang jalan yang bernama Jardins des Champs-Elysees, seperti pada gambar berikut.

Jardins des Champs-Elysees

Lunch time semuwahh...

Taman tersembunyi di Jardins des Champs-Elysees,anda bisa santap siang juga disini

Walking tour ini seru banget walaupun agak sedikit capek, kami makan siang dengan bekal yang sudah kami bawa di kursi taman Jardins des Champs-Elysees, dan ada juga taman tersembunyi disisi sebelah kanan jalan, indah dan ideal untuk makan siang, jangan kuatir karena ada juga warga lokal yang menikmati makan siangnya di kursi-kursi taman ini. Avenue des Champs-Elysees merupakan sederetan toko-toko kelas premium yang terkenal seantero dunia, segala merk-merk terkenal tumplek blek di sini, persis Oxford Street kalau di UK, tapi kelas-nya masih tinggian  Champs-Elysees, makanya saya ga mau masuk toko-tokonya, takut jato pengsan lihat harga-nya haha…

Avenue des Champs-Elysees
Ujung  dari Avenue des Champs-Elysees
adalah
 Arc de Triomphe.

Setiba di Palais de Chaillot saya ternganga-nganga tidak percaya gadis kampung ini (eh mbak-mbak ding) sampai juga di Eiffel! Landmark yang terkenal seantero jagad. Saya melihat spot paling bagus tempat biasa orang-orang berfoto yakni di pagar tembok sebelah kanan, tapi ternyata pagarnya tinggi banget, saya sendiri bertanya-tanya kok gadis-gadis ini bisa naik ke atas pagar? Saya tungguin aja owh ternyata mereka digendong keatas oleh suami/pacar/ayah mereka!. Tak kurang akal, saya meminta teman saya yang bertubuh besar untuk mengangkat saya ke atas wkwk…dan seperti inilah hasil fotonya! 😁.

Special thanks to Mbak Umi
*kiss*
Lebih dari sejam lamanya kami menghabiskan waktu untuk mengambil gambar disini, rencananya kami akan berjalan kira-kira 1,5 km kearah Eiffel dari Palais de Chaillot, tapi ibu-ibu sudah memasang wajah lemas karena kecapekan, akhirnya saya mengajak mereka pulang, beginilah kalo kita pergi ber-group harus ada tenggang rasa. Jadi kalo saya ditanya, Eiffel kalo dari dekat seperti apa? Jawabnya NGGA TAU, konstruksinya dari apa? Masih NGGA TAU, lokasi pastinya di area mana? Tetep NGGA TAU 😂. Been there aja ya saya?? Pokoknya asal ada poto-nya aja-lah wkwk…

Palais de Chaillot,

keluar station ambil arah kiri
naik tangga plaza
Dari Palais de Chaillot, aslinya Eiffel
masih sejauh ini, kira-kira 1,5 km
Masuk Metro menuju arah pulang, kami masih dikintilin ABG-ABG lain yang bertampang Eropa Timur, kali ini jumlahnya lebih banyak kalo tidak salah 5 atau 6 orang. Untuk memastikan apakah mereka memang membuntuti kami, kami sengaja tidak masuk kereta pertama menunggu kereta selanjutnya, dan benar mereka juga tidak masuk ke kereta pertama, demikian juga dengan kereta ke dua, FIX! sudah mereka gerombolan pencopet, seperti sudah ter-organisir ya? Memang!. Saat datang kereta yang ke-tiga tidak mungkin dong kami tidak berangkat sama sekali, jadi kami masuk ke kereta ketiga tapi di gerbong yang jauh sambil berlari.

Saat kami hampir memasuki gerbong mereka ikut, kami tidak jadi masuk tapi kami memasuki gerbong lain sambil berlari agar tidak ketinggalan kereta, pokoknya jangan sampai kami satu gerbong dengan mereka. Ternyata ngga pinter-pinter juga ya ini rombongan bocah-bocah pencopet, masih ga nyadar juga kalo mereka sudah ketahuan, sampai kemudian kami berlari ke gerbong berikutnya, baru deh 4 orang perempuan pencopet sadar bahwa mereka sudah ketahuan, jadi mereka masuk di gerbong sebelum kami, eh masih ada 1 ABG bego yang ketinggalan wkwk. Masih ga nyadar juga dia kalo udah ketahuan sama kami, dia (ABG cowok) baru nyadar kalo ketahuan setelah temennya cewek memanggil dan kira-kira memberitahu kalo sudah ketahuan sama kami, jadi dia geser ke gerbong lain….haha…lucu banget sih ini -- pas dikisahkan, pas ngalamin ya deg-deg-an wkwk 😄.

PARIS, Modern city khas kota-kota Eropa Barat, tapi jauh lebih tidak teratur daripada kota-kota lain di Eropa Barat karena bisa-bisa-nya warga-nya naik kereta loncat gate tanpa membeli tiket, bau pesing di sudut-sudut peron dan taman disinyalir pada pipis sembarangan :D, dan copet bertebaran dan homeless cukup banyak seperti-nya imigran dari Syiria. Tapi tetap tidak menghapus kebaikan-kebaikan belasan warga-nya yang sudah membantu kami membawa koper baik laki dan perempuan, juga mengantar kami sampai ke kereta Metro itupun masih sempat dadah-dadah :D. Kemudian mengantar kami ke Hotel, dan berbagai kebaikan-kebaikan lain seperti menolong kami dari ancaman copet. Apapun itu, saya lega, bangga dan bahagia telah melewati PARIS 😭.

Kesimpulannya, banyak copet dan kotor -- itu betul, tapi yang baik juga segudang dan justru itu adalah romantisme Paris dari kacamata saya yang bukan Eiffel-nya 😍.

Cara beli tiket kereta, disini
Cara melihat track/jurusan kereta, disini & disini
Cara menggunakan tiket/keluar-masuk peron, disini, disini, & disini