Hari terakhir di Korea, tempat pertama yang kami datangi adalah National Folklore Museum dan Gyeongbok Palace, keduanya berada di lokasi yang sama, saling terhubung dengan posisi saling membelakangi. Kami masuk melalui pintu belakang, melewati Istana kepresidenan Republik Korea yang disebut dengan The Blue House, jadi ketiga spot penting ini berada di satu area yang dilatar belakangi oleh Gunung Bugaksan, pemandangannya sungguh menakjubkan. Sebelum menjadi The Blue House, tempat ini dulunya adalah Royal Garden di jaman Dinasti Joseon. Yang menarik di sini, saat kami melewati The Blue House, Putri mengkonfirmasi kepada kami soal warna The Blue House, dan yang kami yakini The Blue House ini tidak berwarna biru sesuai dengan namanya melainkan hijau! se-Bus sepakat kalo ini ijo *sumpah kami ngga katarak hihi...
National Folklore Museum berisi sekitar 2000-an artefak mulai dari jaman dulu sampai pada masa sekarang, terbagi menjadi 3 Exhibiton Hall. Bagian pertama berisi mengenai sejarah masyarakat Korea yaitu dinasti-dinasti pada masa lampau, selanjutnya adalah Korean way of life exhibiton hall maksudnya disini mengenai tradisi dan kebudayaan masyarakatnya lengkap dengan replika manekin-manekinnya. Bagian terakhir merupakan Life cycle of The Koreans, ini mirip bagian pertama sih, jujur saya ngga liat bedanya. Trus, ada lagi open air exhibition, disini ada patung-patung shio, kemudian replika ukuran asli rumah-rumah tradisional Korea jaman dulu, dan pertunjukan musik tradisional yang dinyanyikan oleh 2 orang seniman perempuan.
National Folklore Museum berisi sekitar 2000-an artefak mulai dari jaman dulu sampai pada masa sekarang, terbagi menjadi 3 Exhibiton Hall. Bagian pertama berisi mengenai sejarah masyarakat Korea yaitu dinasti-dinasti pada masa lampau, selanjutnya adalah Korean way of life exhibiton hall maksudnya disini mengenai tradisi dan kebudayaan masyarakatnya lengkap dengan replika manekin-manekinnya. Bagian terakhir merupakan Life cycle of The Koreans, ini mirip bagian pertama sih, jujur saya ngga liat bedanya. Trus, ada lagi open air exhibition, disini ada patung-patung shio, kemudian replika ukuran asli rumah-rumah tradisional Korea jaman dulu, dan pertunjukan musik tradisional yang dinyanyikan oleh 2 orang seniman perempuan.
Selesai dari Museum kami menuju ke Gyeongbok Palace yang menjadi ikon-nya Korea Selatan, lokasinya tepat berada di jantung kota Seoul, dibangun pada masa dinasti Joseon pada tahun 1300-an, luasnya sekitar 40 hektar terdiri dari 500 bangunan. Buka dari jam 9 pagi sampai dengan jam 5 sore, tutup setiap hari Selasa, tiket masuknya seharga IDR 36.000, tapi kalo anda mau memasuki semua bagian Istana bisa membeli Integrated ticket seharga IDR 120.000. Disini disediakan pula tour gratis berbahasa Inggris setiap pukul 11.00, 13.00, 15.30, meeting pointnya di main entrance samping information centre. Kami masuk dari area belakang Istana menuju ke bagian depan, karena saking gedenya kalo dijelaskan satu-satu bisa berlembar-lembar tulisannya *ah bilang aja males :D*, jadi biarkanlah foto yang berbicara *aseekkk...
Seberang dari Gyeongbok Palace ini adalah Gwanghwamun Square, semacam taman dengan patung raksasa Raja Sejong dan Laksamana Yi Sun-Shin, karena 2 orang inilah yang memiliki influence terbesar dalam sejarah peradaban Korea. Sama seperti taman-taman yang lain tempat ini dilengkapi dengan pedestrian dan dihiasi air mancur yang jika malam tiba berpendar dengan cahaya. Selanjutnya, kami menuju ke sebuah restoran kecil dilantai 2 sebuah rumah yang mbuh dimana saya ngga tau :D, menunya adalah Samgyetang yakni sup ayam ginseng satu ekor utuh! *alamak. Satu ekor ayam ini pas dibuka berisi beras ketan dan ginseng yang dibumbui apa saya kurang tahu, yang jelas enak gurih dan agak ada rasa pedas merica. Secara keseluruhan saya lebih menyukai masakan Korea kalo komparasinya dengan Jepang, masakan Korea lebih berasa bumbunya dari pada masakan Jepang yang blass ngga ada rasa.
Rute berikutnya adalah One Mount Snow Park, taman bermain salju indoor, kalo anda mau yang outdoor ada di Alpensia Ski Resort yang kemaren kami sempat sambangi juga cuma kami ngga ke area ski-nya. Dari sini kami ke Seoul World Cup Stadium tempat berlangsungnya perhelatan Fifa World Cup 2002, jangan dikira stadiumnya besar yah, karena kami-pun sempat mengira stadiumnya bakalan besar dan megah, nyatanya sih engga karena kapasitas seats cuma 60.000, jauh lebih besar GBK yang kapasitanya 100.000 kursi. Tidak jauh dari stadium kami diajak ke sebuah basement gedung, and you know what?? Tour belanja lagi! Kami sih sudah minta ke guide untuk skip saja, tapi ini tour wajib katanya, jadi ngga bisa, huh!. Kami ke sebuah outlet obat-obatan penyakit hati yang berasal dari tumbuhan, saya lupa namanya apa. Sama seperti ginseng outlet, setelah tour mengenai asal muasal tanaman obatnya, kami masuk ruangan untuk di prospek! dengan salah satu staffnya yang berasal dari Malaysia. Untuk kali ini kami berhasil kabur dari ruangan dengan tidak membeli apa-pun walhasil kami sorry-sorry-an aja dengan staff mereka hihi, gini loh kalo harganya masih ratusan ribu ngga masalah, lha ini mosok harganya di atas 5 juta semua kan ngga masuk akal! *Emosi.
Saat malam tiba kami sampai ke Dongdaemun Shopping Complex, tepatnya di Doota Mall, mall ini termasuknya kelas B, karena barang-barang yang dijual buatan lokal, tapi kualitasnya tetap bagus dan modelnya juga kece-kece, lebih kece daripada di Jepang, harganya sih buat saya mahal. Waktu itu saya melihat mantel musim dingin dengan harga IDR 700.000, saya masih pikir panjang untuk membeli mantel seharga itu, tapi ternyata mantel musim dingin di Jakarta harganya sekitaran itu juga, duh nyesel sayah ngga beli!. Kemudian, kami di antar Putri ke sebuah toko penjual souvenir di suatu sudut Mall ini yang katanya murah, dan ternyata penjualnya asli orang Korea yang bisa bahasa Indonesia! Jjiaahhh...ini sih saya yakin Travel dan penjual udah janjian, pasti banyak group tour Indonesia lain yang digiring kesini, perlu kita copy sih yang beginian. Tapi beneran murah sih, kaos-kaos gitu harganya sekitar IDR 70.000 masih di discount, kalo di Jepang harga kaos masih di atas IDR 100.000.
Well, untuk anda pecinta drama Korea, negara ini perlu masuk dalam bucket list anda, tapi kalo tidak pilih salah satu saja Korea atau Jepang, tidak perlu keduanya karena negaranya hampir mirip satu sama lain walaupun penduduknya tidak seramah Jepang, kalo kece engganya itu masalah selera tapi secara umum orang Korea lebih tinggi dari orang Jepang. Menurut saya tour independent menghabiskan biaya lebih mahal dari pada group tour dengan travel agent, karena yang membuat group tour berharga murah adalah tour-tour belanja wajib itu, pastinyalah mereka dapat komisi dari masing-masing outlet. Tapi kalo anda mau jalan-jalan ngga capek ya group tour-lah pilihannya...eniwei have fun yoo!






0 comments:
Post a Comment