• Cappadocia Hot Air Balloon

  • Taj Mahal

  • Eiffel Tower

Friday, June 8, 2018

India & Kashmir “A Hardcore Trips!” Part 8 (Jaipur-End)


Sampai Jaipur waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam, kali ini kami menginap di homestay, jadi kami bisa merasakan semua jenis akomodasi, Raj sempat terheran-heran kami bisa menginap di rumah orang, saya menjelaskan bahwa hal itu biasa dan hunian mereka sudah terdaftar. Ashiyana Homestay sudah menghubungi saya selama saya di Fatehpur Sikri dan di sepanjang jalan menuju Jaipur, Abdul dan Raj membantu kami menghubungi mereka karena saya hanya punya paket data, mereka memastikan kedatangan saya dan kapan waktu saya akan tiba, wajar saja karena kami adalah orang asing di rumah mereka. 

Saya memandu Raj mencari homestay dengan bantuan GPS, mobil salah belok jadi GPS kembali re-route yang mengarahkan kami ke gang kecil, saya meminta untuk mengikuti GPS saja tetapi Raj agak ragu, saya minta dia menelfon Ashiyana tapi Raj bersikukuh bahwa dia juga tidak tahu posisi dia dimana? Hlah kan ada di peta?! Sedikit-sedikit dia mengeluh “Oh my God oh my God” berulang-ulang yang bikin saya tambah senewen. Saya yakin Homestay ini mudah dicari karena ada di daerah perumahan mewah dan tidak jauh dari jalan utama, tentunya saya sudah research sebelum memutuskan memilih akomodasi ini, bahkan sampai pada sejauh mana dia dari Bandara. Sama-sama capek & ngantuk, jutek saya kumat lagi karena dia mengeluh “Oh my God oh my God” berkali-kali, pikir saya tinggal nurut aja susah amat sih! End up-nya saya bicara dengan nada tinggi ke dia.

Raj menyadari saya yang makin jutek, akhirnya dia masuk gang yang saya kasih unjuk tadi, dan benar saja gang tersebut menuju ke arah jalan besar dan 5 menit kemudian kami sudah sampai di Ashiyana Homestay, dari tadi kek!!. Kami disambut pemilik rumah langsung, sepasang suami istri dan asisten mereka, kami menempati lantai 2 dari rumah yang keseluruhannya ada 3 lantai! Bahkan rumah ini dilengkapi dengan elevator!. Lantai 1 adalah home industry yang mereka kelola yakni produksi kain, lantai 2 adalah homestay, dan lantai 3 adalah kediaman mereka, jadi privasi cukup terjaga. Ashiyana Homestay sangat recommended, karena dengan harga yang sangat murah, kami menempati seluruh lantai 2, persis seperti di rumah sendiri. Isinya lengkap ada 3 kamar dimana 2 kamar kami sewa, dapur dengan mineral water yang bisa kami minum sepuasnya, ruang tamu yang sangat besar, dan ruang makan serta ruang TV lengkap dengan balkonnya yang tidak kalah luasnya, bahkan kamar kami luas-nya ga kira-kira, persis seperti yang anda tonton di tv-tv. Seperti langit dan sumur kalo kami bilang, jauh berbeda dengan situasi yang kami hadapi sebelum-sebelumnya, tangan-tangan mungil nan hitam yang menggeret baju kami, berjalan tanpa alas kaki dengan pakaian yang tak layak, tidur tanpa alas dibawah terik matahari 35 derajat celcius, sungguh ketimpangan sosial yang sangat dalam.

Esok paginya Raj sudah menjemput dan kami akan ditemani guide yang bagian dari rental car complimentary alias gratis, kami berjanji bahwa kali ini kami tidak akan mampir ke tempat-tempat belanja yang ditunjuk oleh guide. Mahid mengantar kami ke Hawa Mahal yakni bangunan jendela iconic sebanyak 953 buah untuk Maharani dan putri-putri Raja dinasti Rajput agar mereka bisa melihat dunia luar, karena putri-putri Raja tidak boleh keluar istana. Disini kami hanya menyempatkan foto di depan Hawa Mahal secepat mungkin karena tidak bisa parkir lama-lama, tapi anda bisa masuk dengan membeli tiket seharga INR 200, namun kebanyakan hanya berfoto diluar sebab Hawa Mahal hanya berupa jendela-jendela saja. Setelahnya kami beranjak ke City Palace yakni kediaman Maharaja Jaipur hingga saat iniyang adalah cucunya cucunya cucunya cucunya lagi Maharaja Maan Singh, iya ponakannya Jodha yang brondong di pelem itu *ketahuan mbak blogger ikut Jodha Akbar penskleb.*





Jadi, Maharaja of Amer masih ada hingga kini tapi hanya simbolis saja, foto keluarga kerajaan pun dipasang di depan halaman Istana ini, tiket masuknya INR 500 hanya untuk Palace courts & galeri/museum, tapi untuk keseluruhan istana harga tiket-nya beda lagi, bisa di cek disini, dan konon tiket terusan dengan Hawa Mahal lebih murah, coba ditanya di counter ticketing Hawa Mahal. Kami sendiri memilih tiket basic saja karena masih harus nguber Amert Fort jadi saving waktu & tenaga, tour istana-nya apa saja? Hanya museum-museum (yang tidak boleh difoto) dan hall-hall serta halaman-halaman iconic istana saja, karena memang tidak bisa masuk ke dalam, ya karena bayarnya cuma segitu, untuk masuk istana tiket terusannya sekitar 500rb! Hmmm...next time kali yaa...











Selanjutnya kami menuju Amer Fort, sepanjang jalan Mahid tak henti-henti-nya memaksa mampir ke kerajinan kain-lah, permata-lah, henna-lah, dan terakhir toko souvenir (kenalan dia pastinya!) tapi saya kokoh tak tergoyahkan, saya juga wanti-wanti ke Raj pokoknya kami mau belanja di pasar entah Nehru Bazaar atau Bapu Bazaar. Oiya, perlu anda tahu sesama stakeholder tourism baik driver maupun guide tidak saling mencampuri, jadi kalo Mahid maksa kami mampir di toko apa gitu, si Raj diem aja ngikut aja kemana-mana, paling belakangan baru kasih tau kalo disitu mahal, sama kek waktu kita dimampirin Abdul ke toko souvenir di Fatehpur Sikri, Raj baru kasih tau kenapa beli disitu mahal lho! Kata dia, nah di bales temen saya, nape situ baru kasih tau sekarang?? dan dia hanya terdiam, so driver only driver dia tidak akan mencampuri diluar tanggung jawab dia.

Raj ini menurut saya driver yang lihai, dia bisa mengendalikan mobil saat situasi badai, dan reflek-nya sangat bagus, karena sudah puluhan kali kami hampir menabrak pengendara yang menyeberang atau memotong jalan se-enaknya. Entah sudah berapa ratus kali dia meneriakkan "Pagal Ho!" "Crazy people!" kata dia sampe saya hafal, yahhudah ga perlu saya ceritakan lagi-lah carut marutnya jalanan India. Kepada driver saya selalu berpesan “Please drive carefully, not too slow not too fast just medium, and do not push the horn to often,” Raj mematuhinya, tidak seperti driver-driver saya di Srinagar, ugal-ugalan dan ampun berisiknya klaksonnya. Dia orangnya juga luwes, kadangkala santai, seringkali bercanda, sesekali lebay dengan Oh My God-Oh My God-nya itu, belakangan saya baru tahu kalo itu cuma kebiasaan dia untuk semua hal, saya jadi nyesel udah nge-gas ke dia. Btw, sebagai leader memang saya menghindari ber-akrab ria dengan stakeholder tourism baik driver maupun guide, karena kalo ada apa-apa biar enak complaint-nya wkwk...

Satu jam kemudian kami sampai di Amer Fort, benteng dan istana ini terletak di perbukitan jauh dari pusat kota, bentuk bentengnya mirip dengan Great Wall Tiongkok, jadi bisa anda bayangkan betapa luasnya istana ini, dari tempat parkir pintu masuknya cukup jauh dan jalannya membingungkan, entah ada berapa pintu masuk. Kalo tidak pake guide saya tidak yakin akan menemukan pintu masuk dengan cepat, pasti sudah di laler-in guide-guide yang jual diri, tukang jualan, peminta-minta, tukang foto, dan profesi-profesi sejenis, pokoknya mereka tidak akan membiarkan anda hidup dengan tenang. Tapi kalo udah ada guide lumayan ada yang bantu usir-usirin, sepertinya semua tempat wisata di India sengaja di set rumit biar guide kepake, kalo kata temen saya “pemerataan pendapatan,” bener juga sih ya secara 1 Milyar gitu loh. Entrance fee Amer Fort INR 200, sekilas bentuknya hampir sama dengan Agra Fort, itulah sebabnya Agra Fort saya eliminasi. Rencananya saya mau naik gajah India yang ukurannya raksasa itu disini tapi sayang sekali karena panas terik jadi atraksi ini hanya beroperasi di pagi hari.

Amer Fort adalah kediaman Resmi Maharaja Rajput Maan Singh, artinya juga merupakan tempat tinggal Jodha Bai sebelum menikah, sectionnya sama seperti istana-istana yang lain, ada Audiensi Hall, Maharaja section, Maharani section, dll. Yang menarik, istana ini terbagi menjadi 2, musim panas dan musim dingin, istana musim panas berbentuk lorong-lorong yang dalamnya sangat sejuk, entah terbuat dari apa konstruksi-nya di jaman itu yang masih belum maju. Mahid mengatakan, disini tempat lokasi suting Jodha Akbar versi Film, dia menjelaskan setiap section yang dipakai untuk pengambilan gambar, (jadi mau nulis blog apa napak tilas Jodha Akbar?!). Istana ini sangat Iconic, beberapa artefak masih terjaga dengan baik...dan...biarlah foto yang berbicara...(blogger males).















Dalam perjalanan arah pulang, kami mampir ke Jal Mahal atau Istana air, dalam arti yang sebenarnya, karena istana tersebut benar-benar tenggelam di dalam Danau Man Sagar, awalnya istana ini tidak tenggelam, tapi seiring perluasan Danau istana tersebut ikut tenggelam, jadi kami hanya mengabadikannya lewat foto dari pinggir danau. Sepanjang jalan Mahid masih tak henti-henti-nya membujuk untuk berhenti di toko yang dia pilih gigih sekali, semua orang India sangat gigih, dan saya masih kokoh dengan penolakan saya, dia tampak bete, tapi kami tidak perdulino one can control my trips!” *dalam hati*, untuk memenangkan dominasi kami harus tidak kalah ngeyel & gigih. Saya ingat kata teman saya di group, dia bilang bukan orang India yang licik atau ngeyel, tapi kita-nya-lah yang harus tidak kalah licik, tidak kalah ngeyel, tidak kalah pintar, dan tidak kalah galak (jadi ngerti kan kenapa saya jutek dan nge-gas mulu? Wkwk).




Destinasi terakhir kami adalah Bapu Bazaar, barangnya bagus-bagus dan harga-nya pun sangat murah, lokasi-nya dekat dengan Hawa Mahal, tapi cukup jauh dari tempat parkir, tidak masalah anda bisa gunakan GPS dari tempat parkir, inget ya driver bukan guide jadi tidak bisa disuruh-suruh selain nyetir!. Sepanjang jalan selama di India kami melihat binatang-binatang yang hanya bisa kita temui di kebun binatang disini, mulai dari Gajah, Onta, sampai Monyet, jadi apakah India kotor dan jorok? Pasti! Kotoran sapi bahkan berserakan di trotoar pinggir toko-toko. Pesing? Otomatis! sepanjang trotoar anda akan mencium bau pipis manusia, jadi siapkan masker 😁, eh tapi jangan salah dibalik kekumelan-nya, Jaipur sudah punya yang namanya Monorail! Kalah Jakarta!. Untuk urusan toilet usahakan ke toilet berbayar kalo di toilet umum, atau numpang pas di restaurant atau mall, saya ketemu ranjau darat sekali, langsung ga jadi pipis, ini gegara Mahid yang nyuruh ke toilet yang gratis, padahal kami sudah mau masuk ke toilet berbayar.

PR saya satu lagi adalah menitipkan Modem wifi dan meminta bantuan Homestay untuk memesankan mobil untuk ke bandara esok pagi, agak segen karena mereka owner rumah bukan pegawai kek di Hotel. Terpaksalah saya beranikan diri bertamu ke rumah mereka di lantai 3, respond mereka diluar dugaan, dengan senang hati mereka membantu, memesankan mobil jemputan, bersedia dititipin modem wifi, mengajak berkeliling rumah, bahkan mengantarkan kami kedepan rumah sampai kami berangkat ke Airport, well hanya kepada pasangan suami istri Ashiyana inilah saya lumayan ramah 😁

Jadi, apakah India aman? Buat saya sih aman asalll…hati-hati, saya selalu bilang “use your common sense” bahkan kalo instinct anda bilang tidak jadi ke India karena merasa tidak yakin maka segera batalkan ticket anda. Waspada perlu tapi tidak harus bawaannya curiga melulu, banyak yang baik juga dan ngebantu banget. Trus, berpakaianlah yang sopan jangan memakai celana pendek, padahal sehari-hari kaum wanita India selalu memakai Saree yang pinggang dan punggungnya terbuka itu, tapi entah kenapa mereka lebih tertarik dengan paha!. Warna pakaian yang mereka pilih lumayan ngejreng-ngejreng, merah merona, kuning kelinting, pink menyala, banyak saltumnya kalo menurut saya, terbang ke KL dari Jaipur dengan Saree dan heels itu sungguh embuh! (padahal ngiri aja kitah secara yang make Saree mbak-mbak byutiful mirip-mirip Katrina kaif xixi...).

Foto colongan, kenapa ga langsung foto depannya??
ogah harganya nge-getok!
Kata Raj ini rombongan pengantin yang tajir melintir 😮
Saya mengakui bahwa traveling ke India tidaklah mudah, perlu banyak persiapan, bahkan kita dituntut untuk berpikir dengan cepat mengatasi masalah yang mungkin sering terjadi selama disana. Capek sih engga ya karena dimana-mana sudah ada jemputan, jadi yang biasanya 6 koyo sudah nempel di kaki saya plus balsam, ini saya tidak perlu sama sekali, tapi lebih ke yang bikin pikiran spaneng. Kata temen saya baru kali ini saya pulang dari plesir kelihatan kurus, item, & kucel kek habis perang😁, tidak bermaksud menakut-nakuti sih tapi juga tidak ingin memaksa bahwa anda harus ke India. Kata orang, respon anda akan ada 2 setelah ke India, antara anda akan benci banget atau anda akan tambah suka dengan India, saya? Bukan sok-sok an sih, tapi iya saya yang ke-2. India dengan segala keunikan dan carut marut-nya, kontras & penuh drama, telah menggeser posisi Jepang dalam pandangan saya, engga kapok untuk kembali lagi kesini dengan destinasi berbeda. Bagi saya kepuasan bisa jelajah India susah untuk diungkapkan dengan kata-kata. Singkatnya,  setelah menaklukkan destinasi ini, serasa habis wisuda dengan gelar Sarjana Traveling! (((Sarjana Traveling))) 😂😂😂, yukk ah...ada yang mau ikut ke Varanasi & Dharamsala??

India & Kashmir “A Hardcore Trips!” Part 7 (Fatehpur Sikri)


Dari Taj Mahal kami langsung ke Fatehpur Sikri sekitar 40km dari Agra, sebenernya masih ada destinasi lain yang menarik yakni Istana Agra Fort, tempat tinggal raja-raja Mughal, tapi saya eliminasi karena waktu yang tidak cukup dan saya lebih prefer ke Fatehpur Sikri yang menurut saya lebih menarik, terkhusus karena disini tempat tinggal resmi dan hanya satu-satunya yakni Raja Akbar.

Sebelum ke Fatehpur Sikri, Hussein ikut ke mobil bersama kami katanya akan mengantarkan tempat kerajinan marbel, saya ikutin saja. Ternyata dia membawa kami tidak cuma tempat kerajinan marbel tapi tempat jualan-nya juga...yaelahh ini mah kita disasari ke tempat jualan yang tentunya tidak murah dan guide pastilah dapat komisi, oiya marbel ini adalah bahan bangunan yang dipakai untuk membangun Taj Mahal, menurut mereka ini adalah marbel asli yang tidak akan berubah warna...iya-in aja dah!

Fatehpur Sikri merupakan kota di atas perbukitan yang dibangun oleh Raja Akbar, tau dong siapa? Iya itu loh pelem Jodha Akbar, dan sekaligus merupakan mbah-nya Shah Jahan, owh syuting-nya ya?? saya tau anda pasti bertanya-tanya, dimana tempat syuting Jodha Akbar? Engga bukan di Fatehpur tapi di Agra Fort untuk versi serial dan di Amer Fort untuk versi Film-nya. Kami perlu waktu 2 jam lamanya untuk touring Fatehpur Sikri karena luas-nya ngga kira-kira, sebelumnya Raj mengusulkan untuk kami menyewa Guide, karena menurutnya jalan ke arah Fatehpur Sikri sangat jauh dan rumit dari tempat parkir. Saya juga sempat membaca dan menonton di salah satu acara TV Fatehpur Sikri memang luas dan jauh jadi memerlukan guide . Untuk itu saya menyetujui dan agak lumayan mahal sih INR 600 sudah include tips, tiket masuknya juga naik per Februari 2018 yakni INR 510 dan shuttle bus PP INR 20, ditambah fee jagain sepatu INR 10, he? Apapula jagain sepatu?! Pokoknya pas saya datang semua naik deh baik tiket-tiket-an maupun Visa!

Halaman depan Sikri
Abdul guide kami menjemput kami di parkir mobil, Fatehpur Sikri merupakan nama dari 2 tempat yang berbeda dijadikan satu, Fatehpur & Sikri, kita mulai dulu dari Sikri bagian awal atau daerah terbawah dari kota yakni istana Raja Akbar, untuk menuju tempat ini kita berjalan kaki kurang lebih 15 menit ke shuttle bus. Jangan harap shuttle bus-nya keceh kek Trans Jakarta, shuttle bus-nya kek Kopaja aja hanya warna-nya putih, untuk menuju shuttle bus saja tidak ada petunjuk arah jadi saya tidak yakin anda bisa nemu tanpa bertanya, seandainya-pun bertanya alih-alih menjawab mereka akan menawarkan guide!. Lima belas menit kemudian kami sampai di Sikri, awalnya Raja Akbar tinggal di Agra Fort, tapi untuk menghormati jasa Syekh Salim Kristi karena berkat-nyalah Raja akhirnya dikaruniai keturunan, maka Raja memindahkan pusat kerajaan berdekatan dengan kediaman Syekh Salim Kristi guru spiritualnya. Isi-nya Sikri ya seperti istana-istana lain ada hall audiensi, kediaman raja dan ratu-ratunya, hall pertunjukan, dll...saya tidak perlu cerita banyak anda pasti bosan, pun  anda bisa membacanya sendiri di oum google, tapi yang paling menarik buat saya adalah Hall audiensi atau Diwan-I-Khas, hall-nya kecil banget trus raja ada dimana dong? ternyata raja duduk di atas. Jadi atas Diwan-I-Khas dibentuk seperti jembatan menyilang, mentri-mentri duduk di jembatan, dan Raja duduk di tengah.


Diwan-I-Khas


Dalemnya Diwan-I-Khas, Raja duduk tepat di tengah 


Bangunan lain yang tak kalah menarik adalah kediaman Ratu Ruqaya, yang mungilll banget, sama kamar saya gedean dikit bahkan sama dapurnya Ratu Jodha gedean dapur-nya Ratu Jodha, tapiii tempatnya paling depan dekat dengan kediaman Raja dan...dindingnya penuh dengan permata karena memang glamour. Saking glamour-nya semua perabotan kamarnya tidak ada yang ecek-ecek, semua logam mulia ada, kalo malam kamarnya bersinar gemerlap karena cahaya permata memantul terkena cahaya lilin, bahkan bekas lubang-lubang permata yang ditempel di dindingnya masih ada. Oiya menyinggung dapur Ratu Jodha, dapurnya ini terpisah dari yang lain karena murni vegetarian, dan istana-nya besar terletak paling belakang, Abdul guide kami muslim tapi muslim India kebanyakan tidak mengkonsumsi daging sapi untuk menghormati larangan Hindu.


Anup Talao : tempat pertunjukan musik
Dapur Jodha Bai, bangunan di sebelah kiri dan istana-nya adalah
gerbang yang terdapat kuncup stupa tepat di depannya...
Dalam-nya kediaman Jodha Bai
*mangaap lupa motoin kamar Ruqaya Begum 
Tempat berikutnya adalah Fatehpur, tempat ini sebenernya adalah kediaman Syekh Salim Kristi yang kemudian di buat menjadi Dargah atau tempat ziarah setelah beliau meninggal, nah disinilah kami harus menitipkan sepatu. Panas-panas dengan suhu 35 derajat celcius hanya beralaskan kaos kaki, bayangan saya Fatehpur sejuk dan bersih kinclong, nyatanya saat kami masuk, kami cuma bisa melongo saja. Fatehpur adalah area yang tengahnya terbuka seperti lapangan yang tanahnya bata merah, pinggir sekelilingnya adalah selasar, sebelah kanan adalah bangunan putih dari marmer makam Syekh Salim Kristi yang sekelilingnya nisan-nisan makam keluarganya, paling ujung adalah Jama’Masjid. Tidak mengapa jika bersih dan rapi, tapi Fatehpur ini kotor sekali, burung dara dimana-mana, segala kambing dan kotorannya berceceran, pengunjung makan tidur di sembarang tempat, tukang jualan berserakan, iya sih pada ga pake sepatu juga, trus point-nya apa coba ga boleh pake alas kaki!?. Di sini Abdul menawarkan kami untuk ziarah ke makam, kami awalnya meng-iya-kan tapi karena harus membeli kain, bunga, dan benang yang diikat di kisi-kisi jendela yang berbentuk oktagon (yang pernah nonton film India pasti bisa membayangkan, iya kan?), saya mengurungkan niat (takut syirik).

Fatehpur


Masjid Jama'

Makam Syekh Salim Kristi

Buland Dharwaza
Kami kemudian keluar ke arah gerbang utama atau disebut Buland Dharwaza, Abdul bertanya kepada saya, “gimana apakah tour-nya OK?” saya menjawab “Sikri Ok, tapi Fatehpur sayang sekali tidak bersih” “sebenernya Fatehpur jauh lebih indah daripada Sikri, apalagi Buland Dharwaza indah sekali, tapi disana semua orang makan tidur seenaknya, seperti ga ada aturan, sorry to say,” dia merespond “Iya karena Fatehpur masuk gratis, sedangkan Sikri masuk harus bayar, makanya banyak warga lokal di Fatehpur, anda tau kan Mam orang India? Mereka-mereka ini tidak punya cukup uang untuk piknik,” tetiba hati saya langsung mencelos, dan saya menyesal telah me-respond seperti itu.

Disemua tempat wisata, di setiap jalan kami tidak henti-hentinya dirubung anak-anak peminta-minta dan tukang jualan, apa boleh buat mereka tidak kami hiraukan karena sekali kita memberi atau membeli ke satu orang, maka yang lain akan merubungi kami tidak ada habisnya. Dan cara mereka meminta sudah tidak wajar lagi, seringnya menggeret-geret baju kami bahkan suatu kali merebut makanan yang kami bawa. Wal hasil saya dan temen saya geret-geretan sama mereka, saya tidak berani melepas sampai kami sudah dekat dengan mobil, begitu mobil sudah di depan mata, saya lepas bungkusan makanan kami dan segera berlari ke mobil, karena kalo tidak yang lain berdatangan gantian mengerubungi kami, dan sekarang saya tahu kenapa setiap restoran dijaga oleh Satpam bahkan sekelas KFC!.

India & Kashmir “A Hardcore Trips!” Part 6 (Srinagar-Delhi-Agra)



Pukul 8 pagi kami sudah stand by di ruang tamu Haifa Houseboat padahal penerbangan masih jam 11 siang dan jarak antara Dal lake & Airport Srinagar kurang dari 1 jam, tapi saya sudah sounding ke teman-teman bahwa keluar Srinagar lebih ketat dan rumit daripada masuknya, nah lho apa coba?

Begini, kurang lebih satu kilometer sebelum Bandara, security check  point sudah menyambut kami sepertinya oleh kepolisian atau tentara India, jadi koper-koper yang masing-masing beratnya setengah berat badan saya ini, harus diturunin satu persatu dibawa ke kantor security untuk diperiksa, tentunya porter-porter sudah ngeroyok kita disini, ada aja yah yang bisa di duit-in?!, mobil masih menunggu kita disini untuk meneruskan perjalanan ke bandara. Departure Hall adalah security check yang ke 2 oleh Air Indigo dan disini ticket di cek manual, iya manual! alias tulis tangan! gempor-gempor deh tuh tangan abang Air Indigo. Ke-tiga, bukan security check sih tapi mengisi formulir untuk foreigner sama seperti waktu arrival, dengan petugas yang sama pula, dan beliau masih inget kami! Halah rempong banget,  ke-empat baru deh check in counter. Ke-lima masih security check, oleh Imigrasi sepertinya, untuk body check pintu antrian dipisah  antara laki-laki dan perempuan, oiya ada satu kejadian tidak meng-enakkan disini. Teman saya yang berada di antrian paling belakang dari kami, tetiba diminta buka-buka tas dan dompet yang memang wajar seharusnya, tidak wajar-nya adalah dia meminta teman saya untuk mengambilkan dan memberikan lembaran RM 100 yang berada di dompet, alias dipalak sodara-sodara!!.

Jadi, hati-hati saja, coba simpan uang anda baik-baik di tempat-tempat tersembunyi, dan tetap bergerombol dengan group anda, sebisa mungkin jangan ada jeda terlalu jauh, saya yakin jika kita tetap dalam group mereka akan segen. Kami sebenernya juga menunggu teman saya ini, tapi karena jeda terlalu jauh terpaksa-nya kami menunggu diluar area security check. Nah, tapi untungnya kami menunggu di luar area security check, karena kalau tidak, saya tidak akan terlihat oleh petugas Air Indigo, salah satu petugas yang mengenal saya dari kejauhan, dia melambai-lambaikan tangan ke saya dengan panik, seperti menyuruh cepat-cepat untuk masuk ke dalam, saya sendiri ngga ngerti maksudnya apa karena waktu masih 1 jam lagi sebelum keberangkatan. Saya bangkit dan dengan panik-nya pula menuju ke arah boarding di stop petugas, dia cepat-cepat meminta saya dan hanya saya saja (tau dari mana sih mereka ini kalo saya leader-nya??) untuk ke apron bandara! He?! Apa?! apron?? Iya apron? Ngapain? Security check yang ke-6!. Dengan panik saya berlari keluar bandara, disana bertebaran koper-koper untuk di cek satu-satu oleh penumpang bersama dengan petugas Air Indigo, baru bisa dimasukkan ke bagasi pesawat.

Saya mencari koper-koper dan tas-tas punggung milik teman-teman saya yang tidak boleh di bawa ke kabin dari puluhan tas yang masih bertebaran 😟, iya...beberapa tas yang tidak lolos kabin akan dikasi kunci plastik disposable yang artinya harus masuk bagasi. Anda harus tahu ini, karena ponsel dan passport harus anda ambil dulu, dan tas kudu dibongkar oleh petugas Air Indigo kalo sudah terlanjur dikunci disposable sedangkan ponsel & passport masih di dalam. Repotnya lagi, kalo tas tetap anda bawa ke kabin karena ketidaktahuan ini, ya kudu balik lagi ke counter check in untuk di check in kan, yang cukup ribet prosesnya, karena tiket dan bagasi  anda sudah confirmed check in duluan! Adakah penumpang yang begini? Ada!. 

Setelah melewati garbarata saya pikir sudah selesai, ternyata tepat di depan pintu masuk pesawat masih ada security check in yang ke-tujuh! Ya Allahhh...lelahhh...tentunya tas-tas yang dibawa ke kabin harus dibongkar-bongkar, dan body check dengan metal detector, laki-laki dan perempuan dipisah dengan tirai, baru kemudian check tiket. Hal ini benar-benar berbanding terbalik dengan di Jaipur, longgar bener security check-nya, iya sih kami yang perempuan di cek di bilik tapi petugasnya ngeraba pake metal detector sambil duduk dan baca koran wkwk...iyehh baca Koran!!!.

Sampai di bandara Indira Gandhi, driver jemputan saya dari Carrentaldelhi.com/Kalka Travel sudah menunggu, cuacanya sungguh sangat panas sekira 35 derajat celcius!, dari sini kami dibawa ke kantor Kalka Travel untuk pembayaran DP, yang awalnya minta untuk dibayar full di depan, tapi kemudian saya tawar untuk dibayar setengah dulu. Oiya, Kalka Travel ini sangat details, se-details menjelaskan bahwa 3 koper kami untuk mobil Innova harus di letakkan di rooftop, mereka juga menjelaskan apa yang boleh dan tidak boleh di India dan apa saja rules yang harus diikuti selama di India, kesemuanya dalam video sepanjang 10 menit. Dari Delhi kami langsung menuju Agra, saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, baru berangkat tiba-tiba langit gelap dan angin kencang membawa pasir, kejadian tersebut konstan selama 3 jam, dan makin mendekati Agra makin parah. 

Dua jam berikutnya angin makin kencang, petir menyambar, dan hujan dengan butiran-butiran besar membuat situasi tambah mencekam, walaupun banyak temennya, maksudnya banyak mobil di highway yang akhirnya merapat ke tepi bersama-sama, karena goncangan yang cukup kencang, Nek Raj-driver kami menelfon ke kantor untuk mengabarkan situasi. Sampai Agra badai reda, tapi kota porak-poranda pohon-pohon dan papan reklame berjatuhan, koper yang di atas basah tentu saja (baru tau gunanya plastic cover koper!). Besoknya Agra cerah seperti tidak terjadi apa-apa, usut punya usut ternyata di India terkadang terjadi badai pasir karena peralihan musim, hal ini lolos dari perhatian saya, sungguh saya tidak tahu kalo di India juga ada badai pasir, untungnya kami masih di toll saat badai berlangsung yang jelas bersih dari pohon atau papan reklame.

Kami tiba di Agra pukul 9 malam karena banyak berhenti, dan besok-nya pagi-pagi sekali pukul 6 kami sudah berangkat Taj Mahal yang hanya berjarak 1 kilometer dari Hotel. Mumtaz Mahal adalah hotel pilihan saya di Agra, terkhusus karena jaraknya yang cukup dekat dengan Taj Mahal, lainnya? Zero! Lantai kamar kotor, AC tidak berfungsi dengan baik, entah kenapa breakfast di dalam kamar, tapi pelayanan lumayan-lah, 450ribu what do you expect? Tapi karena cuma semalam ya kami tahan-tahanin berharap di Hotel selanjutnya lebih memuaskan. Ada hotel lain yang lebih dekat dan lebih murah tapi saya tambah ngeri, lebih dekat dan lebih murah adalah kombinasi yang mencurigakan buat saya, tapi tidak ada salahnya anda mencoba hotel Taj Plaza, atau kalo mau total sekalian cobalah hotel terkenal Oberoi! *janji habis browsing jangan nimpukin yakk!*. Trus kenapa pula Hotelnya kudu yang deket-deket? Kasusnya sama dengan Gulmarg, kita bersaing dengan 1 Milyar penduduk India! ketambahan turis-turis ngga jelas kek kita gini, antriannya ga nahan banget sampai harus dibatasin 3 jam saja di Taj Mahal, makanya saya pilih yang dekat dan pergi pagi-pagi, ini yang mengusulkan si Raj, oiya kami dapat bonus guide gratis di Taj Mahal, dan di Jaipur, tips excluded tentunya.

Perhatian! tas ransel, tripod, dan makanan dilarang dibawa masuk, tas wanita dikecualikan, jadi tinggalkan barang-barang tersebut di Hotel, kalo anda masuk dari pintu timur, loket tiket-nya berada di bangunan terpisah sekitar 500 meter dari pintu masuk sisi kanan jalan, dan memang lebih baik masuk dari pintu ini, karena pintu barat antriannya lebih ngeri sebab warga lokal masuk melalui pintu ini, dan pintu selatan agak spooky dan crowded karena dekat pasar. Buka tiap hari kecuali hari Jumat, tiket masuk Taj Mahal adalah sebesar INR 1000 atau sekira Rp. 218.000 untuk foreigner, dan INR 40 atau Rp. 8.700 untuk warga lokal, ini banyak foreigner yang protes karena jomplang banget bagai langit dan sumur, tapi menurut saya wajar saja, logikanya foreigner bisa beli tiket pesawat masak ga bisa beli tiket Taj Mahal??. 


Jalan arah Taj Mahal

Counter Tiket
Hussein, guide kami mulai melaksanakan tugasnya, gerbang masuk Taj Mahal adalah sebuah gerbang megah yang disebut Darwaza-I-Rauza, terbuat dari bata merah, pahatannya adalah kaligrafi surat Al-Fajr menandakan terbitnya matahari dari sisi timur, di paling atasnya terdapat kubah-kubah kecil berjumlah 11 buah menandakan 11 tahun pembuatannya, dan kanan kirinya dihiasi minaret. Dari sisi sebaliknya yakni sisi yang sudah memasuki area taman Taj Mahal, memiliki detil yang sama 11 buah kubah, artinya seluruh proses pembuatan terjadi selama 22 Tahun, oiya saat kesana salah satu sisi gerbang seperti sedang di renov, usut punya usut ternyata badai semalam telah menghancurkan salah satu minaret 😔.

Yang rusak ujung minaret sebelah kiri-belakang

Tempat kain warna ijo itu bekas minaret yang berjatuhan




Sebelum masuk ke Musoleum Taj Mahal kami diharuskan membungkus sepatu dengan sarung yang diberikan saat membeli tiket, agar tidak merusak marmer. Di dalam-nya bersemayam Mumtaz Mahal dan Shah Jahan, tapi terpendam jauh dibawah tanah untuk menghindari tangan-tangan jahil, kisahnya anda sudah tahu sendiri dong? saya ga perlu ngulang lagi kan?. Saya tambahin aja kalau sebenernya ada Taj Mahal satu lagi  warnanya hitam kelak untuk musoleum-nya Shah Jahan, tapi ga selesai keburu di protes sama anaknya Shah Jahan yakni Aurangzeb, kata dia buat apaan lagi? Boros-borosin anggaran negara en nyengsarai rakyat!, dan berakhir dengan Shah Jahan di penjarakan oleh anaknya sendiri Aurangzeb. Ya! pembangunan Taj Mahal ini konon menghabiskan biaya yang tidak sedikit dan tenaga yang besar, saya bilang ke guide “Shah Jahan ini mungkin suami yang baik tapi bukan Raja yang baik, dan Aurangzeb anak yang kurang ajar tapi dia adalah Raja yang baik, masa kejayaan ada di tangannya, iya kan?” Hussein menjawab “karena kamu sudah tahu banyak hal, jadi pekerjaan saya lebih mudah karena tidak perlu banyak-banyak menjelaskan” wkwk....


Sarung penutup sepatu

Musoleum dari dekat

Pintu belakang Musoleum

Sungai Yamuna - bagian belakang Taj Mahal

Pintu Samping

Taj Mahal ini konon adalah bangunan paling simetris dan presisi di dunia, karena penampakan Taj Mahal darsisi depan, samping, dan belakang sama persis. Bahkan untuk menyempurnakan simetris-nya dibuatlah masjid di sebelah kiri Taj Mahal sebagai penyeimbang Mehman Khan, yakni bangunan untuk beristirahat para peziarah di sebelah kanan yang sudah ada terlebih dahulu. Oiya, jangan lupa cek lagi cuaca saat anda akan kesini karena jangan sampai anda kesini pas ada badai asap atau musim dingin hingga kabut tebal menutup Taj Mahal, ada gitu yang kayak gini? Adaaa...ah sedih bener sudah jauh-jauh datang ga ngelihat apa-apa...