Friday, June 8, 2018

India & Kashmir “A Hardcore Trips!” Part 6 (Srinagar-Delhi-Agra)



Pukul 8 pagi kami sudah stand by di ruang tamu Haifa Houseboat padahal penerbangan masih jam 11 siang dan jarak antara Dal lake & Airport Srinagar kurang dari 1 jam, tapi saya sudah sounding ke teman-teman bahwa keluar Srinagar lebih ketat dan rumit daripada masuknya, nah lho apa coba?

Begini, kurang lebih satu kilometer sebelum Bandara, security check  point sudah menyambut kami sepertinya oleh kepolisian atau tentara India, jadi koper-koper yang masing-masing beratnya setengah berat badan saya ini, harus diturunin satu persatu dibawa ke kantor security untuk diperiksa, tentunya porter-porter sudah ngeroyok kita disini, ada aja yah yang bisa di duit-in?!, mobil masih menunggu kita disini untuk meneruskan perjalanan ke bandara. Departure Hall adalah security check yang ke 2 oleh Air Indigo dan disini ticket di cek manual, iya manual! alias tulis tangan! gempor-gempor deh tuh tangan abang Air Indigo. Ke-tiga, bukan security check sih tapi mengisi formulir untuk foreigner sama seperti waktu arrival, dengan petugas yang sama pula, dan beliau masih inget kami! Halah rempong banget,  ke-empat baru deh check in counter. Ke-lima masih security check, oleh Imigrasi sepertinya, untuk body check pintu antrian dipisah  antara laki-laki dan perempuan, oiya ada satu kejadian tidak meng-enakkan disini. Teman saya yang berada di antrian paling belakang dari kami, tetiba diminta buka-buka tas dan dompet yang memang wajar seharusnya, tidak wajar-nya adalah dia meminta teman saya untuk mengambilkan dan memberikan lembaran RM 100 yang berada di dompet, alias dipalak sodara-sodara!!.

Jadi, hati-hati saja, coba simpan uang anda baik-baik di tempat-tempat tersembunyi, dan tetap bergerombol dengan group anda, sebisa mungkin jangan ada jeda terlalu jauh, saya yakin jika kita tetap dalam group mereka akan segen. Kami sebenernya juga menunggu teman saya ini, tapi karena jeda terlalu jauh terpaksa-nya kami menunggu diluar area security check. Nah, tapi untungnya kami menunggu di luar area security check, karena kalau tidak, saya tidak akan terlihat oleh petugas Air Indigo, salah satu petugas yang mengenal saya dari kejauhan, dia melambai-lambaikan tangan ke saya dengan panik, seperti menyuruh cepat-cepat untuk masuk ke dalam, saya sendiri ngga ngerti maksudnya apa karena waktu masih 1 jam lagi sebelum keberangkatan. Saya bangkit dan dengan panik-nya pula menuju ke arah boarding di stop petugas, dia cepat-cepat meminta saya dan hanya saya saja (tau dari mana sih mereka ini kalo saya leader-nya??) untuk ke apron bandara! He?! Apa?! apron?? Iya apron? Ngapain? Security check yang ke-6!. Dengan panik saya berlari keluar bandara, disana bertebaran koper-koper untuk di cek satu-satu oleh penumpang bersama dengan petugas Air Indigo, baru bisa dimasukkan ke bagasi pesawat.

Saya mencari koper-koper dan tas-tas punggung milik teman-teman saya yang tidak boleh di bawa ke kabin dari puluhan tas yang masih bertebaran 😟, iya...beberapa tas yang tidak lolos kabin akan dikasi kunci plastik disposable yang artinya harus masuk bagasi. Anda harus tahu ini, karena ponsel dan passport harus anda ambil dulu, dan tas kudu dibongkar oleh petugas Air Indigo kalo sudah terlanjur dikunci disposable sedangkan ponsel & passport masih di dalam. Repotnya lagi, kalo tas tetap anda bawa ke kabin karena ketidaktahuan ini, ya kudu balik lagi ke counter check in untuk di check in kan, yang cukup ribet prosesnya, karena tiket dan bagasi  anda sudah confirmed check in duluan! Adakah penumpang yang begini? Ada!. 

Setelah melewati garbarata saya pikir sudah selesai, ternyata tepat di depan pintu masuk pesawat masih ada security check in yang ke-tujuh! Ya Allahhh...lelahhh...tentunya tas-tas yang dibawa ke kabin harus dibongkar-bongkar, dan body check dengan metal detector, laki-laki dan perempuan dipisah dengan tirai, baru kemudian check tiket. Hal ini benar-benar berbanding terbalik dengan di Jaipur, longgar bener security check-nya, iya sih kami yang perempuan di cek di bilik tapi petugasnya ngeraba pake metal detector sambil duduk dan baca koran wkwk...iyehh baca Koran!!!.

Sampai di bandara Indira Gandhi, driver jemputan saya dari Carrentaldelhi.com/Kalka Travel sudah menunggu, cuacanya sungguh sangat panas sekira 35 derajat celcius!, dari sini kami dibawa ke kantor Kalka Travel untuk pembayaran DP, yang awalnya minta untuk dibayar full di depan, tapi kemudian saya tawar untuk dibayar setengah dulu. Oiya, Kalka Travel ini sangat details, se-details menjelaskan bahwa 3 koper kami untuk mobil Innova harus di letakkan di rooftop, mereka juga menjelaskan apa yang boleh dan tidak boleh di India dan apa saja rules yang harus diikuti selama di India, kesemuanya dalam video sepanjang 10 menit. Dari Delhi kami langsung menuju Agra, saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, baru berangkat tiba-tiba langit gelap dan angin kencang membawa pasir, kejadian tersebut konstan selama 3 jam, dan makin mendekati Agra makin parah. 

Dua jam berikutnya angin makin kencang, petir menyambar, dan hujan dengan butiran-butiran besar membuat situasi tambah mencekam, walaupun banyak temennya, maksudnya banyak mobil di highway yang akhirnya merapat ke tepi bersama-sama, karena goncangan yang cukup kencang, Nek Raj-driver kami menelfon ke kantor untuk mengabarkan situasi. Sampai Agra badai reda, tapi kota porak-poranda pohon-pohon dan papan reklame berjatuhan, koper yang di atas basah tentu saja (baru tau gunanya plastic cover koper!). Besoknya Agra cerah seperti tidak terjadi apa-apa, usut punya usut ternyata di India terkadang terjadi badai pasir karena peralihan musim, hal ini lolos dari perhatian saya, sungguh saya tidak tahu kalo di India juga ada badai pasir, untungnya kami masih di toll saat badai berlangsung yang jelas bersih dari pohon atau papan reklame.

Kami tiba di Agra pukul 9 malam karena banyak berhenti, dan besok-nya pagi-pagi sekali pukul 6 kami sudah berangkat Taj Mahal yang hanya berjarak 1 kilometer dari Hotel. Mumtaz Mahal adalah hotel pilihan saya di Agra, terkhusus karena jaraknya yang cukup dekat dengan Taj Mahal, lainnya? Zero! Lantai kamar kotor, AC tidak berfungsi dengan baik, entah kenapa breakfast di dalam kamar, tapi pelayanan lumayan-lah, 450ribu what do you expect? Tapi karena cuma semalam ya kami tahan-tahanin berharap di Hotel selanjutnya lebih memuaskan. Ada hotel lain yang lebih dekat dan lebih murah tapi saya tambah ngeri, lebih dekat dan lebih murah adalah kombinasi yang mencurigakan buat saya, tapi tidak ada salahnya anda mencoba hotel Taj Plaza, atau kalo mau total sekalian cobalah hotel terkenal Oberoi! *janji habis browsing jangan nimpukin yakk!*. Trus kenapa pula Hotelnya kudu yang deket-deket? Kasusnya sama dengan Gulmarg, kita bersaing dengan 1 Milyar penduduk India! ketambahan turis-turis ngga jelas kek kita gini, antriannya ga nahan banget sampai harus dibatasin 3 jam saja di Taj Mahal, makanya saya pilih yang dekat dan pergi pagi-pagi, ini yang mengusulkan si Raj, oiya kami dapat bonus guide gratis di Taj Mahal, dan di Jaipur, tips excluded tentunya.

Perhatian! tas ransel, tripod, dan makanan dilarang dibawa masuk, tas wanita dikecualikan, jadi tinggalkan barang-barang tersebut di Hotel, kalo anda masuk dari pintu timur, loket tiket-nya berada di bangunan terpisah sekitar 500 meter dari pintu masuk sisi kanan jalan, dan memang lebih baik masuk dari pintu ini, karena pintu barat antriannya lebih ngeri sebab warga lokal masuk melalui pintu ini, dan pintu selatan agak spooky dan crowded karena dekat pasar. Buka tiap hari kecuali hari Jumat, tiket masuk Taj Mahal adalah sebesar INR 1000 atau sekira Rp. 218.000 untuk foreigner, dan INR 40 atau Rp. 8.700 untuk warga lokal, ini banyak foreigner yang protes karena jomplang banget bagai langit dan sumur, tapi menurut saya wajar saja, logikanya foreigner bisa beli tiket pesawat masak ga bisa beli tiket Taj Mahal??. 


Jalan arah Taj Mahal

Counter Tiket
Hussein, guide kami mulai melaksanakan tugasnya, gerbang masuk Taj Mahal adalah sebuah gerbang megah yang disebut Darwaza-I-Rauza, terbuat dari bata merah, pahatannya adalah kaligrafi surat Al-Fajr menandakan terbitnya matahari dari sisi timur, di paling atasnya terdapat kubah-kubah kecil berjumlah 11 buah menandakan 11 tahun pembuatannya, dan kanan kirinya dihiasi minaret. Dari sisi sebaliknya yakni sisi yang sudah memasuki area taman Taj Mahal, memiliki detil yang sama 11 buah kubah, artinya seluruh proses pembuatan terjadi selama 22 Tahun, oiya saat kesana salah satu sisi gerbang seperti sedang di renov, usut punya usut ternyata badai semalam telah menghancurkan salah satu minaret 😔.

Yang rusak ujung minaret sebelah kiri-belakang

Tempat kain warna ijo itu bekas minaret yang berjatuhan




Sebelum masuk ke Musoleum Taj Mahal kami diharuskan membungkus sepatu dengan sarung yang diberikan saat membeli tiket, agar tidak merusak marmer. Di dalam-nya bersemayam Mumtaz Mahal dan Shah Jahan, tapi terpendam jauh dibawah tanah untuk menghindari tangan-tangan jahil, kisahnya anda sudah tahu sendiri dong? saya ga perlu ngulang lagi kan?. Saya tambahin aja kalau sebenernya ada Taj Mahal satu lagi  warnanya hitam kelak untuk musoleum-nya Shah Jahan, tapi ga selesai keburu di protes sama anaknya Shah Jahan yakni Aurangzeb, kata dia buat apaan lagi? Boros-borosin anggaran negara en nyengsarai rakyat!, dan berakhir dengan Shah Jahan di penjarakan oleh anaknya sendiri Aurangzeb. Ya! pembangunan Taj Mahal ini konon menghabiskan biaya yang tidak sedikit dan tenaga yang besar, saya bilang ke guide “Shah Jahan ini mungkin suami yang baik tapi bukan Raja yang baik, dan Aurangzeb anak yang kurang ajar tapi dia adalah Raja yang baik, masa kejayaan ada di tangannya, iya kan?” Hussein menjawab “karena kamu sudah tahu banyak hal, jadi pekerjaan saya lebih mudah karena tidak perlu banyak-banyak menjelaskan” wkwk....


Sarung penutup sepatu

Musoleum dari dekat

Pintu belakang Musoleum

Sungai Yamuna - bagian belakang Taj Mahal

Pintu Samping

Taj Mahal ini konon adalah bangunan paling simetris dan presisi di dunia, karena penampakan Taj Mahal darsisi depan, samping, dan belakang sama persis. Bahkan untuk menyempurnakan simetris-nya dibuatlah masjid di sebelah kiri Taj Mahal sebagai penyeimbang Mehman Khan, yakni bangunan untuk beristirahat para peziarah di sebelah kanan yang sudah ada terlebih dahulu. Oiya, jangan lupa cek lagi cuaca saat anda akan kesini karena jangan sampai anda kesini pas ada badai asap atau musim dingin hingga kabut tebal menutup Taj Mahal, ada gitu yang kayak gini? Adaaa...ah sedih bener sudah jauh-jauh datang ga ngelihat apa-apa...




0 comments:

Post a Comment