Pukul 8 pagi kami sudah stand by di ruang tamu Haifa Houseboat padahal penerbangan masih jam 11 siang dan jarak antara Dal lake & Airport Srinagar kurang dari 1 jam, tapi saya sudah sounding ke teman-teman bahwa keluar Srinagar lebih ketat dan rumit daripada masuknya, nah lho apa coba?
Begini, kurang lebih satu kilometer sebelum Bandara, security
check point sudah menyambut kami
sepertinya oleh kepolisian atau tentara India, jadi koper-koper yang
masing-masing beratnya setengah berat badan saya ini, harus diturunin satu
persatu dibawa ke kantor security untuk diperiksa, tentunya porter-porter sudah ngeroyok kita
disini, ada aja yah yang bisa di duit-in?!, mobil masih menunggu kita disini
untuk meneruskan perjalanan ke bandara. Departure
Hall adalah security check yang
ke 2 oleh Air Indigo dan disini ticket di cek manual, iya manual! alias tulis
tangan! gempor-gempor deh tuh tangan abang Air Indigo. Ke-tiga, bukan security
check sih tapi mengisi formulir untuk foreigner
sama seperti waktu arrival, dengan petugas yang sama pula, dan
beliau masih inget kami! Halah rempong banget,
ke-empat baru deh check in counter.
Ke-lima masih security check, oleh Imigrasi sepertinya, untuk body check pintu
antrian dipisah antara laki-laki dan
perempuan, oiya ada satu kejadian tidak meng-enakkan disini. Teman saya yang
berada di antrian paling belakang dari kami, tetiba diminta buka-buka tas dan
dompet yang memang wajar seharusnya, tidak wajar-nya adalah dia meminta teman
saya untuk mengambilkan dan memberikan lembaran RM 100 yang berada di dompet,
alias dipalak sodara-sodara!!.
Jadi, hati-hati saja, coba simpan uang anda baik-baik di tempat-tempat
tersembunyi, dan tetap bergerombol dengan group
anda, sebisa mungkin jangan ada jeda terlalu jauh, saya yakin jika kita tetap
dalam group mereka akan segen. Kami
sebenernya juga menunggu teman saya ini, tapi karena jeda terlalu jauh
terpaksa-nya kami menunggu diluar area security
check. Nah, tapi untungnya kami menunggu di luar area security check, karena kalau tidak, saya tidak akan terlihat oleh
petugas Air Indigo, salah satu petugas yang mengenal saya dari kejauhan, dia
melambai-lambaikan tangan ke saya dengan panik, seperti menyuruh cepat-cepat
untuk masuk ke dalam, saya sendiri ngga ngerti maksudnya apa karena waktu masih
1 jam lagi sebelum keberangkatan. Saya bangkit dan dengan panik-nya pula menuju
ke arah boarding di stop petugas, dia cepat-cepat meminta saya dan hanya
saya saja (tau dari mana sih mereka ini kalo saya leader-nya??) untuk ke
apron bandara! He?! Apa?! apron?? Iya apron? Ngapain? Security check yang ke-6!.
Dengan panik saya berlari keluar bandara, disana bertebaran koper-koper untuk di
cek satu-satu oleh penumpang bersama dengan petugas Air Indigo, baru bisa dimasukkan ke
bagasi pesawat.
Saya mencari koper-koper dan tas-tas punggung milik teman-teman saya yang
tidak boleh di bawa ke kabin dari puluhan tas yang masih bertebaran 😟, iya...beberapa tas yang tidak lolos
kabin akan dikasi kunci plastik disposable yang
artinya harus masuk bagasi. Anda harus tahu ini, karena ponsel dan passport
harus anda ambil dulu, dan tas kudu dibongkar oleh petugas Air Indigo kalo sudah
terlanjur dikunci disposable sedangkan ponsel & passport masih di dalam. Repotnya lagi, kalo tas tetap anda bawa ke kabin
karena ketidaktahuan ini, ya kudu balik lagi ke counter check in untuk di check
in kan, yang cukup ribet prosesnya, karena tiket dan bagasi anda sudah confirmed
check in duluan! Adakah penumpang yang begini? Ada!.
Setelah melewati garbarata saya pikir sudah selesai, ternyata tepat di depan pintu masuk pesawat masih ada security check in yang ke-tujuh! Ya Allahhh...lelahhh...tentunya tas-tas yang dibawa ke kabin harus dibongkar-bongkar, dan body check dengan metal detector, laki-laki dan perempuan dipisah dengan tirai, baru kemudian check tiket. Hal ini benar-benar berbanding terbalik dengan di Jaipur, longgar bener security check-nya, iya sih kami yang perempuan di cek di bilik tapi petugasnya ngeraba pake metal detector sambil duduk dan baca koran wkwk...iyehh baca Koran!!!.
Setelah melewati garbarata saya pikir sudah selesai, ternyata tepat di depan pintu masuk pesawat masih ada security check in yang ke-tujuh! Ya Allahhh...lelahhh...tentunya tas-tas yang dibawa ke kabin harus dibongkar-bongkar, dan body check dengan metal detector, laki-laki dan perempuan dipisah dengan tirai, baru kemudian check tiket. Hal ini benar-benar berbanding terbalik dengan di Jaipur, longgar bener security check-nya, iya sih kami yang perempuan di cek di bilik tapi petugasnya ngeraba pake metal detector sambil duduk dan baca koran wkwk...iyehh baca Koran!!!.
Sampai di bandara Indira Gandhi, driver jemputan saya dari
Carrentaldelhi.com/Kalka Travel sudah menunggu, cuacanya sungguh sangat panas
sekira 35 derajat celcius!, dari sini kami dibawa ke kantor Kalka Travel untuk
pembayaran DP, yang awalnya minta untuk dibayar full di depan, tapi kemudian saya
tawar untuk dibayar setengah dulu. Oiya, Kalka Travel ini sangat details,
se-details menjelaskan bahwa 3 koper kami untuk mobil Innova harus di letakkan
di rooftop, mereka juga menjelaskan apa yang boleh dan tidak boleh di India dan
apa saja rules yang harus diikuti
selama di India, kesemuanya dalam video sepanjang 10 menit. Dari Delhi kami
langsung menuju Agra, saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, baru
berangkat tiba-tiba langit gelap dan angin kencang membawa pasir, kejadian
tersebut konstan selama 3 jam, dan makin mendekati Agra makin parah.
Dua jam
berikutnya angin makin kencang, petir menyambar, dan hujan dengan butiran-butiran
besar membuat situasi tambah mencekam, walaupun banyak
temennya, maksudnya banyak mobil di highway
yang akhirnya merapat ke tepi bersama-sama, karena goncangan yang cukup kencang,
Nek Raj-driver kami menelfon ke
kantor untuk mengabarkan situasi. Sampai Agra badai reda, tapi kota
porak-poranda pohon-pohon dan papan reklame berjatuhan, koper yang di atas
basah tentu saja (baru tau gunanya plastic cover koper!). Besoknya Agra cerah
seperti tidak terjadi apa-apa, usut punya usut ternyata di India terkadang
terjadi badai pasir karena peralihan musim, hal ini lolos dari perhatian saya,
sungguh saya tidak tahu kalo di India juga ada badai pasir, untungnya kami
masih di toll saat badai berlangsung yang jelas bersih dari pohon atau papan
reklame.
Kami tiba di Agra pukul 9 malam karena banyak berhenti, dan besok-nya
pagi-pagi sekali pukul 6 kami sudah berangkat Taj Mahal yang hanya berjarak 1
kilometer dari Hotel. Mumtaz Mahal adalah hotel pilihan saya di Agra, terkhusus
karena jaraknya yang cukup dekat dengan Taj Mahal, lainnya? Zero! Lantai kamar
kotor, AC tidak berfungsi dengan baik, entah kenapa breakfast di dalam kamar, tapi pelayanan lumayan-lah, 450ribu what do you expect? Tapi karena cuma
semalam ya kami tahan-tahanin berharap di Hotel selanjutnya lebih memuaskan.
Ada hotel lain yang lebih dekat dan lebih murah tapi saya tambah ngeri, lebih
dekat dan lebih murah adalah kombinasi yang mencurigakan buat saya, tapi tidak
ada salahnya anda mencoba hotel Taj Plaza, atau kalo mau total sekalian cobalah
hotel terkenal Oberoi! *janji habis browsing jangan nimpukin yakk!*. Trus
kenapa pula Hotelnya kudu yang deket-deket? Kasusnya sama dengan Gulmarg, kita
bersaing dengan 1 Milyar penduduk India! ketambahan turis-turis ngga jelas kek
kita gini, antriannya ga nahan banget sampai harus dibatasin 3 jam saja di Taj
Mahal, makanya saya pilih yang dekat dan pergi pagi-pagi, ini yang mengusulkan
si Raj, oiya kami dapat bonus guide
gratis di Taj Mahal, dan di Jaipur, tips excluded tentunya.
Perhatian! tas ransel, tripod, dan makanan dilarang dibawa masuk, tas
wanita dikecualikan, jadi tinggalkan barang-barang tersebut di Hotel, kalo anda
masuk dari pintu timur, loket tiket-nya berada di bangunan terpisah sekitar 500
meter dari pintu masuk sisi kanan jalan, dan memang lebih baik masuk dari pintu
ini, karena pintu barat antriannya lebih ngeri sebab warga lokal masuk melalui
pintu ini, dan pintu selatan agak spooky
dan crowded karena dekat pasar. Buka
tiap hari kecuali hari Jumat, tiket masuk Taj Mahal adalah sebesar INR 1000 atau
sekira Rp. 218.000 untuk foreigner,
dan INR 40 atau Rp. 8.700 untuk warga lokal, ini banyak foreigner yang protes karena jomplang banget bagai langit dan
sumur, tapi menurut saya wajar saja, logikanya foreigner bisa beli tiket pesawat masak ga bisa beli tiket Taj
Mahal??.
Hussein, guide kami mulai
melaksanakan tugasnya, gerbang masuk Taj Mahal adalah sebuah gerbang megah yang
disebut Darwaza-I-Rauza, terbuat dari
bata merah, pahatannya adalah kaligrafi surat Al-Fajr menandakan terbitnya matahari
dari sisi timur, di paling atasnya terdapat kubah-kubah kecil berjumlah 11 buah
menandakan 11 tahun pembuatannya, dan kanan kirinya dihiasi minaret. Dari sisi
sebaliknya yakni sisi yang sudah memasuki area taman Taj Mahal, memiliki detil
yang sama 11 buah kubah, artinya seluruh proses pembuatan terjadi selama 22
Tahun, oiya saat kesana salah satu sisi gerbang seperti sedang di renov, usut
punya usut ternyata badai semalam telah menghancurkan salah satu minaret 😔.
![]() |
| Jalan arah Taj Mahal |
![]() |
| Counter Tiket |
![]() |
| Yang rusak ujung minaret sebelah kiri-belakang |
![]() |
| Tempat kain warna ijo itu bekas minaret yang berjatuhan |
Sebelum masuk ke Musoleum Taj Mahal kami diharuskan membungkus sepatu dengan sarung yang diberikan saat membeli tiket, agar tidak merusak marmer. Di dalam-nya bersemayam Mumtaz Mahal dan Shah Jahan, tapi terpendam jauh dibawah tanah untuk menghindari tangan-tangan jahil, kisahnya anda sudah tahu sendiri dong? saya ga perlu ngulang lagi kan?. Saya tambahin aja kalau sebenernya ada Taj Mahal satu lagi warnanya hitam kelak untuk musoleum-nya Shah Jahan, tapi ga selesai keburu di protes sama anaknya Shah Jahan yakni Aurangzeb, kata dia buat apaan lagi? Boros-borosin anggaran negara en nyengsarai rakyat!, dan berakhir dengan Shah Jahan di penjarakan oleh anaknya sendiri Aurangzeb. Ya! pembangunan Taj Mahal ini konon menghabiskan biaya yang tidak sedikit dan tenaga yang besar, saya bilang ke guide “Shah Jahan ini mungkin suami yang baik tapi bukan Raja yang baik, dan Aurangzeb anak yang kurang ajar tapi dia adalah Raja yang baik, masa kejayaan ada di tangannya, iya kan?” Hussein menjawab “karena kamu sudah tahu banyak hal, jadi pekerjaan saya lebih mudah karena tidak perlu banyak-banyak menjelaskan” wkwk....
![]() |
| Sarung penutup sepatu |
![]() |
| Musoleum dari dekat |
![]() |
| Pintu belakang Musoleum |
![]() |
| Sungai Yamuna - bagian belakang Taj Mahal |
![]() |
| Pintu Samping |
Taj Mahal ini konon adalah bangunan paling simetris dan presisi di dunia,
karena penampakan Taj Mahal dari sisi depan, samping, dan belakang sama persis. Bahkan untuk menyempurnakan simetris-nya dibuatlah masjid di
sebelah kiri Taj Mahal sebagai penyeimbang Mehman Khan, yakni bangunan untuk
beristirahat para peziarah di sebelah kanan yang sudah ada terlebih dahulu.
Oiya, jangan lupa cek lagi cuaca saat anda akan kesini karena jangan sampai
anda kesini pas ada badai asap atau musim dingin hingga kabut tebal menutup Taj
Mahal, ada gitu yang kayak gini? Adaaa...ah sedih bener sudah jauh-jauh datang ga ngelihat
apa-apa...













0 comments:
Post a Comment