Sampai Jaipur waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam, kali ini kami menginap
di homestay, jadi kami bisa merasakan semua jenis akomodasi, Raj sempat
terheran-heran kami bisa menginap di rumah orang, saya menjelaskan bahwa hal
itu biasa dan hunian mereka sudah terdaftar. Ashiyana Homestay sudah
menghubungi saya selama saya di Fatehpur Sikri dan di sepanjang jalan menuju
Jaipur, Abdul dan Raj membantu kami menghubungi mereka karena saya hanya punya
paket data, mereka memastikan kedatangan saya dan kapan waktu saya akan tiba,
wajar saja karena kami adalah orang asing di rumah mereka.
Saya memandu Raj mencari
homestay dengan bantuan GPS, mobil salah belok jadi GPS kembali re-route yang mengarahkan kami ke gang
kecil, saya meminta untuk mengikuti GPS saja tetapi Raj agak ragu, saya minta
dia menelfon Ashiyana tapi Raj bersikukuh bahwa dia juga tidak tahu posisi dia
dimana? Hlah kan ada di peta?! Sedikit-sedikit dia mengeluh “Oh my God oh my
God” berulang-ulang yang bikin saya tambah senewen. Saya yakin Homestay ini
mudah dicari karena ada di daerah perumahan mewah dan tidak jauh dari jalan
utama, tentunya saya sudah research
sebelum memutuskan memilih akomodasi ini, bahkan sampai pada sejauh mana dia
dari Bandara. Sama-sama capek & ngantuk, jutek saya kumat lagi karena dia
mengeluh “Oh my God oh my God” berkali-kali, pikir saya tinggal nurut aja susah
amat sih! End up-nya saya bicara dengan nada tinggi ke dia.
Raj menyadari saya yang makin jutek, akhirnya dia masuk gang yang saya
kasih unjuk tadi, dan benar saja gang tersebut menuju ke arah jalan besar dan 5
menit kemudian kami sudah sampai di Ashiyana Homestay, dari tadi kek!!. Kami
disambut pemilik rumah langsung, sepasang suami istri dan asisten mereka, kami
menempati lantai 2 dari rumah yang keseluruhannya ada 3 lantai! Bahkan rumah
ini dilengkapi dengan elevator!. Lantai 1 adalah home industry yang mereka kelola yakni produksi kain, lantai 2
adalah homestay, dan lantai 3 adalah kediaman mereka, jadi privasi cukup
terjaga. Ashiyana Homestay sangat recommended,
karena dengan harga yang sangat murah, kami menempati seluruh lantai 2, persis
seperti di rumah sendiri. Isinya lengkap ada 3 kamar dimana 2 kamar kami sewa,
dapur dengan mineral water yang bisa kami minum sepuasnya, ruang tamu yang
sangat besar, dan ruang makan serta ruang TV lengkap dengan balkonnya yang
tidak kalah luasnya, bahkan kamar kami luas-nya ga kira-kira, persis seperti
yang anda tonton di tv-tv. Seperti langit dan sumur kalo kami bilang, jauh
berbeda dengan situasi yang kami hadapi sebelum-sebelumnya, tangan-tangan
mungil nan hitam yang menggeret baju kami, berjalan tanpa alas kaki dengan
pakaian yang tak layak, tidur tanpa alas dibawah terik matahari 35 derajat
celcius, sungguh ketimpangan sosial yang sangat dalam.
Esok paginya Raj sudah menjemput dan kami akan ditemani guide yang bagian
dari rental car complimentary alias
gratis, kami berjanji bahwa kali ini kami tidak akan mampir ke tempat-tempat
belanja yang ditunjuk oleh guide. Mahid mengantar kami ke Hawa Mahal yakni bangunan
jendela iconic sebanyak 953 buah untuk
Maharani dan putri-putri Raja dinasti Rajput agar mereka bisa melihat dunia
luar, karena putri-putri Raja tidak boleh keluar istana. Disini kami hanya menyempatkan foto di
depan Hawa Mahal secepat mungkin karena tidak bisa parkir lama-lama, tapi anda
bisa masuk dengan membeli tiket seharga INR 200, namun kebanyakan hanya berfoto
diluar sebab Hawa Mahal hanya berupa jendela-jendela saja. Setelahnya
kami beranjak ke City Palace yakni kediaman Maharaja Jaipur hingga saat ini, yang adalah cucunya cucunya cucunya cucunya
lagi Maharaja Maan Singh, iya ponakannya Jodha yang brondong di pelem itu
*ketahuan mbak blogger ikut Jodha Akbar penskleb.*
Jadi, Maharaja of Amer masih ada
hingga kini tapi hanya simbolis saja, foto keluarga kerajaan pun dipasang di depan halaman Istana ini,
tiket masuknya INR 500 hanya untuk Palace
courts & galeri/museum, tapi untuk
keseluruhan istana harga tiket-nya beda lagi, bisa di cek disini, dan konon tiket terusan dengan Hawa Mahal lebih murah,
coba ditanya di counter ticketing
Hawa Mahal. Kami sendiri memilih
tiket basic saja karena masih harus
nguber Amert Fort jadi saving waktu & tenaga, tour istana-nya apa saja? Hanya
museum-museum (yang tidak boleh difoto) dan hall-hall serta halaman-halaman
iconic istana saja, karena memang tidak bisa masuk ke dalam, ya karena bayarnya
cuma segitu, untuk masuk istana tiket terusannya sekitar 500rb! Hmmm...next
time kali yaa...
Selanjutnya kami menuju Amer Fort, sepanjang jalan Mahid tak
henti-henti-nya memaksa mampir ke kerajinan kain-lah, permata-lah, henna-lah,
dan terakhir toko souvenir (kenalan dia pastinya!) tapi saya kokoh tak
tergoyahkan, saya juga wanti-wanti ke Raj pokoknya kami mau belanja di pasar
entah Nehru Bazaar atau Bapu Bazaar. Oiya, perlu anda tahu sesama stakeholder tourism baik driver maupun
guide tidak saling mencampuri, jadi kalo Mahid maksa kami mampir di toko apa
gitu, si Raj diem aja ngikut aja kemana-mana, paling belakangan baru kasih tau
kalo disitu mahal, sama kek waktu kita dimampirin Abdul ke toko souvenir di
Fatehpur Sikri, Raj baru kasih tau kenapa beli disitu mahal lho! Kata dia, nah
di bales temen saya, nape situ baru kasih tau sekarang?? dan dia hanya terdiam, so driver only driver dia tidak akan mencampuri diluar tanggung jawab dia.
Raj ini menurut saya driver yang lihai, dia bisa mengendalikan mobil saat
situasi badai, dan reflek-nya sangat bagus, karena sudah puluhan kali kami hampir menabrak
pengendara yang menyeberang atau memotong jalan se-enaknya. Entah sudah berapa ratus kali dia meneriakkan "Pagal Ho!" "Crazy people!" kata dia sampe saya hafal, yahh…udah ga perlu saya ceritakan lagi-lah carut
marutnya jalanan India. Kepada driver saya selalu berpesan “Please drive carefully, not too slow not too
fast just medium, and do not push the horn to often,” Raj mematuhinya,
tidak seperti driver-driver saya di Srinagar, ugal-ugalan dan ampun berisiknya
klaksonnya. Dia orangnya juga luwes,
kadangkala santai, seringkali bercanda, sesekali lebay dengan Oh My God-Oh My God-nya itu, belakangan saya baru tahu kalo itu
cuma kebiasaan dia untuk semua hal, saya jadi nyesel udah nge-gas ke dia. Btw, sebagai leader memang saya
menghindari ber-akrab ria dengan stakeholder
tourism baik driver maupun guide, karena kalo ada apa-apa biar enak
complaint-nya wkwk...
Satu jam kemudian kami sampai di Amer Fort, benteng dan istana ini terletak
di perbukitan jauh dari pusat kota, bentuk bentengnya mirip dengan Great Wall
Tiongkok, jadi bisa anda bayangkan betapa luasnya istana ini, dari tempat
parkir pintu masuknya cukup jauh dan jalannya membingungkan, entah ada berapa
pintu masuk. Kalo tidak pake guide saya tidak yakin akan menemukan pintu masuk
dengan cepat, pasti sudah di laler-in guide-guide yang jual diri, tukang jualan,
peminta-minta, tukang foto, dan profesi-profesi sejenis, pokoknya mereka tidak akan membiarkan anda hidup dengan tenang. Tapi kalo udah ada guide lumayan ada yang bantu usir-usirin, sepertinya semua
tempat wisata di India sengaja di set rumit biar guide kepake, kalo kata temen saya “pemerataan pendapatan,” bener
juga sih ya secara 1 Milyar gitu loh. Entrance fee Amer Fort INR 200, sekilas bentuknya hampir sama dengan Agra
Fort, itulah sebabnya Agra Fort saya eliminasi. Rencananya saya mau naik gajah
India yang ukurannya raksasa itu disini tapi sayang sekali karena panas terik
jadi atraksi ini hanya beroperasi di pagi hari.
Amer Fort adalah kediaman Resmi Maharaja Rajput Maan Singh, artinya juga
merupakan tempat tinggal Jodha Bai sebelum menikah, sectionnya sama seperti
istana-istana yang lain, ada Audiensi Hall, Maharaja section, Maharani section,
dll. Yang menarik, istana ini terbagi menjadi 2, musim panas dan musim dingin,
istana musim panas berbentuk lorong-lorong yang dalamnya sangat sejuk, entah terbuat
dari apa konstruksi-nya di jaman itu yang masih belum maju. Mahid mengatakan,
disini tempat lokasi suting Jodha Akbar versi Film, dia menjelaskan setiap
section yang dipakai untuk pengambilan gambar, (jadi mau nulis blog apa napak
tilas Jodha Akbar?!). Istana ini sangat Iconic, beberapa artefak masih terjaga
dengan baik...dan...biarlah foto yang berbicara...(blogger males).
Dalam perjalanan arah pulang, kami mampir ke Jal Mahal atau Istana air,
dalam arti yang sebenarnya, karena istana tersebut benar-benar tenggelam di
dalam Danau Man Sagar, awalnya istana ini tidak tenggelam, tapi seiring
perluasan Danau istana tersebut ikut tenggelam, jadi kami hanya mengabadikannya
lewat foto dari pinggir danau. Sepanjang jalan Mahid masih tak henti-henti-nya
membujuk untuk berhenti di toko yang dia pilih gigih sekali, semua orang
India sangat gigih, dan saya masih
kokoh dengan penolakan saya, dia tampak bete, tapi kami tidak perduli “no one can control my trips!” *dalam
hati*, untuk memenangkan
dominasi kami harus tidak
kalah ngeyel & gigih. Saya ingat kata teman saya di group, dia bilang bukan orang India yang
licik atau ngeyel, tapi kita-nya-lah yang harus tidak kalah licik, tidak kalah
ngeyel, tidak kalah pintar, dan tidak kalah galak (jadi ngerti kan kenapa saya
jutek dan nge-gas mulu? Wkwk).
Destinasi terakhir kami adalah Bapu Bazaar, barangnya bagus-bagus
dan harga-nya pun sangat murah,
lokasi-nya dekat dengan Hawa Mahal, tapi cukup jauh dari tempat parkir, tidak
masalah anda bisa gunakan GPS
dari tempat parkir, inget ya driver
bukan guide jadi tidak bisa disuruh-suruh
selain nyetir!. Sepanjang jalan selama
di India kami melihat
binatang-binatang yang hanya bisa kita temui di kebun binatang disini, mulai
dari Gajah, Onta, sampai Monyet, jadi apakah India kotor dan jorok? Pasti! Kotoran sapi bahkan berserakan
di trotoar pinggir toko-toko. Pesing? Otomatis! sepanjang trotoar anda akan mencium bau pipis manusia, jadi siapkan masker ๐, eh tapi
jangan salah dibalik kekumelan-nya, Jaipur sudah punya yang namanya Monorail!
Kalah Jakarta!. Untuk urusan toilet
usahakan ke toilet berbayar kalo di toilet umum, atau numpang pas di restaurant
atau mall, saya ketemu ranjau darat sekali, langsung ga jadi pipis, ini gegara
Mahid yang nyuruh ke toilet yang gratis, padahal kami sudah mau masuk ke toilet
berbayar.
PR saya satu lagi adalah menitipkan Modem wifi dan meminta bantuan Homestay
untuk memesankan mobil untuk ke bandara esok pagi, agak segen karena mereka owner rumah bukan
pegawai kek di Hotel.
Terpaksalah saya beranikan diri bertamu ke rumah mereka di lantai 3, respond
mereka diluar dugaan, dengan senang hati mereka membantu, memesankan mobil
jemputan, bersedia dititipin modem wifi, mengajak berkeliling rumah, bahkan
mengantarkan kami kedepan rumah sampai kami berangkat ke Airport, well hanya
kepada pasangan suami istri Ashiyana inilah saya lumayan ramah ๐
Jadi, apakah India aman? Buat
saya sih aman asalll…hati-hati, saya selalu bilang “use your common sense” bahkan kalo instinct anda bilang tidak jadi ke India karena merasa tidak yakin maka segera batalkan ticket anda. Waspada perlu tapi tidak harus bawaannya
curiga melulu, banyak yang baik juga dan ngebantu banget. Trus, berpakaianlah
yang sopan jangan memakai celana pendek, padahal sehari-hari kaum wanita India
selalu memakai Saree yang pinggang dan punggungnya terbuka itu, tapi entah
kenapa mereka lebih tertarik dengan paha!. Warna pakaian yang mereka pilih
lumayan ngejreng-ngejreng, merah merona, kuning kelinting, pink menyala, banyak
saltumnya kalo menurut saya, terbang ke KL dari Jaipur dengan Saree dan heels
itu sungguh embuh! (padahal ngiri aja kitah secara yang make Saree mbak-mbak byutiful mirip-mirip Katrina kaif xixi...).
![]() |
| Foto colongan, kenapa ga langsung foto depannya?? ogah harganya nge-getok! |
Saya mengakui bahwa traveling ke
India tidaklah mudah, perlu banyak persiapan, bahkan kita dituntut untuk berpikir
dengan cepat mengatasi masalah yang mungkin sering terjadi selama disana. Capek sih engga ya karena dimana-mana sudah ada jemputan, jadi yang biasanya 6 koyo sudah nempel di kaki saya plus balsam, ini saya tidak perlu sama sekali, tapi lebih ke yang bikin pikiran spaneng. Kata temen saya baru kali ini saya pulang dari plesir kelihatan kurus, item, & kucel kek habis perang๐, tidak
bermaksud menakut-nakuti sih tapi juga tidak ingin memaksa bahwa anda harus ke
India. Kata orang, respon anda akan ada 2
setelah ke India, antara anda akan benci banget atau anda akan tambah suka
dengan India, saya? Bukan sok-sok an sih, tapi iya saya yang ke-2. India dengan segala keunikan dan carut marut-nya, kontras & penuh drama, telah
menggeser posisi Jepang dalam pandangan saya, engga kapok untuk kembali lagi
kesini dengan destinasi berbeda. Bagi saya kepuasan bisa jelajah India susah untuk diungkapkan dengan
kata-kata. Singkatnya, setelah menaklukkan destinasi ini, serasa habis wisuda dengan gelar Sarjana Traveling! (((Sarjana Traveling))) ๐๐๐, yukk ah...ada yang mau ikut ke Varanasi & Dharamsala??






























0 comments:
Post a Comment