Friday, June 8, 2018

India & Kashmir “A Hardcore Trips!” Part 8 (Jaipur-End)


Sampai Jaipur waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam, kali ini kami menginap di homestay, jadi kami bisa merasakan semua jenis akomodasi, Raj sempat terheran-heran kami bisa menginap di rumah orang, saya menjelaskan bahwa hal itu biasa dan hunian mereka sudah terdaftar. Ashiyana Homestay sudah menghubungi saya selama saya di Fatehpur Sikri dan di sepanjang jalan menuju Jaipur, Abdul dan Raj membantu kami menghubungi mereka karena saya hanya punya paket data, mereka memastikan kedatangan saya dan kapan waktu saya akan tiba, wajar saja karena kami adalah orang asing di rumah mereka. 

Saya memandu Raj mencari homestay dengan bantuan GPS, mobil salah belok jadi GPS kembali re-route yang mengarahkan kami ke gang kecil, saya meminta untuk mengikuti GPS saja tetapi Raj agak ragu, saya minta dia menelfon Ashiyana tapi Raj bersikukuh bahwa dia juga tidak tahu posisi dia dimana? Hlah kan ada di peta?! Sedikit-sedikit dia mengeluh “Oh my God oh my God” berulang-ulang yang bikin saya tambah senewen. Saya yakin Homestay ini mudah dicari karena ada di daerah perumahan mewah dan tidak jauh dari jalan utama, tentunya saya sudah research sebelum memutuskan memilih akomodasi ini, bahkan sampai pada sejauh mana dia dari Bandara. Sama-sama capek & ngantuk, jutek saya kumat lagi karena dia mengeluh “Oh my God oh my God” berkali-kali, pikir saya tinggal nurut aja susah amat sih! End up-nya saya bicara dengan nada tinggi ke dia.

Raj menyadari saya yang makin jutek, akhirnya dia masuk gang yang saya kasih unjuk tadi, dan benar saja gang tersebut menuju ke arah jalan besar dan 5 menit kemudian kami sudah sampai di Ashiyana Homestay, dari tadi kek!!. Kami disambut pemilik rumah langsung, sepasang suami istri dan asisten mereka, kami menempati lantai 2 dari rumah yang keseluruhannya ada 3 lantai! Bahkan rumah ini dilengkapi dengan elevator!. Lantai 1 adalah home industry yang mereka kelola yakni produksi kain, lantai 2 adalah homestay, dan lantai 3 adalah kediaman mereka, jadi privasi cukup terjaga. Ashiyana Homestay sangat recommended, karena dengan harga yang sangat murah, kami menempati seluruh lantai 2, persis seperti di rumah sendiri. Isinya lengkap ada 3 kamar dimana 2 kamar kami sewa, dapur dengan mineral water yang bisa kami minum sepuasnya, ruang tamu yang sangat besar, dan ruang makan serta ruang TV lengkap dengan balkonnya yang tidak kalah luasnya, bahkan kamar kami luas-nya ga kira-kira, persis seperti yang anda tonton di tv-tv. Seperti langit dan sumur kalo kami bilang, jauh berbeda dengan situasi yang kami hadapi sebelum-sebelumnya, tangan-tangan mungil nan hitam yang menggeret baju kami, berjalan tanpa alas kaki dengan pakaian yang tak layak, tidur tanpa alas dibawah terik matahari 35 derajat celcius, sungguh ketimpangan sosial yang sangat dalam.

Esok paginya Raj sudah menjemput dan kami akan ditemani guide yang bagian dari rental car complimentary alias gratis, kami berjanji bahwa kali ini kami tidak akan mampir ke tempat-tempat belanja yang ditunjuk oleh guide. Mahid mengantar kami ke Hawa Mahal yakni bangunan jendela iconic sebanyak 953 buah untuk Maharani dan putri-putri Raja dinasti Rajput agar mereka bisa melihat dunia luar, karena putri-putri Raja tidak boleh keluar istana. Disini kami hanya menyempatkan foto di depan Hawa Mahal secepat mungkin karena tidak bisa parkir lama-lama, tapi anda bisa masuk dengan membeli tiket seharga INR 200, namun kebanyakan hanya berfoto diluar sebab Hawa Mahal hanya berupa jendela-jendela saja. Setelahnya kami beranjak ke City Palace yakni kediaman Maharaja Jaipur hingga saat iniyang adalah cucunya cucunya cucunya cucunya lagi Maharaja Maan Singh, iya ponakannya Jodha yang brondong di pelem itu *ketahuan mbak blogger ikut Jodha Akbar penskleb.*





Jadi, Maharaja of Amer masih ada hingga kini tapi hanya simbolis saja, foto keluarga kerajaan pun dipasang di depan halaman Istana ini, tiket masuknya INR 500 hanya untuk Palace courts & galeri/museum, tapi untuk keseluruhan istana harga tiket-nya beda lagi, bisa di cek disini, dan konon tiket terusan dengan Hawa Mahal lebih murah, coba ditanya di counter ticketing Hawa Mahal. Kami sendiri memilih tiket basic saja karena masih harus nguber Amert Fort jadi saving waktu & tenaga, tour istana-nya apa saja? Hanya museum-museum (yang tidak boleh difoto) dan hall-hall serta halaman-halaman iconic istana saja, karena memang tidak bisa masuk ke dalam, ya karena bayarnya cuma segitu, untuk masuk istana tiket terusannya sekitar 500rb! Hmmm...next time kali yaa...











Selanjutnya kami menuju Amer Fort, sepanjang jalan Mahid tak henti-henti-nya memaksa mampir ke kerajinan kain-lah, permata-lah, henna-lah, dan terakhir toko souvenir (kenalan dia pastinya!) tapi saya kokoh tak tergoyahkan, saya juga wanti-wanti ke Raj pokoknya kami mau belanja di pasar entah Nehru Bazaar atau Bapu Bazaar. Oiya, perlu anda tahu sesama stakeholder tourism baik driver maupun guide tidak saling mencampuri, jadi kalo Mahid maksa kami mampir di toko apa gitu, si Raj diem aja ngikut aja kemana-mana, paling belakangan baru kasih tau kalo disitu mahal, sama kek waktu kita dimampirin Abdul ke toko souvenir di Fatehpur Sikri, Raj baru kasih tau kenapa beli disitu mahal lho! Kata dia, nah di bales temen saya, nape situ baru kasih tau sekarang?? dan dia hanya terdiam, so driver only driver dia tidak akan mencampuri diluar tanggung jawab dia.

Raj ini menurut saya driver yang lihai, dia bisa mengendalikan mobil saat situasi badai, dan reflek-nya sangat bagus, karena sudah puluhan kali kami hampir menabrak pengendara yang menyeberang atau memotong jalan se-enaknya. Entah sudah berapa ratus kali dia meneriakkan "Pagal Ho!" "Crazy people!" kata dia sampe saya hafal, yahhudah ga perlu saya ceritakan lagi-lah carut marutnya jalanan India. Kepada driver saya selalu berpesan “Please drive carefully, not too slow not too fast just medium, and do not push the horn to often,” Raj mematuhinya, tidak seperti driver-driver saya di Srinagar, ugal-ugalan dan ampun berisiknya klaksonnya. Dia orangnya juga luwes, kadangkala santai, seringkali bercanda, sesekali lebay dengan Oh My God-Oh My God-nya itu, belakangan saya baru tahu kalo itu cuma kebiasaan dia untuk semua hal, saya jadi nyesel udah nge-gas ke dia. Btw, sebagai leader memang saya menghindari ber-akrab ria dengan stakeholder tourism baik driver maupun guide, karena kalo ada apa-apa biar enak complaint-nya wkwk...

Satu jam kemudian kami sampai di Amer Fort, benteng dan istana ini terletak di perbukitan jauh dari pusat kota, bentuk bentengnya mirip dengan Great Wall Tiongkok, jadi bisa anda bayangkan betapa luasnya istana ini, dari tempat parkir pintu masuknya cukup jauh dan jalannya membingungkan, entah ada berapa pintu masuk. Kalo tidak pake guide saya tidak yakin akan menemukan pintu masuk dengan cepat, pasti sudah di laler-in guide-guide yang jual diri, tukang jualan, peminta-minta, tukang foto, dan profesi-profesi sejenis, pokoknya mereka tidak akan membiarkan anda hidup dengan tenang. Tapi kalo udah ada guide lumayan ada yang bantu usir-usirin, sepertinya semua tempat wisata di India sengaja di set rumit biar guide kepake, kalo kata temen saya “pemerataan pendapatan,” bener juga sih ya secara 1 Milyar gitu loh. Entrance fee Amer Fort INR 200, sekilas bentuknya hampir sama dengan Agra Fort, itulah sebabnya Agra Fort saya eliminasi. Rencananya saya mau naik gajah India yang ukurannya raksasa itu disini tapi sayang sekali karena panas terik jadi atraksi ini hanya beroperasi di pagi hari.

Amer Fort adalah kediaman Resmi Maharaja Rajput Maan Singh, artinya juga merupakan tempat tinggal Jodha Bai sebelum menikah, sectionnya sama seperti istana-istana yang lain, ada Audiensi Hall, Maharaja section, Maharani section, dll. Yang menarik, istana ini terbagi menjadi 2, musim panas dan musim dingin, istana musim panas berbentuk lorong-lorong yang dalamnya sangat sejuk, entah terbuat dari apa konstruksi-nya di jaman itu yang masih belum maju. Mahid mengatakan, disini tempat lokasi suting Jodha Akbar versi Film, dia menjelaskan setiap section yang dipakai untuk pengambilan gambar, (jadi mau nulis blog apa napak tilas Jodha Akbar?!). Istana ini sangat Iconic, beberapa artefak masih terjaga dengan baik...dan...biarlah foto yang berbicara...(blogger males).















Dalam perjalanan arah pulang, kami mampir ke Jal Mahal atau Istana air, dalam arti yang sebenarnya, karena istana tersebut benar-benar tenggelam di dalam Danau Man Sagar, awalnya istana ini tidak tenggelam, tapi seiring perluasan Danau istana tersebut ikut tenggelam, jadi kami hanya mengabadikannya lewat foto dari pinggir danau. Sepanjang jalan Mahid masih tak henti-henti-nya membujuk untuk berhenti di toko yang dia pilih gigih sekali, semua orang India sangat gigih, dan saya masih kokoh dengan penolakan saya, dia tampak bete, tapi kami tidak perdulino one can control my trips!” *dalam hati*, untuk memenangkan dominasi kami harus tidak kalah ngeyel & gigih. Saya ingat kata teman saya di group, dia bilang bukan orang India yang licik atau ngeyel, tapi kita-nya-lah yang harus tidak kalah licik, tidak kalah ngeyel, tidak kalah pintar, dan tidak kalah galak (jadi ngerti kan kenapa saya jutek dan nge-gas mulu? Wkwk).




Destinasi terakhir kami adalah Bapu Bazaar, barangnya bagus-bagus dan harga-nya pun sangat murah, lokasi-nya dekat dengan Hawa Mahal, tapi cukup jauh dari tempat parkir, tidak masalah anda bisa gunakan GPS dari tempat parkir, inget ya driver bukan guide jadi tidak bisa disuruh-suruh selain nyetir!. Sepanjang jalan selama di India kami melihat binatang-binatang yang hanya bisa kita temui di kebun binatang disini, mulai dari Gajah, Onta, sampai Monyet, jadi apakah India kotor dan jorok? Pasti! Kotoran sapi bahkan berserakan di trotoar pinggir toko-toko. Pesing? Otomatis! sepanjang trotoar anda akan mencium bau pipis manusia, jadi siapkan masker ๐Ÿ˜, eh tapi jangan salah dibalik kekumelan-nya, Jaipur sudah punya yang namanya Monorail! Kalah Jakarta!. Untuk urusan toilet usahakan ke toilet berbayar kalo di toilet umum, atau numpang pas di restaurant atau mall, saya ketemu ranjau darat sekali, langsung ga jadi pipis, ini gegara Mahid yang nyuruh ke toilet yang gratis, padahal kami sudah mau masuk ke toilet berbayar.

PR saya satu lagi adalah menitipkan Modem wifi dan meminta bantuan Homestay untuk memesankan mobil untuk ke bandara esok pagi, agak segen karena mereka owner rumah bukan pegawai kek di Hotel. Terpaksalah saya beranikan diri bertamu ke rumah mereka di lantai 3, respond mereka diluar dugaan, dengan senang hati mereka membantu, memesankan mobil jemputan, bersedia dititipin modem wifi, mengajak berkeliling rumah, bahkan mengantarkan kami kedepan rumah sampai kami berangkat ke Airport, well hanya kepada pasangan suami istri Ashiyana inilah saya lumayan ramah ๐Ÿ˜

Jadi, apakah India aman? Buat saya sih aman asalll…hati-hati, saya selalu bilang “use your common sense” bahkan kalo instinct anda bilang tidak jadi ke India karena merasa tidak yakin maka segera batalkan ticket anda. Waspada perlu tapi tidak harus bawaannya curiga melulu, banyak yang baik juga dan ngebantu banget. Trus, berpakaianlah yang sopan jangan memakai celana pendek, padahal sehari-hari kaum wanita India selalu memakai Saree yang pinggang dan punggungnya terbuka itu, tapi entah kenapa mereka lebih tertarik dengan paha!. Warna pakaian yang mereka pilih lumayan ngejreng-ngejreng, merah merona, kuning kelinting, pink menyala, banyak saltumnya kalo menurut saya, terbang ke KL dari Jaipur dengan Saree dan heels itu sungguh embuh! (padahal ngiri aja kitah secara yang make Saree mbak-mbak byutiful mirip-mirip Katrina kaif xixi...).

Foto colongan, kenapa ga langsung foto depannya??
ogah harganya nge-getok!
Kata Raj ini rombongan pengantin yang tajir melintir ๐Ÿ˜ฎ
Saya mengakui bahwa traveling ke India tidaklah mudah, perlu banyak persiapan, bahkan kita dituntut untuk berpikir dengan cepat mengatasi masalah yang mungkin sering terjadi selama disana. Capek sih engga ya karena dimana-mana sudah ada jemputan, jadi yang biasanya 6 koyo sudah nempel di kaki saya plus balsam, ini saya tidak perlu sama sekali, tapi lebih ke yang bikin pikiran spaneng. Kata temen saya baru kali ini saya pulang dari plesir kelihatan kurus, item, & kucel kek habis perang๐Ÿ˜, tidak bermaksud menakut-nakuti sih tapi juga tidak ingin memaksa bahwa anda harus ke India. Kata orang, respon anda akan ada 2 setelah ke India, antara anda akan benci banget atau anda akan tambah suka dengan India, saya? Bukan sok-sok an sih, tapi iya saya yang ke-2. India dengan segala keunikan dan carut marut-nya, kontras & penuh drama, telah menggeser posisi Jepang dalam pandangan saya, engga kapok untuk kembali lagi kesini dengan destinasi berbeda. Bagi saya kepuasan bisa jelajah India susah untuk diungkapkan dengan kata-kata. Singkatnya,  setelah menaklukkan destinasi ini, serasa habis wisuda dengan gelar Sarjana Traveling! (((Sarjana Traveling))) ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚, yukk ah...ada yang mau ikut ke Varanasi & Dharamsala??

0 comments:

Post a Comment