Friday, June 8, 2018

India & Kashmir “A Hardcore Trips!” Part 7 (Fatehpur Sikri)


Dari Taj Mahal kami langsung ke Fatehpur Sikri sekitar 40km dari Agra, sebenernya masih ada destinasi lain yang menarik yakni Istana Agra Fort, tempat tinggal raja-raja Mughal, tapi saya eliminasi karena waktu yang tidak cukup dan saya lebih prefer ke Fatehpur Sikri yang menurut saya lebih menarik, terkhusus karena disini tempat tinggal resmi dan hanya satu-satunya yakni Raja Akbar.

Sebelum ke Fatehpur Sikri, Hussein ikut ke mobil bersama kami katanya akan mengantarkan tempat kerajinan marbel, saya ikutin saja. Ternyata dia membawa kami tidak cuma tempat kerajinan marbel tapi tempat jualan-nya juga...yaelahh ini mah kita disasari ke tempat jualan yang tentunya tidak murah dan guide pastilah dapat komisi, oiya marbel ini adalah bahan bangunan yang dipakai untuk membangun Taj Mahal, menurut mereka ini adalah marbel asli yang tidak akan berubah warna...iya-in aja dah!

Fatehpur Sikri merupakan kota di atas perbukitan yang dibangun oleh Raja Akbar, tau dong siapa? Iya itu loh pelem Jodha Akbar, dan sekaligus merupakan mbah-nya Shah Jahan, owh syuting-nya ya?? saya tau anda pasti bertanya-tanya, dimana tempat syuting Jodha Akbar? Engga bukan di Fatehpur tapi di Agra Fort untuk versi serial dan di Amer Fort untuk versi Film-nya. Kami perlu waktu 2 jam lamanya untuk touring Fatehpur Sikri karena luas-nya ngga kira-kira, sebelumnya Raj mengusulkan untuk kami menyewa Guide, karena menurutnya jalan ke arah Fatehpur Sikri sangat jauh dan rumit dari tempat parkir. Saya juga sempat membaca dan menonton di salah satu acara TV Fatehpur Sikri memang luas dan jauh jadi memerlukan guide . Untuk itu saya menyetujui dan agak lumayan mahal sih INR 600 sudah include tips, tiket masuknya juga naik per Februari 2018 yakni INR 510 dan shuttle bus PP INR 20, ditambah fee jagain sepatu INR 10, he? Apapula jagain sepatu?! Pokoknya pas saya datang semua naik deh baik tiket-tiket-an maupun Visa!

Halaman depan Sikri
Abdul guide kami menjemput kami di parkir mobil, Fatehpur Sikri merupakan nama dari 2 tempat yang berbeda dijadikan satu, Fatehpur & Sikri, kita mulai dulu dari Sikri bagian awal atau daerah terbawah dari kota yakni istana Raja Akbar, untuk menuju tempat ini kita berjalan kaki kurang lebih 15 menit ke shuttle bus. Jangan harap shuttle bus-nya keceh kek Trans Jakarta, shuttle bus-nya kek Kopaja aja hanya warna-nya putih, untuk menuju shuttle bus saja tidak ada petunjuk arah jadi saya tidak yakin anda bisa nemu tanpa bertanya, seandainya-pun bertanya alih-alih menjawab mereka akan menawarkan guide!. Lima belas menit kemudian kami sampai di Sikri, awalnya Raja Akbar tinggal di Agra Fort, tapi untuk menghormati jasa Syekh Salim Kristi karena berkat-nyalah Raja akhirnya dikaruniai keturunan, maka Raja memindahkan pusat kerajaan berdekatan dengan kediaman Syekh Salim Kristi guru spiritualnya. Isi-nya Sikri ya seperti istana-istana lain ada hall audiensi, kediaman raja dan ratu-ratunya, hall pertunjukan, dll...saya tidak perlu cerita banyak anda pasti bosan, pun  anda bisa membacanya sendiri di oum google, tapi yang paling menarik buat saya adalah Hall audiensi atau Diwan-I-Khas, hall-nya kecil banget trus raja ada dimana dong? ternyata raja duduk di atas. Jadi atas Diwan-I-Khas dibentuk seperti jembatan menyilang, mentri-mentri duduk di jembatan, dan Raja duduk di tengah.


Diwan-I-Khas


Dalemnya Diwan-I-Khas, Raja duduk tepat di tengah 


Bangunan lain yang tak kalah menarik adalah kediaman Ratu Ruqaya, yang mungilll banget, sama kamar saya gedean dikit bahkan sama dapurnya Ratu Jodha gedean dapur-nya Ratu Jodha, tapiii tempatnya paling depan dekat dengan kediaman Raja dan...dindingnya penuh dengan permata karena memang glamour. Saking glamour-nya semua perabotan kamarnya tidak ada yang ecek-ecek, semua logam mulia ada, kalo malam kamarnya bersinar gemerlap karena cahaya permata memantul terkena cahaya lilin, bahkan bekas lubang-lubang permata yang ditempel di dindingnya masih ada. Oiya menyinggung dapur Ratu Jodha, dapurnya ini terpisah dari yang lain karena murni vegetarian, dan istana-nya besar terletak paling belakang, Abdul guide kami muslim tapi muslim India kebanyakan tidak mengkonsumsi daging sapi untuk menghormati larangan Hindu.


Anup Talao : tempat pertunjukan musik
Dapur Jodha Bai, bangunan di sebelah kiri dan istana-nya adalah
gerbang yang terdapat kuncup stupa tepat di depannya...
Dalam-nya kediaman Jodha Bai
*mangaap lupa motoin kamar Ruqaya Begum 
Tempat berikutnya adalah Fatehpur, tempat ini sebenernya adalah kediaman Syekh Salim Kristi yang kemudian di buat menjadi Dargah atau tempat ziarah setelah beliau meninggal, nah disinilah kami harus menitipkan sepatu. Panas-panas dengan suhu 35 derajat celcius hanya beralaskan kaos kaki, bayangan saya Fatehpur sejuk dan bersih kinclong, nyatanya saat kami masuk, kami cuma bisa melongo saja. Fatehpur adalah area yang tengahnya terbuka seperti lapangan yang tanahnya bata merah, pinggir sekelilingnya adalah selasar, sebelah kanan adalah bangunan putih dari marmer makam Syekh Salim Kristi yang sekelilingnya nisan-nisan makam keluarganya, paling ujung adalah Jama’Masjid. Tidak mengapa jika bersih dan rapi, tapi Fatehpur ini kotor sekali, burung dara dimana-mana, segala kambing dan kotorannya berceceran, pengunjung makan tidur di sembarang tempat, tukang jualan berserakan, iya sih pada ga pake sepatu juga, trus point-nya apa coba ga boleh pake alas kaki!?. Di sini Abdul menawarkan kami untuk ziarah ke makam, kami awalnya meng-iya-kan tapi karena harus membeli kain, bunga, dan benang yang diikat di kisi-kisi jendela yang berbentuk oktagon (yang pernah nonton film India pasti bisa membayangkan, iya kan?), saya mengurungkan niat (takut syirik).

Fatehpur


Masjid Jama'

Makam Syekh Salim Kristi

Buland Dharwaza
Kami kemudian keluar ke arah gerbang utama atau disebut Buland Dharwaza, Abdul bertanya kepada saya, “gimana apakah tour-nya OK?” saya menjawab “Sikri Ok, tapi Fatehpur sayang sekali tidak bersih” “sebenernya Fatehpur jauh lebih indah daripada Sikri, apalagi Buland Dharwaza indah sekali, tapi disana semua orang makan tidur seenaknya, seperti ga ada aturan, sorry to say,” dia merespond “Iya karena Fatehpur masuk gratis, sedangkan Sikri masuk harus bayar, makanya banyak warga lokal di Fatehpur, anda tau kan Mam orang India? Mereka-mereka ini tidak punya cukup uang untuk piknik,” tetiba hati saya langsung mencelos, dan saya menyesal telah me-respond seperti itu.

Disemua tempat wisata, di setiap jalan kami tidak henti-hentinya dirubung anak-anak peminta-minta dan tukang jualan, apa boleh buat mereka tidak kami hiraukan karena sekali kita memberi atau membeli ke satu orang, maka yang lain akan merubungi kami tidak ada habisnya. Dan cara mereka meminta sudah tidak wajar lagi, seringnya menggeret-geret baju kami bahkan suatu kali merebut makanan yang kami bawa. Wal hasil saya dan temen saya geret-geretan sama mereka, saya tidak berani melepas sampai kami sudah dekat dengan mobil, begitu mobil sudah di depan mata, saya lepas bungkusan makanan kami dan segera berlari ke mobil, karena kalo tidak yang lain berdatangan gantian mengerubungi kami, dan sekarang saya tahu kenapa setiap restoran dijaga oleh Satpam bahkan sekelas KFC!.

0 comments:

Post a Comment