Dari Taj Mahal kami langsung ke Fatehpur Sikri sekitar 40km dari Agra,
sebenernya masih ada destinasi lain yang menarik yakni Istana Agra Fort, tempat
tinggal raja-raja Mughal, tapi saya eliminasi karena waktu yang tidak cukup dan
saya lebih prefer ke Fatehpur Sikri
yang menurut saya lebih menarik, terkhusus karena disini tempat tinggal resmi
dan hanya satu-satunya yakni Raja Akbar.
Sebelum ke Fatehpur Sikri, Hussein ikut ke mobil bersama kami katanya akan
mengantarkan tempat kerajinan marbel, saya ikutin saja. Ternyata dia membawa
kami tidak cuma tempat kerajinan marbel tapi tempat jualan-nya juga...yaelahh ini mah kita disasari ke tempat jualan yang tentunya tidak
murah dan guide pastilah dapat komisi, oiya marbel ini adalah bahan bangunan
yang dipakai untuk membangun Taj Mahal, menurut mereka ini adalah marbel asli
yang tidak akan berubah warna...iya-in aja dah!
Fatehpur Sikri merupakan kota di atas perbukitan yang dibangun oleh Raja
Akbar, tau dong siapa? Iya itu loh pelem Jodha Akbar, dan sekaligus merupakan mbah-nya
Shah Jahan, owh syuting-nya ya?? saya tau anda pasti bertanya-tanya, dimana
tempat syuting Jodha Akbar? Engga bukan di Fatehpur tapi di Agra Fort untuk
versi serial dan di Amer Fort untuk versi Film-nya. Kami perlu waktu 2 jam
lamanya untuk touring Fatehpur Sikri karena luas-nya ngga kira-kira, sebelumnya
Raj mengusulkan untuk kami menyewa Guide,
karena menurutnya jalan ke arah Fatehpur Sikri sangat jauh dan rumit dari
tempat parkir. Saya juga sempat membaca dan menonton di salah satu acara TV
Fatehpur Sikri memang luas dan jauh jadi memerlukan guide . Untuk itu saya
menyetujui dan agak lumayan mahal sih INR 600 sudah include tips, tiket masuknya juga naik per Februari 2018 yakni INR
510 dan shuttle bus PP INR 20,
ditambah fee jagain sepatu INR 10, he? Apapula jagain sepatu?! Pokoknya pas
saya datang semua naik deh baik tiket-tiket-an maupun Visa!
 |
| Halaman depan Sikri |
Abdul guide kami menjemput kami di parkir mobil, Fatehpur Sikri merupakan
nama dari 2 tempat yang berbeda
dijadikan satu, Fatehpur & Sikri, kita mulai dulu dari Sikri bagian
awal atau daerah terbawah dari kota yakni istana Raja Akbar, untuk menuju
tempat ini kita berjalan kaki kurang lebih 15 menit ke shuttle bus. Jangan
harap
shuttle bus-nya keceh kek
Trans Jakarta, shuttle bus-nya kek Kopaja aja hanya warna-nya putih, untuk
menuju shuttle bus saja tidak ada petunjuk arah jadi saya tidak yakin anda bisa
nemu tanpa bertanya, seandainya-pun bertanya alih-alih menjawab mereka akan
menawarkan guide!. Lima belas menit kemudian kami sampai di Sikri, awalnya Raja
Akbar tinggal di Agra Fort, tapi untuk menghormati jasa Syekh Salim
Kristi karena berkat-nyalah Raja akhirnya dikaruniai keturunan, maka Raja
memindahkan pusat kerajaan berdekatan dengan kediaman Syekh Salim Kristi guru
spiritualnya. Isi-nya Sikri ya seperti istana-istana lain ada hall audiensi,
kediaman raja dan ratu-ratunya, hall pertunjukan, dll...saya tidak perlu cerita
banyak anda pasti bosan, pun anda bisa
membacanya sendiri di oum google, tapi yang paling menarik buat saya adalah Hall
audiensi atau Diwan-I-Khas, hall-nya
kecil banget trus raja ada dimana dong? ternyata raja duduk di atas. Jadi atas Diwan-I-Khas dibentuk seperti jembatan menyilang,
mentri-mentri duduk di jembatan, dan Raja duduk di tengah.
 |
| Diwan-I-Khas |
 |
| Dalemnya Diwan-I-Khas, Raja duduk tepat di tengah |
Bangunan lain yang tak kalah menarik adalah kediaman Ratu Ruqaya, yang
mungilll banget, sama kamar saya gedean dikit bahkan sama dapurnya Ratu Jodha
gedean dapur-nya Ratu Jodha, tapiii tempatnya paling depan dekat dengan
kediaman Raja dan...dindingnya penuh dengan permata karena memang glamour.
Saking glamour-nya semua perabotan kamarnya tidak ada yang ecek-ecek, semua
logam mulia ada, kalo malam kamarnya bersinar gemerlap karena cahaya permata
memantul terkena cahaya lilin
, bahkan bekas lubang-lubang permata yang ditempel di dindingnya masih ada.
Oiya menyinggung dapur Ratu Jodha, dapurnya ini terpisah dari yang lain karena
murni vegetarian, dan istana-nya besar terletak paling belakang, Abdul guide kami muslim tapi muslim India
kebanyakan tidak mengkonsumsi daging sapi untuk menghormati larangan Hindu.
 |
| Anup Talao : tempat pertunjukan musik |
 |
Dapur Jodha Bai, bangunan di sebelah kiri dan istana-nya adalah
gerbang yang terdapat kuncup stupa tepat di depannya...
 |
Dalam-nya kediaman Jodha Bai
*mangaap lupa motoin kamar Ruqaya Begum |
|
Tempat berikutnya adalah Fatehpur, tempat ini sebenernya adalah kediaman
Syekh Salim Kristi yang kemudian di buat menjadi Dargah atau tempat ziarah
setelah beliau meninggal, nah disinilah kami harus menitipkan sepatu.
Panas-panas dengan suhu 35 derajat celcius hanya beralaskan kaos kaki, bayangan
saya Fatehpur sejuk dan bersih kinclong, nyatanya saat kami masuk, kami cuma
bisa melongo saja. Fatehpur adalah area yang tengahnya terbuka seperti lapangan
yang tanahnya bata merah, pinggir sekelilingnya adalah selasar, sebelah kanan adalah bangunan putih dari
marmer makam Syekh Salim Kristi yang sekelilingnya nisan-nisan makam
keluarganya, paling ujung adalah Jama’Masjid. Tidak mengapa jika bersih dan
rapi, tapi Fatehpur ini kotor sekali, burung dara dimana-mana, segala kambing
dan kotorannya berceceran, pengunjung makan tidur di sembarang tempat, tukang
jualan berserakan, iya sih pada ga pake sepatu juga, trus point-nya apa coba ga
boleh pake alas kaki!?. Di sini Abdul menawarkan kami untuk ziarah ke makam,
kami awalnya meng-iya-kan tapi karena harus membeli kain, bunga, dan benang
yang diikat di kisi-kisi jendela yang berbentuk oktagon (yang pernah nonton film India pasti bisa
membayangkan, iya kan?), saya mengurungkan niat (takut syirik).
 |
| Fatehpur |
 |
| Masjid Jama' |
 |
| Makam Syekh Salim Kristi |
 |
| Buland Dharwaza |
Kami kemudian keluar ke arah gerbang utama atau disebut Buland Dharwaza, Abdul bertanya kepada
saya, “gimana apakah tour-nya OK?” saya menjawab “Sikri Ok, tapi Fatehpur
sayang sekali tidak bersih” “sebenernya Fatehpur jauh lebih indah daripada
Sikri, apalagi Buland Dharwaza indah sekali, tapi disana semua orang makan
tidur seenaknya, seperti ga ada aturan, sorry to say,” dia merespond “Iya
karena Fatehpur masuk gratis, sedangkan Sikri masuk harus bayar, makanya banyak
warga lokal di Fatehpur, anda tau
kan Mam orang India? Mereka-mereka ini tidak punya cukup uang untuk piknik,”
tetiba hati saya langsung mencelos, dan saya menyesal telah me-respond seperti
itu.
Disemua tempat wisata, di setiap jalan kami tidak henti-hentinya dirubung anak-anak
peminta-minta dan tukang jualan, apa
boleh buat mereka tidak kami hiraukan karena sekali kita memberi atau membeli
ke satu orang, maka yang lain akan merubungi kami tidak ada habisnya. Dan cara
mereka meminta sudah tidak wajar lagi, seringnya menggeret-geret baju kami bahkan
suatu kali merebut makanan yang kami bawa. Wal hasil saya dan temen saya
geret-geretan sama mereka, saya tidak berani melepas sampai kami sudah dekat
dengan mobil, begitu mobil sudah di depan mata, saya lepas bungkusan makanan
kami dan segera berlari ke mobil, karena kalo tidak yang lain berdatangan
gantian mengerubungi kami, dan sekarang saya tahu kenapa setiap restoran dijaga
oleh Satpam bahkan sekelas KFC!.
0 comments:
Post a Comment