Thursday, June 7, 2018

India & Kashmir “A Hardcore Trips!” Part 4 (Gulmarg-Srinagar)






Gulmarg & Pahalgam, merupakan destinasi utama Kashmir, masing-masing memerlukan waktu sehari untuk explore karena jarak yang cukup jauh, dan membutuhkan waktu explore yang lumayan lama, sebetulnya masih ada satu lagi yakni Sonmarg, tapi karena keterbatasan waktu terpaksa saya eliminasi destinasi satu ini.

Kami jadwalkan ke Kashmir 4 hari 3 malam dari tanggal 29 April – 2 Mei, arrangementnya adalah hari pertama tanggal 29 April sampai di bandara Srinagar langsung ke Gulmarg, menginap semalam di Gulmarg, 30 April ke puncak Apharwat sekaligus check out dan kembali ke kota Srinagar check in houseboat untuk 2 malam sorenya kami cukup mengelilingi Dal Lake dengan Shirkara, 1 Mei berangkat PP ke Pahalgam, 2 Mei check out terbang ke Delhi.

Pine Spring Hotel Gulmarg bukanlah Hotel mewah walaupun harganya termasuk mewahhh, Exterior dan Interior-nya sangat biasa tidak buruk, tapi juga tidak begitu  bagus, bahkan hotel berlantai 4 ini tidak ada lift, entahlah kenapa?? Yang penting kami tidak disuruh angkut koper sendiri, jadi room boy dan bell boy selalu ada, tips tentunya sudah jamak disini, mulai dari room boy, driver, sampai dengan restoran. Kelebihan satu-satunya hotel ini adalah jarak yang cukup dekat dengan Gondola dan pelayanan yang baik, oiya tambahan satu lagi pemanas yang berfungsi dengan baik walaupun masih tidak bisa membendung dinginnya Gulmarg sekira 17 derajat celcius. Hotel lain sih cukup banyak yang lebih murah, tapi jaraknya jauh dari gondola dan reviewnya buruk, seperti makanan yang buruk atau pemanas yang tidak bekerja dengan baik, karena daerahnya cukup terpelosok maka saya tidak mau ambil resiko.
Pine Spring Hotel
Hotel environment


Untuk ke puncak Apharwat anda perlu jaket/coat dan sepatu/boots yang proper, tapi jangan khawatir anda tidak perlu keluar uang lebih karena bisa menyewa di tempat dengan tarif INR 100-200, konon ada di pintu masuk tempat parkir mobil, Ini saya tidak tau dimana karena tidak melihat parkir mobil. Loket gondola dibuka pukul 09.00, tapi kami sudah jalan dari jam 08.00 agar bisa stand by jam 08.30, reception hotel memberitahu kami dengan cukup mengikuti pagar hijau, “sangat dekat, 5 menit jalan” begitu katanya. Nyatanya sih tekor 40 menit kita, dengan tanjakan dan turunan yang lumayan, yaaa ini jauh yakkk...engga yang sedeket itu jugak!. Sampai di depan loket saya cukup riang, karena sepi dan saya antrian no. 5, loket ini dibatasi dengan pagar teralis yang cukup rapat mulai dari kanan kiri bahkan ditutup teralis di bagian atasnya, entahlah saya kurang tau maksudnya. Pada prakteknya, tiket offline dan online dicampur, laki-laki dan perempuan juga dicampur di 2 antrian loket, sedangkan loket untuk antrian tiket online ditutup.

Dari saat kami jalan menuju arah loket, kami sudah di ganggu oleh guide yang menawarkan jasanya, berkali-kali dia membujuk bahkan saat saya sudah antri (teman-teman saya, saya minta untuk menunggu saya di tempat lain), “ayolah Mam anda tinggal menunggu biar saya yang antri.” Dari yang awalnya saya masih menjawab dengan sopan, sampai pada saya merespond dengan juteknya dan memohon untuk tidak mengganggu saya lagi. Saya makin galak saat ada guide lain yang baru datang menyerobot antrian saya, “it’s my queue!!” sambil saya menjejakkan kaki saya ke depan untuk menghalangi kaki-nya. Anehnya, dia masih ber-alasan bahwa dia terburu-buru, langsung saya bentak “situ kagak mau ngalah sama perempuan!!” dan dia akhirnya mundur sambil menelfon menceritakan ke temennya nyinyirin saya dengan menirukan bentakan saya tadi. Oiya, sempilan dikit orang-orang India ini sangat gadget addict jadi dikit-dikit menelfon, dikit-dikit foto, dan nggilani-nya dikit-dikit selfie, korbannya adalah bule-bule yang tak henti-hentinya diajak selfie, sama-sama cowok! (Saya jarang ngeliat perempuan India keleleran, ada sih tapi tidak banyak).

Saya baru menyadari bahwa sekeliling saya ini guide semua, tidak ada turis, sampai kemudian ada 2 orang turis India berpasangan antri di belakang saya, fiuhh...leganya. Dua orang turis India ini juga tidak lepas dari sasaran guide, bahkan guide yang antri depan saya dengan bawelnya menyarankan saya untuk menyewa guide, orang-orang itu datang silih berganti memaksa saya menyewa  jasa mereka, sangat menyebalkan!, saya bahkan sudah tidak menjawab orang-orang ini lagi. Sampai kemudian dua orang turis India itu menyerah juga, akhirnya mereka menyewa guide! Waduh! orang lokal aja nyerah lha ini gimana sayah?!, udah perempuan sendiri, foreigner pula!, saya mulai menaikkan resleting coat saya, mengikat masker, dan memakai kacamata hitam saya. Loket dibuka terlambat setengah jam dari jadwal, dimana saya sudah berdiri selama 1 jam! Begitu loket dibuka, kekacauan mulai terjadi, tidak ada lagi yang namanya antrian, semua guide-guide ini...oh ngga calo! Iya mereka lebih pantas-nya dipanggil calo!, berebutan menjejak teralis besi yang membatasi, menyerobot, memasukkan tangan mereka ke lubang loket! Astagah! Bahkan tentara-tentara yang berjaga tidak berbuat apa-apa...dan sekarang saya baru tahu apa gunanya teralis ini!

Jantung saya mulai berdegup kencang walaupun kaki tidak selemas saat drama Visa, akhirnya saya memberanikan diri meminta guide dari Srinagar yang ada di depan saya untuk menukarkan tiket  online saya, “of course i’ll pay you” kata saya, “i’ve told you Mam,” “harusnya tadi anda menyewa jasa guide!” “Saya tidak bisa bantu anda karena saya bukan orang sini!”. Saya makin panik, keadaan makin kacau, jantung saya sudah mau loncat, saya terjebak diantara kekacauan ini yang semuanya laki-laki!.  Ada 1 petugas keamanan entah polisi atau tentara saya tidak tahu, mencoba menertibkan tapi percumah dia kalah sama calo-calo ini, salah seorang calo mencuri dengar pembicaraan saya dengan guide tersebut. Dia menawarkan diri, saya bilang “only exchange! No Guide!”  kami sepakat, harga dari INR 700, saya tawar menjadi INR 500, kurang lebih Rp.100.000. Saya ditarik keluar dari teralis besi, saya minta dia menggantikan posisi saya, tapi dia tidak mau, sama brutalnya dengan yang lain, dia segera bergegas berlari ke loket online tapi Nihil karena ditutup (ya iyalah situ kaga bisa ngeliat?! jelas-jelas ga ada antrian, pasti tutuplah!).

Kemudian, dia berlari lagi ke loket satunya, dan saya kehilangan jejaknya, bahkan saya tidak ingat wajahnya!!! Astaga!! Saya mulai kebingungan mencari calo saya! Kata calo lain yang melihat saya, “tenang aja Mam, he will get your tickets,” Booo' gue lupa muke calo gue?!?! Huhuhu...dan calo yang di awal sudah men-teror mengejek saya, “Nah, sekarang anda pake guide juga kan Mam akhirnya?!” saya meng-ignore saja, karena mereka ini memang tidak bisa dijawab dengan bahasa manusia!. Tak lama calo saya nongol dan memberikan segepok tiket ke saya, mengantarkan ke stasiun gondola fase 1, “we finish here, right?” “No mam, saya antar anda ke station” dan jarak antara loket ke stasiun gondola fase 1 memang jauh, tidak ada petunjuk arah, kalopun anda tanya orang-orang sekitar alih-alih menjawab mereka pasti menawarkan jasa guide yang tidak masuk akal, apanya yang mau di-guide-in, yang ada malah jasa nemenin!.

“We finish here, right?” dia diem pura-pura sibuk, “I don’t need guide!” lagi-lagi dia tidak mendengarkan saya, tiba di pintu masuk stasiun gondola fase 1 dia menjebak saya dengan memintah tambah INR 1000 untuk jadi guide, hahh?!, “No! We agree for only exchange tickets!!” dia memaksa saya, kami arguing di depan petugas, saat itu hari masih pagi jadi tidak ada antrian, saya memandang petugas seolah meminta tolong dengan tatapan mata saya. Petugas tersebut mengerti, tapi apa coba yang keluar dari mulutnya?? “It’s your problem with him, finish it!,” confirm MAFIA! *WAR*. Cukup sudah! Amarah saya sudah tak tertahankan lagi! Saya meminta teman-teman saya masuk ke dalam, dengan nada tinggi saya bentak ini calo,“WE AGREED FOR ONLY EXCHANGE TICKETS, I DON’T NEED GUIDE!!! I DON’T HAVE MONEY!! AND WE FINISHED HERE, NOW TAKE YOUR MONEY!!!” kampret! *yang terakhir dalam hati* 😀. Saya kasih INR 500 lalu saya tinggal ke dalam, buru-buru saya minta teman-teman saya langsung naik gondola karena gondola ini berjalan terus, di dalam keheningan gondola saya mengatur napas & emosi pelan-pelan.

Kereta Gondola Fase 1
Stasiun Gondola Fase 1
Masih di Fase 1
Dua puluh menit kemudian kami sampai di stasiun gondola fase 1, disini semacam taman dan gardu pandang saja, jadi kami langsung ke arah gondola untuk ke fase 2, belum sempat menarik napas tiba-tiba ada lagi orang yang sok-sok an mengarahkan kami ke kereta gondola. Astaghfirullahhh...siapa lagi ini?? “Who are you!?!” di depan petugas saya sambung dengan nada yang masih sama tinggi “Sir, i don’t know him!! We don’t have a guide, don’t let him in !!”petugas yang sekarang tampaknya lebih nurut karena cukup terkejut dengan bentakan saya, dia juga sempat menghalau calo dadakan ini untuk tidak melewati batas garis kereta gondola. Tiga puluh menit lamanya kereta gondola menuju puncak Apharwat, sempat berhenti sesaat di tengah jalan yang disengaja, entah buat apa, tapi nantinya anda tidak perlu kaget jika kereta gondola tiba-tiba berhenti. Sesampainya di atas, terbayar sudah kekisruhan pagi ini, lansekap di puncak Apharwat sungguh menakjubkan!!. Saya sendiri tidak merasa pusing atau mual atau kedinginan apalagi kurang Oksigen, entah karena sudah meminum obat Anti AMS, atau karena saraf-saraf tegang di otak saya :D. Saran saya, bawalah bekal makanan & minuman hangat sebelum ke sini, konon ada yang jualan makanan tapi saya tidak melihat-nya, saya sendiri langsung duduk dan meminum bekal yang saya bawa *haus bener habis jerit-jerit n bentak-bentak orang wkkkk...*

Kereta Gondola Fase 2
Apharwat Peak!


Kami merasa cukup beruntung karena bisa mencapai puncak Apharwat, karena dua wisatawan Indonesia lain yang kami temui di Jaipur tidak bisa sampai ke fase 2 karena ditutup akibat cuaca buruk, padahal sudah memasuki musim panas. Tiga wisatawan lain yang saya tanya di blog mereka juga tidak ada yang mencapai fase 2, dan ada 1 travel blogger yang mencapainya setelah kunjungan yang ke-2! Jadi sekali lagi perhatikan waktu kunjungan anda! Sayang sekali jika sudah jauh-jauh datang ribuan mil dari Indonesia tapi tidak bisa mencapai puncak. Untuk masalah calo, kembali saya serahkan pada anda, kalo merasa tidak PD sebaiknya sewa guide, tapi tetap hati-hati, jangan mau disuruh beli ini itu, atau suruh mencoba permainan ini itu di atas sana, anda-lah yang berhak menentukan. Untuk saya sendiri?…entah darimana datangnya keberanian itu?? Kalo menurut teman saya sih bukan berani tapi nekad! 😁. Sebetulnya saya sempat membaca di tripadvisor jika antrian tiket gondola sangat kacau, tapi tidak menyangka jika sekacau ini!.

2 comments:

  1. Ya Allah Hectic bener ya mb. Mb mengenai Hotel Pine Spring over all worth it ga? Breakfastnya gmna? Saya udh booked disana buat maret ini.

    ReplyDelete
  2. Iya mz super hectic tp jd ada bahan buat diceritain disini hehe...
    Pine Spring Ok sih, tp kamar biasa saja unt harga segitu, tp mngkin mahal krn logistic tdk mudah...
    Breakfast enak walopun tidak selengkap hotel2 setara, tapi pelayanan bagus mrk baik2, dibolehin nyimpen sebagian breakfast unt bekel wkkk (bilang aj ngambilnya kebanyakan hehe modus sengaja) :D

    ReplyDelete