• Cappadocia Hot Air Balloon

  • Taj Mahal

  • Eiffel Tower

Monday, January 30, 2017

Korea Part 4 (Seoul Shopping Tour)

Keesokan paginya kami mulai tour belanja seharian, dimulai dengan les memasak membuat Kimchi, Guru Lesnya adalah seorang perempuan paruh baya yang menjelaskan dengan Bahasa Korea kemudian diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh Putri. Saya lupa bahan sausnya apa saja, yang saya inget cuma cuka aja, pokoknya tau-tau jadi saus warna orange agak kemerahan itu, dan kitanya cuma praktek membaluri si sawi putih dengan sausnya, setelah itu di fermentasikan, udah gitu aja. Sebab pada dasarnya saya ngga suka kimchi, rasanya asem dan baunya agak menyengat membuat selera makan saya terjun bebas, jadinya tiap ada kimchi di depan saya, langsung saya geser jauh-jauh deh hehe...

Bersebelahan dengan ruang memasak adalah ruang studio foto, buat apa? Ya buat kita foto-foto dengan Baju Hanbok. Untuk pria, Hanboknya persis sepasang piyama dan celananya, untuk Hanbook wanita seperti dress tanpa lengan diikat di bagian dada, sedangkan atasannya atau disebut dengan Jeogori juga di ikat di bagian depannya. Menurut saya, Hanbok lebih menarik daripada Yukata, baik dari segi bahan maupun warnanya yang mencolok dan tabrak motifnya, dipakainya longgar dan ngga ribet.



Di gedung yang sama dari lantai dasar sampai lantai atas merupakan toko dan tempat pembuatan ginseng, sedangkan ruang memasak dan studio foto Hanbok tadi berada di basement. Pertama kami tour ke proses penanaman sampai dengan pembuatan obat-obatan dari ginseng, biasanya ginseng yang siap panen berusia minimal 5 tahun, makin lama umurnya makin tinggi khasiatnya dan harganya makin mahal. Harganya mencapai ratusan juta per kilo nya, ginseng mahal bisa ditandai dengan bentuknya, makin mahal harganya, bentuknya makin mirip manusia ada kepala, tangan, dan kaki, ini beneran ginseng liar yah bukan ginseng-ginsengan. Saking berharganya ginseng liar, orang Korea menyebutnya berkah bagi tanah tandus mereka yang sebagian besar berbatu dan sukar ditumbuhi sayuran, makanya kalo kita lihat pelem Korea gitu kan (pelemmmm lagiiii -.-) rumah mereka berada di ketinggian mengikuti kontur perbukitan batu kapur, engga landai rata dengan jalan raya kayak di tempat kita. Pun kebanyakan rumah-rumah mereka ga punya tempat parkir atau susah parkir mobil, parkirnya dimana rumahnya dimana. 


Ok kembali topik, yang mendampingi tour ginseng ini adalah seorang staff dari si perusahaan ginseng yang bisa berbahasa Indonesia dengan baik...yaa iyalah wong orang Indonesia kok wkkkk, jadi selama tour ginseng kami dengan santai saling melempar joke-joke kecil dengan si staff. Tibalah saatnya kami memasuki sebuah ruangan yang isinya varian produk-produk ginseng, satu per satu kami mencoba teh ginseng yang rasanya pahit, end up-nya apa coba? suruh beli!. Damn! Tau gitu ngga usah sok akrab tadi sama mas-nya ginseng *nyesel gue, segala bujug rayu dilancarkan sampai menyinggung tas LV bos saya, maksudnya gini bisa beli tas LV mosok ngga bisa beli ginseng gitu. Akhirnya luluh juga bos-bos saya ini sekotak ginseng kapsul dengan promo beli 1 gratis 1, terbeli dengan harga 30 juta rupiah!!! Mereka berdua patungan jadi masing-masing dapat sekotak, katakan sekotaknya 15 juta karena beli 1 gratis 1, pinter aja sik yang jual dirampok ini mah! *hahaha... 

Rute belanja selanjutnya adalah Faceshop Outlet, tau kann apa-annn?? Iya ini toko kosmetik gitu, pertama mereka demo dulu, ada cream anti keriput, anti mata panda, anti jerawat dan anti-anti yang lain, kali ini staff-nya orang Korea berbahasa Inggris. Harga cream anti-anti ini lumayan sih menurut saya, paling murah anti mata panda seharga IDR 200.000, nah ini mah gapapa masih kebeli lah ama saya, karena teman saya membeli satu set cream pagi-siang-petang-malam-dini hari-subuh seharga IDR 2.000.000! *hahaha. Etapi beneran inih, karena orang Korea ngga laki ngga perempuan memakai cream-cream ini paling tidak 10 lapis, ckckck...bukan maen pantes si Putri mulus banget wajahnya, oiya dia kalo dandan lama banget katanya karena pake nge-rol rambutnya dulu hihi. Trus kata dia lagi boleh loh ikut “Tour Oplas”, Hah apaan tuh?? Tour 5 hari memodifikasi wajah alias operasi plastik! Sik sik sik, gimana-gimana? *Mode On Mbak2 tukang gosip mulai kelihatan aslinya.

Lanjut, jadi gini tournya 5 hari, harga operasi plastik seinget saya yang paling murah operasi hidung seharga IDR 10.000.000 diluar pesawat dan akomodasi, dan customer yang terbanyak adalah dari Tiongkok!. Hari pertama tiba kita langsung di antar ke klinik rujukan si travel untuk observasi, hari kedua tindakan alias di operasi, hari ke 3 stay di Hotel untuk penyembuhan biar luka operasi kering dulu *hiiyyyy. Hari ke 4 jalan-jalan ke mall, jadi kata dia “kalo di mall kamu liat ada orang di perban, itu berarti habis oplas, kalo hidung ya oplas hidung, ada yang di mata untuk oplas lipatan mata, ini biasanya mereka pake kacamata hitam, trus ada yang di rahang ini motong rahang biar wajahnya tirus *ooouchh ngilu sayah,” baiklah nanti kita buktikan bersama-sama. Hari terakhir atau ke 5 lepas perban dan pulang *kalo hasilnya bagus kalo engga??, trus kata dia lagi biasanya orang tua di Korea memberikan hadiah oplas untuk putri-putri mereka di hari kelulusan *biyuhh, “eh mbak Put, trus kamu ada yang di operasi ngga?” “saya engga, masih asli semua nih,” owhhhh syukurlah. 

Kami lanjut ke Amethyst Showcase, ini kerajinan batu-batuan berwarna ungu untuk perhiasan gitu, harga gelangnya saja kurang lebih IDR 400.000, staffnya ada yang dari Indonesia juga, niat yak mereka, harusnya kita juga gitu sik. Saya lupa batu-batu ini dari mana atau dari apa karena ga boleh foto-foto, di tempat ginseng tadi juga tidak diperbolehkan mengambil gambar. Masih dengan tour belanja kami ke Shilla Mall, eh Shilla apa Lotte Mall yak? Duh lupa saya pokoknya antara ke dua Mall tersebut deh, kalo salah jangan marah yak wkkkk, namanya juga Mall sama ajalah bentuknya hihi...Mall ini gede buanget, saking gede-nya sampe dibekelin peta sebelum masuk, dan banyak duty free-nya karena Mall kelas A tempat nongkrongnya geng LV dan teman-temannya. Terus baru kali ini saya melihat pintu parkir mobil mall yang ada petugas penyambutnya. Jadi, ada 2 orang mbak-mbak kece dengan blazer warna biru laut dan dress putih, dipercantik dengan topi, berdiri mengapit plang otomatis pintu parkir, kalo ada mobil mau masuk mereka berdua menyambut dengan membungkukkan badan *bukan maennn. 

Nah, di tempat inilah saya dan teman saya membuktikan cerita si Putri, dan benar saja tak lama masuk kami sudah melihat mbak-mbak yang diperban kelopak matanya memakai kacamata, trus di perban hidung-nya, yang paling ngilu yang di perban dari dagu sampai puncak kepala, nah ini pasti habis motong rahang inih *deuhh ulu hati saya berdesir. Pertanyaan! Kalo oplas itu boleh kamu mau di oplas apanya? Saya: hidung deh di tinggiin dikit hihi, kalo kalian apa??



Oiya, makan siang kami hari ini agak lain, karena kami makan siang di sebuah Restoran Malaysia, menunya kari daging sama telur dadar, rasanya sama kek masakan Indonesia, trus restoran ini juga di fasilitasi dengan Mushola dan mungkin satu-satunya di Korea *niat yaa mereka...menggaet turis muslim??. Oleh karena restoran ini baru dibuka maka kami diminta untuk memberikan review oleh mereka, yo jelas enak wong lidahnya Asia Tenggara bangettt. Malamnya kami makan di restoran fastfood (iyahhh KFC! kangennn cyinnn), yang letaknya di Namdaemaun Market. Kalo mau yang murah banget ya disini, karena barang-barangnya sebagian besar impor dari Tiongkok, udah gitu dimana-mana saya lihat bertebaran toko kosmetik, beuhh segini addict-nya yah sama kecantikan kulit muka?? 

Korea Part 3 (Mt. Seorak-Sokcho, Nami Island-Chuncheon, Seoul)

Seoraksan National Park atau Mount Seorak terletak di Kota Sokcho diujung timur Korea Selatan yang berdekatan dengan Laut Jepang. Jadi kami memulai tour dari luar Kota Seoul, mulai dari yang terdekat sampai dengan yang terjauh di sebelah timur, dan kembali ke arah barat di Kota Seoul yang berdekatan dengan Laut Kuning. Satu hal, Kota Seoul dan kota-kota lain yang kami kunjungi ini berada di ujung utara Korea Selatan, saya jadi membayangkan gimana kalo ada Nuklir yang nyasar yah?? hiyyy...kenapa Ibukota ngga di jauhin coba dari Utara, secara Pyongyang aja jauh dari perbatasan *Ok fokus-fokus, mahapkeun suka ngelantur :D. Dari Alpensia Resort ke Mt. Seorak ditempuh kurang lebih 2,5 jam, hari hujan saat kami tiba...why oh whyyy??

Mt. Seorak merupakan gunung berbatu tertinggi ke 3 di Korea Selatan, wisatawan datang ke sini untuk hiking yang bisa dilakukan oleh siapa saja tidak harus expert, entrance fee-nya IDR 43.000, kalo anda lagi males jalan, cable car bisa jadi pilihan untuk menuju gardu pandang fare-nya IDR 100.000. Highlight yang lain adalah Sinheungsa Temple yang terdapat patung Buddha lokasinya tidak jauh dari pintu masuk, Biseondae Rocks yakni gugusan batu disepanjang sungai, dan Geumganggul Cave yang dicapai dengan 30 menit hiking, jangan kuatir karena sudah disiapkan tangga untuk naik. Pemandangan Mt. Seorak sangat indah asal tidak hujan, jadi gimana mau menikmati pemandangan coba??






Tepat pukul 12 siang kami tiba di sebuah restaurant seafood, enaknya ikut tour ya begini ini, semua sudah siap apa aja on time termasuk makanan. Makanan yang disajikan hampir mirip Jeongol rebus-rebusan gitu cuma isinya seafood, disini side dishnya juga buanyakkk banget persis kek di drama-drama ituh, pokok-nya ngotor-ngotorin piring deh. Dari Restaurant ini kami ke Teddy Bear Museum, isinya apa? Ya Teddy Bear mulai dari Teddy Bear mini sampai Teddy Bear raksasa, Teddy Bear Pengantin sampai Teddy Bear Tentara, sayangnya dijualnya mahal banget, gantungan kunci mini aj IDR 50.000!



Dari Teddy Bear Museum ke Nami Island di Kota Chuncheon menempuh perjalanan sekitar 3 jam, lumayan yak buat tidur, dan ini keuntungan lain ikut tour, blas ngga ada capeknya, tiap masuk minibus langsung tidur, jadi pas nyampe destinasi selanjutnya udah seger lagi, tapi memang ada kalanya anda harus merasakan enaknya traveling dengan tour. 

Apa sihhh Nami Island?? Itu lohh tempat sotingnya Winter Sonata, owhhh....*mungkin ada yang excited, ada yang biasa saja. 

Nami Island ini adalah pulau kecil di tengah sungai, namanya diambil dari nama pahlawan Korea Selatan bernama Jenderal Nami yang juga dimakamkan disini, pulau ini dibuat seperti negara tersendiri sehingga juga dinamakan Naminara Republic. Untuk kesini kita harus menyeberang dengan Ferry kecil yang dihiasi dengan bendera berbagai negara selama kurang lebih 10 menit dengan tarif IDR 96.000 sudah termasuk entrance fee dan di istilahkan sebagai entry visa. Gerbang masuknya berupa gapura tradisional Korea, masuk lebih ke dalam terdapat beberapa plang-plang ucapan selamat datang dari berbagai negara termasuk Indonesia. Untuk mengelilingi kita bisa menyewa sepeda karena pulau ini kecil sekali, pohon-pohon disini sangat teratur jarak dan ukurannya seperti sudah di atur, kalo musim gugur pemandangannya sungguh indah. Jalan setapaknya berujung di sebuah danau, pulau ini juga difasilitasi dengan hotel dan restaurant, kami sempat makan sore dengan menu ayam panggang (harusnya sih makan malam yak, kecepetan ih makan-nya).





Oiya, karena si Pulau terkenal sebagai tempat lokasi suting Winter Sonata, maka di salah satu sudut dibikin poster filmnya yang terbuat dari batu *jiiiaaahhh, kemudian di sudut lain didirikan patung ke dua tokoh utamanya *alamakkk, dan disisi lain lagi terdapat jembatan yang dihias sedemikian rupa untuk ditandakan sebagai tempat “first kiss-nya” tokoh utama *dooeenggg. Saya memang penggemar drama Korea tapi ngga segitunya siyyy...eniwei Nami Island memang biasa saja, tapi kenapa pengunjungnya berjubel gini ya?? Nah itu yang kudu kita cari tau bukan??

Perjalanan ke Seoul kami tempuh selama 3 jam, kami menginap di Crown Hotel Itaewon, hotelnya terbilang cukup tua dengan perabot klasik kalo ngga bisa dibilang kuno, TV-nya aja masih cembung wkwk...tapi kerjaan kami tiap pagi jadi nonton drama Korea walopun ngga ngerti bahasanya *teteup. Kota Seoul sama seperti kota-kota metropolitan lain, cuma agak gelep untuk ukuran Ibukota, sepertinya ngirit listrik, di Hotel-pun ngirit listrik, jadi tangga di Hotel baru nyala lampunya kalo ada orang yang lewat, ngga tau pake sensor apa??. Mobil-mobilnya keceh-keceh, menurut temen saya tidak ada serinya di Jakarta, dan sebagian besar adalah jenis sedan. Yang bikin kami kaget, ternyata ada macetnya juga loh, sama aja kek di Jakarta hihi...tapi ya ngga separah Jakarta sih, well...karena sudah terbiasa macet di Jakarta, jadi macet di Seoul tidak ada artinya bagi kami *tarik pashmina lanjut tidur lagi😜.

Thursday, January 26, 2017

Korea Part 2 (Everland-Yongin, Alpensia Ski Resort-Pyeongchang)


Kami berangkat dengan Asiana Airlines pukul 11 malam, katanya sih Asiana Airlines ini lebih bagus dari Korean Air....

Tiba di bandara Incheon sekitar jam 8 pagi, kami sudah di sambut oleh Guide bernama Kim Ga Hee, tapi dia memperkenalkan dirinya dengan nama Indonesia ‘Putri’ (ngga tau kenapa kok pake nama Indonesia segala, saya sih lebih seneng panggil dia dengan nama Koreanya) usianya baru 26, fasih berbahasa Indonesia karena jurusan kuliahnya adalah sastra Indonesia dan pernah mengikuti pertukaran pelajar di UGM. Saya sengaja request guide perempuan, karena lebih enak diajak diskusi dan buat saya pribadi saya lebih nyaman dengan guide perempuan, pun ternyata dia juga pernah liburan ke kota tempat saya lahir dan dibesarkan, jadi makin nyambunglah obrolan kita, hihi. Oiya, bandara Incheon ini sekilas mirip Haneda, dari arsitekturnya sampai atmosfirnya mirip banget sama Haneda, lokasinya pulau tersendiri diluar Kota Seoul. 

Begitu sampai bandara kami langsung cuzz dengan mini bus ke Everland di Kota Yongin, aselik pipis doang di bandara, boro-boro mandi, sikat gigi juga ga sempet, yah beginilah kalo ikut tour, mereka sudah punya timeline sendiri, jadi kita harus disiplin mengikuti. Korea di bulan September memasuki musim gugur tapi warna daun masih ijo belum menguning dan kadang kala hujan, saat kami tiba hujan mengguyur dari Seoul sampai Yongin, yang ditempuh selama kurang lebih 3 jam. Tepat pukul 12 siang kami sudah makan siang di sebuah restaurant tak jauh dari Everland, menunya adalah Jeongol semacam rebus-rebusan sayur dan daging sapi, kalo di Jepang seperti Shabu-shabu, dan makanan Korea ini side dishnya banyak banget ada Jap chae (sayur soun), Kongnamul Muchim (kedelai kecambah), Oi Muchim (salad timun), tteokbokki (kue beras), dan tak lupa Kimchi yang terkenal itu, yang lain sih masih banyak tapi saya ga hapal satu-satu.


Sampai di Everland hujan sudah tidak begitu deras, namun cuaca agak dingin. Everland adalah Taman Hiburan terbesar di Korea, sama seperti Ancol hanya kalo Ancol di pinggir pantai, Everland ada di dataran tinggi perbukitan, tiket masuknya sekitar IDR 500.000. Everland dibagi menjadi 5 zona, Zona pertama adalah Global Fair yakni replika bangunan dan kastil dengan gaya Rusia, Perancis, India, dll. Kemudian Taman Bunga bergaya Perancis yang dikelilingi bangunan-bangunan bergaya Belanda, bingung deh...saya sih ngarep yang bergaya-gaya Korea yah, ini kok bergaya Eropa semua??





Salah satu area dari Zona ini adalah Psy Holographic Theatre, apa coba?? Iya ini ceritanya Psy si Gangnam Style lagi perform cuma dalam bentuk Hologram 3D saja, trus kita penonton suruh ngikutin Gangnam Style, 10 terbaik nongol di panggung hologramnya, dan dipilih satu pemenang. Sebuah prestasi besar karena Mak Bos dan 2 teman saya masuk 10 besar wkkkkk, yang keluar sebagai pemenang adalah anak-anak warga lokal tentu saja, hadiahnya apa saya kurang tahu. Keluar dari Teater terdapat toko cenderamata pernak-pernik-nya Psy dan ada pula foto hologram bareng Psy, hasil jadinya seperti kita beneran foto berdua dengan Psy, harga fotonya IDR 120.000.


Zona 2 adalah Zoo-topia, tau kan apa?? Ngga usah dijelasin lagi yah, tapi ada salah satu yang menarik dari Zoo-topia ini adalah Amazon Express. Kita naik Bus seperti di Taman Safari bonus nyemplung sungai se-bus-busnya, ada guide-nya juga cuma ya itu bahasa Korea *hiyuukk maree, saya taunya Anyeong Haseyo doang sambil guide-nya dadah-dadah menyapa kami, selanjutnya blekutuk-blekutuk..au ah elep (-.-).




Zona berikutnya adalah European Adventure, berisi roller coaster terpanjang di Korea dan No. 6 di dunia, sayangnya roller coaster tidak dioperasikan karena basah setelah hujan dan gerimis, jadi kami-pun sepanjang walking tour di taman hiburan ini tak lepas dari mantel hujan, such a pity. Zona ke 4 adalah Magic Land berupa kompleks bangunan bertemakan negeri dongeng dannn.....Spooky’s Fun House atau kalo di kita Wahana Rumah Hantu, wahana ini di bagi menjadi 3 Grade yang terpisah menjadi 3 gedung, tentunya Grade yang ke 3 adalah yang paling seram. 

Grade pertama yang masuk adalah Mak Bos dan 3 orang teman saya 2 laki-laki 2 perempuan, keluar keluar mereka sudah tertawa cekikian dengan wajah pucat, katanya sih serem banget hantunya terlalu berani pegang-pegang dan ngagetin. Di dalam, peserta masuk ke lorong-lorong dengan posisi berbaris, yang paling apes tentu saja peserta paling depan dan belakang. Teman saya yang sudah masuk ke Grade pertama, mengajak saya dan atasan beserta teman saya yang lain untuk ke Grade 2, posisi sudah siap berbaris 4 orang 1 laki-laki 3 perempuan dan saya paling belakang. Operator wahana ini bisa berbahasa inggris dengan baik, dia memberikan petunjuk kalo sudah tidak sanggup *lambaikan tangan ke kamera* eh ngga ding silangkan ke dua tangan dan petugas yang lain akan menjemput dan menghentikan permainan. Pada saat kami sudah bersiap untuk masuk, tetiba mbaknya operator menghentikan kami, katanya “wait!” ada yang “retired!,” Lhahh?? Kok udah ada yang nyerah aja sik?? tak lama 2 pasang ABG Korea keluar sambil berangkulan, Blah! Apakah seserem ituh!



Sesudah itu, kami dipersilahkan untuk masuk, tetapi apa yang terjadi?? Atasan dan teman saya yang lain urung mengikuti permainan serem-sereman ini karena melihat 2 pasang ABG yang “retired” tadi. Tinggalah saya berdua dengan temen saya yang laki-laki ini, Saya: “gimana Not? Lanjut ngga cuma berdua gini?”, Temen Saya: “Lanjut aja yuk Mbak, udah nyampe sini ini”, Saya: “iya ah, udah kadung bayar 50ribu, sayang kalo ngga lanjut,” lagipula malu-lah saya sama Hobi sendiri, sebagai orang yang mendeklarasikan diri sebagai pecinta film horor, harusnya yang beginian maju tak gentarrr...*lapkeringet.

Masuk ke dalam rumah hantu, seperti biasa kita ketemunya lorong-lorong gelep, tau-tau udah nongol Mbak-mbak hantu macem kuntilanak gitu pegang-pegang saya dan teman saya dan itu terus menerus. Padahal kami sudah lari ke pintu yang disekat dengan plastik fiber mirip kamar bedah gitu, saking jipernya saya sampai tersangkut plastik fiber dan sepatu saya lepas, pikir saya berani banget ini hantu jadi-jadian!

Masih kesangkut fiber dan sibuk mencari-cari sepatu, sayup-sayup saya denger si Hantu kayak ngomong apa gitu engga jelas karena kami dari tadi jerit-jerit dan saling memanggil persis kek di pelem-pelem (pecinta pelem horor tetep ada jerit-jeritnya yahh..hihi..). Pas saya perhatikan, dengan bahasa enggres terbata-bata doi bilang “wait..wait..not yet..not yet,” weeeladhalah!...udah napsu banget mempersiapkan mental jebul tour horor belum dimulai!. Ternyata harusnya kami nonton pelem horor dulu di ruangan pertama dan mbak-nya ini bukan hantu yang sesungguhnya, dia hanya bertugas sebagai ‘pager ayu’ aja untuk menyambut peserta tour hantu-hantu-an Hahaha...pecah kakakkk... 

Selanjutnya sih bisa ditebak, selama setengah jam kami jerit-jerit dan lari-lari-an dikagetin dan dilemparin petasan sepanjang melewati lorong, kamar-kamar mayat, naik turun tangga, bahkan sampai hampir pintu keluar masih dikejer juga!. Kesimpulan saya? engga serem kaget iya widiihh..., lebih sereman hantu lokal karena varian-nya lebih banyak, kalo ini sih putih-putih cemong-cemong doang. Menurut teman-teman saya yang Grade pertama aja udah ngeri, gimana Grade ke 2? Harusnya bener sik, tadi saja sudah ada Abg-Abg yang “retired” kan, tapi kok menurut saya biasa aja yah, apa mungkin karena peserta-nya cuma ber-dua saja, jadi ngga diapa-apain sama mereka, hantu-nya juga ngga yang banyak gimana gitu, udah gitu saya-nya kecil kurus takutnya tar pengsan di jalan mungkin wkkkk.... Puas di rumah hantu, zona terakhir adalah American Adventure, ketebak dong apaan?? Ya yang berhubungan dengan amerika-amerika gitu lah. 

Dari Everland kami menuju Premium Outlet tempat ngumpulnya geng LV dan rekan sejawatnya :D, saya ngga tau ini dimana tapi arahnya menuju Hotel kami di daerah Pyeongchang, jadi dari Everland ke Pyeongchang kira-kira ditempuh selama 4 jam. Pyeongchang merupakan daerah ski resort yang dipakai untuk olimpiade musim dingin tepatnya di Alpensia Ski Resort, disini juga banyak dibangun vila-vila pribadi, bagi penggemar drama Korea pasti pernah mendengar daerah ini, karena saya pernah mendengarnya, jadi apakah saya penggemar drama Korea?? pastinyaaaa...hihi. Malam ini kami menginap di Holiday Inn Resort, Hotel ini sungguh keren dan megah, sayangnya kami sama sekali tidak ada waktu strolling, nyampe Hotel sudah jam 9 malem, dan sudah check out ke esokan paginya jam 8 pagi...hadeeehhh...(-.-). 

Korea Part 1 (The Prep!)



Traveling kali ini saya mengikuti program tour dengan Travel Agent karena yang berangkat adalah satu group rombongan sekantor, nama paket tour-nya “Mono Korea Shocking Offer 6D by OZ” OZ ini maksudnya kode nomer penerbangan Asiana Airlines. Fare-nya sekitar IDR 7.500.000, belum termasuk tips guide & driver USD 5/day/person dan biaya visa IDR 350.000 tapi ini ditanggung kantor juga, plus ditambah perdiem yiiihaaa...*Breakdance. Untuk mendapatkan paket tersebut minimal anggota rombongan berjumlah 15 orang, kalo kurang dari jumlah itu bisa tapi nambah biaya karena berarti orang yang menanggung ‘biaya bersama’ seperti biaya transportasi yang awalnya bisa di share ber-15 jadi berkurang. Kalo yang berangkat perorangan juga bisa, digabung dengan peserta lain dalam group series yang tanggal berangkatnya sudah ditentukan oleh Travel. 

Menyiapkan Visa untuk 17 orang merupakan tantangan tersendiri bagi saya, walaupun via travel agent tetap kita-lah yang harus ngumpulin ubo rampenya mulai dari kemenyan, kembang melati..eh salah! Itu ubo rampe perdukunan biar visanya tembus semua hihi. Maksudnya seperti passport (ada yang belum punya, ada yang ganti baru), buku tabungan (ada yang ga punya rekening bank, ada gituh? Banyakkk! dan semuanya laki-laki!), KTP (ada yang kudu perpanjang dulu!), Buku Nikah (ada yang nyelip!), pas foto (ini saya kudu kejer-kejer masing-masing orang, akhirnya saya minta temen saya untuk fotoin satu persatu di kantor dan print sendiri!). Dan semua orang saya ingatkan satu per satu untuk melengkapi persyaratan, tiap pagi saya sms masing-masing orang untuk ke Bank buka rekening, cari Buku Nikah, cek KTP, dan lain-lain. Setelah semua lengkap, travel agent tinggal submit ke Embassy saja, jadi kalo mau kita-pun bisa juga kerjakan sendiri, info lebih lengkap bisa cek disini

...Dan hari itupun tiba, sekitar pukul 4 sore travel agent menelfon saya menyampaikan kabar tidak menyenangkan bahwa 10 dikabulkan sedangkan 7 yang lain di tolak, dhuaaarrr...! saya bagai disamber gledek bertegangan 100.000 Volt!. Waduh bagaimana ini?? Mau dibatalkan DP tidak bisa kembali utuh karena travel agent juga sudah blocking seat pesawat dan hotel, kalo lanjut 7 ngga ke angkut dan biaya paket tambah mahal sekitar IDR 2.000.000 per orang karena jumlah peserta kurang dari 15 orang, kalo ngga mau nambah biaya kami akan digabung dengan group tour yang lain. Saya hampir naik pitam ke travel karena option-nya sama sekali tidak menguntungkan bagi kami, padahal kami sudah nelongso dengan ditolaknya visa 7 orang teman kami. Saya kekeuh membatalkan tour dan meminta semua DP kembali utuh karena udah kesel banget, kasian juga sih mbaknya travel karena dia udah mulai jiper, padahal sebenernya itu trik saya agar kami diberikan option yang lebih baik lagi. 

Akhirnya, setelah kami berdiskusi dengan Mak Bos, dengan sangat terpaksa kami memutuskan untuk tetap berangkat dengan catatan diberikan harga yang sama. Setelah saya email Travel, saya datang ke kantor Travel bersama dengan 2 orang teman saya yang lain untuk bertemu dengan Manager travel, dalam pertemuan tersebut Travel Agent setuju untuk memberangkatkan kami dengan harga yang sama tetapi mereka tidak menyediakan guide dari Jakarta, jadi guide hanya akan ada sewaktu di Korea, buat kami sih tidak masalah. 

Di pertemuan tersebut juga kami berdiskusi mengenai kemungkinan kenapa 7 orang ini tidak dikabulkan visanya. Ada banyak kemungkinan, tapi menurut saya pribadi kemungkinan yang paling kuat karena isi buku tabungan yang minim, walaupun sudah ada referensi bank perusahaan, tetap dokumen pribadi menjadi pertimbangan, itulah sebabnya isi buku tabungan selalu yang paling saya tekankan untuk tidak disepelekan. Intinya sih jangan berikan celah kepada mereka untuk menolak permohonan kita, karena kalo kita yakin segala persyaratan sudah kita penuhi namun permohonan ditolak, maka kita masih memiliki kesempatan kedua dengan mengajukan banding ke diplomatnya langsung *ih ngeri udah kek konsultasi hukum. Tapi beneran, saya pernah membaca pengajuan banding di kedutaan besar Jerman dan dikabulkan, jadi jangan kasih kendorrr gaessss.... 

Saat itu saya dan teman saya didampingi travel agent sempat ke Korean Embassy untuk mencari tahu, walaupun saya sudah menduga bahwa kami tidak akan mendapat info apa-apa (namanya juga usaha yak!), mereka bilang dari dalam yang memutuskan, loket tidak tahu menahu...see? hanya diplomat dan Tuhan yang tahu...kan??kan??, mana penolakannya di stempel lagi di buku passport, sungguh kejam! Kan jadi ketahuan sama Embassy lain bukan!. Oiya, sebagai info travel ini cukup punya nama dan sering mengikuti acara Travel Fair, nama travel-nya ada Korea-korea-nya gitu, kurang apa coba?? Mereka sempat menyebutkan bahwa mereka sendiri juga shock karena baru pertama kali group series ditolak visa-nya yang jumlahnya terlalu banyak, entahlah??
Kayak begini nih stempel reject-nya 😢
Saat yang paling sulit bagi saya adalah ketika saya harus mengumpulkan dan memberitahukan kepada rekan-rekan saya siapa-siapa saja yang tidak mendapat visa, dan kami yang dapat harus tetap berangkat. Termasuk kemungkinan alasan yang menyebabkan ditolaknya visa, tentunya saya harus meminta maaf kepada rekan-rekan saya ini, karena saya kurang jeli meminimalisir kemungkinan-kemungkinan tersebut, *bo’ ini mau traveling baru part 1 aja udah sendu gini sik hiks.

Teman curhat saya sempat bertanya, “kamu dapet ngga visa-nya?”, saya: “ya dapetlah, kalo saya juga ngga dapet bubar kita, mosok ketua rombongan sekaligus brankas berjalan ga dapet visa, pada mau jajan pake apa?” :D. Saya sempat kepikiran juga, ini diplomat-diplomat per-visa-an tau aja sih kalo saya ketua rombongan dan brankas berjalan-nya hihi. Manager Travel-pun sempat bertanya pada anak buah-nya pada saat saya datang, apakah saya mendapat visa atau tidak? Tapi itu karena saya yang paling vocal dan paling galak pada saat negosiasi harga, yaa iyaalah...ngga galak nego gagal *pembelaan hihi. 

Thursday, January 19, 2017

Jepang Part 9 (Kobe-Tokyo-End)

Hari terakhir sebelum kembali ke Tokyo kami mampir dulu sebentar ke Kobe, dan siapa tahu masih bisa menghabiskan semalam di Shinjuku. Dari Stasiun Tanimachi Yonchome stop di Stasiun Shin-Osaka untuk nitip koper di loker karena kereta Shinkansen start dari stasiun ini. Untuk beberapa kota, stasiun tempat departur-nya Shinkansen memiliki nama yang berawalan dengan frasa ‘Shin’, seperti Shin-Osaka, Shin-Kobe, Shin-Fuji, dan lain-lain. Kalo anda tertarik dengan pernak pernik Shinkansen, cenderamata ber-tema-kan kereta super cepat ini, seperti alat tulis, notebook, gantungan kunci, dan replika mini-nya bisa di dapat di sini. Rute keretanya adalah Tanimachi Yonchome St. dengan Osaka City Subway Chuo Line for Cosmosquare stop di Hommachi St. sambung dengan Osaka City Subway Midosuji Line for Shin-Osaka, stop di Shin-Osaka St. Selama di Jepang, saya kerap kali memperhatikan setiap stasiun yang mereka bangun dengan serius. Stasiun-stasiun utama biasanya dibangun beberapa lantai yang di fasilitasi dengan shopping mall, bioskop, restaurants, sports club, taman, dan bahkan perkebunan, kereeen bukan??

Rukun yah mereka      *Taken from Japan-Guide
Kalo yang ini sih 'sadess' keren-nya. Bukannn! bukan saya yang motret! :D    *Taken from Japan-Guide
Melanjutkan perjalanan ke Kobe Harborland, dari Stasiun Shin-Osaka kami menggunakan JR Kyoto Line Rapid Service for Aboshi stop di Osaka St., sambung dengan JR Kobe Line Rapid Service for Aboshi stop di Kobe (Hyogo) St., keseluruhan total waktu tempuh hanya 1 jam karena Osaka-Kobe memang lebih dekat daripada Osaka-Kyoto. Setelah 2 jam menempuh perjalanan, kami sempat curiga karena sudah tidak tampak lagi gedung-gedung tinggi atau bangunan-bangunan modern, tepatnya sih Mak Bos yang notice, karena saya dan teman saya syantaiiii kayak dipantaiiii menikmati pemandangan, tanpa curiga kalo kami kesasarrr! Lagi!!! Untuk ke seribu tujuh ratus enam puluh empat kali-nya! 😁. Keluar dari kereta, kami disambut udara pegunungan yang cukup dingin, ternyata kami kebablasan sampai ke Stasiun Takedao, stasiun kecil ini di kelilingi oleh gunung, lembah, dan sungai, keren banget pokoknya. Karena mengejar waktu, kami harus buru-buru kembali, tinggal naik kereta arah sebaliknya saja, dan bertanya sebanyak 2 kali kami sudah sampai Kobe (Hyogo) Station, cuma jadi buang-buang waktu 2 jam!.

  *jepretan by Henny
Nyasar di Takedao
The Surrounding area
Nih petanya, harusnya kami mengikuti rel biru ke bawah ditandai dengan garis hitam, kami kebablasan sampai ke rel kuning ke atas ditandai dengan garis merah, *Hobi kok Nyasar 😭
Kobe (Hyogo) Station ter-integrasi dengan Mall dan lantai dasarnya digunakan untuk pertunjukan seni, saat itu kami melihat pertunjukan orkestra anak-anak SMP di lantai dasar di tengah persimpangan antara Mall dan Stasiun. Keluar dari stasiun, sepanjang jalan menuju Giant Ferris Wheel di Kobe Harborland adalah Shopping Arcade, area Giant Ferris Wheel merupakan area restoran-restoran, Anpanman Children's Museum and Mall, serta covention hall yang tidak begitu besar, pas kami datang kebetulan sedang ada warga lokal yang sedang melangsungkan pesta pernikahan karena saat itu adalah hari Sabtu. Disini kami hanya mampir sebentar dan mencicip Kobe Beef yang terkenal itu, berapa harganya? Rahasia..wkwk, menurut temen saya sih rasanya sama saja dengan jenis daging sapi yang lain (saya ngga makan daging lagi diet :D).

Tangga menuju lantai dasar Mall dari Stasiun
Orkestra-nya
Sepanjang jalan menuju Giant Ferris Wheel
Anpanman Children's Museum and Mall   *jepretan by Henny
The Giant Ferris Wheel
Kobe Station dilihat dari area Giant Ferris Wheel
The Famous Kobe Beef
Kobe Walk, seberangnya adalah Takahama Quay, menara merah itu Kobe Tower
The Mosaic
Kembali ke Tokyo, rute kereta yang kami lewati adalah Kobe (Hyogo) St. dengan JR Kobe Line Rapid Service for Yasu, stop di Osaka St. sambung dengan JR Kyoto Line Rapid Service for Yasu stop di Shin-Osaka St. total waktu tempu 31 menit. Kemudian dari Shin-Osaka Station dengan Shinkansen Nozomi, stop di Shinagawa St. sambung dengan JR Yamanote Line (Inner Loop) for Osaki stop di Hamamatsucho St., terakhir dengan Tokyo Monorail Rapid stop di Haneda Terminal 2, total waktu tempuh 3 jam, total fare IDR 1.500.000. Oiya, terkadang Shinkansen tidak langsung direct ke Osaka dari Tokyo dengan 1 kereta saja, kadang kala mereka stop di satu kota seperti kami waktu itu di Nagoya, dan sambung dengan kereta Shinkansen lain ke Osaka, tidak perlu panik, karena kereta lanjutannya ada di rel sebelahnya, cuma biar ngga kaget tanya dulu saja ke petugas yang jual tiket, keretanya direct atau connecting?. 

Tiba di Tokyo waktu sudah menunjukkan hampir jam 9 malam, rencana ke Shinjuku kami batalkan, apalagi dengan gembolan koper-koper ini udah males banget rasanya hehe...Jadi kalo ada yang bisa jalan-jalan non stop memanfaatkan setiap waktu untuk ngider, wahhh saya sembah-sembah deh, cadangan baterenya pasti selusin ituh!. Beneran inih, karena saya sudah menghabiskan sepasang sepatu untuk perjalanan ini, sepatu saya jebol saya buang di Osaka :D, kebayang dong harus seberapa kokoh ini kaki!. Di Tokyo kami menginap di hotel bandara Royal Park Hotel The Haneda, karena pesawat kami pukul 11.00 siang ke-esokan harinya, tarifnya IDR 2.300.000, terletak di pintu keberangkatan  internasional. 

Dari beberapa negara yang pernah saya kunjungi, Jepang adalah negara yang paling berkesan untuk saat ini, teman saya benar, negeri ini indah, nyaman, dan ramah penduduknya. Satu hal yang bikin saya kangen Jepang adalah suara burung Gagak dimana saja dan kapan saja karena saking banyaknya. Eniwei, andaikata saya dilempar kesini sendirian selama setahun, saya pastikan saya yang susah beradaptasi ini bisa bertahan hidup, Mmmm....ada yang muslim ngga cowoknya?? *dibalang sendal wkwk...