Welcome to Kyoto! Yihaaaa... dari semua kota yang kami kunjungi, Kyoto merupakan destinasi favorit saya, ngga kuno banget tapi juga ngga ruwet, maksudnya piyeee? Yo wis pokoknya gitulah 😀. Rute kereta-nya dahsyat, cuma karena gembolan-nya hanya ransel jadi yah nothing to worry (sambil menatap nanar ke dua kaki -.-). Destinasi pertama adalah Arashiyama Bamboo Grove, itu lohhh yang suka ada di kalender-kalender 😄.
Rute kereta Osaka-Kyoto (Arashiyama) adalah sebagai berikut, Tanimachi Yonchome St. dengan Osaka City Subway Chuo Line for Cosmosquare stop di Sakaisuji Hommachi St. sambung dengan Osaka City Subway Sakaisuji Line for Takatsukishi stop di Tenjim Bashi Suji Rokuchome St. lanjut lagi dengan Hankyu Senri Line for Takatsukishi stop di Awaji St. sambung dengan Hankyu Kyoto Line Ltd. Exp. for Kawaramachi stop di Katsura St. terakhir dengan Hankyu Arashiyama Line for Arashiyama stop di Arashiyama (Hankyu line) St. Duhhh mbaca-nya aja capek gimana ngejalaninnyaaahh??? Wkwkwk. Total waktu tempuh officially 60 menit, practically 120 menit :D, bisa juga dicapai dengan Shinkansen tapi katanya lebih ribet karena kudu ke Stasiun Shin-Osaka dulu, tapi kalo mau icip-icip Shinkansen dengan harga murah yah inilah saatnya.
Dari Stasiun Arashiyama (Hankyu line) ini kami masih berjalan kira-kira hampir 1 jam, lho?? Kalo ngga salah udah deket deh ngga segini jauhnya, ternyata kami salah ambil stasiun, harusnya kami ketik di Google Map Stasiun Saga-Arashiyama! Inget yah ada ‘Saga’-nya!!! *nguntal HP!. Jadi, dari Stasiun Arashiyama (Hankyu line) yang kecil dan sepi ini kami melewati daerah yang sama sepi-nya, saya sempat kuatir kami salah turun, namun 15 menit kemudian saya sudah melihat landmark-nya si Arashiyama yaitu Togetsukyo Bridge yang dibawahnya mengalir Katsura River, duh lega bercampur haru.
 |
| Pemandangan yang kita lewati jika turun di Arashiyama St. (Hankyu Line) |
 |
| "Mak, keknya kesana tuh mak, ituh jembatannya??" |
 |
| Peta-nya *taken from Japan-Guide |
Kami masuk ke bamboo grove melalui Tenryuji Temple, kalopun tidak melewati Tenryuji Temple juga bisa, hanya jalannya masih lurus sedikit dan melalui gang-gang sempit. Tak lama setelah melewati halaman Tenryuji Temple, saya sudah mendengar bunyi kemresek dan berdecit-decit seperti di rumah Mbah saya, ya...Bamboo Grove Walking Path tepat berada di depan mata saya. Sejuk, rindang, sangat bersih dan rapi, karena bambu-bambu ini di tata dengan pagar pembatas yang saya lihat seperti sabut atau ranting pohon kering?, entahlah saya ngga tahu ini apa. Sebenernya bamboo grove seperti ini di Desa rumah Mbah saya juga banyak, lebih natural malah...hanya kurang diberdayakan saja. Beberapa pengunjung datang ke bamboo grove untuk foto pre-wedding, tuh...foto aja di hutan bambu deket rumah Mbah saya! Hutan karet juga ada! 😜.
 |
| Tenryuji Temple *jepretan by Mak Bos |
 |
| Sepasang kekasih yang mau foto pre-wed 😍 |
 |
| Yeeeaaayy... |
Berjalan kira-kira hampir 1 km kami sudah sampai ke ujung Bamboo Grove, pathnya sebenernya bercabang-cabang tapi kami memilih arah sebelah kanan menuju ke stasiun Torokko Arashiyama khusus untuk kereta wisata Sagano Scenic Railway yang tepat di dekatnya adalah sebuah kolam kecil. Kalo anda masih punya banyak waktu, Sagano Scenic Railway patut dicoba karena rute yang dilewatinya sangat indah, melalui lembah di pinggir sungai Hozu, selain itu masih ada spot lain seperti Okochi Sanso Garden dan Monkey Park Iwatayama. Kami skip semua karena masih harus ke 3 spot lain, dari sini kami ke Stasiun Saga-Arashiyama, sepanjang perjalanan kami melewati lingkungan rumah tinggal penduduk dan jalanan beraspal yang sepi, blas ngga ada turis, ini sih disasarin lagi sama si Google!, sekitar 45 menit kami baru sampai di Stasiun, padahal harusnya cuma 1-2 km dari bamboo grove (Ngga papa udah biasa! *Garuk Aspal).
 |
| Get Lost |
 |
| *jepretan by Henny |
Rute kereta dari Arashiyama ke Fushimi Inari Shrine adalah
Saga-Arashiyama St. dengan JR Sagano Line for Kyoto stop di Kyoto St. sambung dengan JR Nara Line Local for Nara stop di Inari St. Keluar dari Stasiun Inari, Mbak Google sudah ngoceh “1 minute left” eh?, ngga mungkin banget masak dia bilang 1 menit lagi nyampe, mana ada ceritanya tempat wisata pas depan stasiun, dia pasti mau nyasarin kita lagi, ih ngga akan ketepu!. Tapi saat saya mendongakkan kepala hendak bertanya pada orang yang lewat, saya menangkap sosok objek Torii raksasa warna orange yang berdiri kokoh tepat di hadapan kami, wkwkwk...mangaapp yah mbak Google udah su’udzhon aja :D.
 |
| Gerbangnya *jepretan by Henny |
 |
| Candid by Henny, biar ngga bosen sama yang orange2 :D |
 |
| Fushimi Inari Taisa |
Kuil Shinto ini berada di kaki gunung Inari, terkenal akan deretan Torii orange yang membentang sepanjang 4 kilometer ke atas gunung Inari, membutuhkan waktu 2 sampai 3 jam untuk sampai ke ujung Torii. Dari info yang saya baca, Torii ini adalah sumbangan dari donatur, yang di setiap Torii-nya tertulis nama donatur dan tanggal diserahkannya, harga pembuatannya untuk Torii kecil kira-kira senilai IDR 40.000.000, dan Torii besar senilai IDR 100.000.000. Di banyak sudut, tersebar patung-patung rubah dan ornamen rubah di papan-papan kayu gantung, karena dianggap sakral sebagai utusan Inari, papan kayu ini bisa kita beli sebagai souvenir, biasanya akan dituliskan nama kita di papan tersebut. Pun dibanyak Kuil Shinto juga dijual papan-papan gantung yang berbeda ornamen sesuai dengan yang menjadi ke-khas-an Kuil yang bersangkutan. Seperti di tempat wisata lain, sepanjang jalan di dalam dan diluar kuil adalah penjual makanan dan souvenir.
 |
| The Torii's *jepretan by Henny |
 |
| The Torii's *jepretan by Mak Bos |
Karena hari sudah menjelang Sore, maka destinasi ke Kiyomizu-dera Temple kami batalkan sebab kuil ditutup jam 5 sore huhuhu. Jadi dari Fushimi Inari Taisha kami ke daerah Gion tempat adanya Mbak-mbak Geisha, dari Inari St. dengan JR Nara Line for Kyoto stop di Tofukuji St. sambung dengan Keihan Main Line stop di Gion-Shijo St. Kota Kyoto memiliki arsitektur dan tata kota yang unik, orisinalitas masih terjaga, saya melihatnya seperti percampuran arsitektur tradisional dan modern, yang menarik adalah mobil yang mereka pakai masih mobil tua, padahal untuk beli yang baru pasti bisa, entah mengapa masih dipertahankan. Dimana-mana saya melihat banyak mbak-mbak yang memakai baju kimono, tapi mereka bukan geisha karena kalo geisha mereka ngga bisa sebebas itu jalan-jalan sebab sering dijadikan objek foto oleh para turis, dan yang pasti langsung bisa di kenali dengan dandanan mereka yang cemong-cemong bedak putih tebal kayak di pelem-pelem itu.
Keluar dari stasiun kami berjalan menelusuri pertokoan di sebelah kanan stasiun dan menemukan restoran Indonesia bernama “Restoran Bali”, wah betapa senangnya kami, namun saat naik ke lantai 2 menuju restoran ternyata restorannya tutup!, sepertinya karena sudah lewat jam makan siang, akhirnya kami memilih restoran masakan eropa di gedung yang sama. Dari berjalan ke sebelah kanan Stasiun, kami kembali dan berjalan ke arah sebaliknya yaitu ke Shijo Ohashi Bridge, dan ternyata suasana disini lebih meriah, disepanjang pinggir sungai Kamogawa merupakan deretan restoran berkonsep beranda, jadi kita bisa nongkrong dengan pemandangan sunset *deuh tau gitu kita makan sore disini tadi, habis udah kelaperan!. Oiya, dibawah jembatan banyak Abege-abege yang lagi pacaran, beneran banyak banget, pinggiran sungainya sampe ngga ada sela sama sekali wkwk...
 |
| Kamogawa River *jepretan by Henny |
 |
| Si Restoran-Beranda *jepretan by Mak Bos |
Menyeberangi jembatan, kami walking tour ke arah kanan memasuki gang bagian depan restoran-beranda tadi. Deretan gang-gang ini merupakan rumah-rumah tradisional Jepang berdinding kayu yang sebagian merupakan restoran dan toko souvenir, sebagian lagi adalah tempat tinggal. Untuk ke Gion yang merupakan tempat pertunjukan tari oleh Geisha atau biasa disebut “Kabuki,” harusnya kami menyeberang jembatan lagi dan berjalan ke arah belakang Gion-Shijo Station. Dari jembatan kira-kira berjalan kaki sejauh 300 meter (katanya Mbak Google, prakteknya sih ngga pernah bener!), hanya sebenernya Gion-shijo Station agak kejauhan turunnya, harusnya kita turun di Sanjo Station atau di Kawaramachi Station, tepat berada di depan Yasaka Shrine.
 |
| Gion surrounding area *jepretan by Mak Bos |
 |
| Shijo Ohashi Bridge *jepretan by Mak Bos |
 |
Gion Alley *jepretan by Mak Bos
Dalemnya rumah-rumah ini *jepretan by Henny |
 |
| NNB : Numpang Nampang Bentar 😀 |
Area kompleks Geisha, rumah-rumahnya sama dengan gang-gang tadi hanya gangnya lebih besar, untuk melihat pertunjukan “Kabuki” kita harus merogoh kocek sebesar IDR 500.000-1.000.000!. Oiya, jangan salah sangka yah, konotasi Geisha sekarang berbeda dengan dulu seperti yang kita lihat di pelem-pelem, di masa sekarang Geisha adalah performer profesional. Sekali lagi kami skip area Gion-Geisha karena udah ngga sanggup lagi berjalan, apalagi besok kami masih harus nggembol koper lagi ke Kobe bablas Tokyo, ngebayanginnya aja udah bikin keringetan. Eniwei, saya sangat suka Kyoto, dan kami sepakat bahwa momen terbaik adalah saat walking tour dari Bamboo Grove ke Stasiun Saga-Arashiyama, walaupun itu sebenernya nyasar tapi kami menikmati perjalanan ‘out of nowhere like a locals’ karena tidak ada turis satupun hihi. Baru 3 spot saja tulisan Kyoto udah segini panjangnya *jangan bosan yah :D, padahal masih banyak spot-spot lain di Kyoto yang wajib dikunjungi seperti Ginkakuji Temple, Kyoto Imperial Palace, Kyoto Tower, dan Nishiki Market. I’ll be back someday, for sure!.
0 comments:
Post a Comment