• Cappadocia Hot Air Balloon

  • Taj Mahal

  • Eiffel Tower

Friday, November 10, 2017

Vietnam Series (Traveling with mom) part 5 End

Keesokan harinya di hari terakhir tour, pukul setengah tujuh pagi kami sudah berkumpul di deck atas untuk Tai chi, olah raga ala-ala tiongkok, kemudian ke Sung Sot Cave.  Menuju Sung Sot Cave juga cukup berat, naek ke atas dengan ratusan anak tangga tapi cukup landai, luasnya sekitar 10.000 m2 tinggi langit-langitnya 30 meter, dibagi menjadi 2 ruangan yakni Theater Hall yang memang mirip sebuah gedung teater, dan ruang ke dua disebut sebagai Royal Garden yang batu-batuannya tampak seperti tumbuh-tumbuhan. Keluar dari cave menanjak lagi ke atas, dan tadaaaaa…lansekapnya sungguh menakjubkan hampir mirip dengan yang saya lihat di Ti Top Island, memang…untuk mendapat pemandangan yang indah selalu tidak mudah. Sung Sot cave ini sendiri dari kejauhan seperti sebuah bukit karst yang dilubangin, jadi tak heran kalo Goa-nya juga begitu besar dan luas…

Sung Sot Cave

Guedee kan..yang mini-mini ituh pengunjung loh!

Sampai atas seperti ini lansekapnya....

Setelah kembali ke kapal acara berikutnya adalah les memasak membuat spring roll yakni lumpia Vietnam yang berbahan dasar bihun, wortel, tahu, daging dan telur. Kami dengan Opa oma dari India yang vegetarian di treat terpisah karena Spring Roll yang pertama berbahan dasar B1...dan dengan demikian tour kami secara resmi  ditutup dengan kursus memasak :D. Secara keseluruhan Halong Galaxy Cruise cukup memuaskan, kegiatan variatif, makanan enak dan berlimpah, dan operator tour sangat ramah, walaupun ada tamu tak dikenal masuk ke kamar temen saya…iya ada kecoak di kamar! tapi ini remeh-temeh-lah buat kami, anyway udah kami report juga di jurnal kepuasan pelanggan mereka. Oiya, saat kepulangan, Halong Galaxy Cruise memberikan sedikit kejutan dengan memberi hadiah pada peserta tour yang berulang tahun di hari itu mbak-mbak New Zealand dan mbak-mbak Filipino, usut punya usut ternyata  mereka ngecek details peserta dari passport yang kami berikan.

The Ingredients


Oiya, dari keikutsertaan di tour ini, akhirnya saya membuktikan sendiri bahwa benar orang asia-lah yang speed-nya paling lambat, sering-nya kami menunggu Singaporean, Filipino, atau kami sendiri yang terlambat. Paling sering ditunggu sih mbak-mbak Filipino dan pacar bule-nya ini, dan saya lihat orang-nya juga jarang ngobrol dengan peserta lain, saya bisik-bisik sama temen saya, mbak-mbak Filipino ini lambreta deh ketinggalan mulu sama pacarnya hadew!...dan pada suatu ketika tibalah giliran saya yang ketinggalan sendirian, benar-benar hanya tinggal nunggu saya di Tender!. 

Yang terjadi adalah kayak  yang harusnya diisi 2 orang, saat itu hanya di isi oleh saya sendirian, karena jumlah group kami ganjil 5 orang, memang sih foto saya jadi keceh (penting ga sehh -,-), tapi dengan volume kayak yang ringan becozzz penumpangnya juga ringan (yes meh!) saya jadi dengan mudahnya dihembus angin saat mau keluar dari ceruk karena angin sore berhembus kearah laguna, miris ga sehh. Sumpahh! Saya frustasi karena tiap kali hampir keluar dari laguna, saya dihempas angin dan balik lagi ke dalam, dan itu hanya tinggal saya seorang di laguna! Nam yang curiga saya tidak kunjung muncul akhirnya menyusul saya, berteriak-teriak panggil nama saya *biasa aja kaleee (-,-) “don’t panic..don’t panic..look at me…paddle right…paddle left” begitu kata dia, kayak-nya sendiri juga perlu sedikit di dorong oleh dia karena angin lumayan kencang. Hemmm…ini nih akibatnya keseringan nyinyirin orang pacaran!? *dibayar tunai Wkkkk…

Malapetaka itu datang dari ringannya volume kayak 😁


Setelah tour selesai mereka meletakkan kotak tips di ujung ruangan, jadi ternyata tips tidak diberikan ke perorangan, begitupula di Hotel kotak tips diletakkan di meja reception, itu-pun jika kita merasa puas dengan pelayanan mereka, jika tidak maka tidak perlu memberikan tips, begitu katanya. Minibus yang akan membawa kami kembali ke Hanoi telah mengantar peserta tour selanjutnya, tapi Nam mengatakan bahwa mereka hanya akan melewatkan makan siang di Cruise saja! Lhah kok gitu?? Nam melanjutkan setelah makan siang, peserta tour tersebut akan diberitahukan bahwa Cruise tidak dapat berangkat karena malam ini sampai beberapa hari kedepan akan terjadi hujan badai di Hanoi dan Halong Bay! Duuaarrr!!!

Alhamdulillahhh nyariss ya bokk, tau aja si Halong Bay ini kalo kami ini wisman misqin :D…kami sangat bersyukur bahwa 3 hari kami di Hanoi suasana sangat mendukung, walaupun pesawat sempat delayed karena hujan badai seperti perkiraan. Oiya, ini juga cukup penting bagi kita, jika pesawat kita delayed bersiaplah untuk lari sprinter bila penerbangan lanjutan anda hanya berjarak 2 jam saja, karena penerbangan lanjutan tidak akan menunggu anda, tetap on scheduled, apalagi saat itu gate yang tertulis di boarding pass diganti! Padahal kami sudah konfirmasi dengan petugas dan gate masih sama! Alamakkk kasihan emak saya yang tergopoh-gopoh saya ajak berlarian (-,-), KLIA kiy wis jan embuhh kok!!...syukurlah kami tiba di gate tepat waktu.

Nah..ini si Dui...abegeh Hanoi yang ngajakin improve engleisss
Well, overall perjalanan kami ke Hanoi aman damai dan sejahtera, walaupun penduduknya agak lempeng tapi tidak semua-lah, ada juga ABG lokal yang tetiba menyapa kami dan ngajak ngobrol karena pengen improve engleisnya, trus para stake holder pariwisata di Hanoi yang menurut saya kelewat ramah dan murah senyum. Padahal selama disini kami sudah siap-siap waspada dengan segala hal buruk yang mungkin tejadi, tapi syukurnya tidak terjadi apa-apa, sedangkan di Bangkok kami santai tapi ternyata banyak ketipunya (-,-). Nah kan….anda tidak perlu kuatir untuk berkunjung ke Vietnam sepanjang anda waspada dan cari yang aman-aman saja.

Vietnam Series (Traveling with mom) part 4

Di hari ke dua adalah schedule kami untuk berangkat ke Halong Bay, sesuai arrangement kami dijemput di Hotel pukul 8 pagi, koper tidak usah dibawa titipkan saja di Hotel, dan bawalah barang dan baju seperlunya untuk pergi 2 hari 1 malam. Kami dijemput oleh Mr. Nam tour leader-nya, dalam satu Mini Bus berisi 24 orang yang berasal dari berbagai macam Negara seperti Singapore, Filipina, India (Passport South Africa), New Zealand, Republik Ceko, Jerman, Hongaria, dan Israel. Tapi tidak semua peserta mengikuti paket 2 hari 1 malam, ada satu group asal Israel yang memilih paket 2 hari 3 malam, sehingga harus di treat terpisah karena untuk paket tersebut menginap di Cat Ba island. Di Halong Bay ini kebanyakan turis berasal dari Eropa, setiap group diminta untuk memperkenalkan diri satu persatu, dan sungguh hanya kami dan Singaporean yang sekeluarga Ibu & Anak atau Kakak & Adik, lainnya kalo tidak suami istri ya pacaran wkkk…

Iki opooo?! *mbak-e ra jelas (-,-)

Kapal yang belah kanan

Ehemm..yes it's meh...😀
Baru saja berangkat Mini Bus sudah diseruduk mobil lain dari belakang, padahal Nam baru saja mingkem dari bercerita carut-marutnya jalanan Hanoi. Setelah menempuh perjalanan selama 4 jam kami tiba di Halong Bay, suasana cerah cenderung panas syukurlah Accu Weather ternyata akurat. Di dermaga sudah menunggu Halong Galaxy Cruise, cruise ini memiliki 3 bagian, deck pertama adalah kamar-kamar deluxe cabin & dapur, deck kedua ruang makan, kamar premier cabin, & kemudi, dan yang paling atas adalah atap terbuka, istilahnya dalam perkapalan apa dah tuh ga tau hihi…

Nahkoda-nya pro banget dah...
The Dining Room
Deluxe Cabin
Kamar mandi yang ada jendelanya,
jadi bisa mandi sambil memandangi bukit-bukit karst *Nah lho
Saya mendapat kamar sesuai permintaan yakni agak ke tengah jauh dari genset, oiya jangan lupa sebelum berangkat ke Halong Bay belilah air minum terlebih dahulu, karena semua paket cruise di Halong Bay tidak termasuk air minum, bahkan saat makan anda harus membeli minuman, harganya lumayan paling murah air mineral ukuran tanggung seharga USD 1. Untuk makanan, anda tidak perlu kuatir karena tour leader akan bertanya satu persatu kepada peserta apa yang boleh dimakan dan apa yang tidak boleh, se-detil bertanya apakah kita boleh makan telur!



Halong Bay adalah gugusan pulau dan bukit karst, alkisah (ehem mulai serius), bangsa Vietnam dulunya diserang oleh kerajaan Tiongkok. Karena kewalahan mereka meminta bantuan kepada para dewa, dan kemudian dewa mengirimkan Ibu Naga dan anaknya untuk menyelamatkan dengan memuntahkan batu-batu zamrud sebagai benteng untuk melindungi bangsa Vietnam, batu-batu zamrud inilah yang kemudian berbentuk gugusan bukit-bukit karst. Dikemudian hari Ibu Naga dan anaknya tidak kembali ke surga, itulah sebabnya orang Vietnam menyebutnya Halong Bay atau The Descending Dragon-tempat bersemayamnya para Naga, begitulah kira-kira cerita dari Mas Nam, oke sekarang kita panggil dia Mas biar ikrib :D.

Ahh seandainya batu Zamrud tidak berubah jadi karst,
pasti udah aku karungi atu-atu inih! 😂


Ibu-ibuuu pengajiann are you readyyy?!?! 😁
Finally...he's on frame! *Mas-nya Guide
Perjalanan dari dermaga menuju ke tengah Halong Bay tidak memerlukan waktu lama hanya kurang lebih 30-60 menit dari dermaga, cuacanya tidak begitu panas dan cerah hingga gugusan bukit-bukit karst terlihat sangat jelas, pemandangannya sungguh keren. Tour ke Halong Bay ini di-arrange seperti kita island hopping, jadi berpindah dari satu pulau ke pulau lainnya, tentunya dengan kapal yang lebih kecil, Mas Nam menyebutnya Tender, lhah saya ngga ngerti kalo tender tuh kapal kecil, ngertinya Boat! Jadinya kebingungan tiap kali dia nyebut meeting point di Tender! Akhirnya dikoreksi sama dia dengan bahasa yang lebih umum hihi…

Tender!!! - nya orang...
Kegiatan di hari pertama setelah makan siang adalah kayaking, kami di bawa dengan Tender, ke dermaga kecil di tengah laut yang dikelilingi bukit karst, kemudian naik kayak, setiap kayak berisi dua orang. Air di teluk Halong ini cukup stabil jadi tidak perlu khawatir akan ombak, standar keselamatan juga memadai, setiap kami naik ke Tender atau Kayak diharuskan memakai safety jacket. Sebelum kayaking, Mas Nam sedikit memberikan brief mengenai cara mendayung dan rute kayaking, ternyata cukup mudah mendayung kayak, “left-left right-right” kata Mas Nam. Selain Kayak, ada juga beberapa perahu kayu kecil ber-group yang di dayung oleh operator dermaga, sepertinya ini tour untuk paket one day. Kemudian, untuk rute kayaking-nya adalah kita mendayung kearah bukit karst sampai ke ujung ceruk atau terowongan untuk masuk ke laguna, di dalam laguna pemandangannya sangat spektakuler, jadi seperti sebuah danau yang dikelilingi oleh tebing-tebing karst, air sangat tenang dan sesekali burung Elang terbang di atas kita, tak ketinggalan monyet-monyet liar jenis ekor panjang berloncatan disisi tebing (iyaa saya tau di tempat kita juga ada, udah sih baca aja! hihi)...dan biarkanlah foto yang berbicara...





Masuk ke dalam Laguna dari ceruk yang diujung itu...


Di dalam Laguna


Selanjutnya, kita dibawa ke Ti Top Island, kegiatannya adalah swimming dan tracking ke gardu pandang, saya lebih memilih tracking sendiri karena pantainya ya gitu-gitu aja, Mak-mak dan si neng memilih berenang, tapi untuk tracking ini agak perlu tenaga extra karena anak tangga-nya berbilangan ratusan dan kemiringannya cukup tajam. Namun, kepayahan menaiki anak tangga Ti Top Island terbayar sudah dengan pemandangan lansekap yang sangat Indah! Ah sudah-lah biarlah foto yang berbicara… :D







Evelyn, Zee The Singaporean & meh! 
Nah bisa ditebak ye bok kalo sesama Asian cepet ikrib Mr. & Mrs. Anand,oiya sama yang New Zealand juga, maklum sama-sama dari belahan bumi selatan :D
Ini sama bu-ibu dari Medan :D
Menjelang maghrib (engga, ga ada bedug, kira-kira aja maghrib :D) kami kembali ke Cruise, kemudian berkumpul di deck paling atas untuk sunset party, apa sihhh sunset party?? Yahh nyemil-nyemil aja minumnya anggur sambil liat sunset, ini versi bule. Lalu, bagaimana sunset party versi syariah :D? sebelum ke deck si Mas Nam nyamperin ke cabin saya, dia bilang kamu and group ga minum anggur kan ya kayaknya? Saya jawab Iya kita ganti mik jus aja, pas sunset party dimulai Mas Nam kasih kami jus jeruk sambil menjelaskan ke peserta lain bahwa kami dilarang minum anggur. Setiap peserta diminta menyebutkan cheers dalam bahasa masing-masing, nah pas tiba giliran kami, dia bilang karena ga ada culture minum anggur di Indonesia mungkin ga ada yah cheers dalam bahasa Indonesia, lhah saya langsung potong ada-lahh “bersulanggg” dan semua mengikuti “bersulangggg” :D hihihi.

After partehh...
Setelah makan malam adalah acara bebas seperti nonton film dan memancing cumi-cumi, atau memandangi keindahan bulan Halong Bay di malam hari kata Mas Nam, “enggak deh kami ke cabin aja” sahut kami, “owh ya udah gapapa, aku ngerti kok culture kalian, ga boleh keluar malam” sambung Mas Nam, halahh! Padahal kalo di Jakarta pulang malem muluk! Aslinya sih udah klenger plus ngantuk berat, dan kami cuma nyengir aja…


Vietnam Series (Traveling with mom) part 3

Bandara Noi Bai di Hanoi merupakan bandara tersibuk ke-2 di Vietnam, bangunannya sudah modern karena memang baru dibikin, walaupun tidak begitu luas. Ke Vietnam kita tidak perlu visa, bahkan tidak perlu mengisi departure card, antrian imigrasi ada yang dipisah khusus untuk yang dari negara-negara anggota ASEAN.

Noi Bai Int'l Airport Gate 3

Eh kayak kenal ??
Sesampainya dipintu kedatangan telah menunggu driver dari Cruise yang memegang nama saya leganyaahh…saya pikir saya hampir kena penipuan, sebab saat transit saya mengirim pesan ke Ivy untuk memastikan semua sesuai rencana, tapi tidak ada balasan! Gimana orang ngga keder coba!. Mini bus mereka mengantar kami ke Hotel yang berjarak kurang lebih satu jam dari bandara, sepanjang perjalanan driver beramah-tamah dengan kami dengan mengajarkan sapaan-sapaan sederhana dalam bahasa Vietnam, juga menjelaskan apa-apa yang berada di kanan kiri jalan seperti lahan padi, jagung, kerbau dan sederet hal-hal ngga penting lainnya (-,-), kami sih nyengir-nyengir aja, ngga ngerti apakah dia kurang bahan atau ngga tahu bahwa di Negara kami ini juga ada, tapi saya apresiasi usahanya dengan engleiss-nya yang sekenanya ituh :D…

Hanoi tidak se-modern Ho Chi Minh City, tidak ada gedung-gedung tinggi atau bangunan-bangunan megah, kebanyakan bangunannya berupa ruko paling tinggi mungkin 5 lantai, seperti old town. Semua hotel, toko, kantor, dan hunian berupa ruko yang depannya kecil tapi memanjang kebelakang, bangunan paling bagus yang saya lihat adalah AEON Mall. Jalanan di Kota Hanoi bagaikan nasi uduk tanpa karet…awur-awuran! mobil dan motor saling berebutan untuk sampai entah kemana seolah-olah tak ada hari esok, klakson tak henti-henti-nya bersahut-sahutan, parkir motor berserakan dimana-mana. Jenis motor dan mobilnya masih tipe-tipe lama, Innova sudah paling top saya rasa, motor matic sudah ada tapi sepertinya buatan Tiongkok.

Old Quarter
Noh kaga pake helm!...mungkin dia punya nyawa cadangan?! 
Trotoar penuh dengan tukang dagang, bahkan tukang jualan makanan rumahan hanya bermodalkan panci dan bangku plastik pendek, mejanya? bangku juga! Bahkan tanpa atap terpal! Saya pikir mereka adalah sekeluarga yang lagi iseng nongkrong di jalan..lhah ternyata mereka ini adalah pembeli yang lagi jajan, kalo di Jakarta sudah pasti diangkut Satpol PP tentunya. Kabel listrik, telfon, dan segala jenis kabel dibiarkan ngamprak begitu saja di tiang listrik. Kesimpulannya? Hanoi seperti Jakarta tahun 80-an, tapi justru itu yang menjadi daya pikat, betah sih tapi tidak untuk tinggal, cukup plesir sahaja…:D.

ya udah gini doang kalo jualan...ga banyak modal, tapi kalo ujan ya kelarrr...😃
Kabel listrik sungguh otentik...patut diabadikan!😁 
Tiba di Hotel, kami dipersilahkan duduk di lobby dulu dan kemudian staff hotel membagikan flyer map dan flyer brief, isinya adalah waspada akan copet, jangan sembarangan memesan taxi, jangan sembarangan percaya pada orang dijalan, simpan passport di Hotel saja, hati-hati saat menyeberang jalan, bagaimana cara menyeberang jalan. Sampai dengan hal detil seperti ketika berbelanja jangan memegang barang dagangan yang kita tidak yakin untuk membeli! Jadi kami seperti diberikan kuliah umum oleh staff Hotel wkkkk… wah saya malah tidak menyangka bahwa mereka akan sampai segitu concern-nya untuk mengantisipasi kejahatan yang mungkin akan menimpa wisatawan. Pun saya datang ke Vietnam sudah dengan kewaspadaan penuh karena sudah aware dengan banyaknya traveler yang kena tipu dan copet disana sini *jadi ini mau plesir apa mau perang sih!?!?*

Yuk internal meeting..eh kuliah umum!
Dalemnya ruko-ruko baik hotel, toko maupun hunian seperti ini,
tidak lebar tapi memanjang ke belakang 
Kalo anda menginap di kawasan Old Quarter cukup banyak yang bisa anda kunjungi dengan berjalan kaki, seperti Danau Hoan Kiem, Water Pupphet Theatre, Ngoc Son Temple (menyeberangi jembatan Huc di tengah danau dengan entrance fee IDR 16.000), dan Museum Revolusi Vietnam. Agak jauhan lagi adalah Mausoleum Ho Chi Minh tempat di semayamkannya jasad Ho Chi Minh yang sudah diawetkan, untuk kesini anda harus datang pagi-pagi karena Mausoleum tutup tengah hari dan jangan lupa berpakaian yang resmi dan sopan, kemudian ada Pagoda Tran Quoc dan Benteng Kerajaan Thang Long (entrance fee IDR 18.000). Untuk ke tempat-tempat ini saya sarankan naek Taxi saja, mintalah Hotel untuk memesankan Taxi yang reliable, anda juga bisa menyewa motor dengan harga IDR 120.000/hari tapi sebaiknya jangan jika anda tidak punya skill, minimal seperti kangmas Dani Pedrosa, paham kan maksud saya?? :D, atau anda bisa naik cyclo dengan tarif IDR 60.000/jam, tapi kembali lagi kita kudu super ati-ati.

Untuk makanan, karena bukan Negara mayoritas muslim kita harus berhati-hati dengan bahan-bahan non Halal, yang wajib dicoba adalah Mie Pho (baca: Fe dengan e pepet) yaitu Mie kuah seperti bihun yang ditambahkan dengan tauge dan irisan daging bisa sapi, ayam, atau B1. Kalo anda mau mencari yang sudah bisa dipastikan kehalalannya anda bisa mencari di warung dekat Al Noor Mosque sekitar 1,5 km dari Danau Hoan Kiem tempatnya agak tersembunyi disamping masjid masuk ke dalam.

Bagi yang doyan berbelanja, anda bisa ke Dong Xuan Market yang terletak 1,5 km dari Danau Hoan Kiem, atau tidak perlu jauh-jauh karena seluruh area Old Quarter adalah deretan toko-toko. Ditambah lagi, setiap hari Jumat, Sabtu, dan Minggu tak jauh dari Danau Hoan Kiem ada car free night lengkap dengan Bazar-nya, disini anda bisa mendapatkan barang dengan harga jauh lebih murah. Tawarlah barang sampai dengan seperempat harga, mungkin mereka agak alot dan terkesan jutek tapi tetaplah pada pendirian anda. Oiya, untuk mendapatkan barang dengan harga yang lebih murah lagi anda bisa membeli-nya di mbak-mbak yang berjualan keliling, seperti souvenir dompet hanya IDR 5.000 atau tas kain seharga IDR 15.000, dan bisa dibayar dengan rupiah, lebih mengagetkan lagi mereka bisa berbahasa Indonesia walaupun sepatah-sepatah.

Seluruh Old Quarter adalah tukang jualan,
jadi ga usah jauh-jauh...ribet nyari taxinya!


Suatu ketika, di hari terakhir kami berniat membeli souvenir lagi dari mbak-mbak pedagang keliling ini, mujur-nya kami bertemu dia di tengah jalan, dan dia mengantarkan kami ke pengepulnya yang hanya bermodalkan karung dan sepeda motor. Ternyata pengepul itu berada di satu sisi trotoar dengan barang yang lebih banyak lagi, dan dengan pembeli yang buanyakk pula dan semuanya adalah orang Indonesia! Apakah penjualnya bisa berbahasa Indonesia? IYA, saya tanya kenapa? Alasannya karena pembelinya kebanyakan orang Indonesia. Penjual dan Pembeli-nya sama-sama enerjiknya kalo tidak bisa dibilang brutal! Semua barang dagangan diobrak-abrik eh dipilih-pilih dan berserakan di trotoar, dibawa mondar mandir ke dalam lobby Hotel untuk dicoba, dan saya hanya bisa menatap terbengong. Sungguh saya seperti berada di Tanah Abang…:D

Well…dari sini saya bisa menyimpulkan, bahwa benar orang Indonesia doyan berbelanja, sampai pedagang-pedagang bahkan dari Negara yang lebih inferior dari kita berani modal untuk belajar Bahasa Indonesia, tapi ini bukan karena kita konsumtif hanya kita ga enakan kalo pulang pulang ditagih oleh-oleh wkkkkk… Hal penting yang bisa diambil dari pedagang-pedagang Vietnam ini adalah modal-lah sedikit untuk belajar bahasa asing kalo anda mau jualan anda laku!