Wednesday, November 8, 2017

A short escape to Bangkok part 3

Walking Tour ke Grand Palace tidak terlalu sukses, karena dalam kurun waktu setengah jam kami sudah mengibarkan bendera putih tanda menyerah dengan teriknya Matahari, padahal di dalam masih ada Wat Phra Kaew atau Emerald Buddha dan Vimanmek Palace. Tapi apa daya, asam lambung meningkat drastis sedangkan hari masih menunjukkan pukul 11.00 siang…ehemm masih lama yak?!?!, walhasil kami lebih memilih leyeh-leyeh di dermaga Tha Maharaj, sepihh dan instagramable lho gaeess *teteup.

Tha Maharaj Pier
Oiya, sehari sebelumnya kami ke pasar terapung Damnoen Saduak, dan berencana langsung ke Grand Palace tepat pukul 03.00 sore, tapi karena begitu menter-nya Matahari, kami panggil dan balik masuk ke mobil sewaan..wkwkwk. Btw, ngomongin pasar terapung, di Bangkok terdapat banyak sekali Pasar terapung namun jaraknya cukup jauh sekitar 2-3 jam dari pusat Kota, seperti Jakarta-Tangerang, yang paling terkenal adalah Damnoen Saduak. Saat itu ada agen lokal yang berkeliaran di sekitaran Hotel menawarkan trips ke beberapa tempat dengan mobil sewaan dari mereka, seharian full kemana saja hanya IDR 700.000, mobilnya dong Pajero! Tapi tunggu dulu sebaiknya anda tetap waspada dan jangan gampangan.

Si Supir, membawa kami dan memberhentikan mobilnya di sebuah dermaga ecek-ecek ngga jelas, disitu memang terdapat mobil-mobil dan turis bule juga, tapi menurut saya tetap terlalu sepi untuk tempat wisata yang kesohor. Dia bilang, mobil ini berhenti disini dan ke Pasar masih harus naik kapal kecil, saya sih sempat ragu karena sepertinya tidak segitunya ‘harus’ naek kapal kecil ini, dan benar saja harga sewa kapal untuk satu orang senilai IDR 400.000! yang tadinya dia menawarkan paket yang lebih gila lagi mahalnya  IDR 800.000 tapi kami tolak. Cuma karena saya sendiri kurang research akhirnya kami tetap naik dengan tarif IDR 400.000 x 4 pax !!!*kena pelet inih L.

Dari dermaga ga jelas inih, ke pasar masih sekitar kurang lebih satu jam, melewati parit yang sepertinya artificial dan kanan kirinya adalah tukang jualan dengan kios semi permanen, dimana setiap saat kapal berhenti disini agar pedagang bisa menawarkan barangnya kepada kami, parah sih ini *Arrrggghhh. Selain kios jualan, adapula pertunjukkan Kobra, dan foto dengan ular dan hewan lain, Bayar? Yaa iyalahh. Setelah dijerumuskan selama satu jam di parit , barulah terlihat Pasar apung-nya, dan seperti yang saya duga kita bisa saja berhenti langsung di Pasar Apung-nya dengan mobil! *KZL. Belum lagi, karena supir dari kapal ini adalah ABG yg grasa grusu, atap kapal ambrol karena menabrak pagar pinggiran parit, jadilah selama 2 jam berikutnya kami terpapar matahari yang anget-anget kukuh *Oh cobaan puasa* *nangis kejer*. Saat tiba kembali ke dermaga, saya menemui abang tukang tiket (yang penampilannya udah kek preman pasar) dan meminta kompensasi atas ambrolnya tuh atep, tapi dia kekeuh surekeuh ngga mau ganti kerugian *Damn! Dasar licik!* eh mangaap lagi puasa, ampuni akuh Ya Allahhh :D.

Di Pasar Apung Damnoen Saduak banyak yang menjual…..ah udahlah males jadinya ngomongin Pasar Apung…KZL! Saya kok curiga, si supir dan pengelola dermaga lakn*t (sensor :D) inih sudah berkonspirasi untuk menjerumuskan wisman-wisman. Well, memang sih ini karena kami-kami yang kurang research dan gampangan, karena setelah saya cek lagi, Damnoen Saduak bisa ditempuh lewat jalan lain yang tidak memerlukan perahu. Jadi, cek kembali reputasi mobil sewaan anda, atau anda bisa pilih moda transportasi bus tapi bus juga masih beresiko, plus belum nyasar-nyasarnya, dan jangan gampangan.

Before...
After!!! 






Ada lagi, saat anda membeli makanan di pinggir jalan tanya dulu harganya, kalo anda merasa terlalu mahal sebaiknya janganlah daripada nyesel, apalagi saya yang memang kelihatan turis banget. Contoh: Beli Es kelapa muda plastik-an pinggir jalan IDR 15.000?! ini mahal sih mending beli minum di convenient store, dan si abang tukang jualan tidak mengembalikan kembalian, “mana kembaliannya?!” baru dikasih dah. Nah ini pelajaran, kalo bisa anda bayar dengan uang pas yang jajanan pinggir jalan gini atau pas menggunakan Taxi, karena sebelumnya juga pernah kejadian, kang Taxi tidak mengembalikan kembalian dengan alasan tidak ada uang kecil, karena saya terburu-buru mengejar flight pulang, ya sudah saya relakan uang IDR 35.000 itu, sopann kan yah?! . Beli Mango Sticky Rice, dari jauh sudah ada tag harga IDR 25.000, pas beli dan bayar, berapa? Dia bilang IDR 40.000!, wah kayaknya mata gue mulai picek nih akibat kurang aer, ya udah mungkin mata gue yang picek!KZL!

Trus, satu hal lagi,  saat anda sampai ke Grand Palace berhati-hatilah karena biasanya akan ada orang tak dikenal nyamperin kita, dan dia bilang Grand Palace sudah tutup dan akan buka nanti, nyatanya itu hanya akal bulus-nya saja untuk menjual tour ngga jelas ke tempat lain. Kami sempet mengalami kejadian 2 kali, cuma untungnya kali ini kami lolos dari tipu muslihat mereka, yang pertama kami tidak menerima tawaran tersebut dan memilih belanja ke Platinum, dan yang ke dua kami acuhkan orang-orang itu karena kami yakin Grand Palace masih buka, sebab supir Grab yang baik hati tidak pernah me-mention bahwa Grand Palace tutup, jadi tetaplah pada pendirian dan jangan mudah tertipu!

Itulah tadi suka duka kalo kita trip independen, ya pasti akan sangat berbeda jauh dengan trip bersama travel agent yang aman, damai, dan sejahtera hehe…

0 comments:

Post a Comment