Wednesday, November 8, 2017

A short escape to Bangkok part 2

Moda transportasi massal di Bangkok belum sepenuhnya terintegrasi, jadi walaupun sudah ada BTS, MRT, & kapal, kendaraan pribadi dan taxi masih banyak digunakan. Macetnya jangan ditanya sama persis kek Jakarta hanya kalo di Jakarta di dominasi roda 2, di Bangkok kendaraan roda 2 tidak begitu banyak, saat ini, Uber dan Grab sudah tersedia di Bangkok, jadi memudahkan kami untuk memesan kendaraan. Hari pertama kami tiba pukul 6 sore, saat yang pas untuk berbuka, lho pas bulan puasa tha perginya? Iyaahhh puasa kitah :D.

Godaannya jangan ditanya, panas dan haus luar biasa blass ga ada angin, musim panas di Bangkok lebih panas dan lebih lembab dari Jakarta, temperaturnya diatas 35 derajat Celcius dan kelembabannya diatas 50%. Walaupun sama-sama di GMT+7, namun jam berbuka di Bangkok lebih lama 1 jam yakni pukul 7 malam, kecele dong?! Iyahhh (-,-), menunggu 1 jam sangat menyakitkan kawan…(halah lebayy). Saat itu, kami berbuka puasa di Asiatique The Riverfront tempat jajan dan belanja outdoor yang berada dipinggir sungai Chao Praya. Ke tempat ini anda bisa menggunakan BTS turun di stasiun Saphan Taksin, keluar melalui pintu 2 ke arah dermaga, di dermaga pilihlah antrian boat gratis yang membawa kita ke Asiatique (ini cerita orang), prakteknya cukup push aplikasi Grabcar dan anda akan sampai ke Asiatique dalam waktu kurang lebih 45 menit (xixixi…), yaa kalikkk kita mau susah pake BTS! Asem lambung udah naek inihh! (wkwkwk).

Giant Ferris Wheel

Street Musician
Yang menjadi kelebihan Asiatique The Riverfront apa sih? Ya Giant Ferris Wheel, selebihnya hanya tempat jajan dan nongkrong itu tadi.  Saat trip dengan agen tour, hari pertama kami diajak ke Wat Traimit atau Temple of The Golden Buddha, konon merupakan Buddha  emas duduk eh Buddha duduk emas eh nyusun kalimatnya gimana?! Kok lucu ya di bahasa Indonesia-in, pake bahasa inggris aja deh “Gold-seated Buddha” terbesar di dunia, nah lebih enak dibacanya haha (ternyata men-translate itu tidak mudah hihi). Harga tiket untuk ke lantai 2 & 3 IDR 40.000, ke lantai 4 tambah IDR 16.000, tentunya yang bayar mbaknya guide, cara ke Wat Traimit gimana? Naek bus wisata hehe (itu sayahh J), transportasi umum yang paling deket adalah Hua Lampong Train Station, Wat Traimit ada di sebelah baratnya, dan Hua Lampong ini bukan BTS bukan MRT lho ya, jadi sepertinya bakalan ribet kalo naek umum, halah udahlah naek Taksi ajahhh hihi…

                 Gold Seated Buddha          *jepretan by Henny
Ngga tau ini apa, bagus aja potonya xixi   *jepretan by Henny
Depannya kira-kira seperti ini...
Ini embuh apa, masih satu komples sama Wat Traimit pokoknya.. *blogger males 😁
Menurut saya Wat Traimit tidak begitu menarik, mending kita ke Wat Pho (Reclining Buddha) dan ke Grand Palace sekalian karena letaknya berdampingan (satu kompleks). Saat tour dengan travel agent kami tidak ke 2 tempat ini, karena disisakan satu hari free untuk traveling sendiri, tapi kenapa juga dipilihin Wat Traimit gitu loh?! Anyway, akhirnya saya ke Grand Palace saat trip ke 3, hanya saja kami tidak ke reclining Buddha, mengingat cuaca yang luar biasa cetar kita tes dulu walking tour ke Grand Palace. Grand Palace ini adalah kompleks kediaman Raja yang sangattt luarrr biasaaah Indah *aselik ngga boong*, walaupun saat ini tidak lagi digunakan sebagai kediaman Raja, namun masih digunakan untuk berbagai upacara Kerajaan. Oiya, saat kami kesana warga Thailand masih dalam suasana berkabung, banyak warga Thailand berpakaian serba hitam yang berkunjung ke Grand Palace untuk melayat sang Raja, dari cerita supir GrabCar sang Raja akan dikremasi akhir tahun ini, maka dari itu salah satu sudut Istana yang lapang sedang dipersiapkan bangunan portable untuk upacaranya.

Photo's with no caption *masih edisi blogger males 



Bagaimana cara ke Grand Palace? Kalo dari area sukhumvit katakanlah dari BTS Nana turun di BTS Saphan Taksin, kemudian jalan 5 menit ke dermaga, pilihlah boat yang berbendera Orange yang paling murah tarifnya hanya IDR 6.000 karena boat berbendera warna lain memiliki tarif yang lebih mahal, kemudian turun di Pier N9 untuk Grand Palace atau N8 untuk ke Wat Pho….katanya orang-orang gituhh, kami ya pilih pergi sama Mas Grab wong lagi puasa hihi…tariff Grab hampir sama dengan Jakarta. Oiya, Grabcar di Bangkok ruwetnya sama dengan Taksi daring di tempat kita, sebelum kami turun dia bilang “kalo tar ada Polisi nyamper bilang kita temenan yak??” Kalian adalah kolega-ku yang lagi aku anterin jalan-jalan, jadi deh kenalan kitah tanya nama segala macem, jaga-jaga kalo di tes sama Pak Pol, ribeut kan yaaa…




Grabcar yang mengantar kami tidak bisa turun di sembarang tempat, biasanya kita akan diturunkan di samping kompleks Wat Pho, kemudian jalan kaki kurang lebih 15 menit. Tiket masuk ke Grand Palace cukup mahal sebesar IDR 200.000, untuk masuk ke Grand Palace tidak cukup hanya berpakaian sopan tetapi juga harus rapi atau resmi, kalo tidak anda terpaksa harus menyewa kain diluar seharga IDR 80.000 (dih ogah amat…), mahal gituh!! Biasanya orang-orang lokal mendekati mereka-mereka yang berpakaian pendek dan memberitahukan kalo di dalam anda akan dilarang masuk oleh petugas, lebih baik sewa kain dari sekarang, begitu triknya. Nah, kami pikir kami sudah aman dengan berpakaian sopan, karena dari sehari sebelum berangkat, saya sudah mewanti-wanti teman saya untuk memakai celana panjang, namun ternyata saat masuk ke dalam petugas menghampiri-nya dan memberitahukan bahwa temen saya ini harus ganti kain karena celana yang dia pakai adalah celana ketat berbahan kaos….kan kan…sopan dan resmi! Akhirnya kami dibawa ke sebuah gedung untuk membeli kain tradisional Thailand seharga IDR 80.000, inget yah beli! Engga sewa! Kena tepu kan orang-orang?? Tenanggg…bagi Anda yang pernah kena tepu di Bangkok, Anda tidak sendiri! Kisah kami akan berlanjut di part 3…stay tune…

0 comments:

Post a Comment