Bandara Noi Bai di Hanoi
merupakan bandara tersibuk ke-2 di Vietnam, bangunannya sudah modern karena
memang baru dibikin, walaupun tidak begitu luas. Ke Vietnam kita tidak perlu
visa, bahkan tidak perlu mengisi departure card, antrian imigrasi ada yang dipisah
khusus untuk yang dari negara-negara anggota ASEAN.
 |
| Noi Bai Int'l Airport Gate 3 |
 |
| Eh kayak kenal ?? |
Sesampainya dipintu kedatangan telah
menunggu driver dari Cruise yang memegang nama saya leganyaahh…saya pikir saya
hampir kena penipuan, sebab saat transit saya mengirim pesan ke Ivy untuk
memastikan semua sesuai rencana, tapi tidak ada balasan! Gimana orang ngga
keder coba!. Mini bus mereka mengantar kami ke Hotel yang berjarak kurang lebih
satu jam dari bandara, sepanjang perjalanan driver beramah-tamah dengan kami
dengan mengajarkan sapaan-sapaan sederhana dalam bahasa Vietnam, juga menjelaskan
apa-apa yang berada di kanan kiri jalan seperti lahan padi, jagung, kerbau dan
sederet hal-hal ngga penting lainnya (-,-), kami sih nyengir-nyengir aja, ngga
ngerti apakah dia kurang bahan atau ngga tahu bahwa di Negara kami ini juga ada,
tapi saya apresiasi usahanya dengan engleiss-nya yang sekenanya ituh :D…
Hanoi tidak se-modern Ho Chi Minh
City, tidak ada gedung-gedung tinggi atau bangunan-bangunan megah, kebanyakan
bangunannya berupa ruko paling tinggi mungkin 5 lantai, seperti old town. Semua
hotel, toko, kantor, dan hunian berupa ruko yang depannya kecil tapi memanjang
kebelakang, bangunan paling bagus yang saya lihat adalah AEON Mall. Jalanan di
Kota Hanoi bagaikan nasi uduk tanpa karet…awur-awuran! mobil dan motor saling
berebutan untuk sampai entah kemana seolah-olah tak ada hari esok, klakson tak
henti-henti-nya bersahut-sahutan, parkir motor berserakan dimana-mana. Jenis
motor dan mobilnya masih tipe-tipe lama, Innova sudah paling top saya rasa,
motor matic sudah ada tapi sepertinya buatan Tiongkok.
 |
| Old Quarter |
 |
| Noh kaga pake helm!...mungkin dia punya nyawa cadangan?! |
Trotoar penuh dengan tukang
dagang, bahkan tukang jualan makanan rumahan hanya bermodalkan panci dan bangku
plastik pendek, mejanya? bangku juga! Bahkan tanpa atap terpal! Saya pikir
mereka adalah sekeluarga yang lagi iseng nongkrong di jalan..lhah ternyata
mereka ini adalah pembeli yang lagi jajan, kalo di Jakarta sudah pasti diangkut
Satpol PP tentunya. Kabel listrik, telfon, dan segala jenis kabel dibiarkan
ngamprak begitu saja di tiang listrik. Kesimpulannya? Hanoi seperti Jakarta
tahun 80-an, tapi justru itu yang menjadi daya pikat, betah sih tapi tidak
untuk tinggal, cukup plesir sahaja…:D.
 |
| ya udah gini doang kalo jualan...ga banyak modal, tapi kalo ujan ya kelarrr...😃 |
 |
| Kabel listrik sungguh otentik...patut diabadikan!😁 |
Tiba di Hotel, kami dipersilahkan
duduk di lobby dulu dan kemudian staff hotel membagikan flyer map dan flyer
brief, isinya adalah waspada akan copet, jangan sembarangan memesan taxi,
jangan sembarangan percaya pada orang dijalan, simpan passport di Hotel saja,
hati-hati saat menyeberang jalan, bagaimana cara menyeberang jalan. Sampai
dengan hal detil seperti ketika berbelanja jangan memegang barang dagangan yang
kita tidak yakin untuk membeli! Jadi kami seperti diberikan kuliah umum oleh
staff Hotel wkkkk… wah saya malah tidak menyangka bahwa mereka akan sampai
segitu concern-nya untuk mengantisipasi kejahatan yang mungkin akan menimpa
wisatawan. Pun saya datang ke Vietnam sudah dengan kewaspadaan penuh karena sudah
aware dengan banyaknya traveler yang kena tipu dan copet disana sini *jadi ini mau
plesir apa mau perang sih!?!?*
 |
| Yuk internal meeting..eh kuliah umum! |
 |
Dalemnya ruko-ruko baik hotel, toko maupun hunian seperti ini,
tidak lebar tapi memanjang ke belakang |
Kalo anda menginap di kawasan Old
Quarter cukup banyak yang bisa anda kunjungi dengan berjalan kaki, seperti
Danau Hoan Kiem, Water Pupphet Theatre, Ngoc Son Temple (menyeberangi jembatan Huc
di tengah danau dengan entrance fee IDR 16.000), dan Museum Revolusi Vietnam. Agak
jauhan lagi adalah Mausoleum Ho Chi Minh tempat di semayamkannya jasad Ho Chi
Minh yang sudah diawetkan, untuk kesini anda harus datang pagi-pagi karena
Mausoleum tutup tengah hari dan jangan lupa berpakaian yang resmi dan sopan, kemudian
ada Pagoda Tran Quoc dan Benteng Kerajaan Thang Long (entrance fee IDR 18.000).
Untuk ke tempat-tempat ini saya sarankan naek Taxi saja, mintalah Hotel untuk
memesankan Taxi yang reliable, anda juga bisa menyewa motor dengan harga IDR
120.000/hari tapi sebaiknya jangan jika anda tidak punya skill, minimal seperti
kangmas Dani Pedrosa, paham kan maksud saya?? :D, atau anda bisa naik cyclo
dengan tarif IDR 60.000/jam, tapi kembali lagi kita kudu super ati-ati.
Untuk makanan, karena bukan
Negara mayoritas muslim kita harus berhati-hati dengan bahan-bahan non Halal,
yang wajib dicoba adalah Mie Pho (baca: Fe dengan e pepet) yaitu Mie kuah seperti
bihun yang ditambahkan dengan tauge dan irisan daging bisa sapi, ayam, atau B1.
Kalo anda mau mencari yang sudah bisa dipastikan kehalalannya anda bisa mencari
di warung dekat Al Noor Mosque sekitar 1,5 km dari Danau Hoan Kiem tempatnya
agak tersembunyi disamping masjid masuk ke dalam.
Bagi yang doyan berbelanja, anda
bisa ke Dong Xuan Market yang terletak 1,5 km dari Danau Hoan Kiem, atau tidak
perlu jauh-jauh karena seluruh area Old Quarter adalah deretan toko-toko.
Ditambah lagi, setiap hari Jumat, Sabtu, dan Minggu tak jauh dari Danau Hoan
Kiem ada car free night lengkap dengan Bazar-nya, disini anda bisa mendapatkan
barang dengan harga jauh lebih murah. Tawarlah barang sampai dengan seperempat
harga, mungkin mereka agak alot dan terkesan jutek tapi tetaplah pada pendirian
anda. Oiya, untuk mendapatkan barang dengan harga yang lebih murah lagi anda
bisa membeli-nya di mbak-mbak yang berjualan keliling, seperti souvenir dompet
hanya IDR 5.000 atau tas kain seharga IDR 15.000, dan bisa dibayar dengan rupiah,
lebih mengagetkan lagi mereka bisa berbahasa Indonesia walaupun
sepatah-sepatah.
 |
Seluruh Old Quarter adalah tukang jualan,
jadi ga usah jauh-jauh...ribet nyari taxinya! |
Suatu ketika, di hari terakhir
kami berniat membeli souvenir lagi dari mbak-mbak pedagang keliling ini,
mujur-nya kami bertemu dia di tengah jalan, dan dia mengantarkan kami ke
pengepulnya yang hanya bermodalkan karung dan sepeda motor. Ternyata pengepul
itu berada di satu sisi trotoar dengan barang yang lebih banyak lagi, dan
dengan pembeli yang buanyakk pula dan semuanya adalah orang Indonesia! Apakah
penjualnya bisa berbahasa Indonesia? IYA, saya tanya kenapa? Alasannya karena
pembelinya kebanyakan orang Indonesia. Penjual dan Pembeli-nya sama-sama
enerjiknya kalo tidak bisa dibilang brutal! Semua barang dagangan diobrak-abrik
eh dipilih-pilih dan berserakan di trotoar, dibawa mondar mandir ke dalam lobby
Hotel untuk dicoba, dan saya hanya bisa menatap terbengong. Sungguh saya
seperti berada di Tanah Abang…:D
Well…dari sini saya bisa
menyimpulkan, bahwa benar orang Indonesia doyan berbelanja, sampai pedagang-pedagang
bahkan dari Negara yang lebih inferior dari kita berani modal untuk belajar
Bahasa Indonesia, tapi ini bukan karena kita konsumtif hanya kita ga enakan
kalo pulang pulang ditagih oleh-oleh wkkkkk… Hal penting yang bisa diambil dari
pedagang-pedagang Vietnam ini adalah modal-lah sedikit untuk belajar bahasa
asing kalo anda mau jualan anda laku!
0 comments:
Post a Comment