Friday, November 10, 2017

Vietnam Series (Traveling with mom) part 3

Bandara Noi Bai di Hanoi merupakan bandara tersibuk ke-2 di Vietnam, bangunannya sudah modern karena memang baru dibikin, walaupun tidak begitu luas. Ke Vietnam kita tidak perlu visa, bahkan tidak perlu mengisi departure card, antrian imigrasi ada yang dipisah khusus untuk yang dari negara-negara anggota ASEAN.

Noi Bai Int'l Airport Gate 3

Eh kayak kenal ??
Sesampainya dipintu kedatangan telah menunggu driver dari Cruise yang memegang nama saya leganyaahh…saya pikir saya hampir kena penipuan, sebab saat transit saya mengirim pesan ke Ivy untuk memastikan semua sesuai rencana, tapi tidak ada balasan! Gimana orang ngga keder coba!. Mini bus mereka mengantar kami ke Hotel yang berjarak kurang lebih satu jam dari bandara, sepanjang perjalanan driver beramah-tamah dengan kami dengan mengajarkan sapaan-sapaan sederhana dalam bahasa Vietnam, juga menjelaskan apa-apa yang berada di kanan kiri jalan seperti lahan padi, jagung, kerbau dan sederet hal-hal ngga penting lainnya (-,-), kami sih nyengir-nyengir aja, ngga ngerti apakah dia kurang bahan atau ngga tahu bahwa di Negara kami ini juga ada, tapi saya apresiasi usahanya dengan engleiss-nya yang sekenanya ituh :D…

Hanoi tidak se-modern Ho Chi Minh City, tidak ada gedung-gedung tinggi atau bangunan-bangunan megah, kebanyakan bangunannya berupa ruko paling tinggi mungkin 5 lantai, seperti old town. Semua hotel, toko, kantor, dan hunian berupa ruko yang depannya kecil tapi memanjang kebelakang, bangunan paling bagus yang saya lihat adalah AEON Mall. Jalanan di Kota Hanoi bagaikan nasi uduk tanpa karet…awur-awuran! mobil dan motor saling berebutan untuk sampai entah kemana seolah-olah tak ada hari esok, klakson tak henti-henti-nya bersahut-sahutan, parkir motor berserakan dimana-mana. Jenis motor dan mobilnya masih tipe-tipe lama, Innova sudah paling top saya rasa, motor matic sudah ada tapi sepertinya buatan Tiongkok.

Old Quarter
Noh kaga pake helm!...mungkin dia punya nyawa cadangan?! 
Trotoar penuh dengan tukang dagang, bahkan tukang jualan makanan rumahan hanya bermodalkan panci dan bangku plastik pendek, mejanya? bangku juga! Bahkan tanpa atap terpal! Saya pikir mereka adalah sekeluarga yang lagi iseng nongkrong di jalan..lhah ternyata mereka ini adalah pembeli yang lagi jajan, kalo di Jakarta sudah pasti diangkut Satpol PP tentunya. Kabel listrik, telfon, dan segala jenis kabel dibiarkan ngamprak begitu saja di tiang listrik. Kesimpulannya? Hanoi seperti Jakarta tahun 80-an, tapi justru itu yang menjadi daya pikat, betah sih tapi tidak untuk tinggal, cukup plesir sahaja…:D.

ya udah gini doang kalo jualan...ga banyak modal, tapi kalo ujan ya kelarrr...😃
Kabel listrik sungguh otentik...patut diabadikan!😁 
Tiba di Hotel, kami dipersilahkan duduk di lobby dulu dan kemudian staff hotel membagikan flyer map dan flyer brief, isinya adalah waspada akan copet, jangan sembarangan memesan taxi, jangan sembarangan percaya pada orang dijalan, simpan passport di Hotel saja, hati-hati saat menyeberang jalan, bagaimana cara menyeberang jalan. Sampai dengan hal detil seperti ketika berbelanja jangan memegang barang dagangan yang kita tidak yakin untuk membeli! Jadi kami seperti diberikan kuliah umum oleh staff Hotel wkkkk… wah saya malah tidak menyangka bahwa mereka akan sampai segitu concern-nya untuk mengantisipasi kejahatan yang mungkin akan menimpa wisatawan. Pun saya datang ke Vietnam sudah dengan kewaspadaan penuh karena sudah aware dengan banyaknya traveler yang kena tipu dan copet disana sini *jadi ini mau plesir apa mau perang sih!?!?*

Yuk internal meeting..eh kuliah umum!
Dalemnya ruko-ruko baik hotel, toko maupun hunian seperti ini,
tidak lebar tapi memanjang ke belakang 
Kalo anda menginap di kawasan Old Quarter cukup banyak yang bisa anda kunjungi dengan berjalan kaki, seperti Danau Hoan Kiem, Water Pupphet Theatre, Ngoc Son Temple (menyeberangi jembatan Huc di tengah danau dengan entrance fee IDR 16.000), dan Museum Revolusi Vietnam. Agak jauhan lagi adalah Mausoleum Ho Chi Minh tempat di semayamkannya jasad Ho Chi Minh yang sudah diawetkan, untuk kesini anda harus datang pagi-pagi karena Mausoleum tutup tengah hari dan jangan lupa berpakaian yang resmi dan sopan, kemudian ada Pagoda Tran Quoc dan Benteng Kerajaan Thang Long (entrance fee IDR 18.000). Untuk ke tempat-tempat ini saya sarankan naek Taxi saja, mintalah Hotel untuk memesankan Taxi yang reliable, anda juga bisa menyewa motor dengan harga IDR 120.000/hari tapi sebaiknya jangan jika anda tidak punya skill, minimal seperti kangmas Dani Pedrosa, paham kan maksud saya?? :D, atau anda bisa naik cyclo dengan tarif IDR 60.000/jam, tapi kembali lagi kita kudu super ati-ati.

Untuk makanan, karena bukan Negara mayoritas muslim kita harus berhati-hati dengan bahan-bahan non Halal, yang wajib dicoba adalah Mie Pho (baca: Fe dengan e pepet) yaitu Mie kuah seperti bihun yang ditambahkan dengan tauge dan irisan daging bisa sapi, ayam, atau B1. Kalo anda mau mencari yang sudah bisa dipastikan kehalalannya anda bisa mencari di warung dekat Al Noor Mosque sekitar 1,5 km dari Danau Hoan Kiem tempatnya agak tersembunyi disamping masjid masuk ke dalam.

Bagi yang doyan berbelanja, anda bisa ke Dong Xuan Market yang terletak 1,5 km dari Danau Hoan Kiem, atau tidak perlu jauh-jauh karena seluruh area Old Quarter adalah deretan toko-toko. Ditambah lagi, setiap hari Jumat, Sabtu, dan Minggu tak jauh dari Danau Hoan Kiem ada car free night lengkap dengan Bazar-nya, disini anda bisa mendapatkan barang dengan harga jauh lebih murah. Tawarlah barang sampai dengan seperempat harga, mungkin mereka agak alot dan terkesan jutek tapi tetaplah pada pendirian anda. Oiya, untuk mendapatkan barang dengan harga yang lebih murah lagi anda bisa membeli-nya di mbak-mbak yang berjualan keliling, seperti souvenir dompet hanya IDR 5.000 atau tas kain seharga IDR 15.000, dan bisa dibayar dengan rupiah, lebih mengagetkan lagi mereka bisa berbahasa Indonesia walaupun sepatah-sepatah.

Seluruh Old Quarter adalah tukang jualan,
jadi ga usah jauh-jauh...ribet nyari taxinya!


Suatu ketika, di hari terakhir kami berniat membeli souvenir lagi dari mbak-mbak pedagang keliling ini, mujur-nya kami bertemu dia di tengah jalan, dan dia mengantarkan kami ke pengepulnya yang hanya bermodalkan karung dan sepeda motor. Ternyata pengepul itu berada di satu sisi trotoar dengan barang yang lebih banyak lagi, dan dengan pembeli yang buanyakk pula dan semuanya adalah orang Indonesia! Apakah penjualnya bisa berbahasa Indonesia? IYA, saya tanya kenapa? Alasannya karena pembelinya kebanyakan orang Indonesia. Penjual dan Pembeli-nya sama-sama enerjiknya kalo tidak bisa dibilang brutal! Semua barang dagangan diobrak-abrik eh dipilih-pilih dan berserakan di trotoar, dibawa mondar mandir ke dalam lobby Hotel untuk dicoba, dan saya hanya bisa menatap terbengong. Sungguh saya seperti berada di Tanah Abang…:D

Well…dari sini saya bisa menyimpulkan, bahwa benar orang Indonesia doyan berbelanja, sampai pedagang-pedagang bahkan dari Negara yang lebih inferior dari kita berani modal untuk belajar Bahasa Indonesia, tapi ini bukan karena kita konsumtif hanya kita ga enakan kalo pulang pulang ditagih oleh-oleh wkkkkk… Hal penting yang bisa diambil dari pedagang-pedagang Vietnam ini adalah modal-lah sedikit untuk belajar bahasa asing kalo anda mau jualan anda laku!

0 comments:

Post a Comment