• Cappadocia Hot Air Balloon

  • Taj Mahal

  • Eiffel Tower

Thursday, December 29, 2016

Jepang Part 5 (Tokyo-Hakone)

Pagi ini Tokyo agak gerimis, sebelum ke Hakone kami mampir terlebih dahulu ke Ueno. Di sini anda bisa mengexplore Ueno Zoo dan per-museum-an diantaranya Tokyo National Museum, National Science Museum, Tokyo Metropolitan Art Museum, National Museum of Art Western, & Shitamachi Museum. Dari Horikirisoubuen St. dengan line Keisei-Ueno stop di Ueno St. Titip koper di loker, kami keluar stasiun menuju Ameyoko Market atau di plang-nya tertulis Ameyayokocho yang terletak di antara Stasiun Ueno dan Stasiun Okachimachi.

Ameyoko Market di pojokan belah kiri ituh   *jepretan by Mak Bos

Di pasar ini anda bisa mendapat souvenir lebih murah dari tempat lain, menurut saya pasar ini sangat kumplit selain menjual berbagai macam kebutuhan pokok, mereka juga menjual produk-produk kosmetik, ada pula toko kamera, dan toko jam. Tepat di atas Stasiun Ueno adalah Taman Ueno yang popular untuk melihat mekarnya bunga Sakura atau disebut dengan “Hanami” sayangnya kami datang saat bunga Sakura sudah habis berguguran. Namun jangan kuatir masih banyak highlight lain yang bisa anda dapat saat meng-eksplor Ueno Park seperti Danau Shinobazu, Kuil Tosho-gu, Kuil Shimizu Kannon-do yang bertema sama dengan Kuil Kiyomizu-dera di Kyoto, Kuil Hanazono Inari yang mirip dengan Kuil Fushimi Inari di Kyoto juga, dan Kuil Bentendo yang berada di tengah-tengah danau, serta beberapa ornament patung yang saya ngga kenal siapa-siapa aja (yaa iyalahhh emang pernah kenalan?? :D).

Ameyoko Market
Kuil "ngga tau" pokoknya salah 1 dari yang saya sebut di atas :D
Nah ini, baru saya tau Hanazono Inari, karena bener-bener mirip dengan Fushimi Inari dengan ke-khas-an deretan Torii orange, namanya aja mirip kann...
Dalemnya Hanazono Inari
Berhubung hari sudah siang dan kami kuatir akan kemaleman sampe Hakone, maka kunjungan per-museum-an kami batalkan dan langsung berangkat ke Hakone, oiya saat anda berpindah kota/hotel saya sarankan untuk tidak kemaleman, karena rasa lelah di tambah gelapnya hari akan mengurangi konsentrasi anda yang memungkinkan terjadinya dis-orientasi arah atau bahasa kerennya “Nyasar” :D. Capek, nyasar, bawa koper dan tas se-gambreng, yang ada akan memancing konflik antara anda dan travel companion anda, yah semoga tidak ya, tapi perlu dipertimbangkan bukan?. Rute kereta dari Tokyo ke Hakone adalah Ueno St. dengan Shinkansen Kagayaki stop di Tokyo St. ganti dengan Shinkansen Kodama stop di Odawara St., pindah ke Odawara St. line Hakone Tozan Railway stop di Hakone-Yumoto St. total waktu tempuh 1 jam 47 menit, total fare IDR 200.000. Selain Shinkansen, Hakone bisa di capai dengan kereta yang harganya lebih murah namun dengan waktu tempuh yang lebih lama 2,5 jam yakni dengan kereta Odakyu Railways, sedangkan dengan Shinkanshen Tokyo-Odawara hanya memakan waktu satu jam. Apabila anda memiliki lebih banyak waktu di Hakone saya sarankan untuk membeli Hakone Free Pass 2 days seharga IDR 400.000 yang sudah termasuk Odakyu Railways return ticket, dan berbagai transportasi Hakone seperti kereta, bus, boat, ropeways, cable car/train dan diskon untuk tiket masuk ke beberapa tempat wisata. 

Hakone adalah tempat wisata pegunungan yang merupakan salah satu lokasi terdekat untuk melihat keindahan gunung Fuji, terletak di sebelah barat kota Tokyo, di prefektur Kanagawa, kalo di Jakarta seperti Puncak Bogor. Highlight Hakone antara lain Lake Ashi, disini anda bisa berkeliling dengan Hakone Cruise Ship, kemudian Lembah Owakudani yakni semacam crater yang bisa anda capai dengan kereta gantung, puncak gunung Fuji terlihat paling jelas dari tempat ini, dan kalo anda pernah mendengar telur hitam atau “Kuro Tamago” ditempat inilah anda bisa mendapatkannya langsung dari tempat pembuatannya, dimana telur dicelup langsung ke dalam kolam air panas, walaupun anda juga bisa mendapatkannya di kios-kios Stasiun Hakone-Yumoto. Selain itu masih ada Hakone Detached Palace Garden yakni istana musim panas Kaisar, Ancient Cedar Avenue yang merupakan jalur tracking dengan pohon cedar di kanan-kirinya menuju ke arah Hakone Shrine, dan yang paling sering dicari orang adalah Hakone Onsen yakni pemandian air panas. 

Sampai di Hakone-Yumoto St. kami keluar dari Stasiun kemudian berjalan ke arah kiri menuju pemberhentian Bus-Bus, disini kami terlebih dahulu menuju ke bagian Pusat Informasi Hakone sebuah kantor kecil yang posisinya tepat di depan pemberhentian Bus. Di tempat ini anda hanya bisa bertanya mengenai informasi wisata dan sarana transportasi di Hakone namun tidak bisa membeli tiket-tiket masuk dan transportasinya, kali ini kami bertemu dengan mbak-mbak petugas yang mahir berbahasa inggris…akhirnyaaaahh… :D. Menuju ke hotel kami diberitahukan untuk menggunakan shuttle bus yang tepat berada di depan kantor informasi ini, tarifnya IDR 10.000.

Sungai deket Hotel   *jepretan by Mak Bos

Hotel Hakone Pax Yoshino merupakan Ryokan Hotel yakni Hotel tradisional bergaya Jepang dengan tempat tidur di bawah atau biasa disebut “Tatami,” lengkap disediakan pakaian tradisional “Yukata” yang kita bisa memakainya untuk berjalan-jalan keluar namun di sekitaran Hotel saja, jangan dibawa sampai ke Terminal yah!, dikira orgil tar :D. Hotel ini terletak di pinggir sungai dan di depannya adalah hutan, tarifnya cukup mahal semalam IDR 3.000.000, namun ternyata karena hotel ini dilengkapi dengan fasilitas Onsen! Jadi kami tidak perlu mencari Onsen diluar. Di Jepang memang tidak ada akomodasi yang murah kecuali Hostel, karena fasilitas yang disediakan juga tidak asal-asalan, kalo anda bertiga dan menginap lebih dari semalam, maka mereka akan menyediakan toiletries dengan jumlah dan ukuran botol yang besar, dengan demikian saat anda booking hotel anda harus dengan benar mengisi berapa orang yang akan tinggal. Kalo Hotel pada umumnya hanya menyediakan toiletries berupa sabun, shampoo, dan sikat gigi, disini mereka juga menyediakan conditioner, make up remover, body lotion, face lotion, sisir, dan semuanya ada 2 jenis produk terpisah untuk laki-laki dan perempuan, jadi jika tamunya laki-laki tidak perlu kuatir akan beraroma feminim :D. Merk toiletries yang disediakan pun tidak sembarang merk, kalo di kita Shiseido adalah merk ningrat dengan harga ratusan ribu, di Jepang Shiseido adalah merk umum untuk mengisi toiletries Hotel dan Onsen! :D.

Our Superr Cool Accommodation

Rak pojokan itu berisi alat pijat manual hihi  *pantesss mahal yakk Hotelnya -.-

Tea set

Yukata-nya  *abaikan mbak2 yang make :D

Yukata dengan jaketnya  *abaikan lagi manekin-nya :D

The Superrr  Equipped Toiletries

Setelah check in, staff hotel akan memberikan informasi seperti kapan waktunya staff mereka menyiapkan tatami untuk tidur, dan juga tata cara dan peraturan berendam di Onsen (Owh…ternyata ada aturannya yah kirain tinggal nyebur aja). Kira-kira begini tata caranya, sebelum berendam anda diharuskan mandi terlebih dahulu di shower dengan sabun yang sudah disediakan, setelah itu baru berendam, beberapa Onsen memiliki kolam berendam dengan tingkat hangat atau panas yang berbeda, nah anda mulai dulu dari kolam dengan air yang tidak begitu panas, setelah berendam anda bisa masuk ke ruang sauna, terakhir bilas kembali di shower. Membaca peraturan Onsen, sampailah saya ke peraturan Onsen nomor sekian “No fabric allowed” ehh? Saya masih ngga yakin sama terjemahannya, konfirmasi ke mak bos “Mak ini maksudnya ngga boleh make baju blasss??” mak bos: “iyehh ga boley!”, saya:”wah mak, serius mak?”, mak bos:”iyahh”. Wah saya mundur dehh, masak ngga boleh make apa-apa blass ya nganu dong yah?? :D. Di kamar hotel masih terdapat flyer peraturan Onsen, dimana dijelaskan bahan dan zat pewarna dari fabric yang bercampur dengan air panas alami akan meracuni tubuh…owh…begituh toh, tapi saya tetep mundur. Kan isinya Onsen perempuan semua? Mboten Matur Nuwun!!!

Si Hotel tetangga tempat numpang Makan Malem

Hari pertama tiba di Hakone kami tidak melakukan apa-apa, acara kami hanya leyeh-leyeh menikmati kamar yang unik inih, ada saatnya anda harus menikmati waktu hanya dengan bersantai, percayalah…anda tidak akan menikmati liburan jika setiap waktu hanya dikejar-kejar oleh schedule ngider kesana kemari :D. Karena restaurant Hotel tidak menyediakan makan malam, kami disarankan untuk ke restaurant hotel sebelah, hotel ini terbilang lebih mewah dari yang kami tempati, untuk masuk saja sudah ada sign dilarang menggunakan sepatu atau sandal dari luar dan sudah disediakan sandal dalam ruangan di dalam loker-loker, sebagai gantinya taro sepatu kita di dalam loker dan kunci. Kunci inilah yang nantinya berfungsi sebagai alat pendaftaran masuk hotel karena kita bukan tamu mereka…ahh elahhh ribeuttt (-.-). Setelah menunjukkan kunci loker kita ke reception, kami dipersilahkan masuk ke lantai 2, aselik kinclong banget lantainyahh pantes ga boleh pake sepatu dari luar, saking kinclongnya mas-mas Waiters yang kami panggil secara tiba-tiba karena order tambahan sempat terpeleset saat berbalik hihihi. Restaurant ini bergaya khas Jepang (yaa iyalahhh -.-) dengan bilik-bilik berdinding kertas, ada yang private berisi 1 meja panjang, tetapi ada pula ruang yang lebih besar berisi beberapa meja, malam itu kami menghabiskan makan malam dengan biaya hampir IDR 1.000.000!!! ediaann….


Jepang Part 4 (Tokyo: Museum Fujiko F. Fujio – Shibuya lagi)



Saya menulis episode ini sambil mendengarkan lagu Te wo Tsunagou by Ayaka *eits sedappp, lagu apakah gerangan? silahkan brosing hihi...Sebelum berangkat ke Museum Fujiko F. Fujio (bukan Museum Doraemon yah, salah!), saya mengambil pocket WiFi terlebih dahulu ke Katsushika Post Office dengan berbekal No. Resi pengiriman barang yang baru saya dapat dari Japan Wireless, jadi di hari ke-3 kami baru bisa terkoneksi dengan internet, pantes saja di diskon (-.-). 

Museum ini berlokasi di Kawasaki (merk motor inih), Kawasaki ini lumayan jauh, kalo di Jakarta mungkin seperti Tangerang. Perlu di perhatikan bahwa museum tutup tiap hari Selasa dan tiket sering sold out, jadi saya sarankan begitu tiba di Tokyo segera belilah tiketnya di minimarket Lawson tarifnya IDR 100.000, cara belinya gampang lewat mesin tiket seperti yang biasa kita temui di Indomaret. Yakin bisa? Enggak! Bahasa mesinnya keriting bo’ najesss (-.-), mbak2 kasir yang lagi nganggur langsung saya seret ke mesin, duh ngomongnya gimana yak, secara pronounce Fujiko F. Fujio or Doraemon juga beda. 

Tiba-tiba saya dapat ide untuk browsing website museum saya tunjukin ke mbaknya, mudeng Mbak? Ngangguk (tetep bahasa tarzan, mbok ‘Yes’ gitu loh :D), problem berikutnya masukin nama pengunjung, saya sebut nama saya Rieska bla bla bla langsung hening, spelling R I E S K A tetep hening, temen saya: Ha-mbok di ketik di hengpon? Saya: oiya bego! :D, kemudian pilih jam kunjungan yang dibagi jadi 4 kloter yaitu 10.00, 12.00, 14.00, & 16.00, jangan terlambat datang yah! Next-nya pencet-pencet, print, bayar, tiket dikantongin! (Arigato Gozaimasss Mbak-nyah :D). 

Dari Horikirishoubuen St. dengan Keisei Main Line Local, stop di Nippori St. dengan JR Keihin-Tohoku/Negishi Line Local, stop di Kawasaki St. sambung dengan JR Nambu Line Rapid, pemberhentian terakhir adalah Noborito St. total waktu tempuh 1 jam 15 menit, ini perjalanan kereta-nya doang, belon jalan kaki naik turun tangga stasiun, bonus nyasar-nyasarnya :D, total tarif kereta IDR 80.000. Di depan Stasiun Noborito sudah tersedia shuttle bus yang akan mengantar anda ke Museum tarifnya IDR 20.000, kalo mau jalan kaki tidak masalah karena pemandangan sepanjang perjalanan cukup menarik waktu tempuh jalan kaki kurang lebih 30 menit. Berhubung persediaan salon pas menipis, kami memilih shuttle bus saja (alesan!). 

The Shuttle Bus
Shuttle Bus Sign
Pengunjung Museum Fujiko F. Fujio kebanyakan adalah anak-anak (yaa iyalah), saking banyaknya anak-anak, tangan Mak Bos saya sempet digandeng ama bocah-bocah ini dikira mak-nya sendiri hihi. Sebelum masuk kita akan dibekali dengan translator device berbahasa inggris jadi kita tinggal pencet angka sesuai dengan keterangan di gambar atau display, dan device akan memberikan penjelasan gambar. Exhibition Hall menampilkan naskah gambar asli karya Fujiko F. Fujio seperti Doraemon, P-Man, Ninja Hatori dan masih banyak lagi yang lain yang ngga kita kenal, selain itu diperlihatkan pula peralatan menggambar dan meja kerja yang digunakannya, diatur sedemikian rupa sehingga ruang kerja mirip dengan aslinya, disini kita dilarang memotret jadi saya tidak ada dokumentasinya. Berikutnya adalah ruang bermain indoor (ini sih ruang lari-larian dan baca-bacaan anak-anak wkwk), kemudian ruang teater yang menayangkan film..........Doraemon (ya iyalahh -.-), dan ruang bermain outdoor yang berisi display ‘pintu kemana saja,’ lapangan bermain Nobita, dan beberapa patung karakter Fujiko F. Fujio yang lain, selebihnya adalah Kafetaria dan toko souvenir. Menurut saya pribadi, Museum Fujiko F. Fujio ini so-so-lah, yang jelas sih sudah mengurangi rasa penasaran kita tentang daerah asal penciptaan si Kucing Ajaib Doraemon (yang generasi 80-an ngacung! :D). 

The translator device


Ruang baca-baca-an :D

Ruang lari-lari-an :D

Pintu kemana saja

Salah satu karakter "ngga tau" Fujiko F. Fujio 

Doraemon & Nobita di episode "ngga tau" :D    *saya tau anda pasti gemes pengen nimpukin sayah karena ga tau mulu :D
Rute berikutnya, adalah...Shibuya...lagi! Loh mampir apa nagih?? Wkwk, kebetulan kemarin pas kesini kami hanya mampir sejam, karena hari sudah malam sekali, dan kami pengin lihat keruwetan Shibuya di sore hari, sekaligus mampir lagi ke toko yang kemarin sudah saya incer bbkkkk... Di Jepang, pembeli adalah raja dalam arti yang sesungguhnya :D, saat anda masuk mereka sudah menyambut di depan, namun tidak akan membuntuti saat memilih-milih barang jadi kita tidak risih. Saat anda selesai memilih, barang akan dibawakan sampai ke kasir, tidak selesai sampai disitu, ketika suatu kali saya meminta bungkusan saya setelah selesai membayar, si mas-mas penjual tidak langsung memberikannya hanya menunjukkan sign tangan ke arah pintu keluar…owhhhh mau dibawain dan diantar sampai pintu keluar toh! Di luar si mas penjual baru memberikan bungkusan, dengan sopan membungkukkan badan berkali-kali sambil arigato-arigato-an sama saya dan tidak berhenti sampai saya sudah membalikkan badan Bbbbkkkk…. Tapi kalo anda tidak ada kencan dengan Mas Penjual seperti saya, Shinjuku, Akihabara, Ginza, dan Odaiba Island layak dicoba. Oiya, anda juga bisa walking tour dengan guide ke Tokyo Imperial Palace rumahnya Kaisar Akihito, geratisss!...sayangnya kita harus cepat-cepat-an daftar online jauh-jauh hari disini, yahh bisa ditebak dong kami ngga dapet slot...huhu.

Rute kereta dari Kawasaki ke Shibuya adalah Noborito St. dengan JR Nambu Line Local for Kawasaki, stop di Mushasi-Kosugi St. sambung dengan Tokyu Toyoko/Minatomirai Line Ltd. Exp. for Shirin-Koen, stop di Shibuya St. Di sore hari Shibuya masih sama crowded-nya, hanya tidak se-spektakuler saat malam karena minus lampu-lampu LED gedung-gedung dan kali ini patung Hachiko masih tetep.....ngga ketemu!

Shibuya di siang hari  *jepretan by Henny
Nebeng foto saya boleh yah??
Paginya, kami menghubungi Minami San-Apartment Manager, ceritanya pamitan sambil kasih tips dan tak lupa potoh-potoh, tak taunya dia juga mengantarkan kami sampai ke depan pemberhentian Bus, and you know what?? Beliau menolak pemberian tips dari kami, katanya Japanese dilarang menerima tips, duh betapa malunya kami, padahal kami sudah ngerempongin dia banget mulai dari minta gunting sampai minta dia untuk memindahkan file foto ke Harddisk, orang baik ke berapa ini lupa saya sepertinya ke 4 yah? :D (peyukkkk…). Jadi sodara-sodara jangan lupa untuk tidak memberikan tips kepada siapapun di Jepang karena ini extra forbidden! Dan jangan lupa menginap di apartemen Minami-San yah wkwk…kali ini saya mengakui jadi buzzernya Minami-San hihi…

Friday, December 23, 2016

Jepang Part 3 (Tokyo: Harajuku - Meiji Shrine - Shibuya)

Sebelum berangkat ke Harajuku, dengan WiFi apartment saya email Japan Wireless untuk info bahwa Petugas Kantor Pos engga nemu si WiFi padahal kode pengiriman udah dikasi unjuk, “habis ini saya ga bisa cek email, jadi mending si WiFi kirim aja deh ke Apartment!” pura-pura ngambek, padahal ga mempan suruh tetep ambil ke Kantor Pos juga.

Meiji Shrine Torii        *jepretan by Henny
Kali ini kami menggunakan Bus dari Apartment ke Horikirishobuen St., tarifnya tidak sampai IDR 10.000. Bus ini tidak berhenti di sembarang tempat, tapi tidak juga ada haltenya karena sign pemberhentian Bus hanya sebuah plang yang bertuliskan rute Bus dengan aspal cat merah, atau kuning yah?? Lupa deh saya :D, naiknya anda cukup masukin uang logam di pintu masuk atau Tap Pasmo Card di kotak ukuran kartu dekat supir, kalo anda ingin turun pencet tombol merah di handle tiang yang biasa untuk pegangan. Rute keretanya adalah Horikirishobuen St. dengan Keisei Main Line Local, stop di Machiya St. (Line Keisei), keluar dari Machiya St. (Line Keisei) jalan kaki 4 menit menuju ke Machiya St. (Subway) dengan Tokyo Metro Chiyoda Line stop di Omote-Sando St., tuh kan sama-sama stasiun Machiya saja anda harus keluar dan pindah ke subway bawah tanah, ngga tau deh mungkin yang Keisei di atas tanah bbkkk.

Ini pemberhentian Bus-nya

*jepretan by Henny
Masih dengan schedule walking-tour, keluar Omote-Sando St. Exit A2, tepat di sebelah kanan anda adalah Apple Store dan sepanjang 1,5 km merupakan deretan pertokoan barang-barang mewah yang disebut dengan Omotesando Hills (geng LV dan konco2nya). Di ujung jalan anda akan menemukan perempatan besar yang di pojoknya adalah Tokyu Plaza, pintu masuk Tokyu Plaza ini cukup menarik berupa eskalator yang atap dan sekelilingnya adalah kaca-kaca berbentuk prisma terlihat seperti ilusi optik (instagramable gaesss...).

Dari Tokyu Plaza berbeloklah ke kanan, dan masih dengan deretan toko-toko yang kali ini sudah bukan geng LV, melainkan geng Forever 21 . Kalo anda penggemar gimmick-gimmick aplikasi Line, Line Store bisa anda temukan disini, masih lurus disisi kanan jalan besar sekitar 1 km anda akan menemukan plang Harajuku Street, karena sebagian besar jalan di Jepang tidak ada nama jalan jadi saya tidak tahu ini jalan apa :D.

*jepretan by Henny

Harajuku Street merupakan pusat Harajuku Youth Culture yang berupa jalan kecil hanya bisa memuat 1 mobil, areanya tidak begitu besar hanya banyak belokan ke kanan dan kiri semacam labirin. Sepanjang jalan adalah distro yang menjual fashion khas Harajuku, tapi jangan kuatir mereka juga menjual baju-baju normal kok, dan benar saja tak lama kami sudah ketemu anak muda lokal dengan dandanan Harajuku Style. Kami agak ragu-ragu untuk meminta foto bersama karena costum-nya yang ini agak syerem, akhirnya kami memberanikan diri, dan ternyata mbak-nya juga tertarik untuk mengabadikan foto bersama kami di smartphone-nya :D (Don’t judge a book, by it’s cover!).
*jepretan by Henny
*jepretan by Henny
We had the same color of skirt and hair, udah janjian :D    *jepretan by Mak Bos
Masih di sisi kanan jalan besar, di seberang Harajuku anda akan melihat plang Takeshita Street, jadi jika Harajuku di sisi kanan jalan, Takeshita Street berada di sisi kiri jalan. Sama dengan Harajuku, Takeshita Street juga dipenuhi toko-toko Fashion dan Souvenir hanya jalanannya lurus tidak berbelok-belok dan lebih padat, kebetulan kami kesini pas hari Minggu. Di Jepang, T-Shirt dibanderol dengan harga IDR 70.000-100.000, pernak pernik souvenir seperti gantungan kunci dan magnet kulkas harga IDR 15.000-30.000, lumayan mahal yah, cuma kalo anda membeli barang produk luar seperti Nike atau Adidas harganya lebih murah dibanding produk lokal Jepang seperti Uniqlo.

Diujung jalan Takeshita Street yang agak menanjak, tiba-tiba ada bahasa yang tak asing lagi, "mau difotoin mbak?" Yak kami bertemu mas-mas Indonesian dengan teman Filipina-nya, menurutnya dia sudah feeling aja bahwa kami Indonesian :D. Another mas-mas Indonesian pernah menyapa kami sewaktu di pesawat Dubai Athena, tapi kali ini dengan bahasa yang berbeda, jowo-nipun pundi mbak? Gubrakkk...ternyata beliau ini berasal dari daerah yang sama dengan kami, bedanya dia kerja di Kapal Pesiar dan kami Pesiar-nya aja :D, eh lha kok ngelantur. Tapi beneran, membahagiakan sekali saat anda bertemu dengan sesama Indonesian di negara asing. OK abaikan, kembali ke topik!

The Philipino Guy    *jepretan by Mas-nya sebangsa & se-tanah air :D
Rute walking tour selanjutnya adalah Meiji Shrine, di ujung jalan Takesitha Street adalah pertigaan. Menyeberangi pertigaan, terdapat Harajuku Station Main Exit, menyusuri sisi sebelah kanan jalan sekira 500 meter anda akan tiba di pelataran depan Meiji Shrine. Di pandu Google Map berjalan sekitar 1 km, kami sempet curiga, loh kok ga sampai-sampai?? Masuk ke pelataran dengan banyak pepohonan, kami ngga nemu juga si Meiji ini, ketika saya cek di plang ternyata kami kebablasan sampai Yoyogi Park! Kzl!!!

Jadi tadinya kami sudah melewati pelataran menuju Meiji Shrine cuma karena nurut sama si mbah Google nyasarlah kami ke Yoyogi Park. Dari Yoyogi Park kami balik lagi kembali melewati jalan yang sama menuju Meiji Shrine, pelataran Meiji Shrine ditandai dengan Torii raksasa yaitu gapura khas Jepang terbuat dari kayu, dari gerbang ini masih 500 meter lagi menuju Meiji Shrine yang di kanan kirinya adalah pepohonan lebat mirip hutan. Kuil Meiji ini adalah kuil yang dibangun sebagai penghormatan kepada mendiang Kaisar Meiji dan Permaisuri, kalo anda pernah denger Restorasi Meiji ya inilah kuil sang Kaisar (anak IPS ngacung!!! :D). Balik dari sini kaki udah ngga tahan lagi (-.-) sandal jepit jadi andalan saya kalo sudah begini :D.

Kelakuan saya yang sesungguhnya, isi tas kresek itu adalah sepatu :D  *jepretan colongan by Henny

Lumayan nih nemu ginian di Yoyogi Park "Rockabillies Dancing"
Sake drum

Ritual cuci tangan dan muka sebelum masuk Kuil

Bagian luar Kuil Meiji
Hall pemujaan
Dalemnya hall pemujaan   *jepretan by Henny
Deretan papan doa/pengharapan
Dari Harajuku kami melanjutkan perjalanan ke Shibuya, sebenernya Harajuku dan Omotesando satu area dengan Shibuya, mungkin kalo Shibuya adalah kecamatan, nah Harajuku dan Omotesando ini adalah kelurahan hihi...jadi kereta ke Shibuya ini sangatlah dekat. Dari Harajuku St. dengan JR Yamanote Line hanya 3 menit perjalanan sampai di Shibuya St. exit ngga tau! :D, karena jalan kami jauh sekali jaraknya dari Main Exit Shibuya St. yaitu Hachiko Exit.

Padahal highlightnya Shibuya ya patung Anjing yang tenar seantero dunia ini, kami bener-bener ngga nemu, entah ngumpet dimana?? Saya yakin sih deket-deket Shibuya Crossing cuma kami sudah capek nyari takut ditipu Google Map lagi huhu. Di sini kami makan di restaurant yang terletak di lantai 2 sebuah gedung kecil, dimana pintu masuknya berupa tangga kecil, harganya sungguh mahal! bertiga kami habis IDR 800.000!, dan yang saya suka dari restaurant-restaurant di Jepang mereka menyediakan handuk basah hangat untuk lap tangan dan muka kepada setiap customer yang datang. Lagi-lagi untuk bertanya menu Halal cukup sulit karena kendala bahasa, tapi sebelumnya saya sudah download gambar pork yang disilang miring persis lambang dilarang parkir, atau gambar ayam untuk bertanya menu ayam, mbaknya waiters masih tetap kesulitan berbicara dengan kami, akhirnya dipanggilkannyalah si Koki, hadeh...

Shibuya Crossing gini doang loh
Dari deket...    *jepretan by Mak Bos
Shibuya Crossing ini sebenernya hanya sebuah perlimaan aja, di kita juga banyak, cuma entah kenapa begitu lampu hijau untuk pejalan kaki menyala, semua pejalan kaki berbondong-bondong menyeberang dari segala penjuru arah, ya kalo saya sih cuma penasaran aja karena dipake buat lokasi syuting film Fast & Furious, Lost in Translation, dan Resident Evil, padahal belon pernah nonton juga (bahahaha...). Engga sik, lebih karena kebanyakan yang pernah ke Jepang pasti menyempatkan untuk datang ke sini, jadi kami mampir juga!. Rute kereta dari Shibuya ke Apartment adalah Shibuya St. dengan JR Yamanote Line (Outer loop) for osaki, stop di Nippori St. dengan Keisei Main Line Local for Keisei-Usui berhenti di Horikirishoubuen St

Wednesday, December 21, 2016

Jepang Part 2 (Tokyo: Asakusa)

Hari pertama datang kami langsung ke Asakusa, disini kami ke Kuil Senso-Ji (Senso-Ji Shrine), Sumida River, dan Tokyo Sky Tree. Asakusa adalah daerah touristy tak heran kebanyakan Budget Hotel ada di sini. Dari Airport, kami langsung ke Stasiun kereta Keikyu Line/Airport Line Rapid (lokasinya masih di dalam airport di pintu kedatangan), stop di Sengakuji St. lalu pindah ke Toie Subway Asakusa Line menuju ke Asakusa Station exit embuh haha. Jujur kalo udah banyak massa orang lalu lalang gitu, pake buku panduan perjalanan tingkat dewa juga saya tetep bingung, kalo sudah gitu get lost aja dengan panduan Google Map, posisi anda tidak akan jauh kok dari Kuil Senso-ji paling beda kelurahan :D, eniwei namanya juga jalan-jalan kan yah? :D Menurut saya tantangan sarana transportasi Jepang yang kelas super ini adalah anda harus kuat jalan, karena ke dan dari stasiun kalo ngga ketemu tangga naik turun ya anda ketemu jalan lurus tapi ngga nyampe-nyampe peron juga hihi. 

Titipkan koper anda di loker stasiun tarifnya untuk loker yang paling besar IDR 60.000. Waktu itu kami kehabisan loker sedangkan posisi udah kadung di luar peron, kami ditolong oleh petugas dengan memberikan tiket kosong agar kami bisa masuk lagi ke dalam stasiun untuk mencari loker lain (Orang baik No.1, dan akan terus berlanjut :D). Anda tinggal memasukkan koin sesuai tarif dan loker otomatis terbuka, jadi loker hanya bisa di isi oleh uang koin, kalo anda ngga punya koin pasti tidak jauh dari situ ada mesin penukaran koin, kalo ngga ada mesin, anda tukarkan kepada petugas yang jaga di loket saja. Keluar dari Asakusa Station exit embuh, Mak bos membuka GPS-nya, inget di cerita pertama yah WiFi kadung di anter di Kantor Pos dekat Apartment. Sepertinya tinggal lurus saja dari exit embuh itu, karena saya kayak melihat Kaminarimon Gate yang menjadi ke-khas-an Kuil Senso-ji yaitu semacam lampion raksasa warna merah tepat di pintu masuk, tapi karena Google Map mengarahkan ke kanan jalan, jadi kami ikutin saja yang sebenarnya lumayan muter, eniwei kan katanya jalan-jalannn?? (pijet betis :D). Sepanjang jalan adalah pertokoan dan restaurant di sisi sebelah kanan kami, tetiba kami sampai di Main Entrance Asakusa Station yang berada di seberang kanan jalan tepat di samping Sumida River, karena mengikuti GPS saya sudah ngga hapal belok kanan atau belok kiri, yang jelas dari ujung ke ujung ramai sekali orang-orang berjejalan, mobil tidak begitu banyak cuma modelnya keceh-keceh saya rasa saya belum pernah melihat seri-nya di Jakarta.
         *Jepretan by Mak Bos
Sampai di Kaminarimon Gate tambah ramai lagi dan banyak warga lokal menggunakan pakaian tradisional Jepang. Usut punya usut ternyata sedang di selenggarakan festival Sanja Matsuri yang diadakan setiap 2 tahun sekali di bulan Mei hari Jumat, Sabtu, dan hari Minggu di minggu ke-3!!! Waaahhh ternyata beruntung sekali kami, coba kalo berangkatnya 2 hari sebelumnya? Coba kalo ke Asakusanya kami jadwalkan esok lusa? Apa ngga lolos tuh festival!
Sanja Matsuri Festival           *Jepretan by Henny
                         *Jepretan by Henny
Senso-Ji Shrine merupakan kuil tertua di Tokyo dan Festival Sanja Matsuri diselenggarakan untuk menghormati 3 pendiri kuil, dalam 3 hari tersebut setiap jam-nya ada kegiatan yang sudah dijadwalkan seperti upacara, tari-tarian, dan parade. Highlight dari festival ini adalah si parade, penduduk lokal ber-group dengan jumlah 8-10 orang mengangkat sesuatu di atas tandu, nah sesuatu ini yang saya ngga tau (sik googling dulu yee). Menurut om Wiki yang ditandu ini adalah Mikoshi semacam kuil portable yang dihiasi (beneran mereka nulisnya portable!), mikoshi ini dipercaya dinaiki oleh roh dari kuil Shinto, berjumlah sekitar 100 Mikoshi plus 3 Mikoshi utama yang di arak keliling kota. 

Penduduk lokal Jepang yang mengikuti festival kebanyakan memakai baju tradisional, ada yang memakai kimono ada juga yang memakai yukata, kita-pun boleh memakai-nya, dan kesempatan kami buat berfoto dengan orang lokal lengkap dengan pakaian tradisonal mereka. Khusus untuk peserta festival yang memanggul Mikoshi, mereka memakai Jinbei, mirip piyama tapi panjangnya se-paha (ga sensor) dan bawahan celana pendek, cuma baju atasannya aja yang dipakai, bawahannya engga (kebayang ngga kelihatan apanya?? *huhu tutup muka), ngga semuanya sih, kalo perempuan mah yah pake bawahan. Untuk 3 Mikoshi utama ukurannya cukup besar, 1 Mikoshi harus diangkat sekitar 40 orang dan masih ditambah mengangkat 3-5 orang yang berdiri di atasnya, haduh saya penasaran siapa sih orang-orang itu, pas saya zoom kamera henpon saya (ini saya belum beli kamera beneran *penting ga sih?), ternyata mereka ngga pake baju dan tatoo-an disekujur tubuhnya, bener-bener cuma underwear aja mirip pesumo! (tutup muka, ngintip di sela-sela jari hihi), usut punya usut ternyata mereka ini Yakuza sodara-sodara!
Om-om Yakuza :D
Di sisi sebelah kanan dekat pintu masuk terdapat sederetan penjual street food, kami memilih makan di tempat tersebut, sharing bertiga duduk di bangku taman setelah kami kabur masing-masing membeli Takoyaki, ayam goreng, dam mie goreng gitu mbuh apa namanya harganya IDR 35.000. Setelah itu kami berjalan ke arah belakang kuil dan entah bagaimana tau-tau kami nembus Nakamise Street, disini anda bisa berbelanja souvenir. Dari kejauhan terlihat tower Tokyo Sky Tree (saatnya GPS beraksi!) Melewati Asakusa Main Entrance Station dan jembatan Sumida river dimana anda bisa menaiki Sumida River Cruise Ship rute terdekat tarif IDR 20.000, tapi kami skip karena hari sudah menjelang sore. Jalan kaki kurang lebih satu jam kami baru sampai pelataran Tokyo Sky Tree, jauh ternyata padahal dari Senso-Ji Shrine kelihatan deket (nepu banget sik), namun rasa lelah terbayar dengan pemandangan menarik di sepanjang perjalanan melewati sungai, jembatan, dan taman-taman cantik. Ketinggian Tokyo Sky Tree adalah 634 meter, untuk menuju deck observasi setinggi 350 meter saja anda harus merogoh kocek IDR 200.000, kalo cuma nyari spot foto dari ketinggian, lupakan tokyo sky tree, karena selain mahal juga ngantri ke atasnya penuh banget, mending nanti saja di Osaka Museum of History IDR 60.000 sudah bonus ngider museumnya.
Sumida River

Taman & sungai menuju Tokyo Sky Tree        *Jepretan by Henny

Mas2 penarik becak        *Jepretan by Henny

Tokyo Sky Tree            *Jepretan by Henny
Gedung Tokyo Sky Tree ini nyambung dengan Oshiage Station, dari sini kami ke Asakusa Station dengan Asakusa Line untuk mengambil koper, kemudian ke Horikirishoubuen Station yang merupakan stasiun terdekat dari Apartemen yang kami sewa. Rutenya Asakusa Station dengan Toei Subway Asakusa Line  for Imba Nihon-Idai, stop di Oshiage Station ganti Keisei Oshiage Line Local for Imba Nihon-Idai, stop di Aoto Station pindah ke Keisei Main Line Local for Keisei-Ueno sampai tiba di Horikishoubuen Station. Kelihatannya simpel gampang yah?? No! Walaupun nama line-nya hampir mirip Keisei, tapi beda jauh perhatikan warna line dan line untuk arah mana, bisa dilihat di papan display yang ada di setiap stasiun. Belum lagi setiap stop ganti line (ganti kereta), bingung mau kemana atas atau bawah, kanan atau kiri? Di Aoto tetiba ada opa-opa menghampiri kami yang terlihat kebingungan ngubek-ubek display rute kereta, beliau menyuruh kami naik tangga ke atas lalu ke kanan (Orang baik No. 2). 

Sampai di Horikirishoubuen Station, masih sekitar 20 menit jalan kaki menuju apartment, kali ini kaki kudu di sayang-sayang karena masih 9 hari lagi di Jepang, jadilah kami naik Taxi dengan tarif IDR 50.000, ribet dong ya nunjukin alamat apartmentnya secara terkendala bahasa, anda ketik aja di henpon, kalo ngga screenshot websitenya si akomodasi, nanti Pak Supir akan cari alamatnya sendiri di GPS karena kalo kita googling pasti ada huruf kanji-nya juga. Sampai apartment kami kebingungan lagi masuknya gimana?? Mana kuncinya?? secara self check in, sempet ada penghuni lain apartment tersebut yang kami tanya tapi sama bingungnya, halah. Tetiba si Om Minami-Manager Apartment nongol, ternyata salah satu kotak surat di pintu masuk sudah tertulis nama Mak bos saya, yang di dalemnya ada kuncinya jiahhh (-.-) . 

Kami menginap di Bevel Shoubuen Apartment harga IDR 2.000.000 dengan 1 kamar double bed dan 1 kamar twin lengkap dengan peralatan elektronik seperti TV, komputer, dan mesin cuci, dapur sudah dengan kompor yang menggunakan instalasi pipa gas. Apartemen di Jepang rata-rata kecil dan berlangit rendah sepertinya dindingnya engga dari semen mungkin dari material tahan gempa, dan kalo sedang di kamar mandi entah kenapa saya kok bisa mendengar deru suara kereta dan agak sedikit berasa getaran, ya saya yakin sih bawah apartemen kami pasti berongga-rongga isi jalur kereta, kebayang dong dengan banyaknya jalur kereta pasti dibawah sana udah ngga rapet lagi. Malemnya kami jalan kaki 20 menit ambil pocket WiFi di Katsushika Post Office, tibalah di pintu sebuah gudang, heh?? Menurut Google Map harusnya sudah bener ini Kantor Pos, bertanya pada petugas dengan sedikit bahasa enggres ditambah bahasa tarzan, intinya dia akan antar kami ke Kantor Pos (orang baik No.3), si Bapak bertanya apakah kami menggunakan mobil atau jalan kaki? (bahasa tarzannya seperti ke dua tangan memegang setir mobil dan juga kedua jari telunjuk dan jari tengah digerakkan kedepan dan kebelakang), kami menggerakkan telunjuk dan jari tengah kedepan dan ke belakang Bahaha..gokilll. 

Front Office Kantor Pos masih agak berjalan lurus kedepan ternyata, tadi adalah gudangnya Kantor Pos alias pintu belakang, hasilnya....Nihil! Kami ngga ngerti maksudnya gimana, pokoknya dengan posisi jongkok dan kami bertiga duduk di kursi yang memang cuma 3, si Bapak petugas front office gomennasai-gomennasai sambil nunduk-nunduk, engga ketemu barang eluh! SEKIAN!