Hari berikutnya, schedule kami adalah ke Lantau Island untuk mengunjungi Ngong Ping 360, yakni sebuah dataran tinggi seperti puncak yang terdapat desa Ngong Ping, Big Buddha, dan Po Lin Monastery. Di Lantau Island ini juga terdapat wisata wahana Disneyland, namun saya kurang tertarik karena cukup menghabiskan waktu dan...uang! haha. Dari Stasiun MTR Tsim Sha Tsui (TST) menuju MTR Lai King (line merah), kemudian berganti MTR Tung Chung (line kuning) exit B, menuju dan melewati Citygate Outlate, disini kami cukup foto-foto saja karena pertokoan disini menjual barang-barang branded (Louis Vuittonnyaaa kakaaaa...Hhhhh).
![]() |
| The Big Buddha |
Tetiba ada mbak-mbak yang menyapa kami, "lagi libur mbak?" Saya: "iya mbak liburan," jadi mbak-mbak ini adalah Migrant Worker asal Kediri, belakangan baru saya tahu, kalo ada orang menyapa kita dengan kalimat basa-basi "lagi libur ya mbak?" itu maksudnya dikiranya kita Migrant Worker yang sedang libur dari kerjaan, karena beberapa kali saya disapa dengan kalimat tersebut. Mbak-mbak ini sedang diliburkan dan berniat jalan-jalan ke Ngong Ping karena hari itu adalah ulang tahunnya, akhirnya kami janjian untuk pergi ke Ngong Ping bersama-sama, hanya dia naik Bus, dan kami akan mencoba Cable Car. Saya sebenernya sudah notice bahwa Cable Car ini akan sama mengantrinya dengan Victoria Peak, konon bisa beli tiketnya di travel agent, namun saya sudah cek dan tidak ada yang menjual, wal hasil kami harus mengantri selama 1 jam lebih. Kami bisa saja memilih menggunakan Cable Car pada saat pulang, karena antrian tidak terlalu padat, namun sensasi keberangkatan sepertinya lebih menarik, jadilah kami berangkat dengan Cable Car Standard seharga IDR 150.000. Kalo anda suka tantangan, pilihan Cable Car Crystal Cabin yang lantainya transparan, tarifnya IDR 380.000.
![]() |
| Loket Cable Car |
![]() |
| Standard Cable Car |
Cable Car ini berisi 6 orang dan memakan waktu sekitar 30 menit, dari ketinggian saya melihat ada jalur tracking yang melintasi bukit-bukit untuk menuju desa Ngong Ping, Hong Kong International Airport juga terlihat pada sisi sebelah kanan. Sesampainya disana kita langsung disambut sederetan toko-toko souvenir, setelah itu di sebelah kiri adalah gapura menuju Po Lin Monastery dan sebelah kanan ada 286 anak tangga menuju Giant Buddha yang merupakan patung Buddha duduk terbesar di dunia terbuat dari perunggu. Selanjutnya, kami menuju Wisdom Path yakni semacam taman dengan jalan menanjak ke atas yang di kanan kirinya di ditancapkan 38 batang kayu, diukir dengan huruf China yang saya kurang tau artinya, menurut sumber kata-katanya disalin dari kitab sutera, mungkin semacam kata-kata bijak. Jalan menuju Wisdom Path cukup jauh dari Big Buddha, kira-kira 20 menit ke arah kanan setelah turun dari Big Buddha anda akan menemukan plang petunjuk jalan, melewati jalan setapak yang sangat sepi dengan kanan kirinya hutan dan semak belukar, tidak perlu kuatir nyasar karena diujung jalan anda akan menemukan taman terbuka walaupun tidak banyak pengunjung. Untuk yang baru pertama kali datang seperti saya memang agak horor sih, karena sepi nyenyet ditambah cuaca berkabut jadi berasa di set film-film Vampir Mandarin hehe...
![]() |
| Wisdom Path |
Kembali ke bangku taman dekat Big Buddha, kami sudah ditunggu oleh Ibu saya dan Mbak-nya yang tidak ikut ke Wisdom Path, beliau menawarkan lemper buatannya karena saat itu sudah waktunya makan siang...duh baiknyahh (peyukkkk...). Turun kembali ke stasiun, kami memutuskan naik Bus, saat kami jalan menuju terminal tiba-tiba Mbak-nya bertanya kepada supir lokal setempat dengan Bahasa yang tidak saya kenali, saya perhatikan dengan seksama dan yak!...Ternyata beliau berbahasa Mandarin Kanton! bukannn maennnn...jadi minder sayahhh. Tiba di stasiun, beliau kasih unjuk rutenya dan tempat dimana kita bisa makan masakan Indonesia, bertukar no telepon & alamat facebook, dan berfoto bersama, Hope to see you soon Mbak! Terima Kasih!!!
![]() |
| Bersama Mbaknya... :D |
Malamnya kami tiba di Ladies Market-Mongkok, rute yang sama seperti saat berangkat dengan line merah hanya tidak berhenti di MTR TST, meneruskan sampai ke Stasiun MTR Mongkok exit E2 menelusuri jalan Nelson Street, kalo anda sudah nemu deretan toko-toko dalam tenda berarti anda sudah di Ladies Market, saya sempet nyasar dikit karena tidak ada bayangan, ternyata dari Exit sudah dekat sekali, kalo sudah begitu aktifkan GPS anda atau bertanyalah!. Ladies Market ini hanya buka saat malam hari jadi seperti pasar malam, tawarlah seperempat dari harga, jika tidak dikasih tinggalkan, kalo anda ngga dipanggil ya berarti harganya memang lebih dari itu, naikin dikit paling tidak mendekati setengahnya, atau beli double/triple dengan seperempat harga, oiya beberapa dari mereka bisa berbahasa Indonesia sedikit-sedikit karena turis yang berkunjung kebanyakan dari Indonesia (Haha...lumayan tenarrr kitah).





0 comments:
Post a Comment