Wednesday, December 21, 2016

Jepang Part 2 (Tokyo: Asakusa)

Hari pertama datang kami langsung ke Asakusa, disini kami ke Kuil Senso-Ji (Senso-Ji Shrine), Sumida River, dan Tokyo Sky Tree. Asakusa adalah daerah touristy tak heran kebanyakan Budget Hotel ada di sini. Dari Airport, kami langsung ke Stasiun kereta Keikyu Line/Airport Line Rapid (lokasinya masih di dalam airport di pintu kedatangan), stop di Sengakuji St. lalu pindah ke Toie Subway Asakusa Line menuju ke Asakusa Station exit embuh haha. Jujur kalo udah banyak massa orang lalu lalang gitu, pake buku panduan perjalanan tingkat dewa juga saya tetep bingung, kalo sudah gitu get lost aja dengan panduan Google Map, posisi anda tidak akan jauh kok dari Kuil Senso-ji paling beda kelurahan :D, eniwei namanya juga jalan-jalan kan yah? :D Menurut saya tantangan sarana transportasi Jepang yang kelas super ini adalah anda harus kuat jalan, karena ke dan dari stasiun kalo ngga ketemu tangga naik turun ya anda ketemu jalan lurus tapi ngga nyampe-nyampe peron juga hihi. 

Titipkan koper anda di loker stasiun tarifnya untuk loker yang paling besar IDR 60.000. Waktu itu kami kehabisan loker sedangkan posisi udah kadung di luar peron, kami ditolong oleh petugas dengan memberikan tiket kosong agar kami bisa masuk lagi ke dalam stasiun untuk mencari loker lain (Orang baik No.1, dan akan terus berlanjut :D). Anda tinggal memasukkan koin sesuai tarif dan loker otomatis terbuka, jadi loker hanya bisa di isi oleh uang koin, kalo anda ngga punya koin pasti tidak jauh dari situ ada mesin penukaran koin, kalo ngga ada mesin, anda tukarkan kepada petugas yang jaga di loket saja. Keluar dari Asakusa Station exit embuh, Mak bos membuka GPS-nya, inget di cerita pertama yah WiFi kadung di anter di Kantor Pos dekat Apartment. Sepertinya tinggal lurus saja dari exit embuh itu, karena saya kayak melihat Kaminarimon Gate yang menjadi ke-khas-an Kuil Senso-ji yaitu semacam lampion raksasa warna merah tepat di pintu masuk, tapi karena Google Map mengarahkan ke kanan jalan, jadi kami ikutin saja yang sebenarnya lumayan muter, eniwei kan katanya jalan-jalannn?? (pijet betis :D). Sepanjang jalan adalah pertokoan dan restaurant di sisi sebelah kanan kami, tetiba kami sampai di Main Entrance Asakusa Station yang berada di seberang kanan jalan tepat di samping Sumida River, karena mengikuti GPS saya sudah ngga hapal belok kanan atau belok kiri, yang jelas dari ujung ke ujung ramai sekali orang-orang berjejalan, mobil tidak begitu banyak cuma modelnya keceh-keceh saya rasa saya belum pernah melihat seri-nya di Jakarta.
         *Jepretan by Mak Bos
Sampai di Kaminarimon Gate tambah ramai lagi dan banyak warga lokal menggunakan pakaian tradisional Jepang. Usut punya usut ternyata sedang di selenggarakan festival Sanja Matsuri yang diadakan setiap 2 tahun sekali di bulan Mei hari Jumat, Sabtu, dan hari Minggu di minggu ke-3!!! Waaahhh ternyata beruntung sekali kami, coba kalo berangkatnya 2 hari sebelumnya? Coba kalo ke Asakusanya kami jadwalkan esok lusa? Apa ngga lolos tuh festival!
Sanja Matsuri Festival           *Jepretan by Henny
                         *Jepretan by Henny
Senso-Ji Shrine merupakan kuil tertua di Tokyo dan Festival Sanja Matsuri diselenggarakan untuk menghormati 3 pendiri kuil, dalam 3 hari tersebut setiap jam-nya ada kegiatan yang sudah dijadwalkan seperti upacara, tari-tarian, dan parade. Highlight dari festival ini adalah si parade, penduduk lokal ber-group dengan jumlah 8-10 orang mengangkat sesuatu di atas tandu, nah sesuatu ini yang saya ngga tau (sik googling dulu yee). Menurut om Wiki yang ditandu ini adalah Mikoshi semacam kuil portable yang dihiasi (beneran mereka nulisnya portable!), mikoshi ini dipercaya dinaiki oleh roh dari kuil Shinto, berjumlah sekitar 100 Mikoshi plus 3 Mikoshi utama yang di arak keliling kota. 

Penduduk lokal Jepang yang mengikuti festival kebanyakan memakai baju tradisional, ada yang memakai kimono ada juga yang memakai yukata, kita-pun boleh memakai-nya, dan kesempatan kami buat berfoto dengan orang lokal lengkap dengan pakaian tradisonal mereka. Khusus untuk peserta festival yang memanggul Mikoshi, mereka memakai Jinbei, mirip piyama tapi panjangnya se-paha (ga sensor) dan bawahan celana pendek, cuma baju atasannya aja yang dipakai, bawahannya engga (kebayang ngga kelihatan apanya?? *huhu tutup muka), ngga semuanya sih, kalo perempuan mah yah pake bawahan. Untuk 3 Mikoshi utama ukurannya cukup besar, 1 Mikoshi harus diangkat sekitar 40 orang dan masih ditambah mengangkat 3-5 orang yang berdiri di atasnya, haduh saya penasaran siapa sih orang-orang itu, pas saya zoom kamera henpon saya (ini saya belum beli kamera beneran *penting ga sih?), ternyata mereka ngga pake baju dan tatoo-an disekujur tubuhnya, bener-bener cuma underwear aja mirip pesumo! (tutup muka, ngintip di sela-sela jari hihi), usut punya usut ternyata mereka ini Yakuza sodara-sodara!
Om-om Yakuza :D
Di sisi sebelah kanan dekat pintu masuk terdapat sederetan penjual street food, kami memilih makan di tempat tersebut, sharing bertiga duduk di bangku taman setelah kami kabur masing-masing membeli Takoyaki, ayam goreng, dam mie goreng gitu mbuh apa namanya harganya IDR 35.000. Setelah itu kami berjalan ke arah belakang kuil dan entah bagaimana tau-tau kami nembus Nakamise Street, disini anda bisa berbelanja souvenir. Dari kejauhan terlihat tower Tokyo Sky Tree (saatnya GPS beraksi!) Melewati Asakusa Main Entrance Station dan jembatan Sumida river dimana anda bisa menaiki Sumida River Cruise Ship rute terdekat tarif IDR 20.000, tapi kami skip karena hari sudah menjelang sore. Jalan kaki kurang lebih satu jam kami baru sampai pelataran Tokyo Sky Tree, jauh ternyata padahal dari Senso-Ji Shrine kelihatan deket (nepu banget sik), namun rasa lelah terbayar dengan pemandangan menarik di sepanjang perjalanan melewati sungai, jembatan, dan taman-taman cantik. Ketinggian Tokyo Sky Tree adalah 634 meter, untuk menuju deck observasi setinggi 350 meter saja anda harus merogoh kocek IDR 200.000, kalo cuma nyari spot foto dari ketinggian, lupakan tokyo sky tree, karena selain mahal juga ngantri ke atasnya penuh banget, mending nanti saja di Osaka Museum of History IDR 60.000 sudah bonus ngider museumnya.
Sumida River

Taman & sungai menuju Tokyo Sky Tree        *Jepretan by Henny

Mas2 penarik becak        *Jepretan by Henny

Tokyo Sky Tree            *Jepretan by Henny
Gedung Tokyo Sky Tree ini nyambung dengan Oshiage Station, dari sini kami ke Asakusa Station dengan Asakusa Line untuk mengambil koper, kemudian ke Horikirishoubuen Station yang merupakan stasiun terdekat dari Apartemen yang kami sewa. Rutenya Asakusa Station dengan Toei Subway Asakusa Line  for Imba Nihon-Idai, stop di Oshiage Station ganti Keisei Oshiage Line Local for Imba Nihon-Idai, stop di Aoto Station pindah ke Keisei Main Line Local for Keisei-Ueno sampai tiba di Horikishoubuen Station. Kelihatannya simpel gampang yah?? No! Walaupun nama line-nya hampir mirip Keisei, tapi beda jauh perhatikan warna line dan line untuk arah mana, bisa dilihat di papan display yang ada di setiap stasiun. Belum lagi setiap stop ganti line (ganti kereta), bingung mau kemana atas atau bawah, kanan atau kiri? Di Aoto tetiba ada opa-opa menghampiri kami yang terlihat kebingungan ngubek-ubek display rute kereta, beliau menyuruh kami naik tangga ke atas lalu ke kanan (Orang baik No. 2). 

Sampai di Horikirishoubuen Station, masih sekitar 20 menit jalan kaki menuju apartment, kali ini kaki kudu di sayang-sayang karena masih 9 hari lagi di Jepang, jadilah kami naik Taxi dengan tarif IDR 50.000, ribet dong ya nunjukin alamat apartmentnya secara terkendala bahasa, anda ketik aja di henpon, kalo ngga screenshot websitenya si akomodasi, nanti Pak Supir akan cari alamatnya sendiri di GPS karena kalo kita googling pasti ada huruf kanji-nya juga. Sampai apartment kami kebingungan lagi masuknya gimana?? Mana kuncinya?? secara self check in, sempet ada penghuni lain apartment tersebut yang kami tanya tapi sama bingungnya, halah. Tetiba si Om Minami-Manager Apartment nongol, ternyata salah satu kotak surat di pintu masuk sudah tertulis nama Mak bos saya, yang di dalemnya ada kuncinya jiahhh (-.-) . 

Kami menginap di Bevel Shoubuen Apartment harga IDR 2.000.000 dengan 1 kamar double bed dan 1 kamar twin lengkap dengan peralatan elektronik seperti TV, komputer, dan mesin cuci, dapur sudah dengan kompor yang menggunakan instalasi pipa gas. Apartemen di Jepang rata-rata kecil dan berlangit rendah sepertinya dindingnya engga dari semen mungkin dari material tahan gempa, dan kalo sedang di kamar mandi entah kenapa saya kok bisa mendengar deru suara kereta dan agak sedikit berasa getaran, ya saya yakin sih bawah apartemen kami pasti berongga-rongga isi jalur kereta, kebayang dong dengan banyaknya jalur kereta pasti dibawah sana udah ngga rapet lagi. Malemnya kami jalan kaki 20 menit ambil pocket WiFi di Katsushika Post Office, tibalah di pintu sebuah gudang, heh?? Menurut Google Map harusnya sudah bener ini Kantor Pos, bertanya pada petugas dengan sedikit bahasa enggres ditambah bahasa tarzan, intinya dia akan antar kami ke Kantor Pos (orang baik No.3), si Bapak bertanya apakah kami menggunakan mobil atau jalan kaki? (bahasa tarzannya seperti ke dua tangan memegang setir mobil dan juga kedua jari telunjuk dan jari tengah digerakkan kedepan dan kebelakang), kami menggerakkan telunjuk dan jari tengah kedepan dan ke belakang Bahaha..gokilll. 

Front Office Kantor Pos masih agak berjalan lurus kedepan ternyata, tadi adalah gudangnya Kantor Pos alias pintu belakang, hasilnya....Nihil! Kami ngga ngerti maksudnya gimana, pokoknya dengan posisi jongkok dan kami bertiga duduk di kursi yang memang cuma 3, si Bapak petugas front office gomennasai-gomennasai sambil nunduk-nunduk, engga ketemu barang eluh! SEKIAN!

0 comments:

Post a Comment