Ini adalah negeri impian temen saya, sampe-sampe dia kepengen tinggal disana, akhirnya saya-pun ikutan meng-impikan-nya, cuma karena sorenya nonton 10 Biggest Disaster yang salah satunya adalah tragedi Tsunami plus bocornya reaktor Fukushima, confirm urung deh saya! mending saya tetep di Jakarta dengan segala ‘tragedi-nya’ :D.
Visa, persyaratan dan biayanya anda bisa cek disini, syarat-syaratnya sama dengan Visa Korea, jangan lupa penuhin saldo tabungan anda 3 bulan sebelumnya, untuk foto saya biasa foto di adorama karena mereka yang lebih paham ukuran foto Visa. Karena PeDe kali ini saya mengurus sendiri, ngantrinya jangan ditanya, baru mau masuk aj udah antri panas-panas diluar pager kedutaan, bukan maen Jepang ternyata destinasi favorit penduduk kita!. Oiya, terkait bebas visa untuk passport elektronik anda harus berhati-hati, karena saya sempat nguping pembicaraan orang yang mengantri di depan saya, passport elektronik sudah di daftarkan di Kedutaan dan mendapat cap, namun saat keberangkatan yang bersangkutan ditolak boarding oleh maskapai karena maskapai tetap memerlukan Visa, saya kurang tahu detilnya cuma sepertinya maskapai tersebut adalah maskapai dari negara yang dituju. Satu hal, anda bisa berkunjung ke Korea dengan visa Jepang, dengan syarat hanya sekedar transit, artinya setelah dari Korea anda harus punya destinasi lain selain negara asal.
Kami berangkat dengan maskapai Garuda di bulan Mei disaat Musim Semi hampir berakhir hawanya kadang sejuk kadang panas, anda bisa memilih mendarat di Haneda atau Narita, selisih harganya beda tipis, kadang murah via Haneda kadang murah Narita, tapi Haneda lebih cepat sold out-nya, saat itu harga yang kami dapat adalah IDR 9.000.000. Kami memilih Haneda, karena letaknya lebih dekat dengan kota, kalo di Jakarta seperti Halim, dan Narita seperti Soetta, tapi kalo anda berangkat dengan Air Asia sudah pasti akan mendarat di Haneda. Sekilas, Haneda sama seperti bandara-bandara International lain (kecuali Soetta :D), free wifi, luggage delivery, massage & personal care, dan ada pula shower room tarifnya IDR 100.000/30 menit!, setiap kelipatan 15 menit nambah IDR 50.000, saya sih emoh, mending kami cuci muka dan sikat gigi aja di Toilet :D.
Di toilet, nahhh inihh...toilet jepang super canggih, ngga ada ceritanya tuh sebangsa mengokang tuas atau menekan tombol flush, karena semua closetnya adalah panel kontrol nirkabel!!! Mereka menyebutnya Washlet, sistemnya otomatis menyerap bau. Jadilah saya setiap masuk ke toilet harus mempelajari dulu simbol-simbol dari panel itu, yang paling penting sih saya jadi ngga ribet ambil air ke botol plastik bekas buat bilas (cebok maksudnya😀), karena selain Indonesia sepertinya hanya Jepang yang toiletnya dilengkapi panel bilas (atau semprotan 😀). Oiya setiap toilet beda yah bentuk/simbol panel atau lokasi panelnya, inilah sebabnya saya harus mempelajarinya setiap masuk toilet, bukannya bikin gampang malah bikin grogi hahaha. Selain panel bilas, ada panel dryer untuk mengeringkan bagian depan dan belakang (ups...hihihi...), panel musik jadi suara-suara aneh ngga kedengeran sama tetangga wkkkk...(jangan harap musiknya lagu Coldplay yah, cuma bunyi tulalit tulalit ajah! :D), ada juga panel up down yang bisa disetel tinggi rendahnya untuk manula (emeijing!), panel pembuka dan penutup otomatis dudukan toilet, panel pemijat (I have no idea -.-). Kemudian, panel urinal game, disini anda bisa titik-titik sambil main game, anda bisa mencobanya di Akihabara Sega Mega-Store, sayangnya khusus untuk toilet pria di lantai 2, 3, & 4 (jadi kami ngga mungkin kesini).
Satu hal, dudukan closetnya anget (bukan bekas orang! Bukannnn) tapi emang dudukannya di setel anget biar p*h* (sensor 😀) ngga anyep, oiya airnya juga anget loh. Terus ada juga bidet toilet, ini ngga ada panelnya, hanya kloset duduk pada umumnya yang disampingnya ada semacam wastafel setinggi kloset berfungsi untuk bilas setelah titik-titik (yang ini agak ribet sih menurut saya, ya netes-netes dong kalo pake pindah tempat segala, haduh nggilani banget sik nih blog hahaha). Ada juga kloset jongkok, hanya tidak ada di kota-kota besar, kami menemukannya secara tidak sengaja sewaktu nyasar jauhhh banget di sebuah desa di kaki pegunungan. Penampakannya mirip dengan kloset Indonesia, hanya jongkoknya dibalik (ngerti kan ya??), trus flushnya dengan cara menarik tuas yang menggantung.
Heh, kok jadi ngelantur sih nih Jepang part 1 isinya bahas toilet! Tapi beneran saya amaze sama kecanggihan toilet mereka...Bravo bravo!!!
Sebelum berangkat, saran saya sebaiknya anda mempelajari rute kereta, karena ruwetnya udah kayak combine-nya benang, rambut kusut, dan kabel listrik digulung-gulung, nah bayangin deh tuh! :D. Solusinya adalah download aplikasi kereta hyperdia.com, sceenshot dan print, yang berarti bahwa itinerary harus sudah fix, kadang kalo masih bingung kami kombinasikan dengan google map, di google map lebih kumplit malah sudah dengan keterangan berapa banyak stasiun yang akan dilewati, masih bingung juga?? Ya nanya!. Karena, percayalah stasiun kereta mereka rute dan exitnya banyak banget, kalo anda salah exit, jalan-nya jauh sekali, kalo anda balik turun lagi ke stasiun, ituh juga butuh tenaga extra karena banyak anak tangga yang dilewati, naek Taxi? Monggo, tapi kalo saya sih ya eman-eman, wong dari bandara ke pusat kota aja tarifnya IDR 1.000.000, cuma kalo keseringan nyasar kan ngabisin waktu yah?
Untuk mempermudah transaksi pembelian tiket kereta/subway/bus, membeli makan dan minum di convenient store atau di vending machine kami menggunakan IC card yang bernama Pasmo Card atau anda juga bisa memilih Suica Card, fungsinya sama saja. Pembelian dan top up saldo bisa dilakukan di stasiun-stasiun atau di mini market, untuk top up pertama kali senilai IDR 200.000 dan anda bisa mengambil refund-nya di stasiun jika sudah tidak menggunakannya. Di Tokyo, harga tiket JR dimulai dari IDR 13.000, tiket subway IDR 16.000 untuk Tokyo Metro dan kereta api Toei (Metropolitan) IDR 17.000, harganya meningkat sesuai dengan jarak yang ditempuh. Nah, itu cuma patokan saja, baru sebagian karena kereta di Tokyo di operasikan oleh berbagai macam perusahaan, dan saya tidak bisa memberikan harga secara spesifik setiap rute yang kami lalui, karena tidak akan sempat melihat fare-nya di platform gate, sedangkan orang-orang lalu lalang berjalan cepat sekali, meleng sedikit bisa nubruk saya, atau ngga bisa dimarahin orang di belakang saya yang mengantri, ngga ding hehe, ngga akan ada yang marahin anda di Jepang karena mereka super baik, ngga kaya di HK agak nunggu bentar karena Ibu saya kurang sigep masuk gate aja udah ngomel mereka (sabarrr buu...).
Menurut saya, menggunakan Pasmo Card lebih mudah dan efisien dari pada tiket lembaran, karena tidak perlu ribet dan antri membeli tiket di mesin. Untuk membeli tiket lembaran, terlebih dahulu anda harus melihat daftar tarif dari stasiun keberangkatan ke stasiun tujuan, daftar ini biasanya ada di samping mesin pembelian, setelah itu masukkan uang ke dalam mesin, kertas bisa, koin juga bisa, kemudian tekan layar yang bertuliskan nama stasiun tujuan, untuk pilihan bahasa inggris biasanya ada di pojok kiri atas. Saat anda berada di platform gate atau pintu masuk stasiun, perhatikan masing-masing gatenya dan lihat baik-baik bagaimana penumpang lain melewati gate-gate tersebut, karena ada yang khusus untuk tiket lembaran, ada yang untuk IC Card, dan ada yang bisa keduanya.
Untuk IC Card, anda tinggal tap IC Card anda di ujung gate yang ada sensornya, sedangkan untuk tiket lembaran, masukkan tiket pada celah di ujung gate dan pintu gate akan terbuka otomatis, kemudian tiket akan keluar pada celah di ujung satunya saat anda melalui pintu tersebut. Jangan buang tiket-nya, karena tiket ini sebagai pembuka platform gate pada saat anda sampai stasiun tujuan, caranya sama masukkan tiket pada celah gate, hanya tiket tidak akan keluar lagi, kalo dengan IC Card anda hanya tinggal tap saja. Lantas bagaimana kalo tiket tidak keluar saat masuk platform gate? Nah, ini saya alami dengan tiket Shinkansen saya, saya pikir mungkin khusus Shinkansen memang tiketnya di telen sama mesin, jadi saat keluar stasiun saya santai saja dan ngga nyangka harus pake tiket lagi, tinggal minta tolong sama petugas dan mereka akan memberikan tiket kosong untuk kita bisa keluar gate. Menurut saya, kalo anda sudah pernah berjibaku dengan sistem per-kereta api-an Jepang, niscaya berhadapan dengan sistem transportasi kereta di negara lain akan lancar Jaya!
Selamat berjuang!
Menurut saya, menggunakan Pasmo Card lebih mudah dan efisien dari pada tiket lembaran, karena tidak perlu ribet dan antri membeli tiket di mesin. Untuk membeli tiket lembaran, terlebih dahulu anda harus melihat daftar tarif dari stasiun keberangkatan ke stasiun tujuan, daftar ini biasanya ada di samping mesin pembelian, setelah itu masukkan uang ke dalam mesin, kertas bisa, koin juga bisa, kemudian tekan layar yang bertuliskan nama stasiun tujuan, untuk pilihan bahasa inggris biasanya ada di pojok kiri atas. Saat anda berada di platform gate atau pintu masuk stasiun, perhatikan masing-masing gatenya dan lihat baik-baik bagaimana penumpang lain melewati gate-gate tersebut, karena ada yang khusus untuk tiket lembaran, ada yang untuk IC Card, dan ada yang bisa keduanya.
Untuk IC Card, anda tinggal tap IC Card anda di ujung gate yang ada sensornya, sedangkan untuk tiket lembaran, masukkan tiket pada celah di ujung gate dan pintu gate akan terbuka otomatis, kemudian tiket akan keluar pada celah di ujung satunya saat anda melalui pintu tersebut. Jangan buang tiket-nya, karena tiket ini sebagai pembuka platform gate pada saat anda sampai stasiun tujuan, caranya sama masukkan tiket pada celah gate, hanya tiket tidak akan keluar lagi, kalo dengan IC Card anda hanya tinggal tap saja. Lantas bagaimana kalo tiket tidak keluar saat masuk platform gate? Nah, ini saya alami dengan tiket Shinkansen saya, saya pikir mungkin khusus Shinkansen memang tiketnya di telen sama mesin, jadi saat keluar stasiun saya santai saja dan ngga nyangka harus pake tiket lagi, tinggal minta tolong sama petugas dan mereka akan memberikan tiket kosong untuk kita bisa keluar gate. Menurut saya, kalo anda sudah pernah berjibaku dengan sistem per-kereta api-an Jepang, niscaya berhadapan dengan sistem transportasi kereta di negara lain akan lancar Jaya!
Selamat berjuang!
![]() |
| Tiket ketengan :D |
Sedikit informasi, anda bisa memanfaatkan paket harga murah dengan membeli One day pass ticket seperti Tokyo Free Kippu IDR 158.000 untuk jalur Toei & Tokyo Metro, Tokyo Subway IDR 80.000 untuk jalur Toei & Tokyo Metro, Tokyo Metro IDR 60.000 untuk 9 jalur Tokyo Metro Line, Tokunai Pass IDR 75.000 untuk seluruh kereta JR, dan masih banyak lagi yang lain. Tapi tak satupun kami beli, lha gimana mau beli? Lha wong kami saja tidak tahu bakalan melalui jalur-jalur yang di paket-in itu atau tidak, ya kalo jelas ngelewatin? lha kalo pake acara nyasar? Maunya ngirit malah rugi bandar! :D
Hanya kalo anda berencana ke Osaka saya sarankan untuk membeli 7 day JR pass ticket yang khusus dijual untuk turis asing dan bisa dibeli di Jakarta dengan harga IDR 3.000.000. Dari nominal-nya sih emang kelihatan gede, cuma dengan JR Pass anda bisa menekan biaya dengan menggunakan seluruh moda transportasi mulai dari si kereta peluru Shinkansen, Subway, Bus, dan Ferry (ke Miyajima) yang di operasikan oleh JR Line. Hitung-hitungannya begini, Shinkansen Tokyo-Osaka yang jaraknya seperti Jakarta-Kediri one way IDR 1.360.000 (return x 2) ditempuh hanya dalam waktu 3 jam!, kalo anda ke Kyoto dengan Shinkansen berarti sudah IDR 200.000 x 2, nah kalo sebelum ke Osaka anda ke Hakone dulu IDR 180.000 x 2, belum kereta-kereta lain yang dioperasikan oleh JR Line. Namun kalo sedari awal anda berencana ke Osaka, lebih baik anda langsung booking tiket pesawat berangkat dari Tokyo, pulang dari Osaka, harga tidak jauh beda dengan Jakarta-Tokyo return, JR Pass pastinya sudah tidak perlu lagi, pilihan lain Tokyo-Osaka selain Shinkansen adalah Willer Bus harga IDR 400.000 dengan lama perjalanan 9 jam. FYI, kami tidak juga menggunakan JR Pass! jadi Shinkansen yang kami beli adalah tiket-tiket normal tanpa paket-paket-an, pesawat-pun rute standar Jakarta-Tokyo-Jakarta, karena prinsip kami adalah jalan-jalan Ngga Ribet dan Ngga Ngirit! Hahaha...
Untuk koneksi paket data smartphone di Jepang agak susah beli kartu karena bundling dengan HP, solusinya adalah anda bisa menyewa Pocket WiFi dengan berbagai pilihan paket data, masa pemakaian, dan jumlah device yang bisa tercover. Saat itu kami menyewa lewat online sebelum keberangkatan di Japan Wireless, paket yang kami sewa adalah Pocket WiFi Y!mobile - 3G 7.2-21Mbps, bertahan selama 8 jam dengan baterai cadangan, untuk 5 devices, dan anda bisa memilih berapa hari akan menyewa, saat itu kami memilih 10 hari sewa harga IDR 800.000. Pocket Wifi akan diantar ke tempat yang anda pilih ketika mengisi formulir, bisa ke hotel atau Kantor Pos, dan anda harus mengembalikan via Kantor Pos juga, saat anda menerima paket mereka sudah menyediakan wrapping package lengkap dengan alamat pengiriman, jadi anda tinggal memasukkan pocket WiFi saja dan kirim balik, kalo anda kesulitan mencari Kantor Pos bisa minta tolong reception Hotel untuk mengirimkannya. Oleh karena akomodasi yang kami tempati di Tokyo adalah apartemen dan kami harus self check in, maka kami meminta untuk di antar ke Kantor Pos di Bandara Haneda, persoalan lain muncul ketika kami tiba di hari Sabtu, sedangkan Kantor Pos Bandara Haneda hanya buka tiap Senin-Jumat (Hadeeeh...).
Akhirnya saya email mereka untuk meminta si WiFi diantar ke Asakusa, karena dari Bandara kami langsung ke Asakusa, eh lha kok mereka udah kadung anter ke Kantor Pos dekat apartemen yaelahhhh...., malem itu kami ke Kantor Pos tapi katanya paketan kami ndak ada! Gubrakkk dah...Pagi-nya saya email mereka lagi, tapi sambil nunggu jawaban kami dolan dulu ke Harajuku sambil nyari-nyari wifi geratisan, males sih sebenernya pake wifi geratisan, kalo ngga daftar dulu ya bentar-bentar mati, akhirnya Mak bos-lah yang daftar paket roaming internasional IDR 100.000/hari. Malem, saya baru bisa baca email mereka, mereka minta maaf karena menurut mereka barang sudah diantar saat itu, cuma petugasnya Kantor Pos engga bisa bahasa enggres jadi ga mudeng! (salah satu persoalan abadi di Jepang!). Untuk itu sambil maap-maap mereka tetep minta saya pick up di Kantor Pos walaupun udah saya minta untuk antar ke apartment saja, sebagai gantinya mereka memberikan discount 50%, jadi biaya akan di refund IDR 400.000 horeeeee....





0 comments:
Post a Comment